Kandas

Kandas
Perasaan Was-was


__ADS_3

Aku berpisah dengan Arjun di gedung jurusannya, meneruskan langkah setengah berlari ke arah gedung jurusanku. Lima menit lagi kelas akan dimulai. Aku tak mau bu Wiwin menatapku sinis jika masuk telat. Hari ini semesta seolah berpihak padaku. Sesampainya di depan kelas, masih banyak yang duduk-duduk dengan santai di pelataran kelas, menandakan bahwa dosen killer cantik itu belum masuk.


"Eh Runa ... Hari ini terlihat cantik sekali," goda Satya ketika aku baru menginjakkan kakiku di depan kelas.


"Eh bener ... Runa hari ini seperti boneka," celetuk Dody bangkit dari duduknya mendekatiku.


"Boneka Chucky, maksud lo?" balasku sambil mencebik.


Tiba-tiba saja pandangan para cowok yang tadi tengah asyik berdiskusi, entah apa, beralih padaku. Membuatku sedikit jengah. Aku pikir perubahanku pagi ini tak akan begitu di perhatikan, karena mahasiswi yang lain juga sudah terbiasa ke kampus dengan berdandan, aku hanya cewek kesekian yang membubuhkan make-up ke wajahku, harusnya tidak akan terlalu mencolok.


"Ih ... Biasa aja kali, enggak usah norak deh," sungutku menepis tatapan mereka yang membuat jengah.


"Eh, ada angin apaan, nih, lo dandan begini?" celetuk Andin ketika ia melihatku datang dan duduk di sebelahnya.


"Menor banget ya, Ndin? Gue jadi enggak pede," tanyaku setengah berbisik.


"Enggak menor, cantik kok. Cuma karena elo jarang dandan, jadi kelihatan banget," kekeh Andin.


"Lagian, lo lagi kenapa? Jangan bilang ada hubungannya sama Arjun, deh," lanjutnya.


Aku hanya memberikan cengiran lebar.


"Ya Tuhan, Run. Enggak salah gue?" Tawanya pecah.


"Gue cuma mau tampil beda aja, gitu," sungutku.


"Tenang aja, walaupun muka lo kucel, Arjun tetep suka ama lo."


"Iya ... Iya ... Gue tau, di hati Arjun cuma ada gue," balasku.


"Eh, bentar ... Ada yang gue lewati, nih, kayanya." Andin mendekat kan wajahnya ke wajahku, memasang wajah penasaran.


"Gue, udah jadian sama Arjun ...." bisikku di telinga Andin.


"What?" pekik Andin, membuat seisi kelas beralih fokus pada kami berdua. Aku membekap mulut Andin agar tak melanjutkan kicauannya.


"Biasa aja napa, enggak usah teriak segala," sungutku setengah berbisik.


"Eh, tapi gue kemarin cuma canda doank nyuruh lo bilang kalo suka ke Arjun, ternyata berani juga lo," sahut Andin juga dengan sedikit berbisik.


"Selamat pagi ...." sapaan suara lembut teh Wina asisten bu Wiwin, menghentikan pembicaraanku dengan Andin.


"Lo hutang cerita," bisik Andin seraya memutar posisi duduknya menghadap depan kelas.

__ADS_1


"Iya, pasti."


Selama mata kuliah berlangsung, Andin beberapa kali melirik ke arahku sambil tersenyum-senyum, membuat aku jadi malu sendiri.


***


[Jun, gue ditawan Andin dulu, nih. Lo makan siang bareng Riko aja ya] Aku mengetikkan pesan pada Arjun ketika hendak meninggalkan kampus.


[OK, tapi ntar pulang harus bareng gue] balasnya tak lama setelah pesanku terkirim.


Andin bersikeras ingin mentraktirku di coffe shop yang terletak tak jauh dari gedung fakultasku.


Suasana coffee shop siang ini cukup ramai. Kami membutuhkan waktu beberapa saat untuk mendapatkan tempat untuk duduk. Akhirnya, tempat duduk paling pojok menjadi satu-satunya tempat yang masih tersisa.


"Jadi, gimana ceritanya lo bisa jadian," pekik Andin sedikit tertahan ketika kami baru saja duduk di bangku coffe shop. Suaranya sedikit tertelan oleh suara pengunjung yang lain.


"Dia tiba-tiba nembak gue kemarin," sahutku sambil melambaikan tangan, memanggil waitress yang berdiri tak jauh dari meja kami.


Aku berusaha santai mengatakannya pada Andin, tapi degub jantungku tak dapat aku kendalikan. Seketika wajahku memanas, mengingat momen kemarin sore.


Setelah waitress yang mencatat Pesanan telah meninggalkan meja kami, Andin kembali bersuara.


"Huwaa! Gue speechless ... Ha-ha-ha," pekik Andin agak tertahan, ia menepuk-nepuk meja dengan girang.


"Gimana gue enggak girang, lo akhirnya melepas status jomblo akut lo! Gue pikir lo bakal jadi perawan tua karena kualat nolak-nolakin cowok yang nembak. Enggak taunya lagi nungguin si pangeran tampan buat nembak." Kali ini kedua tangannya menjangkau dan mencubit pipiku.


"Aw! Biasa aja kali, Ndin. Sakit tau!" protesku mengusap kedua pipi yang makin terasa panas akibat cubitan bar-bar makhluk cantik di depanku.


"Ha-ha lo kayak enggak tau aja, kalau gue girang." Kembali gadis manis itu tersenyum memamerkan sederet gigi yang di tempelin kawat behel.


"Permisi Teh, ini pesanannya. Minumannya caramel maciato sama afogato. Chicken scalop sama bruschetta beef ya." Dengan cekatan waitress tersebut menghidangkan pesanan kami.


Setelah puas mendengar ceritaku mengenai


kejadian kemarin saat Arjun menyatakan perasaannya, akhirnya Andin mulai agak tenang, tidak berapi-api seperti saat awal tadi.


"Tapi kita ngedadak jadi canggung," gelakku agak sedikit gugup.


"Ya, namanya juga orang baru jadian. Udah dinikmatin aja." Andin kembali terkekeh.


"Udah jam dua belas lewat, cabs yuk," ajakku pada Andin.


Lega, itulah yang aku rasakan saat ini setelah bercerita dengan Andin. Jika selama ini aku merasa perasaanku pada Arjun adalah perasaan yang salah, tapi tidak menurut Andin. Wajar saja perasaan itu tumbuh seiring kebersamaan kami. Apalagi dari awal kenal, memang Arjun telah menaruh hati padaku.

__ADS_1


Getaran ponsel di tas menghentikan langkah ku, mencari benda pipih itu diantara di kantong kecil dalam tas. Nama maktuo Erni kakak perempuan ibu tertera disana.


"Assalamualaikum, Maktuo," sapaku setelah memencet tombol menerima panggilan.


"Assalamualaikum, sayang. Anak maktuo lagi kuliah, ya?" tanya suara lembut maktuo Erni di ujung sambungan.


"Baru beres istirahat. Tumben Maktuo nelpon siang-siang?" tanyaku agak sedikit heran.


Perasaan tidak enak tentang ibu kemudian muncul kembali. Tak biasanya maktuo menelponku pada waktu jam kuliah. Terlebih lagi tadi pagi mendengar suara ibu yang terdengar agak lain dari biasa.


"Kata ibu kamu, besok ke Depok ya?"


"Iya, kenapa gitu, Maktuo?"


"Kamu besok naik kereta aja, nanti Maktuo jemput ke Gambir," usul beliau.


"Jadi muter-muter, dong, Maktuo? Lagian nanti repot banget Maktuo anter ke Depok, secara macetnya juara," sahutku.


"Emangnya kamu enggak kangen sama maktuo? Udah besok ke Jakarta dulu aja, nanti bareng ke tempat ibu, ya," bujuk nya setengah memaksaku.


"Ha-ha iya, deh. Kalau gitu besok aku kasih tau jam berapa berangkatnya." Akhirnya aku mengalah.


"Baiklah sayang ... Sampai ketemu besok." Maktuo mengakhiri pembicaraan.


Aku menyimpan kembali ponselku ke dalam tas. Perasaan tidak enak yang tadi pagi sempat teralihkan muncul kembali.


"Kenapa, Run?" tanya Andin melihat perubahan di wajahku


"Perasaan gue enggak enak, Ndin. Tadi pagi nyokap gue nelpon, tapi suaranya enggak kaya biasa. Lalu sekarang kakak nyokap gue nelpon, agak maksa buat ke tempat dia sebelum gue ke tempat nyokap. Gue takut nyokap gue kenapa-kenapa, Ndin."


Tiba-tiba saja aku tercekat. Takut hal buruk menimpa ibu. Aku sudah tidak punya siapa-siapa lagi selain ibu. Memang aku masih punya maktuo, kakak ibu, tapi kehadiran seorang ibu tentu tak mampu digantikan oleh siapapun.


"Lo berdoa aja, nyokap lo enggak kenapa-kenapa, Run," ujar Andin berusaha menghiburku.


"Iya ...." sahutku menghalau gundah yang mendadak hadir.


Aku tak begitu menangkap lagi apa yang Andin ceritakan di perjalanan menuju kampus. Pikiranku mulai mengembara pada ibu. Apa jadinya nanti jika ada hal buruk yang terjadi pada ibu. Meskipun selama ini ibu selalu Cerewet, tapi apa yang disampaikan ibu itu selalu untuk kebaikanku. Semenjak ayah meninggal, ibu bekerja tanpa lelah mencari nafkah agar mampu membiayai kuliahku.


Pernah dulu aku bilang pada ibu untuk tidak melanjutkan pendidikanku ke jenjang sarjana, tapi ibu tidak terima. Ibu berharap, walaupun beliau harus hidup berhemat, aku harus menyelesaikan pendidikanku sampai tingkat sarjana. Ibu yang hanya bekerja di bagian administrasi keuangan disebuah leasing kendaraan, tentu pendapatannya tak begitu besar. Tapi ibu tak pernah mengeluh merasa terbebani dengan biaya kuliahku.


Beruntung, ketika semester tiga, aku bisa mendapatkan beasiswa, sehingga beban ibu memikirkan biaya kuliahku sedikit berkurang.


Diam-diam, ku lafalkan doa untuk kebaikan ibu. Aku ingin terus bersama ibu sampai ibu menua, sampai aku mampu mempersembahkan hasil dari segala jerih payahnya menghidupiku seorang diri.

__ADS_1


Tuhan, tolong jaga ibuku....


__ADS_2