
Hari ini ibu diizinkan untuk pulang. Aku sudah berada di rumah sakit dari pagi bersama Wina. Sementara maktuo dan Wina mengurus administrasi rumah sakit, aku membereskan barang-barang ibu.
Wajah ibu terlihat bersemangat saat aku memasukkan barang-barangnya yang ada di nakas ke dalam sebuah tas besar. Cahaya matahari yang masuk melalui jendela menambah cerah wajah ibu pagi ini.
"Ibu sudah tidak sabar untuk kembali ke rumah," ujar ibu dengan senyum melengkung sempurna pada bibirnya.
Ada rasa getir yang kurasakan, mengingat setelah ini, aku juga harus berpisah dengan ibu. Dalam hitungan jam, aku akan kembali ke Bandung dan meninggalkan ibu di Jakarta bersama maktuo.
"Bu, aku boleh tinggal sampai akhir minggu?" Hati-hati kuucapkan permintaanku.
Ibu termasuk orangtua yang disiplin untuk urusan pendidikan. Dia tidak mau aku dengan seenaknya bolos tanpa uzur yang jelas.
"Tidak usah, kan ada maktuo yang menemani Ibu," tolak ibu. Seperti dugaanku.
"Tapi aku belum puas cerita sama Ibu." Kuajukan alasan agar ibu mau sedikit melonggarkan aturannya.
"Ibu tidak mau kamu nelantarin kuliah, Run. Kamu harus ingat, semakin lama kamu lulus, semakin banyak biaya yang harus dikeluarkan." Jeda, ibu menghela nafas panjang. "Kamu kan tau, keuangan kita sudah mulai seret, jangan sampai beasiswamu dicabut hanya karena kamu terlalu memikirkan Ibu. Sayang tenaga dan waktu yang telah kamu habiskan selama enam semester ini. Kalau dirupiahkan sudah berapa banyak itu."
Aku tak berani membantah kalau ibu sudah mengeluarkan rumus hitung-hitungan seperti itu. Ibu-ibu itu hitung-hitungannya memang benar-benar jago. Namun, ada benarnya juga apa yang ibu katakan. Jangan sampai beasiswaku dicabut gara-gara bolos kuliah. Aku harus mempertahankan nilai-nilaiku, agar apa yang telah ibu usahakan untuk pendidikanku selama ini tidak sia-sia.
"Kesampingkan soal perasaan. Kamu tidak perlu terlalu mengkhawatirkan Ibu. Cepat atau lambat kita memang harus berpisah, apa yang kamu takutkan?" Suara ibu kembali terdengar. Lembut tapi mengiris hatiku. Sesiap apapun aku menghadapi kepergian ibu, aku masih belum mampu membayangkan hariku tanpanya.
Ku gigit kuat bibirku, agar cairan bening yang sudah menggantung di pelupuk mata tak jatuh.
"Sini ...." Ibu menarikku ke pelukannya, membelai lembut rambutku.
Tak sanggup lagi aku menahan rasa sesak yang mencekik. Pertahananku runtuh. Terisak mendekap tubuh ibu yang tak segempal dulu. Melepaskan segala rasa yang mengganjal di hati.
"Aku tak mau kehilangan ibu," isakku.
Padahal kemarin, aku telah berusaha memupuk semangat agar mampu menghadapi kenyataan ini dengan lapang dada. Ternyata tidak semudah itu. Ketakutan akan kehilangan ibu masih saja menghantuiku.
"Hei! Kenapa kamu pesimis begitu?" Ibu mendorong tubuhku perlahan, menatap wajahku yang telah basah oleh airmata. "Hanya Tuhan yang menentukan kematian seseorang, manusia hanya memprediksi. Belum tentu juga prediksi dokter itu tepat. Tidak usah kamu mencemaskan apa yang belum terjadi," hibur ibu mengusap lembut pipiku.
"Aku ingin bersama ibu," ucapku lirih.
"Iya, nanti kalau kondisi ibu sudah stabil, ibu akan kembali ke Bandung. Ibu harus menjalani beberapa terapi dulu untuk menghentikan pertumbuhan sel kankernya. Jadi, kamu sabar, ya. Anggap saja ibu sedang bekerja."
Aku hanya membalas perkataan ibu dengan anggukan. Menghapuskan sisa airmata yang menggantung.
Harusnya aku yang menghibur ibu, membesarkan hatinya. Namun kelemahan hatiku membuat keadaan terbalik. Justru aku yang dihibur oleh ibu agar tak perlu merisaukan penyakitnya.
"Senyum dong. Jangan sedih begitu. Biar ibu juga semangat buat menjalani proses pengobatannya," ujar ibu.
__ADS_1
Demi ibu, aku memaksakan diri untuk tersenyum, mengenyahkan segala lara yang masih saja enggan untuk pergi.
"Iya, maafkan aku, Bu. Aku meragukan semangat Ibu," ucapku lirih.
Maktuo masuk ke kamar tepat pada saat aku selesai membereskan semua barang-barang ibu ke dalam tas.
"Ayo! Masih ada yang perlu dibereskan?" tanya maktuo ketika mendekat.
"Sudah beres semua," sahutku. "Ada biaya tambahan enggak, Win?" tanyaku beralih pada Wina.
"Tidak ada, sudah ditanggung semua sama asuransinya," terang Wina. "Kamu tuntun tante saja biar aku yang bawa tasnya," ujar Wina ketika melihatku hendak membawa tas besar yang berisi barang-barang ibu.
"Berat, Win," tolakku.
"Ya elah, masa meragukan kekuatanku?" Wina menekukkan lengan seolah memperagakan ototnya.
"Ha-ha, baiklah," kekehku menuntun ibu turun dari tempat tidur, menyorongkan sepasang sendal bersol karet ke kaki ibu.
Seperti halnya di dalam kamar, suasana di luar juga begitu senyap. Hanya Sayup-sayup suara kendaraan yang melewati jalan di depan rumah sakit yang terdengar dari depan kamar ibu. Perlahan kutuntun ibu menuju pintu keluar setelah ibu berpamitan dengan para perawat yang selama ini membantu ibu.
"Semoga lekas pulih ya, Bu. Jangan balik ke gedung ini lagi," ujar salah seorang perawat ketika melepas ibu dengan senyum hangatnya.
"Terima kasih, Sus. Mohon doanya," balas ibu memeluk perawat tersebut.
Aku menuntun ibu masuk ke dalam mobil city car milik Wina, menutup pintunya setelah yakin ibu duduk dengan sempurna pada jok penumpang bagian belakang.
"Win, langsung anter Runa ke stasiun biar dia tidak terlalu kemalaman sampai Bandung," pinta ibu pada Wina ketika mobil baru keluar dari parkiran rumah sakit.
"Eh ... Nanti sore saja, sih, Bu. Aku masih mau bareng ibu," tolakku.
"Kasihan Wina harus bolak balik anter," sahut ibu.
"Nanti aku berangkat sendiri saja, tidak usah dianter." Aku mengajukan tawaran.
"Nanti macet, kamu kemalaman sampai Bandung. Sudah, Win. Langsung ke stasiun saja!" perintah ibu.
Kembali, perintah ibu adalah titah yang tak boleh dibantah. Aku terpaksa menerima saja apa yang sudah di putuskan ibu sebelum ibu berkhotbah.
"Kita makan dulu ke tempat si Indra, baru ke stasiun, ya." Kali ini maktuo yang bersuara.
Setuju dengan usulan maktuo, Wina mengarahkan mobilnya ke arah Gondangdia. Tak lama sesudahnya, Wina memarkir mobil di halaman sebuah rumah makan yang bertuliskan "Rumah Makan Padang" di kaca depannya.
"Wah! Tante sudah pulang," sambut uda Indra yang baru masuk dari arah belakang rumah makan. Menyalami ibu dengan hormat. "Maaf Indra tidak bisa menjemput Tante," ucapnya sambil menuntun ibu duduk di salah satu kursi.
__ADS_1
"Enggak apa-apa, Ndra. Kamu lagi sibuk," sahut ibu tampak maklum.
Waktu seolah dipaksa untuk bergerak sangat cepat. Saat berpisah dengan ibu pun tiba. Ibu tidak diizinkan maktuo untuk ikut mengantarkanku ke stasiun, agar tidak terlalu capek. Aku terpaksa berpisah dengan ibu di tempat uda Indra. Terpaksa menerima saja apa yang diputuskan oleh maktuo. Rasa sungkan karena telah banyak merepotkan keluarganya membuatku tak mampu membantah.
Setelah berpamitan dengan ibu, berusaha sekuat tenaga untuk menahan agar tak ada derail airmata, aku dan Wina meninggalkan kediaman uda Indra. Meredam sedih ketika melihat sosok ibu ketika mobil bergerak menjauh meninggalkannya.
Kami tiba di stasiun Gambir sesaat sebelum azan ashar berkumandang. Aku mendapatkan tiket, tepat dua puluh menit sebelum kereta berangkat. Selesai berpamitan dengan Wina, aku bergegas menaiki tangga menuju tempat keberangkatan kereta.
Baru saja menghenyakkan tubuh pada kursi kereta, kereta mulai bergerak perlahan. Meninggalkan hiruk pikuk ibukota, berganti dengan deru mesin. Aku hendak memejamkan mata, ketika ponsel dalam tas kecil yang kuselempangkan pada bahu bergetar.
Ah! Pasti Arjun. Dari pagi aku memang belum sempat memeriksa ponselku karena terlalu sibuk mengurus persiapan ibu untuk pulang dari rumah sakit. Kutarik cepat benda pipih itu dari tasku. Pada layarnya tertera begitu banyak tanda panggilan tak terjawab dan pesan yang belum dibaca.
Seperti dugaanku. Semua panggilan tak terjawab itu berasal dari Arjun. Sementara pesan whatsapp selain dari kontak group, ada pesan dari Arjun dan kak Beni juga.
Berhubung pesan kak Beni berada pada barisan paling atas, aku membukanya terlebih dahulu.
11.00 : [Berangkat jam berapa, Run?] bunyi pesannya.
Bergegas kuketikkan kalimat balasan.
15.45 : [Udah di kereta, Kak. Makasih ya kemarin udah mau di repotin] balasku.
Tak ada balasan. Kulirik kembali tanda centang pada pesanku, masih berwarna abu-abu.
Hei, ada apa denganku? Kenapa sekarang aku malah mengharapkan kak Beni segera membalas pesanku?
Aku beralih membuka pesan dari Arjun.
08.00 : [Balik ke Bandung jam berapa?]
10.00 : [Run, sibuk banget? Kok chat gue enggak dibales?]
13.00 : [Run, R u okay? Miss you. Kenapa lama banget lo bales?]
Menarik nafas panjang. Apakah benar aku seberarti itu bagi Arjun? Membuatnya terkesan seperti anak yang kehilangan ibu, mengirimiku pesan bertubi-tubi. Terkadang aku merasa Arjun terlalu ketegantungan padaku. Baru beberapa hari saja aku tak ada, dia selalu menghujaniku dengan kata-kata yang menunjukkan kerinduannya.
Lalu, kenapa kehadiran kak Beni dengan karakter yang terasa lebih dewasa membuat perasaanku terasa bimbang. Apakah mungkin pertemuan singkat itu mampu mengacaukan semua rasa yang telah terjalin selama ini bersama Arjun?
Semoga saja apa yang dikatakan Wina kemarin malam tidak benar. Semoga saja ini hanya perasaan bimbang sesaat. Arjun telah lebih dahulu hadir dan memegang hatiku. Aku tak mau menghancurkan perasaannya.
Kuketikkan kalimat balasan pada Arjun,
16.00 : [Gue sudah di kereta, baru saja berangkat. Tunggu aku ya, Jun ... Miss you too]
__ADS_1