
Jujur saja, aku tidak bisa menerima hal itu. Bila dikatakan kecewa tentu saja aku juga merasa kecewa akan sikap adek Dika saat itu, karena itu akan membuat hubungan ku dengan Dika semakin sulit untuk ku jalani. Hubungannya yang dari awal tidak dapat restu dari mama, pada akhirnya semakin sulit untuk mendapat restu. Aku pun hanya bisa memberi nasehat kepada Dika walau itu tidak akan di dengar Dika saat itu.
Akhirnya hari pernikahan adek Dika pun dimulai, ibu Dika menghubungi ku saat itu juga
"Vita. kamu dimana ?" kata Ibu
"Saya di kost bu, ada apa ya ?" kataku
"Aku ingin kau bujuk Dika untuk datang ke pernikahan adeknya " kata Ibu padaku
"Ah... baiklah bu, aku akan bujuk dia" kataku tanpa berpikir panjang
"Terima kasih ya" kata ibu saat itu dan langsung mengakhiri pembicaraan
Saat itu juga aku langsung menghubungi Dika
"Kau dimana ?" kataku
"Di tempat biasa" kata Dika dengan singkat
"Aku datang ya kesana" kata ku
"Tunggu biar aku jemput saja" kata Dika
__ADS_1
Dengan cepat aku siap-siap sambil menunggu Dika. Beberapa menit kemudian Dika datang, Aku melihat Dika dengan wajah yang masih sedih bercampur kecewa. Selama di perjalanan Dika hanya terdiam bahkan sampai di tempatnya pun Dika tetap terdiam. Aku yang melihat hal itu jujur saja tidak tahu harus bagaimana membujuknya. Walau sebenarnya aku juga ingin datang ke pesta pernikahan itu, tapi jika Dika tidak pergi maka aku juga tidak akan kesana.
"Ada apa ?" kata Dika
"Aahh itu aku hanya ingin bertemu dengan mu saja " kataku
"Kenapa ?" kata Dika
"Apa ada alasan khusus untuk bertemu dengan pacarnya sendiri" kataku sambil melihatnya
"Ku pikir ada hal yang ingin kau bahas padaku" kata Dika
"Ada sih, tapi...." kataku sambil melihatnya
"Tapi aku ingin kesana" kataku dengan wajah manja
"Aku tidak akan pernah setuju mereka menikah" kata Dika
"Kau tidak bisa melakukan hal itu Dika. jika jodoh adek mu sudah ada mau bagaimana pun kau tidak bisa melarang" kataku menjelaskan
"Jodoh ? Itu bukan jodoh namanya Vit, tapi karena kesalahan" kata Dika
"Yah baiklah kalau memang itu kesalahan, silakan kamu marah dengan mereka tapi jangan dengan anak yang dikandungnya. Dia tidak tahu apa-apa" kataku
__ADS_1
"Semua sama saja bagiku. Aku tidak akan menganggap mereka lagi adek ku" kata Dika
"Kau saat ini hanya emosi sesaat Dika, kau tidak marah seutuhnya. Aku tahu akan hal itu, tapi kenapa kau sampai segitunya marah kepada mereka ?" tanyaku heran
"Kau tahu, kata orang kalau kamu dilangkahi adek mu dalam pernikahan maka yang kamu langkahi itu akan kesulitan untuk mendapatkan jodohnya" kata Dika
Mendengar hal itu, tentu saja aku tertawa
"Kenapa tertawa ?" kata Dika
"Ah, kau percaya akan hal itu ?" kataku sambil melihatnya
"Aku hanya tidak suka hal itu" kata Dika
"Oke dengarkan aku, jodoh bukan kita yang mengatur. Mungkin saat ini memang adekmu yang pertama kali bertemu dengan jodohnya. Walau pun pernikahan ini karena sebuah kesalahan tapi jangan salahkan bayi yang sudah berada di perut adek iparmu. Bayinya tidak salah dan kamu berhak marah kepada adikmu dan adik ipar mu tapi jangan dengan bayinya. Yakin deh jika nanti bayi itu sudah datang kedunia ini, kamu pasti akan menyukainya melebihi dirimu sendiri. Lalu untuk jodoh yang kamu katakan itu, semua akan datang dengan waktu yang sudah ditentukan. Kamu juga pasti akan menikah kok. Jadi berhentilah berpikir yang tidak-tidak" kataku dengan panjang lebar
"Entahlah, aku tidak tahu harus bagaimana" kata Dika
"Toh jodohmu sudah di depanmu, kenapa malah mencari yang lain" kataku menggoda Dika
"Ha maksudmu?" kata Dika
Aku pun mengkedipkan mataku saat itu sambil tersenyum kepadanya. Melihat tingkahku, Dika hanya tertawa saat itu sambil mengeluskan kepalaku dengan lembut.
__ADS_1
Yah setidaknya aku bisa menemaninya walau itu sukit untuk kami berdua.