Kandas

Kandas
Rumah Runa


__ADS_3

Selesai sudah perkuliahan hari ini. Mulai tak betah dengan tampilan baruku dengan rambut yang tadi pagi kugerai, akhirnya aku kembali ke tampilan sebelumnya, rambut panjang sepunggungku kuikat asal ke atas tengkuk untuk mengurangi rasa gerah.


"Ekh, kok malah diikat acak begitu lagi Neng, Rambutnya? Padahal tadi udah geulis* rambut digerai begitu," protes Andin.


"Terus sekarang gue jadi kasep,** begitu maksud, lo?" kekehku mendengar kalimat protes Andin.


"Ha-ha ... Bisaan aja lo!" sahut Andin terpingkal mendengar jawabanku.


"Enggak betah gue. Salut deh sama lo, bisa tahan seharian dengan rambut tergerai indah dan dandanan cantik begitu," pujiku memasang wajah nelangsa.


"Lo enggak biasa aja sih. Makanya dibiasain, biar serasi gitu casing ama softwarenya. Ini casing cewek, softwarenya cowok." Andin kembali tergelak.


"Ih, siapa bilang software gue cowok? Lo boleh uji keterampilan perempuan gue," sungutku.


"Ha-ha iya deh yang jago masak," ledek Andin sambil mencebik.


Selama ini aku memang selalu dianggap cewek tomboy karena tampilanku yang minus dandanan layaknya cewek-cewek dikelasku. Padahal kalau dibilang tomboy, tidak juga. Aku mahir melakukan segala kegiatan perempuan. Aku hobi memasak, bisa menjahit dan mampu mengurus rumah dengan baik.


Bahkan dari hobiku memasak, aku bisa menghasilkan uang. Sungguh keterlaluan memang, jika sifat feminim seseorang hanya dinilai dari tampilan luarnya saja.


"Gue duluan, ya. Salam ke Arjun." Andin bangkit dari tempat duduknya setelah merapikan dandanannya.


"Emang mau kemana? Tumben buru-buru?" Tak biasanya Andin pamit duluan pulang. Biasanya dia betah berlama-lama di kampus.


"Ada acara sama nyokap."


"Oh ... Salam ke nyokap lo, ya."


"Okay, gue cabs ya...." Andin berlalu meninggalkanku sendirian.


Suasana kelas belum sepenuhnya sepi, masih ada beberapa mahasiswi yang tengah asyik ngerumpi di pojokan kelas. Karena tak begitu dekat dengan mereka, aku berlalu meninggalkan kelas. Sebaiknya aku menunggu Arjun di taman saja, lumayan bisa sedikit menyegarkan otak setelah dua jam berkutat dengan angka-angka.


Baru saja melangkah keluar kelas, ponsel di tasku bergetar, bergegas aku mengambil benda itu dari tas. Biasanya jam segini Arjun yang menghubungiku. Ternyata perkiraanku salah, pesan itu dari teh Asri—tetanggaku.


[Assalamualaikum Neng, teteh bisa pesen kue buat besok ga Neng?]


[Waalaikum salam, Teh. Mau kue apa, Teh?] segera aku mengetikkan balasannya.


[Brownies panggang Neng, bisa ga Neng?] balasan teh Asri kembali masuk.


[Mau berapa loyang, trs buat jam berapa Teh?]


[Tiga loyang aja, besok pagi bisa?]


[Insya Allah bisa, Teh. Besok sebelum berangkat kuliah aku anter ke rumah Teteh ya.]


[Harga masih sama kan?]


[Masih, Teh. Ga ada perubahan.]


[Ok, Neng. Nuhun sateuacana***]


[Sami-Sami, Teh]


Selesai membalas pesan singkat dari teh Asri, aku mengirimi pesan pada Arjun.

__ADS_1


[Gue tunggu di tempat biasa, ya]


Tak menunggu lama, Arjun membalas pesanku, [OK, beib 😘]


Aku tertawa geli sendiri membaca pesan yang dikirim Arjun, lalu membalas kembali pesannya,


[ih, apaan, sih pake manggil "beib" gitu, geuleuh****tau! 🤣🤣]


Tak ada balasan dari nya, mungkin dia juga malu sendiri setelah mengirimi ku pesan seperti itu. Ada-ada saja kelakuanmu, Jun.


Aku mengeluarkan novel yang biasa kusimpan di dalam tas untuk membunuh waktu saat menunggu seperti ini. Setidaknya bisa mengalihkan sedikit pikiranku yang tak berhenti memikirkan Arjun, memang sekarang dia sudah resmi jadi kekasihku, tapi tak baik terlalu larut memikirkannya, jadi tidak sehat.


Tengah khusyuk menekuri barisan huruf yang tersusun jadi kalimat indah di novel yang aku baca, pundakku ditepuk pelan dari belakang. Arjun datang dengan senyuman ala pangeran yang selama ini mampu melelehkan hati cewek-cewek. Sekarang aku juga menjadi salah seorang dari cewek yang terpikat oleh senyuman itu.


Aku berusaha bersikap seperti biasa pada Arjun dengan menggandeng tangannya saat berjalan meninggalkan gedung jurusan. Berusaha bersikap sama dengan saat beberapa tahun yang lalu, ketika Arjun selalu berjalan menunduk, saat serangan paniknya muncul di keramaian. Aku berusaha untuk mengabaikan rasa canggung yang belakangan mulai hadir.


Biarkan perasaan yang berubah, tapi jangan sampai kedekatan selama ini juga berubah. Tapi hati tak pernah bisa dikelabui, sekeras apapun aku bersikap biasa, tetap saja ada perasaan ganjil yang menjalar ketika tanganku digenggam balik oleh tangannya.


Tangannya yang dulu kecil sekarang kokoh dan kekar, tentu saja rasanya tak lagi sama. Tidak bisa lagi bersikap seolah semua masih sama seperti dulu. Apalagi saat tanganku tenggelam dalam telapak tangannya, getaran halus itu bermunculan kembali. Ingin cepat-cepat aku tarik tanganku kembali dari genggamannya, tapi aku takut Arjun menyadari perubahanku.


Aku mencoba mengabaikan saja debaran yang makin lama terasa makin riuh, membawa hawa panas yang beranjak naik ke wajah. Beginikah rasanya ketika orang jatuh cinta? Semua terasa serba salah, berada jauh darinya salah, ketika dia dekat malah jadi salah tingkah.


Di sepanjang perjalanan pulang, hanya Arjun yang mengajakku berbicara. Aku sibuk menata perasaan yang serasa berada di trampolin. Rasanya masih saja belum terbiasa dengan perubahan rasa ini.


***


"Makasih ya, udah dianter," ucapku ketika mobil Arjun telah berhenti di depan rumah.


"Gue mau mampir, ya," pinta Arjun ikut turun.


"Gue janji, enggak bakal ganggu. Entar gue ngerjain blog lo aja pas lo nge-baking," tawarnya.


"Tapi kan di rumah gue engga ada internetnya."


"Gue bawa modem kok." Cengiran lebar menghiasi wajah Arjun.


"Ya udah, yuk." Akhirnya aku mengalah.


***


"Lo asyikin diri aja, ya. Gue mau ngurusin kue dulu. Terus, foto sama keterangan foto ya ada di file ini," ujarku setelah laptop kunyalakan.


Setoples kue kering dan secangkir teh hangat kusajikan di meja untuk menemani Arjun selama kutinggal.


"Ok ... Dijamin entar lo beres nge-baking, blog lo beres."


"Ya udah, gue tinggal dulu," pamitku.


Ditengah kegiatanku membuat adonan kue, sesekali kulirik cowok yang tengah asyik di depan laptop itu, wajah seriusnya menggemaskan. Wajar kan? kalau aku jatuh hati padanya. Sebenarnya bukan hanya itu yang membuat perasaanku berubah, rasa nyaman bersamanyalah yang membuat hatiku menginginkannya lebih dari sekedar sahabat.


Hening menjeda, ketika kami Sama-sama terfokus pada kegiatan masing-masing. Fokus dengan adonan, membuatku mampu mengalihkan pikiran dari Arjun. Itulah alasanku menyukai kegiatan ini, suara wisk yang beradu dengan mangkuk tempat mencapur adonan mampu menjeda pikiranku dari hal-hal yang tak seharusnya kupikirkan secara berlebihan.


Aroma manis coklat bercampur dengan harum butter yang menguar dari oven tatkala adonan dipanggang, terasa bagai aroma terapi tersendiri bagiku. Memberikan sensasi tenang saat menciumnya.


"Jadi inget nyokap deh gue nyium aroma ini, Run," ujar Arjun memecah kesunyian, membuatku tersadar kalau sedari tadi aku tak sendirian di rumah ini.

__ADS_1


"Ha-ha, iya, ya? Nyokap lo juga sering nge-baking, ya," sahutku.


"Iya, tapi udah lama juga nyokap enggak nge-baking. Udah mulai sibuk ngurusin butik." Ada nada getir yang ku tangkap dari suaranya. Entah apa sebabnya. Setauku, mamanya Arjun adalah ibu yang sangat perhatian pada anaknya, karena Arjun adalah anak semata wayang.


"Seminggu ini rumah bakal sepi banget, nyokap berangkat ke Solo, bokap gue juga sibuk ngurus bisnisnya yang di Jakarta. Kadang kangen juga gue pas mereka masih bareng," lanjutnya setelah jeda.


Aku paham perasaan Arjun. Semenjak ayah meninggal, ibu harus kembali bekerja, membuatku sering merasa kesepian. Saat itulah aku mulai mencari kegiatan untuk mengusir rasa sepiku. Pilihanku jatuh pada kegiatan membuat kue. Selain aromanya yang mampu menenangkan pikiran, hasilnya juga bisa mengenyangkan, bahkan sekarang juga bisa menghasilkan uang. Hobi yang memberikan banyak manfaat bukan?


"Seengganya, kalau lo kangen kan masih bisa telpon bokap lo, Jun. Lah kalau gue, kalau kangen cuma bisa ngadu sama Allah," sahutku mencoba menghibur Arjun yang mendadak murung.


"Sorry, gue cemen amat ya," sesalnya seolah tersadar kalau akupun merasakan kerinduan yang sama terhadap kebersamaan dengan orangtuaku.


"Ha-ha, enggak. Wajar kok ada perasaan seperti itu."


"Eh, udah beres belum lo bikin kue? Kalau udah, lo sini bentar deh. Coba lihat yang udah gue bikin."


Meninggalkan kegiatanku menyiapkan makan malam, aku mendekati Arjun untuk melihat blog yang telah dibuatnya. Arjun bersikeras menyuruhku membuat sebuah blog untuk memajang hasil baking-ku, tujuannya juga sebagai promosi.


"Wah, jadi keren," pujiku takjub melihat tampilan blog yang telah dibuat Arjun.


Arjun memang jago kalau urusan desain grafis. Dia sudah tertarik dengan bidang itu semenjak sekolah menengah atas, ditambah fasilitas yang disediakan orangtuanya, membuat dia bebas bereksplorasi.


"Enggak apa-apa kayak gini?" tanyanya seolah meminta persetujuan.


"Gue suka," sahutku tersenyum puas melihat hasilnya.


"Gue upload ya?" Arjun meminta persetujuan.


"Iya, boleh," sahutku singkat.


"Nanti kalau udah mulai banyak yang tau, lo bakal bikin toko enggak?" tanyanya tanpa mengalihkan tatapannya dari layar laptop.


"Sepertinya enggak dulu, lebih enak kalau gue bikin toko online seperti ini, gue enggak perlu ngurus-ngurus display toko."


"Bener juga, sih. Lumayan memangkas biaya," sahutnya manggut-manggut.


"Analisis bisnis lo mulai jalan, kan?" kekehku melihat reaksi Arjun yang tampak mulai berpikir.


Aku dan Arjun memang sering saling bertukar cerita tentang mimpi kami. Arjun dulunya bercita-cita menjadi arsitek, tapi entah kenapa saat kuliah dia malah ikut mengambil Fakultas Ekonomi Bisnis bersamaku. Sementara aku, memang sedari dulu aku bercita-cita membangun bisnisku sendiri. Makanya semenjak SMA, aku selalu mencari informasi jurusan yang cocok untuk mendukung cita-citaku.


Kembali, sisa sore ini kami habiskan untuk menceritakan segala rencana tentang hidup kami dimasa yang akan datang. Kali ini Arjun menempatkanku dalam salah satu rencana masa depannya. Cewek mana yang tidak akan tersanjung jika dia menjadi salah satu motivasi seorang cowok untuk mewujudkan masa depannya.


Semoga Tuhan merestui segala rencana kami untuk menggapai masa depan bersama. Mungkin masih terlalu dini bagi kami untuk memikirkan kehidupan berumah tangga, tapi tak ada salahnya untuk menetapkan tujuan dalam hidup bukan? Karena waktu selalu pergi dengan tergesa, tanpa kita sadari terkadang kita menghabiskan waktu tanpa mendapatkan apa-apa.


______________________________________________


Catatan:


* Geulis \=Bahasa Sunda artinya Cantik.


** Kasep \= Ganteng


*** Nuhun sateuacana \=Terima kasih sebelumnya


****Geuleuh \=Geli

__ADS_1


__ADS_2