
Setelah berkutat menahan kantuk demi mendengarkan dosen yang mengajar selama dua jam, akhirnya jadwal perkuliahan hari ini selesai juga. Dengan sedikit tergesa, aku membereskan kertas-kertas modul dan catatanku ke tas. Berharap kali ini bisa pulang lebih dulu sebelum Arjun muncul di depan gedungku.
Sebenarnya aku juga bingung, kenapa harus terus menghindar seperti ini. Bukannya malah jadi aneh. Aku yakin, Arjun tak akan membiarkanku terus-terusan menghindarinya. Benar saja, sebuah notifikasi pesan dari Arjun terpampang di layar ponselku. Untuk sementara aku membiarkan pesannya tanpa berniat membuka.
Baru saja aku melangkah keluar kelas, terdengar suara sengau memanggilku. Ah! Lagi-lagi cowok itu, Jody. Cowok dari kelas B yang sudah dua kali ku tolak, tapi masih belum menyerah.
"Runa, aku minta waktu sebentar saja," pintanya dengan logat daerah yang masih agak kental.
Aku yang agak sulit menolak permintaan orang lain, menyetujui saja permintaan Jody.
"Iya, kita bicara di sana saja," tunjukku ke arah taman.
Suasana taman sedang ramai, berharap Jody tidak akan berbicara terlalu lama karena tidak nyaman akibat suara hiruknya taman.
"Ada apa lagi?" tanyaku langsung tanpa basa - basi.
"Ya ampun, Runa. Duduk dulu gitu, masa langsung nanya ada apa. Kan aku pingin ngobrol sebentar denganmu," sahutnya sambil tersenyum memamerkan gingsulnya.
"Gue buru-buru, kalau enggak ada yang penting-penting banget, gue tinggal ya," gerutuku.
"Aku hanya minta kamu mempertimbangkan lagi permintaanku tempo hari. Aku serius denganmu, tak nyenyak tidurku setiap malam teringat dirimu terus."
Haduh, kenapa aku mendadak merinding mendengar kata-kata yang diucapkan Jody.
"Sorry, gue enggak bisa. Enggak mau kan, kalau gue sama lo, tapi hati gue buat orang lain," sahutku sambil mengusap tengkuk yang masih merinding.
"Tidak masalah bagiku, Runa. Aku rela kau memikirkan yang lain, asal mau bersamaku."
Euh, kenapa aku makin ilfil sama cowok ini. Ya Tuhan, kenapa coba tadi memberinya kesempatan untuk bicara. Jadinya bingung kan mau meninggalkannya bagaimana.
Disaat kebingungan memikirkan alasan untuk pergi, Arjun datang seolah menyelamatkanku dari sekapan Jody. Mau tidak mau, aku mengulurkan tangan menggandeng Arjun, dengan harapan Jody menganggap aku mempunyai hubungan spesial dengan Arjun dan menyerah saja dengan usahanya mendekatiku.
Menuju tempat parkir, aku memergoki Arjun yang beberapa kali melirik ke arahku. Dia pasti merasakan perubahan ku. Selama ini Arjun seolah mempunyai radar khusus untuk menangkap sinyal yang tidak beres dengan sikapku.
Benar saja. Sesampai di tempat parkir, dia meminta waktu untuk berbicara. Lagi-lagi dengan tatapan memelas itu. Aku tak pernah bisa menolak.
Entah kemana tujuannya, aku tak berniat bertanya. Tiba-tiba saja dia menyanyikan lagu yang liriknya seperti menyindir hubunganku dengannya. Apa aku boleh sedikit berharap? Bahwa bukan hanya aku yang merasakan perasaan ini. Sedikit berharap Arjun pun telah menyadari perasaan diantara kami sudah bukan murni perasaan dua orang sahabat lagi.
__ADS_1
Seperti biasa, Arjun memilih tempat yang jauh dari keramaian. Suasana kafe di daerah Dago Pakar sore ini cukup sepi, karena memang tempat ini akan ramai ketika akhir minggu. Biasa pengunjung yang datang kebanyakan dari luar kota seperti Jakarta. Yang spesial dari tempat ini adalah pemandangan kota Bandung dari ketinggian dan udaranya yang segar.
Tengah berusaha menepiskan perasaan, sekonyong-konyong Arjun mengatakan kalau dia menyukaiku. Lalu tanpa ku sadari, bibir ini pun menyatakan apa yang hati simpan. Entah kemana logika yang selama ini menjadi pengendali, seolah luruh begitu saja larut dalam setiap kata yang meluncur dari mulutku.
Terasa bagaikan mimpi mendengarkan pengajuan Arjun, atau lebih tepatnya mimpi yang jadi kenyataan. Bahagia tentu saja, disertai rasa lega. Beban yang beberapa minggu terasa makin berat menggelayut seolah terangkat begitu saja.
Ternyata bukan hanya perasaan sepihak. Di sisi lain, ada perasaan bingung juga. Lalu, setelah ini apa? Sebenarnya ada atau tiada pernyataan itu, selama ini pun kita sudah saling merasakan nyaman satu sama lain.
Aku sudah terbiasa pergi berdua sekedar menghabiskan sisa hari bersama Arjun, tetapi sore kali ini terasa berbeda. Seolah ada ribuan tunas bunga yang mulai bermekaran dalam hati. Bahkan pemandangan Dago Pakar yang telah biasa aku lihat, kali ini terlihat berbeda. Terasa lebih indah tentunya. Bahkan udara dingin yang biasa menusuk, terasa sedikit menghangat.
Sosok yang selama ini tampak biasa mengisi hari-hariku, sore ini terlihat begitu istimewa dengan latar senja dengan semburat jingganya. Rahangnya yang kokoh, tatapan mata teduh, bibir yang melengkung manis tatkala ia tersenyum, tampak bagai padanan serasi maha karya Tuhan.
"Lagi ngelamunin apaan?" Suara berat Arjun terasa menarikku kembali, disambut tatapan lembut mata teduhnya.
"Uhm? Enggak ... Haha ... Hanya saja, enggak nyangka bakal sampai kejadian kayak gini," sahutku mendadak salah tingkah.
"Sama ...." gelaknya tampak sama salah tingkahnya denganku.
"Lalu ... Kenapa akhirnya lo mutusin buat nyatain ke gue?" tanyaku masih dengan perasaan setengah percaya.
"Semenjak kamu ...."
"Keberatan ya kalau misalnya kita enggak manggil 'elo-gue' lagi, biar ada sedikit perbedaan," tanyanya ragu-ragu.
"Engga, sih. Cuma apa enggak jadi aneh aja gitu?"
"Ahaha ... Iya ya. Padahal kita selama ini sudah merasa nyaman satu sama lain ya. Kenapa hanya masalah panggilan jadi membuat kita seperti orang lain."
"Nah, itu yang gue maksud. Selain status, tidak usah ada perubahan lain. Biarkan saja begini, seperti hubungan kita selama ini," sahutku, kembali menghabiskan sisa lasagna yang ada di ramekin.
"Jadi, kenapa lo kepikiran buat nembak gue?" Aku mengulang lagi pertanyaanku.
"Ya, semenjak lo kaya main kucing-kucingan sama gue. Gue takut tiba-tiba lo muncul ngenalin cowok yang berhasil memenangkan hati lo," terangnya dengan senyum terus menghias wajahnya.
"Gue ngindarin lo karena gue takut ketauan kalau gue juga suka sama elo," kekehku pelan.
"Ah elo, Run. Kenapa harus takut? Wajar kok jika perasaan itu tumbuh."
__ADS_1
"Gue takut itu cuma perasaan kagum aja, kenapa gue baru mulai suka ke elo pas tampilan lo udah berubah, kenapa enggak dari dulu-dulu coba."
"Ya ... Gue juga enggak ngerti teori masalah hati, Run. Paling tidak sekarang kita sudah saling mengetahui isi hati masing-masing. Bagi gue udah cukup," sahutnya masih dengan senyum lebar menghiasi bibirnya.
Senja berlalu begitu saja, indahnya terkalahkan oleh rasa yang bermekaran di hati. Jingganya telah berganti pekat malam berhiaskan kerlap-kerlip lampu-lampu di kota Bandung.
"Balik, yuk. Lo kayanya udah ngantuk," ajak Arjun ketika melihatku beberapa kali menguap.
Sebenarnya aku ingin berlama-lama di sini bersama Arjun, tapi mataku seolah tak mau bertahan untuk tetap terbuka.
"Yuk ... Gue pengen tidur, dah beberapa hari ini gue enggak bisa tidur," sahutku bangkit dari tempat duduk.
"Mikirin gue, ya?" godanya dengan seringai jahil.
"Ke - geer - an deh," kekehku.
Aku sedikit menggigil ketika angin bertiup agak kencang. Kemeja berlengan pendek yang ku kenakan, membuat udara dingin menyerangku tanpa ampun. Ku dekapkan kedua lenganku di depan dada, berharap sedikit mengusir dingin yang menusuk.
Tiba-tiba Arjun menutupi punggungku dengan jaket yang ia kenakan, aroma lembut cedar menyapa penciumanku.
"So sweet banget sih, Jun," kekehku.
"Baru nyadar?"
"Enggak juga sih," sahutku mendadak salah tingkah karena tatapan lembutnya.
Mungkin mulai saat ini aku harus terbiasa dengan getaran-getaran halus yang ditimbulkan oleh tatapannya itu. Walaupun aku berhadapan dengan orang yang sama, namun rasa yang ada sudah berbeda.
"Run, kita sudah sampai." Tepukan pelan di bahu membuatku terbangun, mengerjapkan mata mencoba mengenyahkan kantuk yang masih tersisa.
Arjun telah berdiri di depan pintu penumpang yang terbuka. Menungguku untuk turun.
"Ngantuk banget, ya?" kekehnya memperhatikan wajahku yang masih belum sepenuhnya terbangun.
"Iya ...." sahutku seraya turun dari mobil.
"Sampai besok, ya ...." pamit Arjun melalui sambungan telpon, ketika aku telah masuk ke dalam rumah.
__ADS_1
"Iya, terima kasih ya." sahutku menutup sambungan telpon.
Mendadak kantuk yang tadi menggelayut berat hilang begitu saja. Ternyata sama saja, sebelum dan sesudah mengetahui perasaan Arjun, aku masih saja tidak bisa memejamkan mata. Tapi setidaknya segumpal ganjalan yang tadi bersarang di hati, kini telah lenyap pergi. Semoga hari esok mampu ku sapa dengan senyum cerah bersama sang pujaan hati.