Kandas

Kandas
Gadis Kecil Ibu


__ADS_3

Parkiran rumah sakit siang ini cukup lengang, mungkin karena hari Minggu, sehingga tak begitu sulit untuk menemukan tempat parkir. Kami mendapatkan tempat parkir tak jauh dari gedung tempat ibu dirawat.


Kak Beni membantuku mencopot seat belt, setelah berkali-kali benda itu bergeming ketika kubuka dari kaitannya. Sekali lagi, aroma parfum yang dipakai kak Beni menyapa indera penciumanku. Aromanya memancing jantungku berdetak lebih cepat. Bukan karena yang memakai parfum itu adalah kak Beni, tapi wangi cedar yang terkandung pada parfum itu selalu saja mengingatkanku pada sosok maskulin Arjun. Tanpa kusadari wajahku memanas.


"Nah, sudah lepas." Suara kak Beni membuyarkan lamunanku. Manik matanya berhenti sejenak menatap wajahku.


Aku gelagapan seperti pencuri yang tertangkap basah. Tak mau kak Beni salah sangka dengan rona yang ditunjukkan oleh wajahku ketika ia memanas.


"Terima kasih, Kak," ucapku bergegas menarik tuas pintu dan melesat keluar mobil.


"Aku antar sampai ke dalam, ya," ujarnya menyamai langkahku.


"Eh ... Makasih, Kak," sahutku tanpa menoleh padanya.


Wajahku masih saja terasa panas. Kali ini lebih kepada karena rasa malu karena kejadian tadi. Bisa-bisanya aku memikirkan Arjun disaat bersama orang lain.


"Nyokap sakit apaan, Run?" Kak Beni memulai percakapan ketika kami memasuki gedung rumah sakit.


Aku tercenung, terlalu berat rasanya mulutku untuk memberitahukan penyakit ibu pada orang lain. Apalagi orang tersebut baru saja aku kenal.


"Eh, sorry enggak maksud mau kepo," ujarnya kemudian ketika melihatku masih diam tak langsung menjawab pertanyaannya.


"He-he, iya," sahutku bingung mencari kalimat yang tepat untuk menyatakan alasan penolakanku.


"Tidak usah di pikirkan. Tidak semua pertanyaan harus dijawab." Suara kak Beni kembali terdengar diantara senyapnya lorong rumah sakit. Terasa begitu menenangkan. Khas seorang laki-laki dewasa.


Aku hanya mengangguk menanggapi kalimat terakhir kak Beni. Kembali tenggelam dalam pikiranku. Tempo hari aku sempat merasa hancur ketika mendengar maktuo menyampaikan penyakit ibu. Hari ini, kepingan-kepingan harapan kukumpulkan sedikit demi sedikit, merangkainya kembali membentuk harapan baru.


Setidaknya aku masih beruntung. Masih dikelilingi orang-orang yang perhatian padaku. Mereka memberikan dukungan moril yang kubutuhkan. Selain itu, cara ibu menghadapi penyakitnya membuatku juga ikut optimis.


Kami berjalan dalam diam. Lorong rumah sakit terasa begitu sunyi. Hanya sesekali terdengar bunyi derit engsel pintu yang dibuka dan decitan sol sepatu seseorang yang menjejak lantai berjalan menjauh.


Aku mengedarkan pandangan ke area seberang selasar rumah sakit, di sana terdapat sebuah taman yang terawat rapi terlihat menenangkan, di antara gedung rumah sakit yang menjulang seolah menatapku angkuh. Bulu kudukku berdiri menyadari betapa dinginnya hawa yang terasa di gedung ini, diantara panasnya udara Jakarta.


Aku mempercepat langkah, ingin segera berada di kamar tempat ibu dirawat. Kak Beni ikut mempercepat langkahnya. Tak begitu sulit baginya mensejejeri langkahku yang panjang dengan kaki jenjangnya. Sampai akhirnya aku berhenti, berdiri mematung di depan sebuah pintu. Pintu kamar tempat ibu dirawat.


Menarik nafas dalam sebelum menarik kenop pintu. Aku masih saja harus menguatkan hati setiap kali akan memasuki ruangan ini. Berharap ibu menyambutku dengan senyum hangatnya seperti dulu.


"Assalamualaikum." Kutarik pelan kenop pintu dan melongokkan kepala sebelum benar-benar masuk.


Di kamar ternyata telah ada uda Indra dan istrinya—kak Asti.


"Waalaikum salam, eh Runa," sambut kak Asti.


Wajah cantiknya makin terlihat manis dengan senyum yang menghiasinya ketika melihatku datang.


"Sudah lama ya, Kak?" tanyaku ketika menyalami kakak ipar sepupuku itu.

__ADS_1


"Baru nyampe juga. Ini pacarnya Runa ya?" tunjuk kak Asti ketika melihat kak Beni datang bersamaku.


"Eh ... Bukan kak ...." Aku gelagapan, tidak siap ditodong pertanyaan seperti itu.


"Saya Beni, temannya Wina. Wina lagi enggak bisa anter, jadi saya nawarin diri buat nganter," potong kak Beni menyalami kak Asti.


"Ooh ... Kirain pacarnya Wina, maaf ya, ha-ha," gelak kak Asti terlihat canggung.


Wow, ternyata kak Beni pintar juga mengendalikan situasi. Aku bernafas lega. Apa jadinya kalau kak Beni tadi tidak menjawab seperti itu, bisa-bisa aku jadi bulan-bulanan kak Meli sama uda Indra.


"Eh, Runa sudah datang. Enggak apa-apa maktuo tinggal, kan? Maktuo mau ke kondangan sepupu si Asti." Kakak ibuku itu tampak sudah rapi dan wangi ketika keluar dari kamar mandi.


"Iya, enggak apa-apa maktuo. Nanti malam Runa nginep aja. Besok kan sudah mau balik ke Bandung."


"Kamu pulang seperti biasa, besok pulang ke Bandung sore aja," usul maktuo, "kalau kamu nginap disini, bisa-bisa diajak ngobrol terus, bisa ga jadi pulang ibumu besok."


"Ha-ha, iya-ya maktuo."


Ternyata maktuo benar-benar memikirkan kesehatan ibu sampai segitunya. Aku benar-benar merasa bersyukur, dikarunia keluarga yang saling mendukung seperti ini.


"Nah, maktuo jalan dulu. Kalau siang ini tidak apa-apa kamu ngobrol sampai puas dengan ibumu," kekeh maktuo mengusap punggungku seperti biasa.


"Kalau begitu, saya juga pamit tante," kata kak Beni. Menyalami satu persatu semua yang ada di ruangan perawatan ibu.


Aku minta izin pada ibu untuk mengantarkan kak Beni sampai pintu.


"Enggak repot kok. Aku senang bisa nganter kamu." Dia tersenyum lembut. "Nanti biar aku jemput lagi, ya," ujarnya kemudian.


"Eh, enggak usah Kak. Repot banget."


"Enggak kok, besok kan kamu sudah balik ke Bandung. Enggak tau kapan bisa ketemu lagi. Boleh, ya?"


Aku bingung hendak menjawab apa. Kutolak pun, dia akan tetap akan menjemput. Kalau menjawab iya, takut dianggap memanfaatkan.


"I-iya, tapi enggak usah maksa kalau Kakak lagi sibuk." Akhirnya kalimat itu yang terlontar dari mulutku.


"Ok." Kembali senyuman hangat itu terkembang di bibirnya, melengkapi daya tarik pada wajah machonya.


Aku bukan terpesona pada kak Beni. Hanya saja caranya memperlakukanku membuatku sedikit nyaman. Baru kali ini aku merasakan seperti ini selain dengan Arjun.


Setelah kak Beni menghilang di ujung tangga, aku berbalik kembali ke tempat ibu. Mendapati ibu sedang tersenyum jahil.


Kali ini wajah ibu sudah mulai terlihat cerah, ditambah timpaan cahaya matahari yang masuk dari jendela samping ranjang. Pesona wajah ibu yang kemarin sempat hilang, sudah kembali lagi.


"Ibu sudah mulai merasa segar, ya?" Aku membalas senyum ibu. Aura bahagia yang dipancarkan senyuman ibu, menular padaku.


"Alhamdulillah, sudah. Apalagi tadi pagi ibu mandi bisa keramas. Kemarin berasa lengket semua kepala ibu," kekeh ibu.

__ADS_1


"Eh, infus Ibu sudah dicopot, ya?" Aku baru menyadari bahwa di tangan ibu sudah tak lagi terpasang infus set.


"Iya, dari semalam. Ibu sudah tidak terlalu mual lagi. Nafsu makan ibu sudah naik, jadi dokter bilang sudah boleh dicopot infusnya."


"Alhamdulillah, semoga kondisi Ibu makin membaik."


Aku duduk di pinggir ranjang, memijat pelan kaki ibu.


"Beni suka sama kamu, ya?" Tebakan ibu membuatku terperanjat.


"Eh, kok Ibu bilang begitu?" Aku memasang wajah pura-pura tidak tahu.


"Ibu kan bisa melihat dari caranya memandang kamu." Seringai jahil menghiasi bibir ibu. "Wajah kamu kenapa merah? Benar, kan? Yang ibu sangkakan?"


"He-he, iya." Hanya itu yang mampu aku ucapkan. Rasa malu menjalar dalam hatiku.


Aduh, kenapa aku masih saja merasa malu membicarakan hal seperti ini dengan ibu.


"Perasaan kamu ke dia bagaimana?" Kali ini suara ibu terdengar menyelidik.


"Ya, enggak ada rasa apa-apa, Bu. Di hati aku hanya ada Arjun ... eh ...." Serta merta aku menutup mulutku karena keceplosan memberitahukan ibu hal yang memalukan itu.


Lagipula aku takut ibu berpikir bahwa Arjun telah menggeser posisinya dari hatiku. Padahal tempat ibu dan ayah dalam hatiku tak akan pernah mampu digeser oleh siapapun. Mereka menempati ruang abadi dalam hatiku.


"Kenapa? Kok jadi merah gitu mukanya?"


"He-he ... aku malu, Ibu ...." kekehku salah tingkah.


"Kenapa harus malu? Menyukai lawan jenis itu sudah fitrah manusia, kok. Asal jangan kebablasan," ujar ibu mencubit ujung hidungku. "Sini." Ibu menarikku mendekat.


Aku menggeser posisi tubuhku mendekat ke arah ibu. Biasanya ibu memintaku duduk dekatnya hanya untuk menyisiri rambut ku, sambil bercerita apa saja yang terlintas dalam benak kami.


Benar saja, ibu memutar tubuhku membelakanginya. Tangan ibu melepaskan ikatan rambutku dan menyapu lembut setiap helaiannya.


Andai kondisi ibu tidak seperti ini, saat seperti ini adalah momen yang membahagiakan bagiku.


"Baru kemarin rasanya ibu menyisiri dan mengepang dua rambutmu ketika masuk TK, sekarang sudah sebesar ini. Sudah jadi perempuan dewasa." Suara ibu terdengar bergetar.


Aku berbalik menatap ibu, mata ibu telah basah. Melihat ibu menangis adalah pemandangan langka bagiku. Membuatku tak mampu menahan tangis dan menghambur ke pelukan ibu. Aku merasa bahwa aku masih gadis kecilnya dulu, gadis yang setiap pagi selalu ribut meminta diikatkan rambut pada ibu. Selalu merengek saat meminta permen kapas yang dijual mamang di depan sekolah, ketika beliau menjemputku.


Aku belum mampu berbuat banyak untuk membalas cintanya, berharap Tuhan memanjangkan umurnya, memberikan sedikit keajaiban pada kami. Agar aku mampu mempersembahkan kesuksesanku pada ibu. Sebagai wujud baktiku sebagai seorang anak.


Aku memeluk ibu erat. Ingin memberinya sedikit kekuatan, tapi sepertinya saat ini justru aku yang mencari kekuatan dari pelukannya.


"Ibu, harus kuat ya. Aku ingin selamanya bersama Ibu," ucapku lirih.


Hidup dan mati memang sudah kepastian, tapi tidak semua orang siap untuk menerima kenyataan ketika orang yang mereka cintai dibayang-bayangi oleh kematian. Semoga Tuhan mau memberikan setitik rasa kasih sayang-Nya padaku. Agar aku bisa lebih lama merasakan kasih sayang dari ibu, perempuan yang menjadi penyambung tangan Tuhan di bumi.

__ADS_1


__ADS_2