
Saat aku sampai di rumah, mobil papa telah terparkir di halaman. Benih benci yang sempat tersemai seolah bertunas. Untuk apa lagi laki-laki yang telah menorehkan luka pada malaikat tanpa sayapku itu datang kembali.
"Assalamualaikum." Aku mengucapkan salam ketika membuka pintu samping yang menuju dapur. Perasaanku tak karuan, menerka-nerka apa yang akan kutemui di balik pintu.
Dua sosok wajah menatapku ketika pintu telah terbuka dengan sempurna. Papa dan mama sedang berada di meja makan, duduk berhadap-hadapan. Airmata masih menggantung di kelopak mata mama yang sembab. Begitu memilukan.
Aku hanya menatap sekilas pada mereka, lalu beranjak menuju tangga tanpa berkata-kata. Tak berniat untuk berbasa-basi dengan papa.
"Jun! Bisa duduk di sini sebentar?" Suara tegas papa memecah kesunyian.
"Maaf, Pa ... aku mau ke kamar mandi dulu," sahutku, terpaksa berbalik untuk melihat mereka. Sebenci apapun aku pada papa, keringatnya pernah tercurah untuk memberikan penghidupan padaku. Darahnya masih mengalir dalam tubuhku. Aku tak bisa membencinya sepenuh jiwa.
Papa hanya mengangguk. Setengah berlari, aku melompati dua anak tangga sekaligus. Mataku kembali memanas, tapi sekuat tenaga kutahan. Aku sudah memperlihatkan sisi lemahku ketika bersama Runa, dan aku tak mau kedua orangtuaku turut menyaksikan berapa rapuhnya jiwa anak laki-laki mereka.
Begitu memasuki kamar, aku langsung menuju kamar mandi. Membasuh muka agar segala resah yang tadi kubawa pulang sedikit berkurang. Kucoba untuk melatih pernapasan, agar sesak yang terasa menyumbat paru-paruku sedikit sirna.
Setelah yakin siap untuk menghadapi apa saja yang nanti terjadi di bawah, aku beranjak turun. Sayup-sayup kudengar suara papa yang terkesan dingin berbicara pada mama, "Kenapa kamu tidak jujur saja padanya?"
"Aku belum siap untuk kehilangan semua." Lirih terdengar mama menyahut dengan isakan pelan. "Aku ...." Perkataan mama menggantung di udara tatkala melihatku turun.
"Jun, sini duduk." Mama menghapus airmata, memaksakan untuk tersenyum.
Aku memilih duduk di samping mama, untuk menyatakan keberpihakanku. Berhadap-hadapan dengan papa yang wajahnya terlihat gusar.
"Jun, mohon maaf jika tempo hari kamu di Jakarta, Papa tidak mengatakan padamu perihal masalah dengan mama." Papa berhenti berbicara, menatapku agak lama. Entah menunggu reaksi dariku, atau sedang memilih kalimat yang akan diucapkannya.
__ADS_1
"Sebenarnya berat bagi kami untuk menempuh jalan ini, sudah belasan tahun kami mengusahakan untuk terus bersama, tapi akhirnya tetap tak bisa menemukan jalan terbaik. Kami sepakat akan memberitahukan alasan kami berpisah, nanti ketika mamamu sudah bisa mengobati dukanya." Tegas dan menyakitkan. Itu yang kudengar dari suara papa. Mama masih saja menunduk. Terlihat pasrah dengan apa yang akan dihadapinya.
Sementara, aku masih saja membisu, mencoba mencari kekuatan agar mampu bertahan tanpa menyela.
"Lalu, setelah ini mama meminta kamu untuk tinggal bersamanya. Sebenarnya kami juga sudah tidak mempunyai hak menentukan dengan siapa kamu akan tinggal. Karena menurut hukum, kamu sudah bisa menentukan pilihanmu sendiri." Kembali papa berhenti berbicara.
"Jun, Mama hanya berharap kamu masih mau tinggal di rumah ini. Mama janji, nanti setelah semua ini terlewati, Mama akan menceritakan semua alasan kami berpisah. Setiap detilnya. Untuk saat ini, mama benar-benar minta waktu," ujar Mama terdengar lirih.
"Iya, Mam. Aku tidak akan meninggalkan Mama," sahutku lirih.
Tak banyak yang bisa kusampaikan. Walaupun misteri masalah yang mereka hadapi belum terkuak, tapi aku mencoba untuk menekan ribuan pertanyaan yang saat ini mendesak. Melihat mama seperti ini saja, aku sudah tak mampu lagi bertanya mengapa.
"Kalau sudah tidak ada yang perlu dibicarakan lagi, aku mau ke kamar," pintaku undur diri. Sudah tak sanggup lagi paru-paruku menghirup udara yang makin terasa menyesakkan.
"Iya, kamu istirahat lah." Mama berkata lirih.
Aku langsung menghempaskan tubuh ke kasur. Menatap kosong pada langit-langit kamar. Bayangan wajah Runa tercetak nyata di sana. Dengan senyum penuh kehangatan seperti cahaya mentari di pagi hari. Namun, senyum itu akhir-akhir ini sudah semakin jarang kulihat. Bahkan binar matanya yang selalu penuh semangat kini seolah meredup.
Tiba-tiba terlintas ide untuk mengajaknya lari pagi. Walaupun Runa memintaku untuk mengurangi waktu bersama, tapi aku belum bisa. Setidaknya sampai hari kelulusan.
Aku pikir dia akan menolak ajakanku, ternyata dia menyetujuinya. Bahkan dia terdengar berusaha untuk bercanda.
"Tapi bukan ngajak gue lari dari kenyataan, kan Jun?" gelaknya diujung sana.
"Andai saja Lo mau diajak untuk lari dari kenyataan pahit ini, gue rela dimusuhi seisi dunia, Run." sahutku hanya mampu tertahan di hati.
__ADS_1
Setelah mengakhiri pembicaraan dibtelpon, aku masih belum mampu memejamkan mata. Pandanganku kembali menerawang ke langit-langit kamar, wajah mama dan Runa kembali bergantian tergambar di sana. Mempertanyakan kembali hakikat cinta. Apakah benar rasa cinta itu membuat seseorang akan kuat. Jika melihat apa yang aku alami akhir-akhir ini, justru cinta membuatku lemah, bahkan perempuan sekuat mama dan Runa pun menyerah.
Sepanjang ingatanku bersama Runa, tak pernah sekalipun aku melihatnya menangis. Bahkan di saat ayahnya meninggal pun, dia masih mampu menyembunyikan kesedihannya. Namun akhir-akhir ini, air matanya seolah barang murah, terlalu mudah ia melepaskannya.
***
Akhirnya semalam aku bisa tertidur setelah dibantu antidepressant. Akhir-akhir ini aku kembali rutin mengkonsumsi obat yang diresepkan oleh psikiater. Kali ini bukan karena fobia, tapi lebih kepada kecemasanku yang mulai meningkat.
Begitu banyak yang kucemaskan. Tentang kehidupanku tanpa Runa, kehidupan mama tanpa papa, dan tentang mimpi yang telah kubangun sedemikian rupa. Masa depan yang beberapa waktu lalu sudah tergambar nyata mendadak mengabur.
Tidak seperti biasa, pagi ini tak ada mama yang memasak sarapan di dapur. Rumah kembali sepi seolah kehilangan jiwa. Kulihat ada catatan kecil dengan tulisan mama ditempel di pintu kulkas.
**Jun, Mama butuh istirahat dulu, untuk sarapanmu sudah mama siapkan di dalam kulkas, tinggal diangetin, ya.
Xoxo**
Kulihat isi ramekin bertutup karet yang di letakkan mama di dalam kulkas. Ada beef lasagna kesukaanku, tapi selera makanku hilang. Aku hanya mengambil sebuah apel dan pisang yang ada di meja. Kemudian berlalu keluar rumah. Kulihat mobil papa sudah tidak halaman.
"Pak, papa pergi jam berapa?" tanyaku ketika Pak Karsa hendak membuka pintu gerbang, ada rasa penasaran terselip dalam hati.
"Jam sebelas sepertinya, Den," sahutnya seolah mengingat-ingat.
"Oh, terima kasih, Pak." Aku tak meneruskan lagi bertanya.
***
__ADS_1
Pagi ini Runa mengajakku untuk naik angkot, sepertinya dia benar-benar mempersiapkan perpisahan ini. Dari caranya memperlakukanku, membuatku merasa begitu rapuh. Ah, mungkin memang sebenarnya aku bukanlaki-laki yang tepat untuknya. Perempuan sekuat dia, tidak mungkin ditakdirkan untuk laki-laki lemah sepertiku. Mungkin sebenarnya Tuhan menghadirkan dia ke dalam hidupku bukan untuk kumiliki, tapi hanya menjadi perantara-Nya untuk mengajarkanku menjadi laki-laki yang kuat. Laki-laki lemah sepertiku hanya akan membuatnya menjadi lemah.