Kandas

Kandas
Pasrah


__ADS_3

Senyap menyergap setelah kami meninggalkan tempat kost Leona. Aku kembali duduk di kursi penumpang bagian depan seperti biasa. Jalanan mulai sepi seperti hati. Lengang seperti tak berpenghuni. Kulirik wajah Arjun yang tampak serius dibalik kemudi diterangi temaram lampu jalanan. Begitu indah, tapi tak lagi dapat kumiliki.


Duhai takdir, mengapa nasib kami harus dipermainkan seperti ini? Untuk apa aku dan Arjun dibiarkan saling jatuh cinta, jika pada akhirnya kami tak lagi dapat bersama.


"Sudah mengantuk?" Akhirnya suara Arjun menjadi pemecah dinding sunyi.


"Belum." Aku menoleh padanya. Mengisi penuh memoriku dengan sosok sempurna wajahnya, untuk nanti kukenang sebagai seseorang yang pernah mendiami ruang terbesar dalam hati.


"Jun, Lo jadian aja sama Leona." Kalimat yang kuungkapkan hampir terdengar seperti desau angin.


Arjun menoleh padaku, "Lo bilang apa?"


"Lo jadian aja sama Leona." Kuulangi lagi kalimat itu, kali ini dengan perasaan teriris. Katakanlah aku munafik. Walaupun bibirku berkata demikian, sesungguhnya hatiku tak akan mampu menerimanya.


"Lo kenapa lagi, sih?" Seperti biasa, telapak tangannya menempel di keningku. Mengalirkan rasa yang kemarin telah kukunci rapat di dalam sana.


"Gue kepikiran aja. Gimana cara kita bisa pisah baik-baik jika masih saja sering bersama seperti ini. Bukankah perasaan yang ada sekarang juga hadir karena kita sering bersama," sahutku seolah tak yakin dengan apa yang kuucapkan.


"Kita ikuti saja alurnya, Run. Semakin kita memaksa untuk menghentikannya, semakin kita akan merasa tersiksa," ujarnya tanpa menoleh padaku.


"Maksudnya gimana?"


"Kita ibarat sedang ditenggelamkan badai, jika kita terus berusaha melawan terjangannya, energi kita akan habis. Lebih baik, kita biarkan saja diri kita terseret arus, lama-lama juga arusnya akan mereda. Lalu kita bisa memikirkan langkah selanjutnya." Dia menoleh sebentar melihat reaksiku, lalu kembali menoleh ke jalanan yang sepi.


"Iya ... itu kalau enggak keburu mati kedingian." Aku tertawa getir. "Sejak kapan Lo jadi bijak begitu, sih?" Kali ini aku memutar tubuh menghadap Arjun.


"Semenjak gue sadar, enggak ada gunanya juga gue berontak. Capek gue. Mungkin memang saatnya gue harus pasrah menerima." Suaranya terdengar serak. Lalu lapisan tipis bening terlihat menggantung di sudut matanya.


Aku tak mampu lagi menahan tangis. Seketika Aku membekap mulut, tergugu dalam diam. Menggigit bibir dengan kuat agar tak ada isakan yang terlepas. Aku tak tau sampai kapan rasa ini akan bertahan. Berharap esok ketika kami benar-benar telah saling melepaskan, tak akan ada lagi sakit yang menyeruak.


"Sekarang, kita terima saja jalannya begini, Run. Mungkin masa KKN ini bisa melatih gue untuk melepaskan, Lo." Suara seraknya terdengar lirih.


"Tadinya gue berpikir, kalau ngeliat Lo sama cewek lain, gue bisa ngelepas Lo dengan rela, Jun," sahutku disela isakan.

__ADS_1


"Sayangnya mengganti seseorang di hati itu tak semudah mengganti pakaian, Run," sahutnya lemah diiringi senyum tipis.


Aku menghela napas yang terasa berat. Mencoba mereka-reka apa yang akan kuhadapi nanti ke depan setelah berpisah dengan Arjun.


"Tapi Leona baik, Jun. Gue yakin dia bisa menghilangkan rasa sedih, Lo."


"Kenapa jadi ngomongin Leona terus, sih?" Nadanya terdengar gusar.


"Feeling gue, dia suka sama Lo, deh." Aku mengabaikan kegusarannya dan rasa menggigit di hatiku.


"Hallah, kayak yang peka aja, Lo! Bertahun-tahun gue suka sama Lo, tapi Lo enggak peka. Sekarang sok-sok an ngerti perasaan orang," ledeknya, senyum miring tercetak pada bibir tipisnya.


"Kalau gue duluan yang punya cowok, Lo bakal ngebenci gue enggak, Jun?" Tiba-tiba terlintas di benakku, untuk mengganti sosok Arjun dengan Kak Beni. Jika dengan membenciku dia bisa melupakan perasaannya padaku, aku rela melakukannya. Agar rasa yang ada tak lagi tumbuh membesar. Agar dia benar-benar bisa mampu melepaskanku.


"Memangnya sudah ada calon pengganti gue ya?" Aku bisa merasakan, ada luka dalam nadanya. Namun tak kuhiraukan.


"Uhm, sebenarnya gue juga enggak terlalu yakin, sih," sahutku ragu-ragu. Menimbang-nimbang apakah akan menceritakan padanya tentang rasa kagum yang sempat menyusup terhadap Kak Beni tempo hari.


Aku mengurungkan niat untuk menceritakan tentang Kak Beni. Kenapa harus saling menyakiti jika memang tak lagi bisa bersama. Toh berpisah secara baik-baik masih bisa diusahakan. Benar kata Arjun, sebaiknya aku ikuti saja kemana arus kehidupan akan membawa. Tak ada gunanya melawan, karena tak semua yang kita inginkan akan mampu kita raih. Ada kalanya kita harus menyerah, menerima kehilangan dengan rasa pasrah.


Hari yang melelahkan. Bukan hanya fisikku yang lelah karena perjalanan bolak-balik ke Garut, tapi juga hatiku yang mencoba bertahan untuk kuat, juga lebih merasa lelah.


Baru saja aku hendak merebahkan diri, hendak melepas penat, ponselku berdering.


"Halo, Jun. Kenapa?"


"Besok lari yuk! Sudah lama kita enggak lari bareng."


"Tapi bukan ngajak gue lari dari kenyataan, kan Jun?" Aku mencoba sedikit bercanda melarutkan kesedihan yang telah membungkah.


"Kalau Lo mau, hayu kita lari dari kenyataan. Ha-ha." Derai tawanya bagai rintik hujan yang turun di musim kemarau, menyejukkan sekaligus menyesakkan.


Aku tau, tawa itu tak berasal dari hati. Arjun hanya memaksakan diri untuk tidak terlalu larut dalam kesedihan. Mencoba sama-sama saling menghibur diri. Berharap semua mimpi buruk ini segera berakhir.

__ADS_1


"Ha-ha, mulai deh. Ya sudah, besok mau jam berapa?" Sepertinya bukan ide buruk juga.


"Jam setengah enam gue jemput."


"Ok."


"Bye, Run. Sampai ketemu besok."


***


Sesuai janji, Arjun datang tepat waktu. Pagi ini dia mengenakan baju lari model hoody t-shirt berwarna putih dipadukan dengan celana lari selutut berwarna navy dari bahan polyester.


"Kita naik angkot aja, mau nggak?" tanyaku ketika hendak mengunci pintu pagar.


Arjun terlihat ragu untuk menjawab.


"Hitung-hitung latihan buat Lo," bujukku.


Semalam sempat terpikir olehku menggunakan sisa waktu, sebelum benar-benar berpisah, untuk melatih Arjun menghadapi fobianya. Berencana untuk lebih sering mengajaknya ke tempat ramai, agar nanti ketika aku tak lagi bersamanya, dia bisa mengatasi sendiri ketakutannya tanpa bantuan siapa-siapa.


"Uhm ... boleh, deh."


"Kalau begitu, Lo parkir Mobil di garasi saja, biar enggak ngehalangin jalan." Aku membuka kembali pintu pagar yang akan kugembok.


Aku sudah memperhitungkan, acara naik angkot pertama ini tidak akan terlalu menyiksa buat Arjun. Minggu pagi, biasanya angkot sepi penumpang, tidak seperti hari-hari biasa. Seperti dugaanku, angkot yang kami tumpangi pagi ini sepi, hanya ada kami berdua. Wajah Arjun terlihat lega. Bahkan sampai kami berhenti di tujuan, angkotnya juga masih sepi.


"Tidak seburuk yang Lo bayangkan, kan?"


"Iya, karena angkotnya berasa mobil pribadi, cuma ada kita doang." Dia tersenyum santai.


Lapangan Sabuga masih tertutup kabut, sinar matahari yang sudah mulai meninggi tak mengusik rasa dingin dari tempat yang terletak lebih rendah dari jalanan utama itu.


Hanya mampu sepuluh menit bagiku untuk mengitari athletic track yang terdapat di lapangan itu. Aku menepi dan mengatur napas, melakukan pendinginan di pinggir lapangan. Sementara Arjun masih meneruskan berlari mengitari lapangan. Jelas sekali, dia menikmati setiap langkah yang membawanya berlari. Keringat telah membanjiri wajahnya yang hampir tak begitu terlihat karena tertutup hoody.

__ADS_1


Melihat Arjun berlari menjauh, membuat hati ini makin terasa sepi. Mungkin suatu saat nanti Aku benar-benar tak dapat melihatnya kembali. Suatu saat nanti, punggung itu akan menghilang dari tatapanku dan tak akan pernah lagi kumiliki.


__ADS_2