
🌹JANGAN LUPA KASIH LOVE YA SEMUANYA.🌹
🌹IGEH JUGA DIFOLLOW DI : @REDLILY123.🌹
🌹SELAMAT MEMBACA, SAYANG KALIAN SEMUA.🌹
Kali ini Joy sedang bermanja manja pada Michael, dia bergelayut di punggung pamannya dengan melingkarkan tangan di leher. Sementara Michael sedang sibuk menyusun puzzle dan meminta Joy tidak mengganggunya, hal itu yang membuat Joy memilih untuk bermanja di belakang pamannya.
Melihat itu, Sebastian bergidik sendiri. “Itu si Aheng kok tidak pengab?”
“Pengab bagaimana?” tanya Arnold bingung.
“Lihatlah bagaimana buntelan tangan itu memeluk erat leher Aheng, Dad. Dia tidak sesak?”
“Berhenti membully cucuku,” ucap Arnold menatap anaknya tajam. “Dimana Nana?”
“Dikamar, dia agak mual katanya.”
Sementara pandangan Arnold jatuh pada Joy yang terus saja mengusak wajahnya di punggung sang paman. “Bagaimana kalau kita menjodohkan mereka?”
“Stop, biarkan takdir yang berucap. Daddy tau bagaimana si Michael itu menyukai Karina, dan anakku baru saja berusia 3 tahun, dia masih kecil. Sebentar lagi dia melupakan Aheng, jadi jangan khawatirkan apapun. Aku lebih suka anakku yang dikejar daripada mengejar, karena akan aku pastikan siapapun yang berakhir bersama anakku adalah pria yang mencintainya segenap hatinya, bukan karena Joy yang hanya menyukainya sepihak.”
Arnold seketika diam, sedetik kemudian dia memperlihatkan wajah speechless, heran bagaimana anaknya sampai terfikir sampai ke sana, dan juga… “Kau berniat menjadi rapper?”
“Daddy.”
“Iya iya, orang yang akan menikahi Joy adalah orang yang mencintainya.”
“Aku tidak akan memberikan anakku pada sembarangan orang,” ucap Sebastian mendengus kesal.
Yang hanya dibalas anggukan oleh Arnold.
“Joy Sayang, kemarilah makan cokelat ini dengan Kakek,” panggil Arnold.
“No, Joy ingin belcama Uncle caja.”
“Ayolah, Kakek rindu,” ucap Arnold memohon.
Dan saat Joy melepaskan pelukan pada Michael, dipikirnya Joy akan berlari ke arahnya. Namun ternyata bocah itu melewati rentangan tangan Arnold. “Joy mau kemana?!” teriak sang kakek.
“Mau mpoop ih,” ucapnya berlari hingga pipinya ikut bergetar.
Joy memasuki kamar dimana Mommy nya berada. Dia menggunccang tubuh sang Mommy yang sedang berbaring. “Mom, mu mpoop,” ucapnya memegang perutnya. “Atit.”
__ADS_1
“Hmmmm?” nana memaksakan diri bangun untuk mengantar anaknya buang air. Namun baru juga berdiri, Nana kehilangan kesadarannya dan pingsan.
“Aaaaa! Mommy! Mommy! Joy ndak minta temenin Mommy agi deh! Bangun, Mommy kenapa?! Daddy! Daddy ih!”
“Iya, kenapa?” tanya Sebastian berjalan dengan santai ke kemar tempatnya biasa menginap. Dan saat sampai di sana, matanya membulat. “Nana Sayang, kau kenapa?”
“Hiks…. Mommy pingcan kalena Joy mau Mpoop, tadi Joy kentut deket Mommy.”
🌹🌹🌹🌹
Tangan itu tidak berhenti mengusap punggung anaknya yang bergetar, Joy menangis melihat mommy nya terbaring lemah. Bahkan saat mpoop tadi, dia terus saja menyalahkan diri kalau permintaannya ditemani mpoop yang membuat sang mommy pingsan.
“Sudah jangan menangis,” ucap Sebastian yang sedang duduk dan memangku Joy. Matanya melihat pada Nana yang belum sadar.
Sebelumnya mereka memanggil dokter ke rumah untuk mastikan kondisi sang istri. Dan sekarang dia baik baik saja, hanya sedang terlelap.
“Salah Joy, hiks….”
“Bukan salah Joy, kenapa bisa salah Joy?”
“Mpoop na bau.”
Saat itu pula Sebastian tertawa puas dengan apa yang dikatakan oleh sang anak.
“Mana ada, gak gitu,” ucap Sebastian memeluk putrinya.
Rasanya perutnya terasa tertekan, tapi kasihan jika melepaskan Joy dan membuatnya bertambah sedih. Bebannya tidak main main, bahkan perut Joy dan perut Sebastian beradu, membuat Sebastian menahan tawa karena tubuh anaknya yang gempal dan lucu.
Saat melihat Nana mulai bergerak, Sebastian membawa Joy dalam gendongannya dan berpindah duduk di pinggir ranjang.
“Sayang….”
“Hmmmm? Mas?” Nana mulai membuka matanya perlahan.
“Iya, ini aku.”
“Joy.”
“Ini Joy,” jawab bocah itu mengusap pipi sang Mommy.
“Udah mpoop?”
“Udah, cama Daddy.” Bocah itu mengerucutkan bibirnya. “Jangan cakit lagi.”
__ADS_1
Nana tersenyum dan menarik anaknya agar lebih dekat dengannya. “Aku kenapa, Mas?”
“Kamu hamil, Sayang.”
“Oh…”
“Kok gak kaget?”
Nana menatap wajah suaminya, lalu berkata, “Woaw! Aku hamil.”
“Gak usah maksain, kamu udah tau?”
“Nggak, tadinya mau di cek. Soalnya udah curiga.”
“Jangan kelelahan ya.”
“Iya, Mas.”
Sementara bocah itu melihat kedua orangtuanya bergantian, tidak paham dengan situasi ini. “Mommy cakit kalena Joy?”
“Enggak, Mommy itu lagi hamil,” jawab Sebastian.
“Hamil?”
“Iya, di sini ada adeknya, nanti Joy jadi kakak,” ucap Nana mengusap perutnya.
“Mana ndak ada ah!”
Sebastian menjelaskan. “Ada, Sayang. tapikan adik bayi juga butuh berkembang kayak Joy pas nanam bunga. nanti perut Mommy lama lama besar, bulat gitu, terus nanti keluar dedek bayi kalau udah waktunya.”
Bocah gembul itu cemberut, kemudian menatap perutnya sendiri. “Ini uga? Kelual adek bayi?”
“Halah enggak, inimah lemak,” ucap Sebastian menusuk nusuk perut Joy dengan telunjuknya.Â
“Tapi besal.”
“Ya karena Joy nya emam mulu.”
Nana tertawa ngakak mendengar percakapan suami dan anaknya.
🌹🌹🌹🌹
TO BE CONTINUE
__ADS_1