
🌹JANGAN LUPA KASIH EMAK VOTE YA ANAK ANAK KESAYANGAN EMAK.🌹
🌹IGEH EMAK JUGA DIFOLLOW DI : @REDLILY123.🌹
🌹SELAMAT MEMBACA, EMAK SAYANG KALIAN.🌹
“Daddy berangkat dulu ya, mau apa?” manik sang Daddy terpaku pada bocah yang sedang memainkan lilin mainan sembari memakan buah-buahan.
“Au cucu ama cokelat.”
“Itu doang?”
Joy yang tersipu malu itu mengangguk kuat. “Icu aja.”
“Yakin? Gak mau pie?” tanya sang Daddy yang membuat manik putrinya berbinar-binar, sontak saja itu didengar oleh Nana. Dia yang sedang membuat makan siang untuk sang suami itu menatap tajam punggung pasangannya. Sampai sang suami kembali bertanya, “Atau pizza?”
“Terus aja ditawarin, nanti kalau dia udah gembul banget baru nyesel,” sindir Nana yang mana membuat Sebastian menegang, dia menatap ke arah belakang untuk sesaat. “Kenapa?” tanya Nana tajam.
“Maaf, Sayang. aku tidak tahan melihat wajahnya yang bulat. Bukankah dia menggemaskan?”
Nana memalingkan wajahnya, membuat Sebastian menelan salivanya kasar. “Lagian Joy yang minta.”
“Eh ndaaaaa…. Daddy yang nawalin loh, Joy mah emam aja, ndaa beli,” ucap bocah itu tidak terima, dia berdiri untuk menyimpan piring kotornya di tempat cuci piring; tepat di samping sang Mommy yang sedang membuatkan bekal makan siang untuk sang suami. “Daddy mah ntu ya, Mom. Bikin Joy emam mulu,” adu sang anak.
“Eh eh eh, kok malah gitu?” tanya Sebastian tidak percaya.
“Daddy mah nda nulut cama Mommy, anti Mommy tidulna cama Joy aja ya.”
“Joy kan udah gede, jadi harus tidur sendiri. Gak jadi nih cokelat sama susunya? Kok malah ngaduin Daddy gitu sih, kan Joy yang mau.”
“Daddy yang nawalin,” sungut anak itu tidak terima, dia kembali memeluk kaki sang Mommy. “Nanti bobo cama Joy aja ya, Mom. Daddy mah nakal, cendilian aja dia mah.”
“Heh, sini gembul.”
“Udah, udah, itu Hans udah di depan.” Nana mengakhiri pekerjaannya. “Ini makan siangmu, Mas. Dan Joy, ayo jalan jalan bersama Mommy di depan.”
“Ih au nonton tv, Mom.” Anak itu mengadah menatap sang Mommy yang jauh lebih tinggi.
“Jalan jalan sebelum sekolah ayo.”
__ADS_1
“Tan nanti uga jalan ke cekolah, kok cekalang jalan jalan agi? Ntar kaki Joy penyok gimana?”
“Gak akan penyok, kan ini banyak lemaknya. Si penyok juga mikir mikir kali, Joy.”
“Ih, Mommy mah, nanti Joy pingcan gimana?”
“Mana ada.”
Bocah itu melepaskan pelukan pada sang Mommy kemudian menatap sang Daddy seolah minta bantuan.
Dan yang dibalas oleh sang Daddy dengan juluran lidah saja. “Dadah, Mbul. Hati hati kakinya pingsan ya, Daddy mah mau naik mobil. Soalnya udah langsing.”
Tatapan Joy beralih pada sang Mommy, berharap dia berubah pikiran.
“Gak ada, ayo bersiap,” ucap Nana mutlak.
Terdengar lagi ejekan sang Daddy, Sebastian mendekati istrinya kemudian mengecup pipinya. “Hajar dia, Sayang. Dan untuk benih kacang Daddy, selamat mengikuti program jalan kaki kakakmu."
🌹🌹🌹🌹🌹
Biasanya Nana selalu kuat jika berjalan jalan di sekitaran kompleks bersama Joy, namun kehamilannya yang kini menginjak usia 4 bulan itu membuat staminanya sedikit menurun. Padahal, dokter mengatakan tidak ada yang salah dengannya dan semuanya masih dalam tahap wajar.
Joy yang sedang menggenggan jari telunjuk Mommynya itu merasakan langkahnya melambat, mengalihkan tatapannya pada wanita yang berkeringat di dahi. “Mommy tenapa?”
“Huh, Mommy capek. Joy capek tidak? Istirahat di sana yuk.”
Joy menurut saja, padahal dia sebentar lagi sampai di rumah dan bisa mendapatkan ice cream sesuai janji Mommy nya.
Mereka berhenti di sebuah taman bermain di area kompleks, duduk di bangku panjang dengan tatapan pada area bermain anak anak.
“Joy mau main di sana?” tanya Nana. “Masih lama menuju sekolah. Pergilah jika ingin bermain di sana.”
“Nda ah, cini aja,” ucap Joy memilih duduk di samping Mommy nya.
Dan Nana juga heran, tidak biasanya bocah kesayangannya ini melewatkan taman bermain di depannya. Apalagi ayunan sedang kosong.
“Mommy akan menemanimu dari sini, ayunannya sedang kosong loh. Tidak mau?”
“Nda, mau cama Mommy aja,” ucapnya menyandarkan kepala pada tubuh Nana.
__ADS_1
Membuat perempuan itu merasa haru, sepertinya anaknya merasakan apa yang sedang dia alami. Membuat Nana gemas dan menggendong Joy untuk duduk di pangkuannya.
Namun baru juga di dudukan, Joy menggeliat seketika dan turun dari sana. “Nda au ah.”
“Loh kenapa? Mommy peluk loh ini. gak mau?”
“Nanti benih kacangna kejepit.”
“Benih kacang?”
“Dedekna Joy,” ucar bocah berpipi gembil.
Sontak membuat Nana tertawa. “Nggak, gak kejepit kok. Sini Mommy peluk ya, kangen Mommy sama Joy.”
“Nda ah, peluknya cini aja. Joy cambil duduk,” ucapnya kembali duduk di samping Nana setelah berontak digendong.
Nana tersenyum dan memeluk putrinya dari samping. Dia mengecup puncak kepala Joy berulang kali.
“Mommy cakit kalena ci kacang ya?”
“Dedek bayi?”
“Iya.”
“Nggak sakit, Cuma capek aja. Makannya coba Joy bilangin adeknya biar gak bikin Mommy capek, biar gak nakal di sana.”
Joy sontak menatap perut sang Mommy yang sudah agak membuncit. “Heh, ntal nda Kakak kacih emam kalau bikin Mommy capek loh. Au?”
🌹🌹🌹🌹
 
 
TO BE CONTINUE
 
 
__ADS_1