
Waktu tiba-tiba terasa bergerak begitu lambat. Ingin rasanya kulipat saja malam untuk segera pagi. Sedari tadi aku bolak-balik membuka aplikasi pesan pada ponsel, berharap Runa membaca pesanku dan segera membalas. Hampir tengah malam, tak ada perubahan pada tanda di pesan. Masih berwarna abu-abu.
Ingin mengetikkan kembali beberapa kalimat untuk meluahkan perasaan bahagia yang terasa begitu melimpah, tapi ku urungkan. Sebaiknya aku beristirahat saja malam ini, mencoba menjeda pikiran agar tak terlalu larut pada euforia rasa bahagia ini. Lagipula, aku takut Runa malah merasa tidak nyaman. Bukankah sesuatu yang berlebihan jadinya malah akan menimbulkan rasa bosan.
Aku berusaha memejamkan mata, menghitung detik yang terdengar dari jarum jam yang ada di dinding. Meredakan debaran yang makin saja belum mampu mereda setiap kali mengingat sosok Runa yang terpatri kuat dalam ingatanku. Selimut malam seolah memaksaku untuk tunduk dalam senyapnya, menggiring mataku untuk terlelap.
***
Azan subuh membuatku tersentak. Rupanya semalam aku tertidur masih dengan ponsel dalam genggaman. Aku segera bangun untuk menunaikan shalat subuh. Seperti hari-hari yang lalu, aku selalu menyematkan nama Runa dalam setiap doaku. Berharap dialah yang akan menjadi masa depanku, perempuan yang akan menemani masa tuaku.
Kali ini aku berharap Tuhan merestui keinginanku untuk bisa membangun masa depan dengannya. Mungkin harapanku terlalu naif, lulus kuliah saja belum, jalan yang akan ku tempuh masih sangat jauh, tapi bukankah boleh sedikit berharap dan meminta Tuhan merestui dan mengabulkan harapan itu.
"Jun ... Sudah bangun?" terdengar suara mama dari luar kamar.
"Sudah, Ma," sahutku melongokkan kepala dari pintu.
"Kuliah jam berapa?" Mama tampak sudah rapi dengan setelan blazer putih gading dipadu dengan kerudung zamrud, yang makin menonjolkan kecantikannya.
"Jam sembilan ... Mama sudah mau jalan?"
"Iya, mama mau ke Jakarta pagi ini. Nanti sore berangkat ke Solo. Mungkin seminggu di sana. Sarapan kamu sudah mama siapkan, ya. Terus itu pie juga sudah mama bungkusin buat Runa."
"Makasih ya, Ma. Inget aja kalau Runa suka pie buatan Mama," sahutku menyalami dan mencium tangan mama. Aroma sandalwood dari parfum mama terasa menenangkan, ketika tangan lembut mama menyentuh hidungku.
"Iya, dong. Cuma dia teman kamu yang awet dari dulu, makanya mama selalu ingat
Mungkin bentar lagi juga jadi mantu mama, ya," kekeh mama tersenyum seolah memggodaku.
Wajahku berasa terbakar, tak mampu membalas perkataan mama.
"Ya sudah, mama berangkat dulu, ya. Takut macet di Pasteur," ujar mama seraya melangkah meninggalkanku.
"Mama nyetir sendiri?"
"Enggak, sama pak Anwar," sahut mama dari ujung tangga.
"Hati-hati di jalan ya, Mam," ujarku setengah berteriak karena tubuh mama sudah menghilang di balik tangga.
"Makasih, Sayang," sahut mama juga setengah berteriak.
Seketika sunyi, hanya terdengar ketukan hak sepatu mama yang menjauh, lalu suara pintu ditutup. Aku kembali ke kamar, bergegas memeriksa kembali ponselku. Berharap Runa telah membalas pesan dariku semalam. Aku mendapati tanda bahwa pesannya sudah dibaca. Setelah menuliskan beberapa pesan yang terasa agak basa-basi, aku bergegas untuk bersiap berangkat. Bersiul riang membayangkan akan bertemu sang kekasih hati.
***
__ADS_1
Suasana rumah Runa seperti biasa, terlihat sepi. Dulu, ketika ibunya masih kerja di Bandung, aku pasti mendapati beliau tengah sibuk menyirami kembang yang tersusun rapi di teras rumahnya setiap kali aku menjemput Runa, ketika akan berangkat sekolah. Susunan tanamannya masih sama, tak ada yang berubah. Hanya saja pagi ini tampaknya Runa belum menyirami tanaman itu. Lantai teras masih terlihat kering.
Ketika pikiranku masih sibuk terpatri pada kenangan masa lalu, sekonyong-konyong si pemilik mata bening itu keluar. Cahaya matahari yang tepat jatuh di wajahnya membuat aura kecantikannya makin bersinar. Eh, tunggu ... Sepertinya ada yang berbeda dengan penampilannya hari ini.
Celana jeans yang biasa dikenakannya, hari ini berganti dengan rok denim sepanjang bawah lutut. Wajahnya yang biasa polos, bahkan terkesan pucat, pagi ini terlihat begitu segar. Rambutnya yang lebih sering diikat ekor kuda, kali ini tergerai indah. Ditambah senyumnya yang merekah sempurna, memamerkan lesung pipi yang selalu memikat. Tanpa sadar aku tersenyum ketika ia mendekat.
"Kenapa lo senyum-senyum? Aneh ya tampilan gue hari ini?" tegurnya membuyarkan keterpesonaanku.
"Enggak, makin cantik," pujiku, seketika wajahku memanas.
Aku bukan cowok yang pintar mengeluarkan kata-kata pujian. Kalimat itu terlontar begitu saja dari mulutku. Walaupun selama ini di mataku Runa selalu terlihat cantik, tapi pagi ini kecantikannya sukses membuatku berdecak kagum. Betapa beruntungnya aku bisa memiliki hatinya. Sosoknya makin terlihat sempurna di mataku.
Benar kata orang, jika memulai suatu hubungan dari status sahabat, akan menimbulkan rasa canggung. Aku yang biasa bisa santai mengobrol dengan Runa, kali ini ada perasaan canggung yang mulai tercipta. Hening menguasai tatkala aku melajukan mobilku. Tak ada celoteh riang dari bibir tipis Runa, seperti hari-hari sebelumnya.
Teringat pie yang tadi disiapkan mama, aku menyodorkan kotak bekal berwarna kuning cerah itu ke arah Runa. Wajah gadis itu seketika terlihat makin cerah.
Saking terpesona melihatnya memakan pie buatan mama, aku sampai lupa kalau aku juga belum mencicipinya pagi ini. Baru tersadar ketika gadis itu bertanya, "eh, Lo udah makan pie-nya, Jun?" dengan wajah polos yang belepotan karamel serta remahan pie.
Sontak aku terbahak melihat wajah bersalahnya ketika aku mengatakan, "sebenernya ... Itu juga jatah sarapan gue, siy. Tapi ya sudahlah, cewek gue ternyata rakus juga." Aku memasang muka cemberut untuk melihat reaksinya. Wajah bersalahnya benar-benar menggemaskan.
"Lusa nonton, yuk," ajakku setelah hening kembali menjeda.
"Kok tumben?" tanyanya heran. Selama ini aku memang paling menghindari keramaian. Aku lebih memilih menunggu film-film kesukaanku dijual dalam bentuk kepingan DVD.
Aku benar-benar merasa bersyukur, Tuhan pertemukanku dengan Runa. Gadis itu yang selalu sabar mendampingiku ketika dulu serangan panikku tiba-tiba menyerang. Ia yang selama ini meyakinkanku bahwa aku mampu mengalahkan segala ketakutanku.
"Tapi besok sore gue mau ke Depok, sih," jawabnya agak sedikit ragu.
"Acara apaan? Biasa nyokap lo yang balik ke Bandung, kan?" tanyaku heran.
"Iya, feeling gue nyokap lagi sakit, sih. Tadi pagi gue kayak ngedenger suara nyokap yang agak sesak gitu. Tapi you know lah, nyokap gue, dia enggak mau ngakuin kalau lagi sakit."
"Gue anterin, ya. Udah lama juga enggak ketemu nyokap, lo."
"Enggak usah, gue lagi mau kangen-kangenan sama nyokap, entar lo ngerasa dikacangin," tolaknya.
Benar juga, Runa dan ibunya kalau bertemu, sudah seperti sahabat lama yang baru bertemu kembali. Mereka asyik bercerita apa saja. Biasanya ketika ibunya balik ke Bandung, Runa memilih mematikan ponselnya, ia tak ingin momen bersama ibunya terganggu.
Kadang aku iri melihat keakraban mereka. Mamaku, walaupun selalu perhatian, tapi hubunganku dengan mama masih terasa ada jarak. Tak seperti Runa dan ibunya.
"Sampai kapan?" tanyaku. Tak ingin berlama-lama berpisah dengannya.
"Senin sore gue balik."
__ADS_1
"Lo mau bolos?" selidikku heran. Tak biasanya gadis ini mau melewatkan begitu saja jadwal kuliah Seninnya.
Jika banyak orang yang tak menyukai hari Senin, sebaliknya gadis ini malah bersemangat setiap hari Senin tiba.
"Gimana lo bakal sukses, jika lebih bahagia menyambut liburan daripada rutinitas lo sehari-hari," alasannya ketika ku tanya.
"Enggak lah, Pak Harry lagi mau nyidang. Jadi Senin gue libur," jawabnya sambil memamerkan senyum yang membuatku meleleh.
Kalau biasa serangan panik muncul di tempat ramai, kali ini justru serangan panikku muncul ketika melihat senyuman Runa. Gugup, membuatku jadi berkeringat. Padahal udara Bandung pagi ini cukup dingin.
"Kenapa lo, kok pucet? Laper ya?" berondongnya ketika menyadari perubahan wajahku.
"Ha-ha-ha! Eng ... Enggak ...." Aku berusaha untuk mencari alasan.
"Lo lagi kenapa sih?" Kali ini ia memutar tubuh sepenuhnya menghadap ke arahku, makin membuat jantungku berdetak tak normal.
"Eng ... Gue tiba-tiba grogi," gelakku mengusir kegugupan.
"Laah, kenapa lo pake grogi segala," gelaknya.
Matanya yang sipit terlihat seperti garis lurus ketika tertawa. Runa mempunyai kebiasaan unik saat tertawa, ia selalu menutup mulutnya dengan telapak tangan, lalu di ujung tawanya ia akan menghapus air mata disela-sela sisa tawanya.
"Sebenarnya ini yang gue takut kalau kita jadian, sih, Jun. Tiba-tiba kita jadi dua orang asing. Gue enggak mau kalau lo jadi berubah," ucapnya kemudian setelah sepenuhnya berhenti tertawa.
"Lo jangan berubah gitu dong, Jun. Kita kan selama ini udah nyaman satu sama lain." Kembali ia menyampaikan perasaannya.
"Yang duluan berubah siapa ... lo yang tiba-tiba ngehindarin gue," sahutku.
"Uhm ... iya, sih. Tapi kita coba kembali kayak dulu lagi, bisa enggak?"
"Ya tergantung lo juga, sih. Kalau gue sih bisa, secara gue kan suka sama lo udah dari dulu," kekehku.
"Lah tapi lo pake grogi-grogi segala," protesnya.
"Ha-ha! Iya, ya."
Kembali hening. Mendekati gerbang kampus, aku melambatkan laju mobil. Kemacetan terjadi menjelang masuk gerbang, karena beberapa mobil mahasiswa yang akan masuk dan deretan angkot yang menurunkan penumpang membuat suasana gerbang kampus terlihat padat.
"Hari ini sesuai jadwal kuliahnya?" tanyaku ketika mobil telah berhenti sepenuhnya.
"Iya. Lo ada matkul tambahan lagi hari ini?"
"Enggak. Ya udah, yuk," ajakku keluar dari mobil.
__ADS_1
Cahaya hangat matahari seketika menyapu kulitku begitu keluar dari mobil. Cuaca yang cerah dengan langit yang biru seolah menggambarkan suasana hatiku yang sedang berbahagia. Ku pandangi gadis yang baru saja turun dari pintu penumpang, ia terlihat begitu manis, senyumnya begitu hangat. Seolah dua matahari hadir menyinari hariku.