
Dunia yang terasa sangat sulit untuk ku gapai. Sedalam apapun aku memdekatkan diri, maka semakin dalam juga jarak itu terlintas di hubungan ini. Aku yang berusaha menjadi seorang pelengkap dalam hidupnya, ternyata tidak mampu mengalahkan keegoisan yang di miliki. Tidak ada yang bisa ku lakukan, tapi aku terus berusaha pada harapan yang ku tanam dalam hati.
***
Bunyi handphone yang berdering di hari istirahatku, membuat aku tidak peduli. Entah siapa dan untuk apa dihubungi, aku menolaknya dengan membiarkan suasana berisik itu dalam tidurku yang panjang. Hingga dimana nada itu membuatku kesal dan langsung menerima panggilan itu.
"Halo?" kataku dengan nada kesal
"Ngapain sih ? Dari tadi di telponin juga" kata seorang lelaki yang membalas kataku dengan nada kesal
"Ini siapa ?" tanyaku
"Astaga, yang belum sadarnya atau gimana ?" kata lelaki itu
Aku yang masih kesal dengan cepat melihat nama yang tertera di layar handphone.
"Oh, kamu masih hidup ?" kataku dengan santai
"Maksudmu apa ?" kata Dika
__ADS_1
"Gak apa, kenapa nelpon ?" kataku
"Masak gak kamunya ?, aku lapar ini" kata Dika
"Gak, aku baru bangun, jadi belum masak" kataku yang masih saja berbaring di tempat tidur
"Masak kek, aku lapar" kata Dika yang memaksa ku
"Malas loh aku" kataku
"Cepatlah belanja sana, biar datang aku" kata Dika sambil mengakhiri telponannya.
Aku yang merasa kesal, hanya bisa menuruti keinginannya. Bangun dari tempat tidur, lalu belanja dan berakhir dengan masak. Tidak lupa membeli cemilan untuk di siang hari. Karena dengan adanya cemilan, maka akan lebih seru sambil membaca komik. Aku yang sudah selesai memasak, kemudian mandi dengan cepat sambil menunggu Dika ke kost. Beberapa menit kemudian, suara motor berhenti tepat di depan kost. Aku yang sudah mengenal suara motor Dika, langsung menghampiri Dika saat itu. Dengan cepat Dika langsung masuk ke kost
"Belum lah" kataku singkat
"Kamu tahu aku mau datang, sediain kek biar tinggal makan akunya" kata Dika yang langsung duduk
Aku yang melihat tingkah Dika sangat kesal. Menelepon hanya untuk disuruh masak, setelah sampai malah di suruh buatin makanannya. Seolah-olah suami yang pulang kerja, sedangkan istri yang kewalahan lihat tingkah suami. Walaupun begitu aku tetap aaj menuruti apa yang dia katakan. Dika yang duduk sambil asik main handphone, tidak memperdulikan aku yang sibuk saat itu. Makanan telah di siapkan di depannya pun, tidak membuat Dika memalingkan wajahnya dari handphone.
__ADS_1
"Makan lah" kataku
"Suapin lah, jarang-jarang kamu suapin aku" kata Dika
"Kamu main handphone mulu, kalau makan ya makan, jangan main handphone terus" kataku yang langsung memegang sendok
"Ada yang seru soalnya ini" kata Dika
Aku yang sudah tidak peduli dengan jawabannya, hanya menuruti saja apa yang dia inginkan.
"Kenapa sih setiap kamu datang kesini selalu main handphone ?" tanyaku sambil menyuapin Dika
"Karena ada yang penting, makanya aku main handphone" kata Dika
"Tapikan seharusnya kamu habiskan waktu bersama aku, bukan handphone" kataku kesal
"Astaga, diluarnya aku baru bebas main handphone, kalau udah di tempat kerja, aku mana bisa pegang handphone" kata Dika
"Tapikan..." kataku
__ADS_1
"Udah deh, aku datang kesini hanya mau makan, gak mau berantam" kata Dika yang langsung memotong pembicaraan ku.
Aku hanya terdiam ketika Dika mengatakan hal itu, karena nyatanya itu benar-benar membuatku kesal. Tapi kekesalan itu tidak berguna untuk Dika yang memiliki egois yang tinggi.