
🌹JANGAN LUPA KASIH EMAK VOTE YA ANAK ANAK KESAYANGAN EMAK SEMUANYA.🌹
🌹IGEH EMAK JUGA DIFOLLOW DI : @REDLILY123.🌹
🌹SELAMAT MEMBACA, EMAK SAYANG KALIAN SEMUA.🌹
“Mas?”
“Iya, Sayang?” jawab Sebastian membalikan badannya dan melihat Nana yang berada di ambang pintu. Sebastian sedang bersiap akan bermain basket, ada lapangan basket di area perumahan itu.
Ini biasanya dilakukan Sebastian setidaknya seminggu sekali, bergabung dengan pria yang tinggal di lingkungan ini. “Kenapa? ingin ikut?”
“Bukan, ajak Michael ya.”
Seketika mata Sebastian membulat. “Kenapa aku harus mengajak si Aheng? Bukannya dia mau pulang? Apa Daddy belum menghubungi, biar aku yang menelponnya, Sayang. Jangan khawtatir.”
“Bukan begitu,” ucap Nana yang menggantungkan ucapannya saat mendengar suara tangisan Joy, dia segera melangkah ke tempat bermain putrinya dimana Michael menjaganya bersama dengan Eve di sana.
Sementara Sebastian kini sedang berusaha menghubungi Arnold untuk membawa pergi Michael dari rumahnya, mengingat dia akan basket dan Nana akan pergi ke mall bersama dengan Jenni.Â
Girls time, begitulah Nana menyebutnya sehingga hanya para wanita yang pergi. Jenni, Eve, Karina, Nana dan juga Joy menghabiskan waktu mereka di mall.
Akhirnya panggilan terangkat.
“Hallo, Dad? Kapan kau akan menjemput Mike? Dia menunggumu dan habkan hampir menangis darah karena merindukanmu, dia bilang dia tidak akan bisa hidup tanpa Daddy. Dia mulai menggila sekarang, tolong jemput sebelum dia kehilangan akal dan mengabdikan dirinya pada setan untuk bisa bertemu denganmu.”
“Aku baru saja bicara dengannya di telpon,” jawab Arnold yang seketika membuat Sebastian terdiam.
“Lalu?! Jemput dia, Dad! Aku dan Nana harus pergi.”
“Satu malam saja lagi, Daddy masih ada pekerjaan.”
“Dia bisa dengan pengasuhnya di rumah.”
“Tidak bisa, pengasuhnya sedang cuti. Aku tidak bisa mempercayai orang lain, takut mereka menyakiti Mike.”
“Daddy pikir aku tidak akan menyakitinya?”
Arnold tertawa di sana. “Satu malam lagi, Daddy akan menjemputnya besok.”
Belum juga Sebastian menjawab, Arnold lebih dulu mematikan telpon. Yang mana membuatnya menarik napas dalam kemudian melangkah keluar. Di sana ada Nana yang menatapnya penuh tanya.
“Sudah menghubungi Daddy? Dia meminta satu malam lagi bukan?”
Sebastian mengangguk dengan wajahnya yang ditekuk, tidak mungkin untuknya menyuruh Nana mengajak Michael dengannya mengingat kegiatan rutin itu hanya dilakukan sebulan sekali.
Jadi itu lebih special daripada permainan basketnya. “Aheng! Ayo pergi!”
__ADS_1
“Goooo!” teriak Michael dengan semangat karena akan diajak oleh Sebastian. “Aku ingin naik motor besar milikmu.”
“Oke, tapi ada syaratnya,” ucap Sebastian menyilangkan tangannya di dada.
Yang mana membuat Nana menepuk punggungnya. “Jangan macam macam.”
“Tidak, Sayang.” Matanya kembali focus pada Michael. “Panggil aku dengan Kak Sebastian dan juga Kak Nana, jika kau hanya menggunakan nama itu terdengar kau seperti anak kurang ajaran tingkah laku.”
“Kak? Kakak? Bukankah itu agak aneh?”
“Yasudah kalau kau tidak ingin naik motor besar milikku. Kau tidak tau, Aheng? Motor itu baru saja diganti knalpotnya menjadi lebih keren.”
“Oke, Kak Bas.”
“Bagus. Ayo pergi. Pamitan pada istriku dan keponakanmu.”
“Bye, Na⸻Kak Nana,” ucap Michael melambaikan tangan. “Bye, Kinder Joy.”
“Kau bilang apa, Aheng?!”
🌹🌹🌹🌹🌹🌹
Sekarang ini, Sebastian sedang bermain basket dengan Michael yang duduk di pinggir lapangan sedang bermain dengan anak anak lain di sana. Michael memang mudah untuk bergaul, yang membuat Sebastian tidak kesusahan untuk menjaganya.
Sampai dia merasa kelelahan dan memilih untuk beristirahat sebentar dengan memberi isyarat.
“Hufttt…. Melelahkan,” gumam Sebastian melangkah menuju motornya dan mengambil tasnya untuk minum. Sebastian duduk di sana sambil melihat yang lain masih bermain. “Lebih baik aku bermain dengan Nana, itu lebih menyenangkan,” gumamnya kemudian menyalakan mesin motor.
Sebastian merasakan angin mengenai wajahnya, membuatnya merasa sangat segar dan kembali bugar. “Apa yang aku lupakan ya?”
Sebastian berfikir keras saat sedang mengendarai motor, mencoba menelaah apa yang hilang. Sebastian ingat jika saat berangkat dia merasa duduknya sempit, tapi sekarang dia merasa lebih luas.
“Apa karena aku telah olahraga ya?” gumam Sebastian kemudian kembali santai. Sedetik memudian, “Si Aheng!”
Seketika dia memutar balikan motor dan melajukannya kembali menuju ke lapangan basket, matanya membulat melihat Michael yang sedang berjalan bersama teman temannya yang lain di sana.
Sebastian berhenti di sisi jalan.
“Nah…, aku pikir kau tidak akan kembali,” ucap Michael.
“Maaf aku lupa kau ada. Kalian mau kemana?”
“Kami akan mengantarkan Mike pulang. Kau yakin dia kakakmu bukan pamanmu, Mike? Atau mungkin Kakekmu? Dia begitu pelupa,” gumam salah satu anak yang membuat Michael tertawa saat menaiki motor Sebastian.
“Aku tidak aneh, terima kasih teman teman,” ucap Michael melambaikan tangannya saat motor mulai melaju.
Sebastian terdiam karena kesal.
__ADS_1
“Kak Bas, aku dengar jika kau tidak tersenyum kau akan cepat tua.”
Yang mana membuat Sebastian seketika mengganti raut wajahnya saat itu juga.
Disisi lain, Nana baru pulang dari mall, dia membawa banyaknya belanjaan ke dalam rumah sambil menunggu kedatangan suaminya. Melihat Joy yang tidak rewel membuat Nana tersenyum. “Nanti mandi bersama Daddy ya.”
Tidak lama kemudian, sosok yang dibicarakan itu hadir.
“Sayang…., aku pulang.”
“Aku akan membuat makan malam, mandikan Joy ya. Mandikan juga Michael, dia bau masam.”
“Baik, Nyonya,” ucap Sebastian mendekat dan meminta ciuman.
Yang mana membuat Nana tersenyum kemudian memberikan kecupan di bibir suaminya. “Sudah sana.”
🌹🌹🌹🌹
Kali ini, Sebastian memandikan dulu Joy di bak mandi bayinya di dekat jendela. Sementara di belakang sana Michael sedang berada di dalam shower box karena ingin keramas.
“Kapan aku membuka celana?” tanya Michael.
“Nanti, bersihkan saja kepalamu itu.”
“Oke, oke,” ucap Michael menatap botol yang berjajar di atas kaca itu. “Yang mana?”
“Di sana, cari saja jangan membuatku berdiri, Aheng.”
Michael mendengus kesal dan memakai salah satu botol yang menarik perhatiannya. Botol itu berwarna merah dan sangat harum. Saat memakainya, Michael merasa ada yang aneh. “Kenapa ini tidak berbusa?” gumamnya.
Dia menatap Sebastian yang membelakanginya sedang memandikan Joy. “Kak Bas…., ini tidak berbusa.”
“Gosok dengan sangat kuat.”
“Tidak bisa. Tidak berbusa.”
Dan saat Sebastian mencium aroma tidak asing, dia menoleh. Melihat apa yang ditangan Michael, itu botol conditioner yang biasa dipakai Nana.
“Itu conditioner, Aheng!” teriak Sebastian yang mana membuat Joy menangis seketika.
“Ughh,.. sayang. Maafkan, Daddy. Ayo sudahi ini,” ucap Sebastian segera mengangkat Joy, dia menatap Michael yang melihatnya penuh tanya. “Pindah ke bathub, Aheng.”
Sebastian menyelimuti bayinya dan membawanya menuju kamarnya. “Sayang, bisa kau memakaikan baju untuknya?”
“Kau mau kemana, Mas?”
“Itu si Aheng masih ngambang,” ucap Sebastian bergegas menuju ke kamar mandi lagi.
__ADS_1
🌹🌹🌹🌹
TO BE CONTINUE