Gadis Desa Milik CEO

Gadis Desa Milik CEO
season 2 : dingin


__ADS_3

🌹JANGAN LUPA KASIH EMAK VOTE YA ANAK ANAK KESAYANGAN EMAK.🌹


🌹IGEH EMAK JUGA DIFOLLOW DI : @REDLILY123.🌹


🌹SELAMAT MEMBACA, EMAK SAYANG KALIAN.🌹


Joy menatap sang paman yang sedang bersiap kembali ke asrama, dia bahkan memasukan banyak barang bawaan yang menandakan dia akan lama berada di sana. Nana yang melihat itu hanya menahan tawa, bagaimana bibir anaknya itu berkedut dan menahan tangis. Sejak tadi, Joy berdiri di depan pintu masuk; memperhatikan sang kakek dan pamannya sedang berbincang sambil memasukan barang barang ke dalam bagasi mobil.


“Joy Sayang, sini,” ucap Nana yang sedang duduk memperhatikan. Sebastian yang mengetahui keadaannya sedikit lemah itu menyuruhnya untuk jangan banyak bergerak. Sementara sang suami sedang menelpon dengan sekretarisnya di dalam. “Sini, jangan berdiri di sana, nanti kesenggol Jin mau? Jangan diem di depan pintu.”


“Jin apa? Nama adek bayi?”


“Bukanlah amit amit,” ucap Nana mengusap perutnya. “Jin itu makhluk halus.”


“Kayak bulu kucing?”


Capek aku ngomong sama anak ini, mirip siapa sih dia⸻ batin Nana merana.


“Sini, Mommy mau gendong.”


“Ndak ah, nanti adek bayinya kejepit,” ucap Joy yang memilih melangkah menuruni tangga menuju pada kakeknya.


Tubuhnya yang gempal membuat Joy terlihat seperti bola berjalan, apalagi dia memakai pakaian ketat karena itu adalah pakaian favorite nya sejak satu bulan lalu.


“Joy mana, Sayang?” tanya Sebastian keluar rumah.


“Tuh, sedang mendekati Kakeknya.”


“Eh, kok dia pake baju itu sih? Udah keliatan singset banget itu lemak.”


“Katanya terakhiran sebelum besok disumbangin, udah gak muat sama dia.”


“Udah kayak lontong yang kegedean.”


“Heh!”


“Hahahaha, maaf, Sayang. duduk di sini ah mumpung si gembul lagi di sana,” ucap Sebastian mencuri perhatian sang istri; berdua-duaan dengan Nana sebelum sang pemilik kembali dan menyerang.


Sementara itu, Joy yang mendekati sang kakek itu merentangkan tangannya ingin digendong. Membuat Arnold tertawa. “Aduhhh…, bulat bulat tahu bulat, mau digendong Kakek?”


“Au.”


Dan saat Arnold menggendong Joy… KREK! Pinggangnya berbunyi saat dia baru mengangkat Joy.


Membuat Sebastian yang melihatnya ngakak. “Hahahaha, baru tau dia kekuatan sumo anak kita ya, Sa…… eh enggak, lucu ya Joy?” Sebastian langsung memeluk kembali Nana.


HAP. Joy akhirnya kini digendong sang Kakek. “Apa yang tadi bunyi?”


“Pinggang kakek.”

__ADS_1


“Atit?”


“Enggak kok kalau di cium Joy.”


Seketika Joy mencium pipi sang Kakek, tapi karena terlalu keras membuat sang kepala sang kakek hampir oleg. “Pelan pelan dong kayak yang mau nyundul apa aja.”


Kemudian tatapan Joy beralih pada Michael. “Uncle au kemana?”


“Mau nelpon dulu.”


“Ciapa?”


“Karina,” jawab Michael tanpa menatap keponakannya itu.


Yang mana membuat Joy cemberut kemudian menatap sang Kakek. “Kakek au di cun agi?”


“Ma⸻ aduh aduh aduh.” Kepala Arnold tersundul-sundul oleh bocah yang sedang menahan kesalnya.


🌹🌹🌹🌹


Beberapa saat lalu mobil itu melaju, da Joy masih saya menangis karena tidak bisa bermain lagi dengan pamannya. Dan Sebastian tetap setia di samping anaknya, dia ikut duduk diam. Sesekali tangan Sebastian mengusap ingus Joy yang turun begitu saja; tanpa berniat menghentikan tangisannya.


“Hiks… hiks…. Uncle pelgi… hiks….”


Sebastian diam menatap Tv, menonton kartun kesukaan Joy yang mungkin kini juga menjadi kesukaannya. Sampai dia tidak sadar ingus Joy sudah keluar banyak.


“Daddy ih acin!” teriak Joy di sela tangisannya.


“Cokelat?” tanya dia sumringah, seolah lupa akan kesedihannya. “Ana?”


“Di dapur.”


Dan bocah itu segera berlari ke sana, perutnya naik turun saking senangnya. “Mommmm ana kue?”


“Sebentar belum masak, Sayang.”


“Joy lapal ih, kalau mati gimana?”


“Halah, persediaan kamu masih banyak,” ucap Nana dengan jahil menusuk perut sang anak dengan telunjuknya. “Keras juga, Joy tadi makan apa?”


“Ndak makan apa apa.”


“Jangan bohong,” ucap Nana yang kini berjongkok di depan sang anak, supaya menjajarkan pandangannya. “Mam apa tadi?”


“Ndak mam apa apa ih, makana Joy lapar.”


“Ini pelutnya keras kenapa?”


Joy diam, pipinya mengembung hebat.

__ADS_1


“Kenapa, Mbul?”


“Gak tau, dali cananya gini lah.”


“Tadi Joy mam dorayaki punya Kakek ya?”


“Kakek kacih, Joy mam aja.”


Nana menghela napasnya dalam. “Ngaku juga.”


“Mom, Joy au kue.”


“Iya nanti, tunggu yuk di belakang sama Mommy,” ucap Nana menuntun tangan Joy keluar dari dapur. Jika menggendong Joy itu akan membuat Sebastian marah, jadi lebih baik seperti ini. Kue juga masih dipanggang.


Di halaman belakang, Nana melihat sang mertua sedang membuat sesuatu, kakinya melangkah ke sana penuh rasa penasaran. “Kakek buat apa?” tanya Nana supaya Joy mengikutinya memanggil seperti itu.


“Buat ayunan. Kakek dulu inget pas di Indonesia banyak ayunan yang kayak gini buat anak anak, yang dari samping ya namanya?”


“Iya,” jawab Nana.


Ayunan itu dibuat di atas kolam anak anak, dengan dikaitkan pada batang pohon rindang yang menjalar kokoh di atas kolam renang.


“Joy gak bisa renang, Kek kalau di atas kolam,” ucap Nana.


“Ya kan Kaek tungguin, biar kakinya enak bisa turun main air. Kakek pake yang bagus ini, dari kain yang dikirim dari Persia. Uh, mahal ini. buat Joy duduk biar nyaman, Kakek kasih yang terbaik.”


Nana hanya diam memperhatikan.


“Ini buat Joy, udah selesai. Sini duduk, Kakek dudukin mau?”


Joy mengangguk dan merentangkan tangannya. “Tapi nanti au beli pudding ya, Kek.”


“Iya.”


Dan saat Arnold mendudukan Joy di sana dan…. SREEEETTTT! Kain robek hingga memperlihatkan sebagian pantatt montok Joy dari bawah yang mengenai air.


“Aduh dingin,” ucap bocah itu mencoba meraba pantattnya di bawah sana, namun apa daya tidak sampai. “Lasana dingin, Kek.”


Nana menepuk jidatnya. “Lain kali kalau buat Joy pakai kain besi aja, Kek.”


🌹🌹🌹


 


 


TO BE CONTINUE


 

__ADS_1


 


__ADS_2