
🌹JANGAN LUPA KASIH EMAK VOTE YAA ANAK ANAK KESAYANGAN EMAK SEMUANYA.🌹
🌹IGEH EMAK JANGAN LUPAA DIFOLLOW DI : @REDLILY123.🌹
🌹JANGAN LUPA AJAK YANG LAIN BACA CERITA INI YA. EMAK SAYANG KALIAN SEMUA. I LOVE YOU GAISSSS.🌹
“Apa yang akan dia lakukan dengan palu ini?” tanya Arnold begitu dia tiba di lantai VVIP, dimana di sana ada Hans yang sudah menunggu kedatangannya.
Pria itu menggeleng mendengar pertanyaan sang majikan, membuat jantung Arnold semakin berdetak dengan kencang saat melangkah menuju ke kamar sang putra.Â
“Kau mau kemana?” Arnold menatap Hans yang berkemas dengan tasnya di luar ruangan.
“Ada yang harus saya bereskan.”
“Kau tidak akan menemaniku, bagaimana jika Nana menginginkan hal hal yang aneh?”
“Eve ada di ruangan di ujung sana, anda bisa meminta bantuan padanya,” ucap Hans kemudian menggendong tasnya. “Saya pergi, Tuan.”
 Arnold menelan ludahnya kasar, dia mengetuk pintu sebelum masuk ke dalam. Dia melihat Nana sedang berbicara dengan Eve di sana, dengan Sebastian yang masih duduk dengan mata terbuka. Arnold mendekati putranya. “Apa yang terjadi?” tanya Arnold yang dibalas gelengan kepala oleh Sebastian.
“Aku tidak tahu, sejak tadi Nana meminta hal hal aneh pada Eve, dia meminta dibelikan kamera polaroid, lalu lilin mainan bermerk playdoh kemudian mereka sedang bicara sekarang,” ucap Sebastian.
Ingatannya berputar saat tadi memeluk Nana, bagaimana wanita kesayangannya itu meminta dibawakan hal hal seperti itu. Dan juga…. Sebastian baru ingat Nana juga meminta dibawakan palu.
“Apa Daddy membawanya?”
“Palu ini?”Â
Tatapan keduanya terpaku pada benda yang sedang dipegang Arnold, mereka menelan ludah mereka kasar.Â
“Kenapa Daddy membeli palu besi yang besar itu?” tanya Sebastian tidak terima dengan palu yang di bawa Daddy nya, sudah besar, menakutkan pula. Sebastian juga merasakan hal yang janggal akan terjadi.
Arnold menggeleng. “Iya, hanya ini yang tersisa. Apa dia kesal dengan Daddy yang terlihat mempermainkanmu?”
“Dia mungkin lebih kesal padaku karena aku menyembunyikan tentang kesehatanku.”
“Tapi kau suaminya, jika dipukul pun tidak akan sekeras Daddy.”
Sebastian menggeleng tidak terima. “Dia tidak akan memukul Daddy sekeras itu karena Daddy sudah tua, sedangkan aku?”
“Tapi kau berpenyakitan, dia mungkin lebih perhatian.”
“Daddy sudah memiliki uban, mungkin Nana akan mempertimbangkannya.”
Arnold terdiam. “Kenapa kita membicarakan ini? apakah Nana akan benar benar memukul kita?”
__ADS_1
Kedua pria yang sebelumnya berdiskusi itu menelan saliva mereka kasar saat melihat Nana berbalik menghadap mereka. “Oh, Dad sudah di sini?”
Aura semakin menegangkan saat nada bicara Nana begitu datar dan tidak berperasaan, apalagi saat wanita itu mendekat dengan wajah datarnya.
“Daddy membawa palu yang aku minta?”
“Ini,” ucap Arnold menyerahkannya pada Nana. “Apa yang kau inginkan, Nak? Apa yang cucu Daddy inginkan?”
“Aku ingin memotret Daddy,” ucap Nana mengarahkan lensa polaroid pada Arnold. “Tersenyumlah.”
Arnold tersenyum dengan kaku, kemudian lensa diarahkan pada Sebastian. “Kau juga senyum, Mas.”
Sebastian pun melakukannya, tidak jauh beda dari Arnold yang kaku.
“Sudah selesai, kalian boleh melanjutkan yang lain. Terima kasih, Dad,” ucap Nana yang sibuk memberikan foto itu pada Eta. Kemudian Eta menempelkannya pada lilin mainan yang sudah dibentuk kotak.
“Apa yang akan kau lakukan, Nana?” tanya Arnold.
“Tidak ada, hanya menyalurkan kekesalan. Dad, kau bisa pulang.”
“Aku ingin melihat apa yang cucuku inginkan di dalam perutnya.”
Dan saat Eve menyimpan dua foto yang sudah dialasi lilin itu di meja…. BRUK! BRUK! BRUK! BRUK! BRUK!
Mata Sebastian dan Arnold membulat melihat Nana memukuli foto foto itu dengan ekpresi yang marah, yang mana membuat tangan Sebastian menggengam tangan Arnold. keduanya terlihat ketakutan, apalagi saat keringat menetes di dahi Nana saking kuatnya dia memukuli foto itu.
Arnold menatap Sebastian takut, “Kau yakin dia gadis desa? Bukan preman pasar?”
🌹🌹🌹🌹🌹
Pagi hari yang mendung, Nana membuka matanya dan melihat sang suami masih terlelap. Meskipun dia tidur jam empat dini hari, Nana selalu terbangun di pagi hari, seperti itu sudah kewajiban untuknya.
Nana keluar dari kamar pasien.
“Nyonya, anda butuh sesuatu?” tanya perawat yang lewat.
“Tidak, aku mencari seseorang.”
“Sarapan akan disediakan pukul enam tiga puluh, Nyonya. Ada menu yang anda inginkan?”
“Tidak, aku akan membeli sendiri ke bawah.”
“Baik, Nyonya.”
 Nana menemukan Eve yang sedang menelpon di koriodor. Nana mendekat ke sana. Lantai VVIP yang sepi hanya ada perawat dan beberapa penjaga di sini, bahkan memiliki resepsionis sendiri, tetap saja Nana tidak suka. Dia akan membawa Sebastian pulang dan merawatnya di rumah. Berlama lama di rumah sakit membuatnya mual.
__ADS_1
“Nyonya, anda sudah bangun?”
“Aku ingin keluar dari sini, bisakah dia di rawat di rumah?”
“Saya bisa mendiskusikannya dengan dokter jika itu yang anda inginkan.”
Nana mengangguk, dia mengucek matanya. “Aku juga ingin menemui Jenni, tinggal satu orang lagi yang belum aku….. HOAM…..,” ucapan Nana terhenti saat dia menguap. “Aku akan ke bawah, jangan lupa jika melihat Jenni…. HOAM.”
“Saya akan mengantar anda ke bawah, Nyonya.”
“Tidak, kau di sini menunggu Sebastian. Lagipula aku tidak akan ke bawah sendirian, bodyguard itu mengikutiku,” ucap Nana menunjuk seorang pria bertubuh besar yang dipekerjakan oleh Hans. “Jangan lupa Jenni.”
“Baik, Nyonya.”
Nana turun ke kantin rumah sakit di bawah, mulutnya sudah terbiasa dengan makanan sederhana namun mengenyangkan dan juga enak. Mungkin makanannya terlihat sama, tapi rasanya berbeda.Â
Nana membeli beberapa riti lapis, bubur kenari dan juga oemelet. Tidak lupa makanan makanan manis yang selalu memanjakan mulutnya.
“Ini pesanan anda.”
“Terima kasih,” ucap Nana menerimanya. Dia menghela napas. “Ah…., semoga saja setelah ini keadaan akan baik baik saja.”
Nana tidak langsung pergi kembali ke lantai atas, dia berjalan jalan sebentar di taman rumah sakit dengan bodyguard yang memperhatikan dari jarak 15 meter. Nana juga memakan beberapa makanan yang dibelinya sambil duduk di bangku sana.
Taman masih sepi, jam seperti ini mereka masih terlelap untuk tidur. Tapi tidak untuk Nana, kebiasannya tidak dapat dipisahkan.
Sekitar dua puluh menit, baru Nana kembali ke lanta atas.
“Eve? Bagaimana Jenni?”
“Di kamar, Nyonya.”
“Kamar?” tanyaa Nana mengerutkan kening sambil melangkah ke sana. Kenapa Jenni ada di kamarnya? Yang hanya ada Sebastian di sana? Apakah dia akan memulai kecurigaan lagi?
Namun, saat masuk, tidak ada siapapun di sana. “Jenni?” tidak ada sura sahutan kecuali dengkuran halus milik suaminya.
“Eve, dia tidak ada di sini,” ucap Nana berbalik menatap Eve yang ada di daun pintu.
“Ada di meja, Nyonya.”
“Apa?” nana mendekati meja, di sana ada palu, foto Jenni dengan lilin mainan yang menjadi alasnya.
“Silahkan tuntaskan amarah anda, Nyonya.”
“What?” gumam Nana terheran heran.
__ADS_1
🌹🌹🌹🌹🌹
TO BE CONTINUE