Gadis Desa Milik CEO

Gadis Desa Milik CEO
Masih Bertanya


__ADS_3

🌹Jangan lupa kasih emak vote biar emak bisa semangat lagi nulisnya ya anak anak kesayangan emak.🌹


🌹Jangan lupa follow igeh : @RedLily123.🌹


🌹Selamat membaca, emak sayang kalian.🌹


Sebastian memandang istrinya yang sedang memasak, Nana terlihat sangat seksi dengan tangan yang bergerak memasak. Tangannya yang cekatan membuat Sebastian terkagum kagum, bagaimana bisa istrinya sangat hebat seperti itu.


Sambil menatap dari belakangnya, Sebastian tersenyum senyum. “Buatin buat aku juga ya, Sayang.”


“Iya, Mas,” jawab Nana tanpa menoleh, dia sibuk memasak nasi goring di sana.


Beruntung Oma memesankan villa yang memiliki dapur, membuat Sebastian betah menatap istrinya yang memasak. 


“Sayang….”


“Iya, Mas?”


“Cantik banget sih.”


“Aneh dong kalau ganteng.” 


Kalimat itu membuat Sebastian tertawa. “Bisa aja ya jawabnya.”


Nana tidak mengatakan apa apa lagi, dia membawa makanan itu ke meja. “Hati hati, Mas. Masih panas.”


“Suapin dong.”


“Sebentar,” ucap Nana membawa kipas kecil untuk membuat makanan lebih cepat dingin. Nana diajarkan untuk selalu menghormati ayahnya dan suaminya kelak. Ibunya yang mengajarkan itu.


Sehingga Nana terus menyuapi Sebastian tanpa dirinya yang makan satu suap pun. Dalam pikirannya, Nana hanya akan memakan sisa makanan suaminya.


“Sayang? Kok gak ikutan makan?”


“Mas aja dulu.”


Sebastian paham, membuatnya segera menggenggam tangan istrinya kemudian menggeleng. “Tidak ada perbedaan antara perempuan dan laki laki.”


Kemudian Sebastian mengambil sendok di tangan istrinya, kemudian menyodorkannya pada sang istri. “Makan.”


Nana tersenyum sekilas, membuat Sebastian bahagia bukan main bisa melihat sinar di wajah sang istri.


“Mas…”

__ADS_1


“Hmmm?”


“Nanti aku bisa belajar lagi?” tanya Nana sambil mengunyah.


“Belajar?”


“Iya, yang kayak dulu pas kita belum nikah. Pas di hotel.”


“Ah, kamu mau?”


Nana mengangguk. “Selain mau belajar aku juga gak mau bikin kamu malu, aku gak pernah sekolah loh. Baca tulis aja baru belajar kemaren.”


Kalimat itu membuat Sebastian gemas, dia mengusap dahi istrinya kemudian mencubit pelan pipinya. “Kamu bisa apa pun, mau apa pun aku turutin kok. Mas Ganteng ini bikin perpustakaan juga loh di rumah baru kita nanti.”


“Wah, serius, Mas?”


“Iya dong, apasih yang enggak.”


🌹🌹🌹🌹


 Sebastian menggigit bibir bawahnya melihat Nana yang sedang mencuci piring. Sambil duduk menunggu, dia menuangkan alcohol ke dalam gelas dan meminumnya. Sampai satu botol habis dituangkan ke dalam gelas, Sebastian mengerutkan kening merasa pusing.


Masih ada beberapa teguk di gelas, tapi dia ingin mengambilnya lagi dari kamar supaya berlanjut.


“Sayang?”


“Iya, Mas?”


“Apa kau lihat gelas di sini?”


“Yang isinya air masam?” tanya Nana. “Tadi sudah aku cuci.”


“Air masam? Apa kau meminumnya, Sayang?”


Nana mengangguk pelan. “Rasanya aneh,” ucapnya mulai merasakan pusing.


“Sayang, apa kau baik baik saja?” tanya Sebastian khawatir.


Nana mengangguk lagi. “Aku akan membawa jamu dari Oma.”


“Biar aku bawakan.”


Sebastian membawakannya dari kamar dan membiarkan Nana meminumnya. “Jamu apa itu?”

__ADS_1


“Sebenarnya aku tidak tahu, tapi Oma bilang harus minum ini sebelum tidur jika sudah sampai.”


Dan saat itulah Sebastian sadar kalau itu bukan jamu, melainkan larutan perangsang.


Terbukti beberapa saat kemudian Nana terlihat tidak nyaman, tubuhnya terasa panas dan beberapa titik di tubuhnya merasa panas. “Mas… panas…”


Dan tanpa aba aba lagi, Sebastian mencium bibir istrinya.


Nana yang menyukai sensasinya itu hanya bisa mengikuti alur pergerakan. Bahkan saat dia tidak sadar pakaiannya perlahan dibuka, dirinya malah mendesah.


Nana yang tidak tahan dengan sensasi itu menggesekan dadanya dengan dad telanjang suaminya.


“Akkkhhh!”


Nana melingkarkan tangannya di leher sang suami saat dia terangkat, kepalanya pusing dan merasa gelap sampai akhirnya bisa merasakan empuknya kasur.


Nana mulai berkeringat, desahann dari mulutnya keluar seiring dengan sentuhan suaminya. Nana merasakan miliknya telah basah, dia tidak tahan dan hanya memejamkan mata menikmati sensasi ini.


Sampai akhirnya tiba tiba benda tumpul menggesek miliknya, Nana membuka matanya seketika dan melihat sebuah alat perang yang berdiri tegak dan tinggi juga mengeras.


“Euhh… Mas…., akhhhhh….,” lirih Nana saat Sebastian terus mencium lehernya dengan tangannya yang meremas dada.


Tatapan Nana sedikit terangkat sehingga focus pada sesuatu di bawah sana.


“Euhhh… Mas…”


Ketika Sebastian hendak mendorongnya, Nana menahan perut suaminya. Dia bahkan takut melihatnya sebesar itu. “Besar, Mas. Gak muat.”


“Muat, Sayang,” ucap Sebastian yang dilanda gairah.


Dia kembali mencium bibir istrinya saat hendak memasukan kejantanannya.


Nana memejamkan matanya saat benda yang menggeseknya mulai masuk. Dia mencoba menikmatinya, tapi kenyataannya Nana tidak bisa menahannya. “Aaaakkhhh!”


Nana melepaskan ciuman, dadanya membusung dengan tangan mencakar punggung suaminya saat benda itu berhasil masuk sepenuhnya.


Sebastian diam sebentar membiarkan istrinya tenang dengan memberikan beberapa kali ciuman di sekitar lehernya.


Nana mulai tenang, napasnya mulai teratur. Kemudian dia bertanya pelan dalam rintihan rasa sakit, “Sekarang gimana, Mas?”


🌹🌹🌹🌹


TBC

__ADS_1


__ADS_2