Kandas

Kandas
Menata Hati Kembali


__ADS_3

Selama berada di rumah maktuo, aku dan Arjun sama-sama saling tak menghubungi. Biasanya Arjun yang menghubungiku jika aku tak memberi kabar. Hatinya pasti sangat terluka. Bukan kebiasaannya mengabaikanku seperti ini.


Aku pun merasakan sakit. Jantungku terasa bagaikan dipaksa tercerabut dari rongganya. Menyisakan ruang kosong yang teramat lengang. Hatiku mendadak sunyi. Baru kali ini aku merasakan ketiadaan Arjun sesakit ini. Terbiasa selalu bersamanya, membuatku tak pernah merasa sendiri. Mungkin selama ini, bukan hanya Arjun yang membutuhkanku, aku pun membutuhkan kehadirannya.


Untung saja kehadiran ibu membuatku sedikit mampu mengenyahkan semua pikiran tentang Arjun. Pagi ini, ibu mengajakku ke taman tempat Wina pernah mengajakku dulu. Ibu benar-benar berusaha menjaga pola hidup yang lebih sehat. Setiap pagi rutin melakukan olah raga, pola makan pun berubah. Ibu memilih menjadi vegan, untuk menekan pertumbuhan sel kankernya.


Jika kondisinya stabil sampai tiga bulan kedepan, ibu akan dijadwalkan untuk operasi pengangkatan kanker yang saat ini telah menjalar ke bagian organ perut. Beliau benar-benar bersemangat untuk bisa menjalani operasi itu, walaupun dokter telah menyatakan bahwa keberhasilan operasi hanya tiga puluh persen.


"Tiga puluh pesen itu besar, Run. Ibu akan tetap berjuang walau peluang ibu hanya satu persen." Ibu berkata tegas. "Kamu bantu dengan do'a biar kita bisa keluar dari masalah ini," kata ibu kemudian dengan lembut.


"Iya, Bu. Aku selalu berdoa buat Ibu. Aku ingin kembali bersama Ibu di Bandung seperti dulu." Aku tercekat ketika mengucapkannya.


"Sudah, tidak perlu terus-terusan bersedih. Tuhan memberi kita cobaan ini, karena kita mampu menerimanya," hibur ibu membelai lembut tanganku.


Aku berusaha kuat menahan agar tak menangis agar ibu juga tak perlu bersedih. Kupeluk erat tubuh ibu. Merasakan kenyamanan dari tubuh perempuan yang telah berjuang demi kehidupanku dari pertama aku bernapas ke dunia.


"Kok nangis?" Ibu mendorong pelan tubuhku dari pelukannya. Tersenyum menatapku yang tak mampu lagi menahan bendungan airmata.


"Bentar lagi Runa ikut KKN, akan lama tidak bisa bertemu ibu." Aku memberikan alasan.


"Kan masih bisa telpon."


"Semoga saja Runa ditempatkan di desa yang masih ada sinyal hpnya, Bu. Dengar-dengar, ada juga yang penempatannya di desa yang susah sinyal." Tiba-tiba saja aku teringat pengalaman kakak tingkat yang telah menjalani Kuliah Kerja Nyata di sebuah desa yang jauh dari fasilitas memadai, jangankan sinyal seluler, listrik pun tidak ada.


"Tidak usah mengkawatirkan apa yang belum terjadi. Ketakutan itu bisa meracuni pikiran, pikiran yang tidak sehat mempengaruhi kesehatan tubuh," tutur ibu.


Rasa kagumku pada ibu makin bertambah. Tidak sedikit pun cobaan yang diberikan Tuhan membuatnya patah semangat. Selalu berpikir positif dalam keadaan apapun.


Aku memeluk ibu makin erat, tak ingin melepaskannya. Jika diizinkan, aku ingin selamanya bersama Ibu seperti ini. Menghabiskan sisa waktu bersama tanpa mengkhawatirkan apapun.


"Ibu juga berdoa, Runa sama Arjun bisa tetap berhubungan baik setelah ini, ya. Semoga kalian bisa menemukan pasangan hidup yang sama-sama menyayangi seperti sekarang." kalimat yang di sampaikan ibu sontak membuat ruang kosong itu kembali hadir.


"Iya, Bu," gumamku dalam dekapan ibu. Aku tak ingin kesedihan ini makin berlarut. Tak peduli beberapa pengunjung taman yang sesekali mencuri pandang pada kami. Mungkin terlihat aneh dua orang berpelukan di tengah taman.


"Arjun kok enggak main lagi ke sini?"

__ADS_1


Aku melepaskan pelukanku. Berpikir sejenak untuk menjelaskannya pada ibu.


"Dia sudah lama tidak bertemu papanya, mungkin mereka sedang asyik menghabiskan waktu berdua." Kupaksakan tersenyum, untuk menghilangkan keraguan dari kalimat yang kuucapkan sendiri.


"Oh, begitu? Semoga bukan karena hal yang kemarin ya." Ibu membalas senyumku, kembali menarikku ke dalam dekapannya, mengusap pelan punggungku.


Tak ada lagi yang berbicara diantara kami. Matahari mulai meninggi. Pengunjung taman yang tadinya ramai, mulai terlihat sepi. Hanya beberapa yang masih melanjutkan lari mengelilingi taman.


"Pulang, yuk!" ajak ibu setelah jeda sesaat.


Kami beranjak meninggalkan taman.


***


Ini hari terakhirku berada di Jakarta, seharusnya dari kemarin aku menghubungi Arjun untuk menanyakan rencana kepulangan kami ke Bandung. Namun sampai saat ini, belum ada pesan masuk dari Arjun. Mencoba untuk mengalah, aku mengambil ponselku untuk menghubungi Arjun.


Baru saja aku akan memencet ikon kontak, panggilan dari Arjun masuk. Aku menarik napas panjang sebelum menggeser tanda menerima panggilan. Mencoba meredakan perasaan yang terasa kacau.


"Halo, Jun." Aku menyapanya, berusaha terdengar biasa.


"Iya, jadi. Mau berangkat jam berapa?" Aku melirik jam di dinding. Pukul sepuluh.


"Habis zuhur gue jemput, ya?"


"Kalau sebelum zuhur ke sini, boleh? Ibu nanyain Lo. Nanti enggak tau bisa ketemu lagi kapan, kan? Setidaknya bantu gue buat nyenengin hati ibu, kali ini saja." Kusampaikan permintaanku, lebih tepatnya seperti memohon.


Aku tidak ingin membuat ibu khawatir memikirkan masalahku dengan Arjun, setidaknya ibu bisa melihat kami akan baik-baik saja melalui ini semua.


"Baiklah," ujarnya terdengar berat. "Ya sudah, gue jalan sekarang saja kalau begitu," lanjutnya.


"Baik, gue beres-beres dulu."


Arjun mengakhiri panggilan. Aku tertegun sesaat. Setelah ini, apalagi yang akan aku lakukan. Apakah memang benar semua akan baik-baik saja, atau Arjun akan menghilang dari hidupku. Menjadikannya sebuah catatan usang yang pernah ada dalam kisahku. Mengingatnya saja membuatku sakit.


"Kenapa, Run?" Ibu tiba-tiba telah berada di sampingku.

__ADS_1


"Eh ... Barusan Arjun telepon, mau jalan ke sini." kembali senyum paksa menghiasi bibirku.


"Kamu mau balik siang ini?" Ibu yang baru beres mandi, duduk di sampingku. Aroma buah dari shampo yang dipakai ibu wanginya menenangkan.


"Iya, takut terlalu malam juga sampai bandung, Bu." Sebenarnya aku masih ingin berlama-lama bersama ibu. Tapi saat ini pikiranku terasa bercabang. Aku ingin membicarakan bagaimana kelanjutan hubunganku dengan Arjun.


"Oh, iya. Benar juga. Ya sudah. Sana beres-beres."


***


Pukul sebelas, Arjun telah datang. Bi Sumi yang membukakan pintu. Ketika aku turun menemuinya, dia tengah mengobrol dengan ibu. Wajahnya terlihat biasa, menanggapi candaan ibu seperti biasa. Tak ada yang terlihat berubah dari caranya berbicara dengan ibu. Mungkin dia sudah mampu menerima kenyataan.


Kami meninggalkan rumah maktuo setelah selesai makan siang, maktuo memaksa agar kami makan dulu sebelum berangkat. Walaupun suasana ketika makan terasa canggung, tapi terlihat bahwa Arjun berusaha untuk bersikap biasa.


Aku masih memandangi ibu yang melepasku di depan pagar sampai sosok ibu tak lagi terlihat ketika mobil berbelok keluar dari komplek perumahan maktuo. Kusandarkan punggungku, mencoba untuk duduk senyaman mungkin di samping Arjun.


"Run, kita tidak usah putus. Kita teruskan saja hubungan ini." Aku tersentak mendengar Arjun berbicara, kualihkan pandanganku dari luar, menatapnya.


"Maksudnya, Jun?" tanyaku mencoba mencerna apa yang Arjun sampaikan.


"Gue enggak sanggup pisah. Kalau pun harus dibuang dari adat, biarin aja. Toh, selama ini kita juga tak mengenal tanah leluhur kita. Kita sudah lama tinggal di tanah Sunda, untuk apa lagi kita harus memikirkan masalah sumpah leluhur kita dulu," tuturnya tanpa menoleh padaku.


"Gue enggak bisa, Jun. Keluarga nyokap itu masih memegang teguh adat istiadat kampung kita. Gue enggak bisa melanggar apa yang sudah jelas-jelas dilarang."


"Run, selagi kita tak menyalahi aturan Agama, tidak masalah, kan? Mana mungkin gue bisa serta merta menghapus perasaan yang sudah bertahun-tahun ada." Suara Arjun mulai meninggi.


"Terus ... maksud Lo tidak masalah kalau gue jadi dimusuhi keluarga karena gue mempertahankan hubungan ini?" tanyaku memperjelas usulannya.


Dia diam. Tampak berpikir. Rahangnya mengeras, lalu mendengus.


"Kita coba saja kembali menjalani hari seperti sebelum jadian, Jun. Kita kembali ke awal, ketika kita masih berstatus sahabat." Mudah bagiku mengatakan kalimat itu, tapi hatiku tak mampu menerimanya.


"Memangnya Lo bisa?" Suaranya terdengar sinis.


"Gue belum tau, kita coba saja."

__ADS_1


Arjun menggigit bibirnya. Tak menjawab lagi apa yang kukatakan. Luka jelas terjejak di netranya. Maafkan aku, Jun. Tidak mudah memang melewati ini semua. Aku pun belum bisa membayangkan bagaimana hidupku ke depan setelah ini. Yang jelas semua tak kan lagi sama.


__ADS_2