Gadis Desa Milik CEO

Gadis Desa Milik CEO
Season 2 : Pemberian Joy


__ADS_3

🌹KASIH EMAK DUKUNGAN YA GAIS. TEKAN LOVE🌹


🌹JANGAN LUPA FOLLOW: @RedLily123.🌹


🌹SELAMAT MEMBACA. I LOVE YOU. 🌹


Mendengar kabar bahwa menantunya akan melahirkan anak keduanya, Arnold bergegas kembali ke kota dimana sang putra berada. Sepertinya pria tua itu sudah terbiasa pulang pergi menemui cucunya, sampai sampai mengabaikan jarak yang begitu besar dan membutuhkan waktu berjam-jam.


Saking seringnya ikut campur dengan urusan anaknya, Arnold kini sudah tau dimana tempat biasa Nana dirawat di sana.


Dia berlari di koridor, sampai mendapati Eve sedang berjalan mendahuluinya.


“Eve!”


“Astaga, Tuan Besar.”


“Bagaimana dengan Nana?”


“Sedang dalam proses persalinan, Tuan.”


“Bas?”


“Dia ada di dalam.”


“Joy? Apa dia di sini?”


“Ya, dia ada balkon,” jawab Eve.


Yang jelas membuat Arnold terkejut. Bagaimana bisa bocah itu masih terjaga di malam hari seperti ini, bahkan ada semburat amarah di matanya. Dan Eve menyadari hal tersebut.


“Maaf, Tuan, Nona Joy akan tidur di salah satu kamar VIP yang kosong. Dia tidak ingin meninggalkan orangtuanya, tapi saat ini dia sedang memakan jelly.”


“Biar aku yang membujuknya. Siapkan saja kamarnya.”


“Um sudah, Tuan.”


“Lakukanlah hal lain,” ucap Arnold yang tidak ingin diganggu kebersamaannya dengan sang cucu.


Dia kini lebih mempedulikan Joy. Sebastian yang sedang pusing karena menemani persalinan? Itu menjadi bebannya.


Begitu mendekati balkon, Arnold mendapati bocah kecil itu tengah memakan jelly di sana, dengan salah satu pengasuh yang menunggunya.


“Takek!” teriaknya mendapati Arnold.

__ADS_1


Membuat pria tua itu tersenyum. “Cucu kesayangan Kakek,” ucapnya sambil memberi isyarat untuk meninggalkan mereka berdua yang sedang berpelukan.


“Udah, Kek. Peyut Joy keteken,” ucapnya mengelus perut buncitnya.


“Kenapa belum tidur?”


“Belum abis.”


“Habiskah cepat, dan tidur ayo.”


“Mommy takit ya?”


“Iya, Mommy sedang melahirkan adik bayi.”


“Melahilkan ntu?”


“Proses pengeluaran bayi,” ucap Arnold ikut duduk di samping sang cucunya, dan membantu menghabiskan jelly lebih cepat.


“Dibelesinin?”


“Kata siapa dibersinkan?”


“Daddy bilang, katana bayina belsin, anti kelual.”


“Joy mah belsin nda kelual bayi.”


“Bayi ada di perut kalau Joy menikah.”


“Ntal kembung, ayak gini?” tanya bocah itu sambil mengelus perutnya.


Dan Arnold hanya tertawa. “Iya, kayak gitu.”


“Belalti ini Joy cimulaci hamil ya, Kek?”


Yang membuat Arnold bergumam, “Ini bocah sangat mirip Sebastian dan Nana, perpaduan sempurna.”


🌹🌹🌹🌹🌹


Kedua orang yang tidur itu bahkan tidak menyadari keributan di luar sana. Mengingat di luar masih gelap, Arnold yang sempat membuka matanya itu masih mengira jika itu adalah bagian dari mimpi.


Sampai dia merasakan tubuhnya diguncang. “Tuan Besar…., Nyonya Nana sudah melahirkan bayi laki laki.”


Seketika mata itu membulat, dia langsung mendudukan diri dan membuat Joy yang tengkurap di atas perut sang kakek ikut membuka matanya.

__ADS_1


“Tenapa?”


“Mommy sudah melahirkan, mau lihat adik bayi?” tanya Arnold yang masih mengumpulkan kesadarannya, dia membantu membersihkan upil sang cucu yang mongering.


“Au,” jawabnya sambil memeluk leher Arnold.


“Dimana dia? Di ruangannya?”


Pengasuh itu mengangguk.


Membuat Arnold bergegas melangkah pergi dari sana, dia mengetuk pintunya sebelum masuk. Dan mendapati Nana yang sedang menggendong bayi, dengan Sebastian yang ada di sampingnya; merangkul pundak sang istri sambil tersenyum.


“Hallo, Dad, kenapa baru bangun?” sindir Sebastian.


“Ck, ini masih jam 5 pagi, kalian yang terlalu pagi,” ucapnya mendekat. “Joy, lihat itu adikmu.”


Joy yang sebelumnya menumpukan dagu di bahu sang Kakek kini menoleh, menatap bayi merah yang ada digendongan sang mommy.


“Sini, mau melihat lebih dekat?” tanya Nana melihat Joy sesaat sebelum kembali focus pada sang bayi.


Dimana dua pasang mata itu lebih memperhatikan sang bayi, melupakan Joy yang tidak suka diabaikan.


“Joy mau…..,” ucapan Arnold terhenti saat melihat wajah sang cucu. “Joy kenapa menangis?”


“Hiks…. Nda cuka….”


“Hei, hei, kenapa anak Daddy menangis?” Sebastian turun tangan dan mencoba mengambil alih Joy yang memeluk kakeknya. “Kemarilah, Daddy gendong ya?”


“Nda au.”


“Kita lihat adek bayi.”


“Hiks… nda ah.”


“Joy mau kasih nama tidak pada adik bayinya?”


Sontak pertanyaan itu membuat Arnold dan Nana terkejut. Terkecuali Joy yang tersenyum dan perlahan melihat wajah sang Daddy yang sama terkejutnya dengan pertanyaan yang dia ajukan.


“Maksud Daddy bukan begitu, Joy…”


“Joy au kok,” ucapnya merentangkan tangan meminta digendong sang Daddy.


🌹🌹🌹🌹🌹

__ADS_1


TO BEE CONTINUE


__ADS_2