Kandas

Kandas
Distraksi rasa


__ADS_3

Aku tidak mempunyai alasan yang tepat untuk menolak Kak Beni. Setitik rasa suka padanya memang telah ada sebelum aku putus dengan Arjun. Sekarang, pria itu mau menerimaku walaupun hati ini belum sepenuhnya mampu merelakan Arjun untuk lepas.


"Run, kalau mau move on, ya harus ada penggantinya, kalau enggak, bakal jalan di tempat," ujar Wina ketika kuceritakan padanya perihal percakapanku dengan Kak Beni tadi.


Aku hanya diam, menatap lama pada sepupuku yang tengah mengoleskan krim skincare pada wajah beningnya.


"Kasian Kak Beni, Win." Aku mendesah pelan.


"Ah, elah. Kak Beni aja nerima kok. Udah, soal perasaan sayang juga bakal tumbuh sendiri, kok. Kak Beni orangnya baik, aku yakin kamu lama-lama bakal jatuh cinta sama dia," kekeh Wina.


"Terus, kamu kenapa enggak bisa suka sama Kak Beni? Kan sudah lama kenal?"


"Enggak ada getar sama sekali kalau sama dia, ha-ha. Tipe cowok idaman aku seperti Dendi. Kalau kamu kan memang model-model Kak Beni begitu tipe nya. Lagipula, tipe cewek yang disuka Kak Beni juga kayak kamu, yang enggak dandan begitu, jadi klop, kan?" Wina tergelak, membalikkan badannya menghadapku. "Benar, kan?" senyum jahil tercetak di bibir merah mudanya.


"Sotoy, ah!" Aku melemparkan boneka berjuang besar yang dari tadi kupegang. Wina mengelak, hingga boneka itu mendarat di lantai, menatapku dengan mata bulatnya seakan bertanya apa kesalahan yang membuatnya pantas berpindah tempat ke lantai.


Aku menarik napas panjang. Apa benar dengan cara seperti ini perasaanku bisa berubah?


***


"Run, Ibu senang melihat kamu sudah ceria lagi seperti dulu," ungkap ibu suatu malam, ketika kami hendak tidur. Mata coklat Ibu lekat menatapku, mengusap lembut pipiku. Senyum lembut menghias bibirnya.


"He-he, karena ngeliat Ibu juga sudah makin segar," balasku dengan senyum terkembang.


"Apa ada hubungannya dengan Beni?" senyum ibu makin lebar, penuh selidik.


"Ha-ha, enggak juga, Bu," sahutku tersipu.


"Hubungan kamu dengan Beni, gimana?"


"Ya, enggak gimana-gimana."


"Kalian pacaran?" Ibu langsung ke pokok pembicaraan, karena melihat gelagatku yang pura-pura tidak peka dengan pertanyaannya.

__ADS_1


"Kalau memang tidak berniat menjalin hubungan serius dengan Beni, sebaiknya jaga jarak. Kamu itu sudah bukan anak-anak lagi, yang bisa sembarangan saja jalan sana-sini dengan laki-laki. Kalian sudah sama-sama dewasa. Ibu yakin Beni mau antar jemput kamu seperti sekarang bukan hanya sekadar teman, pasti sedikit banyak dia ada rasa terhadap kamu."


Aku tertegun mendengar perkataan ibu. Naluri seorang ibu memang tidak bisa dibohongi.


"Jika memang kamu tidak ada rasa apa-apa sama Beni, sebaiknya jaga jarak. Jangan mempermainkan perasaan orang." Kata-kata ibu begitu tepat sasaran.


"Sebenarnya Kak Beni memang sudah bilang suka, sih, Bu. Hanya saja aku takut menerima dia karena perasaanku terhadap Arjun masih menggantung," beberku pelan, menatap wajah ibu menunggu reaksi selanjutnya.


Ibu menggeser posisi tidurnya, terdiam agak lama.


"Ibu bukan mau menekan Runa untuk masalah hati, cuma ibu mau kasih tau saja. Kalau memang kamu tidak punya rasa apa-apa terhadap Beni, sebaiknya jaga jarak. Kasihan anak orang kalau kamu beri harapan palsu." Pelan ibu mengatakan, tapi terasa begitu dalam.


"Sebenarnya, aku ada sedikit rasa suka sama Kak Beni, Bu. Hanya belum yakin saja," ungkapku jujur.


"Kalau memang belum mantap, jangan dipaksakan. Urusan hati itu tidak boleh dipaksa-paksa."


"Tapi katanya perasaan sayang akan tumbuh seiring waktu, Bu." Aku berkilah. Kemudian merasa malu sendiri dengan apa yang baru saja terlontar dari ucapanku.


"Ha-ha, benar juga, sih. Ibu cuma mengingatkan, kalau kamu hanya berniat main-main sama Beni, sebaiknya jangan. Ibu lihat, dia laki-laki baik. Kasihan kalau kamu anggap cuma sebagai pengisi waktu luang saja," tandas ibu.


"Jangan sering-sering, enggak baik juga berdua-duaan terus."


"Ha-ha, siap, Bos!"


"Ya, sudah. Tidurlah." Tangan lembut ibu mengacak pelan rambutku.


Meskipun mataku telah kupejamkan, tetapi pikiranku melayang pada Kak Beni. Kendati tidak terang-terangan menyatakan bahwa aku menerima perasaan pria itu, tetapi aku tidak pernah menolak ketika Kak Beni menjemputku setiap pulang dari tempat magang. Perhatian yang dia berikan, membuatku merasa istimewa. Sedikit demi sedikit, mampu melupakan kesedihanku.


***


Masa magang usai, aku harus kembali ke Bandung, berkutat dengan segala urusan menjelang masa akhir pendidikan, menyelesaikan skripsi. Sesuai perjanjian dengan Arjun, aku masih saja bertahan tidak menghubunginya. Pun dengan Arjun, dia menepati janji untuk tidak menghubungiku.


Tiga bulan aku berjuang dengan segala kegilaan masa penyusunan skripsi. Memburu dosen pembimbing hingga tak kenal waktu. Menyelesaikan dengan segera jika ada revisi yang disarankan oleh dosen pembimbing. Tekadku untuk lulus tepat waktu, membuatku tak menghiraukan yang lain. Bahkan urusan perasaanku terhadap Kak Beni pun terlupakan begitu saja.

__ADS_1


Entah berapa kali pesan chat maupun telpon Kak Beni terabaikan olehku. Namun pesan yang dikirimkannya hari ini, seolah memaksaku untuk berpikir.


[Runa, sehat kan? Bagaimana skripsimu? Sudah lama sekali pesanku tidak dibalas. Apakah aku masih bisa berharap terhadap perasaanmu ataukah harus menyerah?]


Lama aku menatap layar ponselku. Berpikir akan menuliskan apa untuk membalas pesan darinya. Egoku mengatakan bahwa aku juga tidak mau melepaskan Kak Beni, aku terlanjur nyaman selama tiga bulan bersamanya.


Agar tidak ada kesalah pahaman, akhirnya aku memilih untuk membalas pesannya dengan menelepon.


"Hai, Run!" sapa suara berat lelaki itu di seberang sambungan. Terdengar jelas suaranya begitu bersemangat.


"Hai Kak, maaf seminggu ini aku sibuk bolak balik ngurus revisi dan pendaftaran sidang," ucapku dengan nada bersalah.


"Oh! Maaf aku malah jadi nambah beban pikiranmu, bukannya malah kasih dukungan." Ada nada sesal yang kutangkap.


"Ha-ha, enggak kok. Uhm ... Kak ... apa benar tidak apa-apa kalau perasaanku masih belum terlalu banyak terhadap Kak Beni?" tanyaku ragu-ragu.


Sejujurnya aku tidak ingin memutuskan untuk menjalin hubungan dengan tergesa. Hanya saja, kehadiran Kak Beni cukup mendistraksi rasa terpurukku. Kenyamanan yang dia berikan membuatku tak mampu melepaskannya begitu saja. Aku terlalu tamak, untuk terus memiliki rasa nyaman yang diberikannya.


"Asal kamu tidak merasa terpaksa saja menjalaninya, aku terima. Aku menjalin hubungan bukan untuk main-main, Run. Jika memang kamu mau menerima aku, aku akan datang ke Ibu kamu beserta keluargaku untuk melamar."


Kalimat terakhir Kak Beni membuatku bungkam. Ternyata dia sudah seserius itu.


"A-aku belum terpikirkan sampai ke situ. Bahkan lulus kuliah pun belum." Meski terbata-bata, akhirnya aku mampu mengatakannya. "Bagaimana jika nanti ada sesuatu yang Kak Beni tidak suka dariku, apa nanti enggak ribet urusannya?"


"Sudah pasti nanti kedepan bakal ada ketidak cocokan atau masalah yang akan kita temui, tapi masa iya akan ada manusia yang benar-benar sesuai kriteria kita? Dengan keluarga yang sedarah saja masih ada masalah kok, apalagi untuk hubungan seperti ini. Untuk masalah seperti itu, harus pinter-pinter menyiasati saja."


Aku sudah tidak bisa mencari alasan lain. Jika memang tekadnya sudah seperti itu, aku bisa sedikit lega. Setidaknya dia akan bisa menyikapi dengan rasional jika nanti ada masalah dalam hubungan kami. Bisa mengimbangi sifatku yang masih plain-plan.


"Baiklah, kalau memang Kak Beni berpikir begitu, aku bisa tenang," kataku setelah mendengar jawabannya.


"Jadi, boleh nih aku bawa orangtuaku menemuiku Ibumu?"


"Eng ... kalau nanti setelah wisuda gimana, Kak? Biar aku fokus ngurus kelulusanku dulu."

__ADS_1


"Ah! Maaf! Aku terlalu bersemangat, ha-ha!" Tawanya pecah, ada kelegaan yang kurasa dari tawa itu. "Seharusnya aku memberi semangat buatmu, malah jadi nambah beban pikiran, ya?"


Ini pengalaman keduaku merasakan perasaan yang cukup dalam terhadap laki-laki. Kali ini, rasanya tidak seringan ketika menyukai Arjun. Masih ada ganjalan yang kurasa, tetapi aku sendiri tidak bisa mengungkapkannya. Aku berharap, ganjalan ini hanyalah seberkas rasa yang masih tersisa buat Arjun. Semoga seiring berjalan waktu, perasaan ini dapat kutepiskan dan menyerahkannya penuh buat laki-laki yang mencintaiku dengan utuh.


__ADS_2