Kandas

Kandas
Menerima


__ADS_3

Aku selalu saja tertipu dengan mereka yang masih saja bersandiwara padaku. Walau begitu, aku tetap saja menerima segalanya. Aku tahu pada akhirnya aku aka terluka, tapi asalkan dekat dengan Dika maka aku akan menerima apa yang mereka lakukan padaku. Yah itulah kebodohan ku selama setahun ini. Aku menerima setiap kebohongan maupun sakit hati yang diberikan padaku. Tapi rasa sayangku untuknya membuat aku bertahan padanya.


*****


Setelah beberapa hari, akhirnya aku melakukan rutinitasku seperti biasa dan melanjutkan perkuliahan. Sesampainya di gerbang kampus, tiba-tiba handphone ku berbunyi menandakan ada panggilan video call. Aku melihat nomornya yang tidak asing dan dengan cepat aku langsung mengangkat panggilan tersebut


“Kenapa ?” kataku


“Ah syukurlah kamu mengangkat” kata Dika


“Eh kakak ipar ya” kata teman-teman Dika


“Diamlah” kata Dika “Ada apa” kataku


“Kamu sudah kuliah ya?” kata Dika

__ADS_1


“Iya, ini aku udah di kampus sekarang, kenapa ?” kataku


“Gak apa-apa, aku hanya rindu saja” kata Dika yang langsung diteriakin teman-temannya


“Udah deh gak usah aneh-aneh” kataku sambil tersenyum


“Akhirnya kamu mau senyum juga padaku” kata Dika


Aku pun tersadar saat Dika mengatakan hal itu


“Baiklah, sampai ketemu nanti malam ya” kata Dika yang langsung mengakhiri panggilan kami.


Setiap hari Dika menghubungi ku bahkan setiap malam sebelum berangkat kerja, Dika masih saja mampir ke kost ku. Jujur saja, perubahan yang diberikan padaku membuat aku semakin berpikir kalau Dika akan kembali padaku, karena Dika setiap bertemu dengan ku tidak pernah menyangkut apa-apa tentang perempuan yang sudah menghancurkan hubungan kami. Yah semuanya benar-benar kembali.


Dika selalu menceritakan segalanya padaku, baik saat Dika pindah kost dari tempat keluarganya. Yah aku semkin yakin dan memberi kesempatan kepada Dika karena setelah Dika pergi dari tempat keluarganya, maka Dika akan jarang bertemu dengan perempuan. Semuanya benar-benar membuat aku bahagia.

__ADS_1


Aku pun diajak ke tempat kostnya yang baru, dan jelas saja aku melihat tempatnya yang bisa dikatakan lumayan luas untuk dirinya sendiri. Tapi satu hal yang membuatku bingung, Dika tidak mau yang punya kost tahu kalau aku adalah perempuannya. Tapi Dika selalu menyembunyikan wajahku dari lingkungan sekitar. Hingga suatu saat ketika itu juga Dika mengatakan padaku


“Ah bukan hanya kamu yang pernah datang kesini” kata Dika


“Maksudnya gimana?” kataku dengan bingung


“Iya soalnya teman ku kerja dulu juga datang kesini” kata Dika


“Ha siapa ?” kata ku menahan kesal


“Itu Ely, dia datang saat aku waktu itu sakit, jadi dia merawatku” kata Dika


“Lalu urusan dengan aku yang datang kesini apa?” kata ku


“Karena ibu kost hanya tahu kalau aku punya pacar itu dia, bukan kamu” kata Dika

__ADS_1


Mendengar hal itu kembali menyayat perasaan ku, bagaimana dengan tega Dika melakukan hal ini padaku. Semua wanita yang mendekatinya selalu diberi perhatian bahkan selalu dipublikasikan di depan semua temannya, sedangkan aku, aku selalu disembunyikan baik dalam keluarganya maupun teman-temannya. Aku seolah perempuan yang bernilai rendah dimatanya. Walau aku tahu semuanya seperti itu, tetap saja aku menerima Dika.


Aku yang sudah bodoh akan perasaan yang tidak ingin kehilangan Dika membuat aku selalu bertahan. Yah bertahan akan sikapnya yang tidak mempedulikan aku, bertahan dengan Dika yang selalu menceritakan wanita lain dihadapan ku, bertahan dalam luka yang semakin lama semakin membuatku semakin bodoh akan hubungannya yang bertahan untuk seseorang yang tidak menghargaiku.


__ADS_2