Gadis Desa Milik CEO

Gadis Desa Milik CEO
Bimbang


__ADS_3

🌹JANGAN LUPA KASIH EMAK VOTE YA ANAK ANAK KESAYANGAN EMAK.🌹


🌹IGEH EMAK JUGA DIFOLLOW DI : @REDLILY123.🌹


🌹SELAMAT MEMBACA, EMAK SAYANG KALIAN.🌹


Nana yang sedang belajar itu terus saja memikirkan ayahnya yang ada di rumah sakit, apakah Sebastian berhasil membujuknya atau tidak. Dan hormone kehamilan ini membuat Nana sedikit sensitive, dan dia membenci itu. Dia lebih suka menjadi wanita tanpa perasa, tidak menghiraukan siapapun yang berkata apapun padanya. 


“Apa anda baik baik saja, Nyonya?” tanya pengajar itu pada Nana. “Apa anda ingin istirahat?”


“Ya, aku akan istirahat sebentar. Silahkan nikmati makananmu,” ucap Nana keluar dari perpustakaan, dia mengambil ponselnya di kamar.


Dan di sana ada panggilan tidak terjawab dari ibu tirinya, yang mana membuat Nana segera menelponnya kembali.


“Hallo, Bu? Ada apa?”


“Na, kamu gak mau ke rumah?”


“Mau apa? Eh, dirumah? Kok dirumah?”


“Bapak kamu mau bunuh diri.”


“Maksud ibu apa sih? Jangan ngarang ya.”


“Kamu pikir Ibu ini pengarang? Ya enggak lah, ke sini aja kalau gak percaya. Ibu sama ayah kamu udah di rumah.”


“Kenapa gak di rumah sakit?”


“Ke sini aja,” ucap Rina mematikan telponnya.


Nana segera mematikan telponnya, dia menuruni tangga untuk menemui Eve dan menanyakan kebenaran itu. “Eve, apa benar ayahku sudah di rumah?”

__ADS_1


“Ya, saya baru saja mendapat kabarnya.”


“Kalau begitu ayo kita ke sana,” ucap Nana tanpa ragu.


“Baik, Nyonya.”


“Dan tolong katakan aku tidak akan belajar untuk hari ini,” ucap Nana yang mana membuat Eve mengangguk.


Di perjalanan, Nana bertanya tanya apa yang terjadi. penyakit ayahnya belum sembuh, dan dia malah pulang begitu saja. “Apa kau tahu sesuatu, Eve?”


“Tidak, Nyonya.”


“Kenapa dia pulang?”


“Saya hanya mendengar itu keinginannya.”


Hormone kehamilan benar benar membuatnya menjadi lebih banyak gelisah, mudah kesal dan pergantian mood yang sangat cepat.


Saat sampai, Nana langsung turun.


“Bu, mana ayah?”


“Ada di dalem, tuh ayah kamu kayak gak mau hidup lagi. Bagaimana bisa? Dia pulang sebelum sembuh.”


Nana menghela napas dalam dan menemui ayahnya di kamar.


“Liat, Na. Dia malah banyak diem sambil liat gunung, gak mau diajak rumah sakit.”


“Bu, bisa tinggalin aku sama ayah dulu?”


“Oke,” ucap Rina menjauh dari sana dan membiarkan Nana bicara dengan ayahnya.

__ADS_1


🌹🌹🌹🌹


Nana terdiam mendengarkan penjelasan ayahnya, bahwa dia mengetahui kalau dirinya tidak akan sembuh. Dan obat obatan itu hanya membuatnya semakin sakit dan menderita, ayahnya itu ingin mati dalam keadamaian di rumahnya.


“Ayah, Ayah tau suami Nana bisa melakukan apa saja, uangnya banyak. Pasti ayah sembuh.”


“Penyakit seperti ini tidak pernah ada yang sembuh total, Nak. Tidak apa, ayah akan baik baik saja.”


Air mata Nana berlinang. “Ini seperti ayah ingin meninggalkan aku untuk selamanya, ayah akan pergi.”


“Semua makhluk hidup akan pergi, akan kembali pada-Nya.”


“Tapi Nana tidak bisa melepaskan ayah sekarang, Nana sedang mengandung. Ayah tidak mau melihat bayi Nana lahir dulu?” tanya Nana memohon.


“Ayah tau, suamimu akan menjagamu dengan baik.”


“Ayah tau? Nana menikah dengan Sebastian agar ayah bisa hidup, kenapa ayah melakukan ini?”


“Hush, jangan bicara seperti itu. Cintai dia dengan tulus, ayah tahu dia sangat mencintaimu, jangan mengatakan itu lagi.”


“Tapi itu kebenarannya, Nana ingin ayah hidup lebih lama.”


“Tapi ayah menderita,” ucap ayahnya mengusap pipi anaknya. “Biarkan ayah pergi dengan tenang, ayah sudah merasa lega denganmu dijaga oleh Sebastian.”


Karena rumah Nana lebih tinggi, jadi dari jendela Nana bisa melihat jalan di bawah dimana ada tetangga yang berlalu lalang.


“Mereka masih mengganggu ayah?”


“Bukan itu masalahnya, tapi bisakah kau memaafkan saudarimu? Semua orang membuat kesalahan, tidak apa untuk diberikan kesempatan kedua bukan?” tanya ayahnya.


🌹🌹🌹🌹🌹

__ADS_1


TO BE CONTINUE


__ADS_2