Kandas

Kandas
Kopi dan Kehidupan


__ADS_3

Suasana kamar terasa begitu senyap setelah ibu tertidur kembali. Mungkin karena efek obat, ibu jadi mudah sekali tertidur. Aku berasa terdampar di belahan bumi lain, karena tak ada suara yang terdengar di ruangan ini selain suara helaan nafas ibu. Sunyi. Seakan waktu pun ikut berhenti.


Tidak pernah terlintas dalam benakku akan menghabiskan waktu di rumah sakit, melihat ibu terbaring lemah seperti saat ini. Ibu yang selama ini kukenal selalu dalam kondisi prima, jarang sakit. Sampai saat ini aku masih saja belum mempercayai kenyataan bahwa ibu divonis kanker rahim stadium lanjut.


Kulihat wajah ibu yang sedang terlelap. Begitu tenang. Tak ada gurat kesakitan yang terlihat di wajahnya. Jika sudah seperti ini, aku benar-benar optimis untuk kesembuhan ibu. Ibu perempuan yang kuat, aku tau ibu tak akan menyerah begitu saja pada takdir.


Aku ingat dulu ketika aku kehilangan semangat untuk menjalani hari setelah kepergian ayah. Ibu berkata, "hidup kita memang tak akan lagi sama seperti ketika ayah masih ada. Mungkin nanti akan terasa pahit, kita anggap saja sedang menikmati kopi. Kopi walaupun pahit, ia memberi energi baru untuk kita."


Sehingga, setiap kali aku merasa terpuruk dalam menjalani hidupku, aku selalu mengingat pesan ibu. Setiap masalah yang datang, kuanggap seperti sesendok kopi, kuseduh dan kunikmati. Terdengar agak sedikit aneh memang. Tapi begitulah ibu mengajarkanku agar tak gampang berkeluh kesah.


"Semakin pahit kopi yang kau minum, semakin besar energi yang dihasilkannya." Pesan ibu selalu terngiang setiap kali aku mulai kehilangan semangat.


Entah sepahit apa kopi yang akan kuseduh kali ini. Mungkin aku akan membutuhkan krimer untuk meredam rasa getirnya. Ngomong-ngomong soal krimer, aku rasa Arjun dikirimkan Tuhan untuk penyeimbang rasa pahit pada kopiku.


Aku jadi senyum-senyum sendiri ketika wajah Arjun mendadak muncul dalam ingatanku. Kuraih ponsel dalam tas, ingin menanyakan kabar cowok itu. Sehari ini aku belum mengabarinya. Sedang apa dia sekarang.


Ada beberapa pesan yang sudah masuk. Salah satunya dari Arjun. Ternyata memang frekuensi kami cocok, disaat aku memikirkan Arjun, disaat itu pula dia mengirimiku pesan.


Penuh semangat, kubuka pesan dari Arjun. Mengabaikan pesan lain yang masuk.


11.00 : [Just wanna say, hi. Have a nice day, Luv]


Oh my God. Ini anak kenapa jadi begini setelah jadian, gelakku dalam hati. Namun, tak dapat kupungkiri, ada sedikit rasa hangat menyelimuti hati ketika membaca pesan darinya.


12.30 : [Sorry baru bales, Jun. Ini lagi kesambet apaan pake 'luv' segala 🀣🀣 but thanks anyway] balasku.


Tak seperti biasa, kali ini Arjun tidak langsung membalas pesanku. Mungkin sedang sibuk di studio rekaman mininya.


Aku mencoba memeriksa pesan lain yang masuk, ada satu nomor yang tidak dikenal. Penasaran, kucoba membuka pesan dari nomor yang tak di kenal itu.


12.00 : [Run, nanti aku jemput habis magrib, ya -Beni-]


Ternyata dari kak Beni. Sebenarnya ada rasa malas untuk membalas, tapi aku juga tidak enak hati untuk mengabaikan. Bagaimanapun kak Beni sudah berbaik hati mengantarkanku ke rumah sakit. Mungkin sebagian orang menganggapnya modus, tapi setidaknya dia sudah mau mengorbankan waktunya menembus kemacetan ibukota untukku.


12.31 : [Aku pulang bareng uda Indra saja, Kak. Enggak enak jadi ngerepotin.] Aku membalas dengan penolakan halus.


Pesanku langsung dibaca oleh kak Beni dan dalam hitungan detik, balasannya muncul.


12.31 : [Enggak repot kok. Nyantai aja.]


12.31 : [He-he baiklah, Kak. Terima kasih, ya.] akhirnya aku menyetujui.


Aku memang lemah dalam urusan tolak menolak. Biasa Arjun yang selalu kumanfaatkan sebagai tameng. Kalau diingat-ingat, sejak dulu aku memang paling nyaman ketika bersama Arjun. Hanya dengan Arjun aku bisa menjadi diri sendiri. Kecuali pada saat kemarin ketika aku mulai menyadari perasaan sukaku padanya.


Seperti ada telepati. Pesanku dibalas oleh Arjun, [Lagi kesambet Dewi Aphrodite, ha-ha.]


Aku terkekeh membaca balasan darinya.


13.00 : [ Ha-ha ga ada panah nuncep di jidat lo kan?]

__ADS_1


13.00 : [Bukan di jidat, tapi di hati, nih. Sakit. Kayanya bakal sembuh kalau lo balik. πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚]


13.00 : [Ya Allah, Jun. Minta di-ruqyah lo kali ya? 🀣🀣] pesan dari Arjun sukses membuatku tertawa geli, tapi kutahan. Aku masih ingat kalau aku saat ini sedang di rumah sakit, ibu sedang tidur. Jangan sampai suara tawaku malah mengganggu istirahat ibu.


13.00 : [Kejam banget cewek gue 😭😭]


13.01 : [Salah ndiri suka sama cewek kejam🀣🀣]


13.01 : [Iya, gue yang salahπŸ™„πŸ™„]


13.02 : [Jadi nyesel ya dah nembak gue?]


13.02 : [Banget]


13.03 : [😩😩😩]


13.04 : [Nyesel kenapa baru kemaren nembak lo, kenapa enggak dari dulu aja 🀣🀣]


Aku terpingkal tanpa suara. Bisa-bisanya Arjun bercanda dan aku juga bisa tertawa dengan lelucon sereceh itu.


13.05 : [Kok diam? Eh, tumben mau balesin wa gue pas jadwal sama nyokap?]


Huft. Ada kenyataan yang tak bisa kutepis. Mungkin bercerita pada Arjun bisa melepaskannya rasa sesak yang dari kemarin masih saja bersemayam di sudut hatiku.


13.07 : [Nyokap gue lagi sakit, Jun 😩] hanya kalimat itu yang mampu kuketikkan setelah beberapa kali bolak balik mengetik dan menghapus deretan huruf di layar ponselku.


13.09 : [Nanti deh pas udah ketemu gue cerita. Btw, gimana cover lagu lo? Udah beres?] Aku mengalihkan percakapan.


13.09 : [Belum beres, si Riko masih ngerecokin]


13.10 : [Terus gimana perkembangan si Riko ama si Leon?]


Lama kutunggu balasan dari Arjun, statusnya masih saja terlihat sedang mengetik.


13.15 : [Kandas sebelum berlayar.]


13.16 : [Yaa...] Hanya kata itu yang kukirim kan. Bingung juga harus memberikan reaksi seperti apa.


13.16 : [Ya sudah deh, gue mau lanjut ngurusin cover dl ya. Can't wait to see you]


13.16 : [Ok. Makasih ya, Jun.]


13.16 : [Eh, besok balik jam berapa ke Bandung?]


13.17 : [Belum tau, besok gue kabari ya.]


13.18 : [Ok, see you]


Jika masalah yang kuhadapi sekarang adalah secangkir kopi pahit, maka Arjun adalah krimernya. Mengurangi rasa pahit dari kopi, sehingga bisa kunikmati.

__ADS_1


***


Pukul 17.00, jadwal besuk sesi kedua rumah sakit pun tiba. Maktuo datang bersama uda Indra. Salut dengan kakak ibuku ini. Tingkat kepedulian pada adiknya tak lekang oleh waktu. Seringkali aku melihat hubungan kakak beradik menjadi renggang ketika mereka telah berkeluarga. Tak jarang juga ketika orangtua mereka telah tiada, hubungan persaudaraan pun putus.


"Sudah makan, Nak?" Tanya maktuo ketika aku menyalaminya.


"Sudah, Maktuo."


"Kurang saleronyo makan, Uni. Sambanyo ndak lamak," (Dia tidak begitu selera makan. Lauknya kurang enak) tukas ibu.


"Tantulah iyo indak lamak, makanan untuak urang sakik," (tentu saja tidak enak, makanan untuk orang sakit) sahut maktuo pada ibu.


"Ini maktuo bawa makanan buat Runa. Makanlah, jangan sampai kau ikutan sakit," perintah maktuo menyerahkan kotak bekal dari merek peralatan plastik favorit para perempuan.


"Maktuo repot-repot." Aku menyambut kotak bekal yang disodorkan maktuo. Begitu dibuka, aroma rendang sarat rempah menguar menggelitik penciumanku.


Sudah lama sekali aku tak menikmati rendang buatan maktuo. Rasanya belum ada tandingan. Maktuo masih memakai resep warisan dari nenek, dimana rempah yang dipakai tak kurang dari tiga puluh macam. Bahkan ada beberapa rempah yang memang khusus didatangkan dari kampung halaman kami di Bukittinggi.


Ok, kita skip dulu membahas masakan legendaris dari Minang ini. Perutku sudah berteriak gara-gara stimulus dari hidung. Saatnya memanjakan perut mahasiswa yang jarang memakan masakan sarat bumbu berat seperti ini.


"Pelan-pelan saja makannya, enggak ada yang mau minta," kekeh uda Indra.


"Ha-ha, maklum Da, sudah lama tidak makan masakan maktuo," kekehku menghabiskan potongan terakhir daging rendang.


"Mau pulang sekarang, apa entar? Kalau entar, biar Wina saja yang jemput, uda masih ada kerjaan," tanya uda Indra kemudian.


"Entar aja, Da. Uda pulang dulu aja. Aku juga masih mau sama ibu."


"Oh, kalau begitu, uda tinggal ya."


"Iya, Da. Terima kasih," ucapku.


"Nanti biar maktuo telpon Wina buat jemput kamu, ya," ujar maktuo ketika uda Indra telah pergi.


Aku hanya mengiyakan, sungkan untuk mengatakan kalau kak Beni telah berjanji akan menjemputku.


"Besok ibu sudah diizinkan pulang, mungkin setelah zuhur baru beres semua urusan administrasinya. Kalau sampai zuhur belum beres, Runa balik saja ke Bandung, tidak usah menunggu ibu sampai keluar rumah sakit, ya. Takut terlalu malam sampai di Bandung," tutur ibu.


"Aku mau menunggu sampai ibu keluar saja, kalau kemalaman, bisa minta tolong jemput sama Arjun," sahutku.


"Jangan dong, kamu malam-malam dianter cowok pulang, takut ada yang mikir aneh-aneh entar," larang ibu.


"Aku mau agak lama sama Ibu," desahku.


"Nanti kalau libur, ke sini lagi," bujuk ibu.


Melihat senyum ibu, aku tak mampu lagi membantah. Bukan senyuman biasa, tapi senyuman yang sarat akan titah yang pantang untuk ditolak.


Wahai sang waktu, tak lelah kah kau berlari? Berbentilah sejenak, agar aku bisa tinggal lebih lama bersama ibu. Aku hanya ingin lebih lama memeluk ibu, bercerita apa saja yang terlintas di benak kami seperti waktu dulu. Menertawakan hal sederhana di sela-sela perbincangan kami. Merangkai kembali mimpi masa depan yang sempat hancur bersama kepergian ayah.

__ADS_1


__ADS_2