
🌹JANGAN LUPA KASIH LOVE YA SEMUANYA.🌹
🌹IGEH JUGA DIFOLLOW DI : @REDLILY123.🌹
🌹SELAMAT MEMBACA, SAYANG KALIAN SEMUA.🌹
Nana sedang berkemas, tiba tiba Joy datang padanya sambil menangis kuat. “Momy….. hiks….”
Bukannya panic, Nana hanya tersenyum seolah berkata, ‘Hahahaha, pasti berbuat ulah lagi.’ Tangannya merentang membiarkan sang anak masuk ke dalam pelukannya. “Joy mau ke Uncle Mike saja, disini tidak ada yang selu.”
“Makannya ayo berkemas, kita pergi temui Uncle Mike. Jangan menangis lagi, wajahmu terlihat semakin jelek.”
“Benalkah?” joy menghapus air matanya dan mengikuti Mommy nya yang sedang beres beres. “Tadi Lucas bilang tidak mau belmain dengan Joy kalena Joy memukulnya dengan botol kosong, padahal kan Daddy juga telbiasa dipukul dengan botol yang penuh.”
“Heh, jangan samakan semua orang. Itu tidak benar,” ucap Nana menatap putrinya yang kini cemberut. “Sudah sekarang kemasi barang barangmu.”
Joy hanya mengangguk, sampai beberapa menit kemudian terdengar suara ketukan di pintu, itu adalah Athena dan Oma. “Joy… ayo makan pudding.”
“Asyik, makan pudding!” ucapnya kalap sampai… BRUK! Joy jatuh tengkurap, dengan segera dia berdiri kembali. “Iam fine, don’t wolly,” ucapnya kemudian berjalan keluar kamar sambil menarik rok Athena supaya ikut melangkah bersamanya. “Ayo makan di sana, Kak Thea. Bial tidak ada yang minta.”
Membuat Oma yang ada di ambang pintu itu menatap tidak percaya. “Itu anakmu?”
“Sifatnya menuruni Sebastian, Oma. Jangan kaget,” ucap Nana tidak ingin disalahkan atas prilaku jelek sang anak. “Ada apa Oma ke sini?”
“Um…, Oma ingin mengatakan sesuatu,” ucap Oma duduk di ujung ranjang, menatap Nana yang sedang beres beres di atas kerpet. “Sebastian akan ulang tahun bukan? sebentar lagi?”
Nana mengangguk. “Itu satu minggu lagi, Oma.”
“Nah, daripada kita kabur dan emosi, mending saja kita kurang uang suamimu, Na. kau pasti tau betul kalau Sebastian juga menghamburkan uangnya bersama teman temannya, jadi kita juga harus melakukannya.”
Nana terdiam sejenak.
“Kau tidak usah takut uang suamimu habis.”
“Bukan itu.”
“Lalu kenapa terdiam?”
“Aku ingin mendengar apa kelanjutannya, Oma.”
“Oh astaga, jadi kita akan memesan tiket atau berbelanja. Seperti Rara yang akan ke Jepang, Lily mungkin ingin kapal pesiar untuk anaknya, dan semua yang akan membayar adalah Sebastian.” Oma terkekeh sebentar. “Sekalian Oma juga ingin perhiasan. Hehehe, jadi nanti malam kita tetap makan bersama para pria di rumah besar Rara. Oke?”
🌹🌹🌹🌹
Ares dan Michael kini tengah berada di sebuah rumah yang sangat besar, mereka diberikan berbagai macam makanan dan minuman. Ares yang tidak tahu malu itu memakan semua makanan yang di meja, sementara Michael takjub melihat ada anak yang bisa menampung makanan sebanyak itu.
“Apa kau baik baik saja memakan semua itu?” tanya Michael. “Perutmu akan sakit jika makan lebih banyak, Ares. Sudah hentikan.”
“Bang, abang punya pacar tidak?” tanya Ares duduk di dekat Michael sambil memegang sebuah snack kentang manis.
__ADS_1
“Tidak, memangnya kenapa?”
“Hanya bertanya saja, Abang kan sudah dewasa.”
“Baru juga 12 tahun.”
“Oh….,” ucap Ares kembali focus pada makanannya.
Membuat Michael gregetan. “Sudah jangan makan terlalu banyak, Ares. Nanti perutmu sakit.”
“Tapi ini sangat enak.”
“Kau makan terlalu banyak.”
“Kasihan nanti mereka menangis jika kita tidak memakannya da⸻uk! Uk!”
Ares cegukan, yang mana membuat Michael mengambilkan air dimeja dan menggantikan snack yang ada di tangan Ares dengan gelas itu. “Lihat kau cegukan, minum cepat.”
“Cegukan mana bisa dilihat,” gumam anak itu.
Sayangnya, setelah Ares habis satu gelaspun, dia masih saja cegukan. Yang mana membuat Ares menatap Michael dengan penuh kesedihan. “Abang masih cegukan, bagaimana ini?”
“Coba tahan napasmu.”
“Sampai kapan?”
Ares yang kini sedang duduk berhadapan dengan anak lebih tua darinya itu hanya mengangguk. Dia mulai menahan napas saat Michael memberi isyarat.
Satu detik. Sepuluh detik. Dua puluh detik. Tiga puluh detik. Ares sudah tidak tahan, dia menggelengkan kepalanya sebagai isyarat kalau dia ingin mengeluarkan udara.
“Keluarkan udaranya sekarang!”
Pyuuuuuuutttttt….
“Ih jorok! Bau!”
“Abang bilang keluarkan udaranya.”
“Tapi dari mulut,” ucap Michael yang kini berpindah tempat dan menutup hidung.
Membuat Ares hanya menatap dengan polos kemudian berkata, “Sama saja, cegukannya hilang. Bang, kita naik yuk, lihat lihat ke sana.”
“Nanti tunggu orang dewasa datang.”
“Kita hanya akan melihat lihat di rumah, bukan di hutan. Ayoooo….”
🌹🌹🌹🌹🌹
“Oeeekkkkkk!” untuk yang kesekian kalinya, Joy mabuk. Membuat mobil itu berhenti, begitu pula dengan mobil yang ada di belakangnya.
__ADS_1
Nana keluar sebentar dengan menggendong Joy, membiarkan anaknya menghirup udara bebas dahulu.
“Supilnya bagaimana sih… hiks…. Jalannya belok belok kayak olang mabok.. hiks…,” ucap Joy di sela sela tangisannya.
Yang mana membuat Rara keluar dari mobil untuk melihat keadaan Joy. “Apa dia baik baik saja?”
“Hiks… Aunty…. Jalannya tenapa belok belok macam ulal… hiks…”
“Aduh, Sayang. Maafin Aunty ya, nanti kalau ke Swiss gak usah ke sini lagi ya. Naik helicopter aja, Aunty punya landasannya di rumah Aunty oke?”
“Ndak ote, Joy mual.”
“Joy mau apa bial gak mual?”
“Mau Aunty jangan bicala lagi.. hiks…”
Kalimat yang mana membuat Rara menatap Nana seketika, yang hanya dibalas oleh Nana dengan anggukan. “Karena itulah aku tidak pernah mengajaknya berbicara jika dia sedang mabuk.”
Nana membiarkan Joy berjongkok dulu dan mengeluarkan isi perutnya di pinggir jalan, diberikan kantung muntah malah membuat Joy marah. Sepertinya sudah bosan dengan benda itu.
Nana bergumam, “Apa aku harus naik mobil bak saja ya?”
Belum juga Rara menjawab, Lucas yang sebelumnya tertidur itu keluar dari mobil. “Mommy Rara…”
“Astaga, kenapa kau bangun?”
“Kenapa mobil berhenti? Ayo cepat pulang, bagaimana kalau abang abang itu masuk ke perpustakaan Lucas?”
Nana yang kembali menggendong Joy itu menggeleng. “Jangan khawatir, Mike bukan anak yang suka memberantakan sesuatu.”
“Tapi Aunty Lily bilang anaknya suka.”
Seketika mereka terdiam. “Oh ya, kita harus cepat.”
“Suamimu sudah bisa dihubungi?” tanya nana.
Membuat Rara menggeleng. “Belum, sepertinya mereka masih mencari anak anak yang hilang dan takut disalahkan.”
Sampai Lily yang ada di mobil belakang berteriak, “Gaiss, suamiku sudah aku beritahu. Mereka mungkin dalam perjalanan ke rumah Rara.”
Yang mana membuat Rara menatap Nana. “Aku akan menghabiskan uang suamimu.”
“Lakukan saja, aku bosan kaya.”
“Wow,” ucap Rara takjub. “Swag.”
🌹🌹🌹🌹🌹
TO BE CONTINUE
__ADS_1