
Cemburu, mungkin itu kata yang tepat untuk menggambarkan perasaanku saat ini. Melihat reaksi Runa menerima telpon dari teman Wina. Bukan kebiasaan gadis itu, masih mau meladeni cowok yang jelas-jelas suka padanya. Sekian tahun bersama membuatku hapal bagaimana tabiat Runa.
Seperti tempo hari, emosi Runa kembali naik ketika aku menyatakan keberatanku atas sikapnya meladeni cowok itu. Mungkin memang aku terlalu posesif, tapi aku hanya ingin melindungi apa yang sudah kumiliki. Apakah aku egois?
Aku memang mudah menebak apa yang dipikirkan, tapi untuk saat ini aku tak mampu menerka apa yang ada di dalam hatinya. Seperti ada jarak yang terbentuk semenjak cowok itu hadir setelah kunjungan Runa ke Jakarta tempo hari. Aku tak akan menyerah, aku yang lebih dulu memilikinya, aku kujaga dengan segenap hatiku.
"Jun, kita keluar di tol Cawang, ya." Suara Runa mengarahkan jalan membuyarkan monolog yang terjadi dalam pikiranku.
"Ok." Kuarahkan mobil ke sisi jalan dengan papan penunjuk pintu keluar tol cawang.
Beruntung jalanan tidak terlalu macet, kami memasuki Jakarta sebelum senja berganti malam. Matahari tampak sudah makin condong ke Barat. Menyisakan gurat cahaya jingga ditengah kelabunya langit kota ini.
Makin mendekati pintu keluar tol, makin tak tenang kurasa. Seolah ada sesuatu hal yang buruk menungguku di ujung sana.
"Nanti, kita putar arah di Pancoran saja." Kembali suara Runa memberikan instruksi.
"Siap, Non," sahutku mencoba mengusir rasa tak nyaman yang makin menggelembung. "Kita mau makan dulu, enggak?" tanyaku ketika melewati sebuah restoran cepat saji.
"Nanti di rumah maktuo saja, gimana? Aku masih belum terlalu lapar, tadi ibu bilang maktuo sudah menyiapkan hidangan buat menyambut kedatangan kita." Wajah Runa tampak tak bersemangat seperti biasa. Padahal jika kuajak makan ke restoran siap saji, biasanya dia langsung bersemangat.
"Baiklah kalau begitu." Aku menyetujui, lalu kembali hening.
Azan magrib Sayup-sayup terdengar berkumandang, ketika Runa menginstruksikan padaku untuk berhenti didepan sebuah rumah berlantai dua dengan cat berwarna pastel yang terlihat begitu asri.
"Ayo!" ajak Runa turun dari mobil.
Aku mengikutinya turun. Berdiri di samping gadis itu, menunggu tuan rumah membukakan pintu pagar. Tak lama, terdengar bunyi gembok yang dibuka dari balik pagar setelah Runa memencet bel yang terse bunyi dibalik tembok pagar.
"Eh, Non Runa. Mari ... Mari masuk, Non," ajak seorang perempuan yang berumur sekitar enam puluh tahunan yang membukakan pintu pagar.
"Assalamualaikum, Bi Sumi. Maaf ngerepotin lagi," ucap Runa menyalami perempuan yang dipanggilnya Bi Sumi itu.
__ADS_1
"Waalaikum salam, Non. Tidak merepotkan. Mari masuk, Aden." Kali ini bi Sumi beralih menatapku mempersilahkan masuk.
"Terima kasih, Bi," sahutku ikut menyalami bi Sumi.
"Ibu lagi shalat, Non Runa kalau mau mandi langsung ke kamar Non Wina saja. Temannya bisa pakai kamar Den Indra, sudah bibi bersihkan." Bi Sumi menjelaskan sambil berjalan ke dalam rumah.
"Maaf. Saya jadi merepotkan, Bi," kataku sungkan. "Saya mau shalat dulu."
"Oh, tidak. Bibi enggak repot. Mari, Den Silahkan." Bi Sumi membukakan pintu yang terletak di samping ruang tamu.
Sementara Runa menaiki tangga yang terletak di seberang pintu kamar, melambai sekilas padaku sebelum menghilang dibalik tembok tangga.
Aroma pinus yang segar dan menenangkan langsung tercium ketika aku memasuki kamar berukuran tiga kali tiga meter itu. Di sudut kamar terdapat sebuah tempat tidur single bed, bersisian dengan rak yang dipenuhi buku-buku dan poster lambang klub pesepak bola internasional menghiasi dinding kamar.
"Ini kamar mandinya, Den." Bi Sumi membukakan pintu PVC berwarna coklat dengan corak kayu, yang bersisian dengan pintu kamar. "Sajadah dan sarung, di sana ya, Den." Kembali perempuan berwajah ramah itu menunjukkan tempat alat shalat diletakkan dengan ibu jarinya.
"Terima kasih, Bi," ucapku sedikit canggung.
Suara Runa terdengar memanggil saat aku selesai menunaikan shalat.
"Ibu sama maktuo sudah menunggu di meja makan, Lo udah beres?" tanyanya ketika aku membukakan pintu.
"Sudah." Aku mengikuti Runa ke ruangan yang terletak sejajar dengan ruang tamu, dibatasi sekat dari lemari pajangan tinggi.
"Apa kabar Arjun," sambut ibunya Runa dengan senyum hangat seperti biasa. Wajahnya masih seperti yang kuingat, tidak terlalu banyak perubahan, kecuali sekarang agak sedikit lebih kurus dibanding terakhir kali bertemu.
"Alhamdulillah, sehat Tante." Aku menyambut uluran tangan perempuan paruh baya dengan suara serak itu.
"Makin ganteng saja, Jun. Sudah lama sekali kita tidak bertemu, ya," pujinya. Benar kata Runa, tak ada yang berubah, semangat dari nada bicaranya masih sama.
"Biasa, aja Tan. Makin ganteng apanya," kekehku, menggaruk kepala yang tidak gatal. Lalu beralih menyalami maktuo—kakak ibunya Runa. Wajahnya mirip dengan tante Helen—ibunya Runa. Bedanya hanya maktuo Runa memakai kerudung, ibu Runa tidak.
__ADS_1
"Nah, makanlah. Hanya ini yang ada. Jangan sungkan-sungkan." Maktuo Runa mempersilahkan kami makan.
Aroma masakan sarat rempah khas masakan Minang yang dihidangkan di meja, mengingatkankanku akan aroma di rumah makan Padang. Benar-benar menggugah selera. Aku makan dengan lahap, menghabiskan isi piring ku tanpa menyisakan sebutir nasipun.
"Arjun asalnya dari mana?" tanya maktuo setelah kami selesai makan.
Sebelum menjawab, Aku menatap sekilas pada Runa, yang tengah sibuk membantu bi Sumi membereskan peralatan makan. Gadis itu tampak tak acuh dengan pertanyaan maktuonya padaku.
"Orang Padang juga, Maktuo."
"Padang kota?" Maktuo kembali bertanya, membuatku merasa seperti seorang pesakitan yang sedang diinterogasi.
"Bukan. Bukittinggi Maktuo," sahutku sopan.
"Oh, sakampuang awak mah," (sekampung kita) ujar maktuo lebih terdengar seperti bersorak. "Sukunya apa?" Pertanyaan lain meluncur.
"Sikumbang, Maktuo." Untungnya aku ingat mama pernah mengatakan perihal suku kami, kalau tidak, aku mungkin bisa di cap anak yang tak mengerti asalnya.
"Ondeh! Berarti kalian sesuku, dilarang untuk menikah!" kalimat yang dilontarkan oleh perempuan dengan logat Minang yang kental itu terdengar bagaikan petir bagiku. Jantungku seolah meloncat keluar dari rongga dada, sementara tulangku serasa di cabut dengan paksa.
"Maksudnya bagaimana Maktuo?" tanyaku dan Runa berbarengan. Wajah Runa tampak pias, mungkin sama dengan wajahku saat ini.
"Kalian itu sesuku, dilarang untuk menikah" Maktuo mengulangi lagi kalimatnya.
"Jadi, maksudnya kami tidak boleh menikah?" kali ini Runa yang bertanya. Dia meninggalkan kegiatannya mencuci piring, lalu duduk di samping maktuo ya.
"Iya, aturannya begitu. Jadi sebelum hubungan kalian terlalu jauh, sebaiknya kalian berpisah saja." Kalimatnya telak membuatku dan Runa seperti dijatuhi hukuman mati.
Kami hanya berpandang-pandangan, menatap nanar. Tak pernah akan membayangkan hal ini akan terjadi. Bagaimana mungkin aku bisa melepaskannya begitu saja. Runa pun tampak tak mampu mengeluarkan kata-katanya. Suasana di ruang makan mendadak hening. Maktuo menatap kami berdua.
"Maaf, kalau apa yang maktuo sampaikan pada kalian ini menyakitkan, tapi kalian harus paham adat kita. Walaupun kita sudah jauh dari negeri asal, jangan sampai lupa dengan akar budaya kita," ujarnya tegas.
__ADS_1
Otakku seperti beku. Apakah hubungan kami hanya sebatas ini saja? Tak bisa lebih? Beribu pertanyaan berdesakan masuk ke otakku. Membuatku tak mampu berpikir, bagaimana selanjutnya.