
Aku merasa khawatir tatkala melihat wajah Arjun yang berubah memucat pasi ketika memasuki aula. Fobia keramaiannya kambuh lagi. Biasanya, aku akan menggenggam tangannya, mengatakan semua akan baik-baik saja. Hari ini tak kulakukan. Arjun harus bisa mengatasi fobianya sendiri mulai saat ini.
Sedih melihatnya gemetaran mengambil antidepressant dari dalam tas, tapi aku tak mau Arjun masih bergantung padaku. Perpisahan ini akan makin terasa berat jika dia masih saja mengharapkanku untuk terus mendampingi mengatasi fobianya. Ya Tuhan, kenapa aku merasa berat untuk melepasnya. Aku baru menyadari bahwa seberarti ini Arjun bagiku.
Kulirik wajah Arjun, sudah terlihat agak tenang. Sepertinya antidepressant-nya sudah mulai bekerja. Pengumuman dari dalam aula juga sudah terdengar, menginstruksikan kepada seluruh mahasiswa untuk berkumpul karena acara pembekalan akan segera dimulai.
"Sudah enakan?" tanyaku mencoba tak terlalu memperlihatkan kekhawatiranku.
"Sudah." Dia mengangguk.
"Kita masuk, yuk! Acaranya sudah mau mulai."
Aku bangkit dari duduk, melihat Arjun tengah berusaha menormalkan napasnya. Aku tak pernah mampu melihatnya sakit, tapi kenyataan yang harus kami lalui membuatku harus memupuk rasa tega untuk mengabaikannya.
Setelah beberapa kata pembukaan basa-basi singkat dari para dosen pembimbing lapangan, kami diinstruksikan untuk berkumpul dengan anggota kelompok kerja masing-masing. Aku berpisah dengan Arjun. Kelompok kerjaku mendapat lokasi KKN di salah satu desa di Kabupaten Garut, berkumpul di tengah aula. Sementara Arjun yang ditempatkan di Kabupaten Bandung, kelompoknya berkumpul di pojok aula.
Ketika aku melirik ke arah tempat kelompok Arjun berkumpul, sekilas aku melihat wajah mahasiswi yang terasa tak asing berada di dekatnya. Penasaran, berkali-kali aku melirik ke arah kelompok Arjun berkumpul. Mencoba mengingat wajah mahasiswi yang kali ini mulai terlihat akrab dengan cowok jangkung itu. Ada rasa ganjil yang mulai terasa di hati, tak biasanya Arjun bisa terlihat akrab dalam waktu singkat dengan perempuan.
Aku mencoba mengabaikan, bisa saja mahasiswi itu teman sekelasnya. Toh, dunianya tak harus selalu berputar mengelilingiku. Dan lagi, memang sudah seharusnya Arjun mencari teman lain selain diriku.
Selesai pembekalan dan saling mengenal anggota kelompok, agenda selanjutnya melakukan survey lokasi. Siang ini, kami harus berangkat ke Garut, untuk menemui pejabat desa tempat kami akan mengadakan kegiatan KKN. Aku bersama anggota kelompok yang lain bergerak meninggalkan kampus dengan mobil salah seorang mahasiswi anggota kelompokku, Vanya—mahasiswi fakultas MIPA.
Ketika mobil yang kutumpangi melewati area parkir tempat Arjun memarkir mobil, mataku tertumbuk pada sosok jangkungnya yang berjalan bersama mahasiswi yang tadi kulihat di aula. Mereka terlihat akrab. Sekali lagi, aku merasa terluka. Entah untuk apa.
"Kamu sudah punya gambaran untuk proker kita belum?" tanya Sheila salah seorang teman kelompokku—mahasiswi Fakultas Kedokteran, yang duduk di sampingku di bangku penumpang belakang.
"Eh, nanya ke aku?" sahutku tergagap, tak siap dengan pertanyaan yang diajukan padaku.
"Iya, ngelamun saja, sih dari tadi," kekeh mahasiswi berwajah manis dan berkulit sawo matang itu.
"Ha-ha, sorry! Aku masih belum bisa memikirkan program kerjanya kalau belum lihat lokasi," elakku memberi alasan.
__ADS_1
"Iya, benar sih, tapi ada gambaran tidak kira-kira apa yang akan dikerjakan nanti selain ngajar anak-anak di desa?" tanyanya. "Kalau aku saat ini yang terpikirkan paling pada penyuluhan untuk sanitasi," imbuh Sheila.
"Wow! Keren, sudah terpikirkan prokernya. Aku masih blank," ungkapku jujur.
Perjalanan menuju Garut tak memakan waktu yang lama. Karena di hari biasa, jalanan ini tak terlalu dipadati kendaraan. Setelah berhenti untuk makan siang di salah satu rumah makan yang terdapat di pinggir jalan menuju lokasi, kami melanjutkan perjalanan.
Desa tempat kami akan mengadakan KKN ternyata cukup jauh dari jalan utama. Bahkan jalan yang kami lalui berbatu dan berlubang. Berkali-kali mobil yang dikendarai Vanya terperosok ke dalam lubang yang terdapat di jalanan. Puncaknya, mobil yang kami kendarai terpaksa harus ditinggalkan di jalan sebelum memasuki desa, karena kondisi jalan yang tidak bersahabat untuk mobil Vanya yang bertipe city car.
Di depan kami juga sudah terdapat tiga mobil yang telah terparkir di pinggir jalanan. Tampaknya anggota kelompok yang lain sudah terlebih dahulu sampai di lokasi.
Keluar dari mobil, kami disambut beberapa orang warga desa yang telah menunggu di sana.
"Punteun Teh, mobil mung dugi kadieu, teu tiasa ka leubeut," (Maaf kak, mobil hanya bisa sampai di sini, tidak bisa ke dalam) terang seorang pemuda tanggung dengan logat Sunda yang kental dan santun. "Teteh tidak perlu khawatir. Nanti mobilnya ada yang menjaga di sini," imbuhnya.
"Baik, Kang. Hatur nuhun." Kami menjawab serentak.
Kegiatan survey kami berakhir pukul setengah lima sore. Setelah berbincang-bincang dengan Kepala Desa–Pak Tatang, kami pamit untuk kembali ke Bandung. Baru minggu depan kami akan melaksanakan program KKN. Rumah warga yang akan kami tempati selama masa KKN juga sudah telah disiapkan.
"Hai, Jun!"
"Masih survey?"
"Sudah balik ke kampus. Ini lagi di depan gerbang, mau pulang...."
"Gerbang yang dimana?"
"Dekat mesjid "
"Lo tunggu gue di sana ,ya! Enggak usah Naik angkot. Gue lagi mau keluar kampus,nih!"
"Oh! Ok."
__ADS_1
Kuurungkan niat untuk memberhentikan angkot. Menepi ke pinggir gerbang kampus yang mulai sepi. Tak lama, Mobil Arjun datang. Aku melangkah mendekati bibir trotoar agar Arjun dapat melihatku.
Aku masuk, setelah mobil berhenti sempurna di hadapanku.
"Hai, Run!" Sapa suara seorang perempuan dari bangku penumpang bagian belakang.
Sontak aku menoleh, ke arah asal suara. Gadis yang kulihat bersama Arjun tadi pagi di aula.
"Lo lupa, kan?" Kali ini Arjun yang berkomentar.
"Leona!" Akhirnya aku mengingat gadis itu setelah melihatnya tersenyum. Walaupun wajahnya berubah, senyum itu tetap sama.
"Ih! Kalian sama saja. Melupakan aku." Leona memasang wajah cemberut.
"Jun, gue pindah ke belakang deh," sergahku ketika Arjun hendak menekan pedal gasnya.
"Eh? Terus gue jadi supir kalian begitu?" ujarnya setengah berteriak ketika Aku melompat turun.
"Derita, Lo!" kekehku ketika telah duduk sempurna di samping Leona.
"Kamu kemana aja?" tanyaku pada Leona, memulai percakapan.
"Eh, Arjun enggak cerita yah kalau ketemu di kosan Riko?"
"Eh, cerita. Cuma aku sibuk bolak balik ke Jakarta."
"Oh iya, Arjun pernah cerita. Ibumu sekarang di Jakarta, ya?"
"Iya, sorry. Bukannya bermaksud melupakan, ha-ha."
Reuni kecilku dengan Leona sejenak mampu menepikan masalahku dengan Arjun. Malam ini, kami melanjutkan acara reuni kecil ini dengan makan malam bertiga di sebuah warung makan di daerah Dago. Saling bertukar cerita tentang kehidupan kami selepas berpisah.
__ADS_1