Kandas

Kandas
Perasaan Yang Mudah Ditebak.


__ADS_3

"Nanti, pas ketemu nyokap. Gue langsung ngomong ya, kalau gue serius sama, Lo." Suara Arjun menyentakkanku dari lamunan.


"Uhm ... apa sebaiknya ditunda dulu, Jun?" kuucapkan hati-hati, agar Arjun tak salah mengerti.


"Kenapa? Lo enggak yakin?" seperti dugaanku, Arjun meragukan perasaanku.


"Bukan enggak yakin, timing-nya belum pas aja, sih."


Aku mencari alasan agar Arjun tak mengira aku tidak mau diajak serius. Perempuan mana yang tidak senang jika pasangannya serius menjalani hubungan. Hanya saja, aku merasa masih terlalu dini jika Arjun menyatakan maksudnya pada ibu dalam waktu dekat.


"Iya-ya ...." Arjun tak meneruskan lagi kalimatnya. Dia kembali fokus menyetir. Seperti tenggelam dalam pikirannya.


Sementara aku, juga ikut terlarut kembali memikirkan ibu. Semakin mendekati Jakarta, semakin saja bayangan wajah ibu memenuhi pikiran.


Seperti ada telepati, ponselku berdering. Foto ibu menghiasi layar ponselku.


"Halo, Ibu?"


"Run, hari ini jadi ke Jakarta? Naik apa? Wina katanya pulang malam. Apa sebaiknya besok saja kamu ke sini pagi? Jadi tidak perlu menunggu Wina menjemput?" berondong ibu.


"Eh, aku sudah di jalan Bu. Ini sudah di tol ...."


"Aduh! Telat ya, Ibu kasih kabar. Apa minta tolong Beni lagi buat jemput ya?" tanya ibu ragu.


Tanpa aba-aba, detak jantungku tiba-tiba saja berdetak melebihi kecepatan normal. Kenapa hanya namanya saja yang disebut, jantungku bereaksi seperti ini?


"Eh ... Enggak usah, Bu. Aku bareng Arjun. Dia nawarin buat nganterin, katanya kangen sama Ibu juga." Aku melirik Arjun yang tampak menyimak percakapanku dengan ibu.


"Ooh ... syukurlah. Ibu takut kalau kamu telat dijemput." Suara ibu terdengar lega.


"Sudah, Ibu tidak usah khawatir. Kalau jalanan lancar, habis magrib aku sudah sampai," ujarku menepiskan kekhawatiran ibu.


"Iya. Sampaikan salam Ibu ke Arjun. Ibu takut ganggu dia lagi nyetir kalau ngomong sekarang." Ibu menutup percakapan.


Baru saja telepon dari ibu selesai, ponselku kembali berdering. Nama kak Beni tertera disana, walaupun tanpa foto, tapi namanya tertera jelas pada layar. Aku yakin Arjun dapat melihatnya.

__ADS_1


"Kenapa tidak diangkat?" Suaranya mengagetkanku yang masih menatap layar ponsel. Nada suaranya terdengar sedikit curiga.


"Iya, ini baru mau diangkat ...." Aku memencet tanda menerima panggilan di layar ponsel. "Halo, Kak?" sahutku pelan.


"Run, kata Wina kamu ke Jakarta hari ini? Mau aku jemput? Wina hari ini kebagian shift sore." Suara kak Beni terdengar penuh semangat.


"Enggak usah, Kak. Aku sama cowok aku," tolakku dengan menegaskan suara pada kata terakhir.


"Oh! Berarti enggak bisa ketemu hari ini, ya?" Suara kak Beni terdengar menggodaku.


"Ha-ha, sudah malam juga mungkin sampai di rumah Wina, Kak," sahutku berusaha santai. Aku melirik lagi ke arah Arjun. Tampak dia juga tengah mencuri dengar pembicaraanku. Kabin mobil yang hening membuat percakapan lawan bicara di ponselku terdengar cukup jelas.


"Berapa lama di Jakarta?" Kak Beni kembali bertanya.


"Mungkin dua hari, Kak. Hari Senin aku ada urusan lagi di kampus."


Rahang Arjun terlihat mengeras. Aku yakin dia sedang menerka-nerka sosok si penelpon.


"Bisa meet up, kan?"


"Uhm, sepertinya tidak bisa, Kak. Aku mau menghabiskan waktu dengan Ibu saja akhir minggu ini," tolakku.


"Bukan, aku memang sedang ingin bersama ibu akhir minggu ini, jadi tidak mau di ganggu," tegasku.


"Oh, baik. Kalau begitu sampai ketemu kapan-kapan, ya. Salam buat cowokmu," kekeh kak Beni.


"Cowok itu yang kemarin kamu ceritakan?" tembak Arjun ketika sambungan telepon telah kututup.


"Iya...." Aku tak melanjutkan kalimatku. Menelisik wajah Arjun yang tampak tidak senang. "Lo cemburu?" tanyaku berusaha menghalau rasa tidak nyaman yang mendadak muncul.


"Kalau misalkan, Gue di posisi Lo. Kira-kira gimana?" Dia balik bertanya, caranya membalikkan pertanyaan membuat posisiku seakan terpojok.


"Err ... sorry ... tapi gue juga enggak bisa ngelarang dia buat suka ke gue, kan Jun?" ujarku mencari kalimat pembelaan.


"Iya. Bukan salah Lo juga, tapi gue lihat gelagat Lo saat menerima telpon dari cowok itu bikin gue ngerasa cemburu." Sebuah kalimat pengakuan meluncur dari bibirnya.

__ADS_1


Rasa bersalah menggelayuti hatiku. Bagaimanapun, aku sempat menyisipkan rasa kagum terhadap kak Beni. Membandingkan sosoknya yang lebih dewasa dengan Arjun yang terlalu bergantung padaku. Namun keegoisanku juga mencegahku untuk mengakuinya. Aku juga tidak ingin kehilangan Arjun.


"Lalu, gue harus bersikap bagaimana? Toh dia tau kalau gue sudah punya pacar." Aku mencari cara untuk meredakan rasa cemburu Arjun.


"Rata-rata cowok itu tidak akan mudah melepaskan incerannya. Kalau dia rasa cewek yang didekatin memberi lampu hijau, ya bakal dipepet terus." Arjun mendengus. Matanya masih menatap lekat jalanan.


"Terus ... menurut Lo, gue kasih lampu hijau. Begitu?" Aku bertanya sengit, agak kesal tepatnya ketika mendengar kalimat yang disampaikan Arjun.


Arjun membuang napas kasar. Tak menjawab pertanyaanku. Baru kali ini aku melihatnya segusar itu. Arjun yang kukenal selama ini lebih sering terlihat gugup.


"Gue minta maaf," ujarku mencoba mendinginkan suasana yang mulai terasa panas.


"Tak perlu minta maaf, bukan salah Lo juga. Gue ngerasa posisi gue terancam, cuma itu," gumamnya pelan.


Aku tak membalas perkataan Arjun. Mulai berpikir, apakah ini yang menyebabkan hubungan percintaan dengan sahabat itu seringkali tak berjalan lancar. Ketika salah satu diantara mereka mempunyai perasaan memiliki yang berlebihan. Tak mau ada orang lain mendekati.


"Jun, sebenarnya ini yang gue takutkan selama ini." Kalimat itu akhirnya keluar juga dari bibirku.


"Kenapa? Takut ada perasaan jenuh?" selidiknya menatapku sekilas.


"Bukan. Cemburu yang tidak beralasan," ujarku membuang muka ke arah samping.


Perasaanku mendadak kacau. Aku merasa bagai sebuah buku yang terbuka, dengan mudahnya Arjun membaca apa yang ada di dalamnya.


"Enggak beralasan gimana? Kalau memang Lo enggak ada menyimpan sedikit rasa sama cowok itu, enggak mungkin Lo jadi emosi tiap kali kita ngomongin hal ini, kan?" Tepat sasaran. Sekali lagi aku makin terasa terpojok. "Lagian bukan tipikal Lo yang masih mau meladeni orang yang jelas-jelas suka sama Lo. Biasanya juga Lo jutekin."


Kuakui, Arjun sekali lagi benar. Aku biasa lebih memilih untuk menjauhi cowok yang terlihat menyukaiku. Karena selama ini aku tidak ingin memberikan harapan palsu jika masih bersikap baik terhadap mereka. Lalu, ketika kak Beni hadir, aku tidak melakukan hal itu. Aku masih saja membiarkannya mendekat.


"Yang jelas, gue enggak akan menyerah begitu saja. Mungkin saat ini perasaan Lo lagi galau, tapi gue yakin gue masih menempati posisi tertinggi di hati Lo," ujarnya mantap.


Mau tak mau aku tergelak mendengar kata-katanya.


"Ngeri banget, Jun. Gue jadi merinding," kekehku mengusap tengkuk, menatap ke arahnya.


"Ha-ha, Lo jangan mikir gue kayak psikopat, ya!" Tawanya pecah.

__ADS_1


Akhirnya suasana tegang yang tadi sempat tercipta melebur begitu saja. Selama ini selalu saja begitu setiap kami bersitegang. Hal itulah yang membuat kami makin terasa nyaman satu sama lain selama sembilan tahun ini.


Aku berpikir, apa mungkin kak Beni di hadirkan Tuhan hanya untuk menguji kesetiaanku? Atau cara Tuhan untuk menyadarkanku bahwa perasaan Arjun terhadapku begitu kuat? Entahlah. Yang jelas saat ini perdebatan batin yang belakangan tercipta akibat kehadiran kak Beni, mulai mereda. Kak Beni hanya godaan sesaat. Selama ini Arjun yang selalu ada untukku, apa lagi yang aku cari.


__ADS_2