Gadis Desa Milik CEO

Gadis Desa Milik CEO
Season 2 : Dalam perjalanan


__ADS_3

🌹JANGAN LUPA KASIH EMAK VOTE YA ANAK ANAK KESAYANGAN EMAK🌹


🌹IGEH EMAK JUGA DIFOLLOW DI : @REDLILY123🌹


🌹SELAMAT MEMBACA, EMAK SAYANG KALIAN🌹


Mobil itu kembali berhenti saat dalam perjalanan menuju Guarda. Joy kembali menangis saat memuntahkan isi perutnya. Membuat Sebastian mengusap wajahnya kasat tidak tega melihat anaknya yang terus muntah perjalanan. 


Ini semua sama seperti saat Sebastian dan Nana melakukan bulan madu, dimana anak mereka kini memiliki gen ibunya yang tidak bisa berlama lama dalam kendaraan.


Karena kondisi Joy yang tidak baik, Sebastian memutuskan untuk memesan sebuah kamar hotel agar putrinya bisa beristirahat. Dimana itu adalah kamar yang luas. Ini bahkan belum setengahnya menuju Guarda. Dan Joy sudah tidak bisa apa apa saat ini.


Yang mana memuat Michael itu menatap bayi berusia tiga tahun dalam gendongan ibunya dengan tatapan sendu. "Apa Joy baik baik saja?"


Melihat itu, Sebastian mengusap rambut Michael. "Ada makanan di meja sana, pergilah menonton Tv."


"Joy tidak ikut?"


"Dia istirahat dulu."


Michael hanya menghela napasnya dalam. Tidak biasa jika Joy tidak bergabung dengannya. Terlepas dari apapun kondisinya, Joy tidak pernah melewatkan camilan dan tontonan kartun. Yang diyakini oleh Michael kalau sekarang ini Joy tidak baik baik saja.


"Tidak apa apa, dia akan baik baik saja"


Setelah mendengar itu, Michael bejalan ke arah ruang keluarga dan menonton TV di sana sambil memakan beberapa camilan.


Sementara Sebastian masuk ke dalam dan mengusap punggung Joy yang berada di pangkuan Nana. "Biar aku saja, Sayang. Kita gantian."


Nana mengangguk dan membiarkan Sebastian yang kini menggendong Joy.

__ADS_1


"Mommy?"


"Bersama Daddy dulu, Sayang. Kasihan mommy mu kelelahan."


Setelah mendengar itu, Joy kembali menyandarkan kepalanya pada dada bidang sang ayah. Membiarkan rasa mualnya menguap di udara.


"Kita akan menginap di sini?"


"Tidak, kita akan berangkat lagi jika Joy sudah baikan. Tidurlah sebentar, sayang. Nanti aku bangunkan setelah Joy meras lebih baik."


Nana mengangguk dan merebahkan tubuhnya di atas kasur. Dia benar benar lelah, apalagi Joy begitu mabuk berat. Yang mana membuat Nana bergumam dalam tidurnya, "Memang anak kampung," ucapnya.


🌹🌹🌹


"Sudah merasa baikan?" tanya Sebastian begitu putrinya bangun dari tidurnya.


Joy mengucek matanya dan mengangguk, dia mendudukan dirinya di atas ranjang. "Daddy, mana Mommy?"


"Mau ke tana," gumam Joy yang turun dari ranjang dan meninggalkan Sebastian sendiri di sana.


Membuat pria itu menatap bayi mungilnya yang tengah berjalan menjauh. "Benar benar keturunan Nana," ucapnya mengungkapkan kekaguman.


Sementara itu Joy keluar kamar dan melihat Mommy serta Uncle kecilnya sedang memakan camilan sambil menonton TV.


"Ih jahat! Joy tidak diajak!"


"Bicara dengan benar, Joy. Kemarilah," ucap Nana merentangkan tangannya yang mana membuat Joy memilih duduk di sisi lain dekat Michael. "Hei, apa kau sedang marah pada Mommy?"


"Joy mau katang yang ini, kenapa Mommy habiskan?"

__ADS_1


"Tidak hanya Mommy. Unclemu juga menghabiskannya."


"Mommy jahat."


"Hei, perhatikan ucapanmu, nanti siapa yang akan menggendongmu di dalam mobil?"


"Daddy."


"Daddy mu menyetir."


"Uncle."


"Tidak mau," ucap Michael. "Berat, nanti Uncle ikutan mabuk."


"Ih jahat."


"Nah. Dengan siapa kau akan duduk di dalam mobil, bayi kecil? Kau selalu mabuk."


"Joy diatap taja, bial tidak mabuk."


Yang mana malah membuat Nana tertawa gemas, Joy selalu saja memiliki jawaban. Benar benar refleksi dirinya sendiri.


Dan saat itulah Sebastian keluar dari kamar dengan wajah ngantuknya. "Ayo lanjutkan perjalanan."


Dan karena kalimat itu, Joy langsung berlari memeluk Mommy nya karena takut naik mobil lagi. Dan sesuai dengan dugaannya, Joy kembali mabuk sampai dia lemas dan tertidur di dalam mobil.


Begitu sampai di tujuan yakni rumah besar yang ada di tengah hutan, Nana mengerutkan keningnya heran. Kenapa ada rumah sebesar ini di hutan?


Berharap tidak ada yang membangunkan putrinya, tapi itu mustahil saat sang pemilik rumah bernama Rara keluar dari sana dengan wajahnya yang menahan senyuman.

__ADS_1


🌹🌹🌹


To be Continue


__ADS_2