Kandas

Kandas
Campur Sari Rasa


__ADS_3

Suara bising alarm dari ponsel membuatku tersentak bangun. Masih dengan mata setengah tertutup dan perasaan malas untuk bangun, ku coba menjangkau telpon pintar itu di nakas kecil samping tempat tidur untuk mematikan alarm- nya. Setelah meraba berkali-kali, tak jua ku temukan benda itu di sana. Terpaksa ku sibakkan selimut agar sepenuhnya terjaga.


Udara dingin kota Bandung yang masuk ke kamar di celah lubang udara, sukses membuat netraku terbuka sempurna. Tak kutemukan ponselku di tempat biasa meletakkannya. Setelah terbangun sepenuhnya, aku baru sadar kalau benda itu masih berada di dalam kantong celana yang ku kenakan.


Semalam, setelah Arjun mengantarku pulang, rasa kantuk yang telah bergelayut beberapa hari ini tak dapat lagi ku tahan. Aku langsung sukses tertidur begitu kepalaku menyentuh bantal, tanpa sempat berganti pakaian dan membersihkan diri. Ternyata memendam rasa begitu menyiksa, hingga aku tak bisa tidur berhari-hari. Setelah rasa itu akhirnya berbalas, barulah aku mampu mengistirahatkan pikiran.


Ku tarik keluar ponselku dari kantong celana, pada layar tertera beberapa notifikasi panggilan tak terjawab sebanyak enam kali panggilan, pesan whatsapp sebanyak lima ratus. Mangabaikan semua pesan dan panggilan masuk, aku buru-buru ke kamar mandi untuk berwudu, jam digital di ponselku sudah menunjukkan jam 05.30.


Dinginnya air wudu membuat semua syaraf yang ada ditubuhku ikut terbangun, terasa menyegarkan. Segera setelah selesai shalat, ku sempatkan memeriksa panggilan masuk. Dari ibu dan Arjun, masing-masing memanggilku tiga kali semalam. Benar-benar nyenyak tidurku semalam, tak terganggu sama sekali dengan nada panggil yang masuk. Memilih untuk mendahulukan ibu, ku pencet pilihan telpon balik.


"Assalamualaikum, Nak ...." sahut ibu dari ujung sambungan setelah tiga kali nada sambung. Nada suara ibu terdengar agak lemah, tak seperti biasa yang penuh energi.


"Ibu sehat? Kok suara ibu lemes?" tanyaku khawatir.


Terdengar suara ibu terbatuk-batuk sebelum menjawab, "cuma batuk pilek biasa. Kamu semalam kemana? Kenapa ibu telpon berkali-kali tidak diangkat?"


"Ketiduran, Bu. Beberapa hari kemarin aku sering begadang."


"Ibu khawatir ... kamu di telpon tidak diangkat, ibu sms juga tidak di balas." Kembali suara ibu terbatuk-batuk di sela nafasnya yang terdengar agak tersengal.


"Ibu, yakin hanya batuk pilek? Kenapa suara nafas ibu sesak begitu?" Rasa khawatirku mulai menjalar.


"Enggak usah khawatir, ibu baik-baik aja. Kamu kuliah jam berapa hari ini?" terdengar jelas ibu berusaha untuk menepiskan kekhawatiranku.


"Jam delapan ... Apa aku nanti sore aja ke Depoknya, Bu?"


"Memangnya besok libur?"


"Aku bolos aja sehari."


"Enggak usah, ibu masih baik-baik saja. Kamu jangan males-malesan kuliah. Katanya mau lulus cepat."


"Iya, tapi Ibu beneran yakin enggak apa-apa?" tanyaku memastikan lagi.


"Iya, ibu beneran enggak apa-apa. Sudah sana siap-siap kuliah. Entar telat. Ibu hanya kangen aja," desak ibu.


"Iya, sampai ketemu Sabtu ya, Bu." Akhirnya aku mengalah.


Entah kenapa ada sinyal tidak baik-baik saja dari nada suara ibu walaupun ibu berusaha untuk meyakinkanku bahwa beliau baik-baik saja. Namun, aku tidak mau larut dalam kekhawatiran. Kata ibu, energi negatif bisa merusak sesuatu yang baik.


Setelah menutup sambungan telpon dengan ibu, aku mulai membuka aplikasi pesan. Memeriksa pesan yang masuk. Kebanyakan hanya dari group dan tentu saja ada pesan dari Arjun. Perasaan hangat menjalar ketika jariku memencet nama Arjun yang ku tulis 'my boy' di daftar kontak. Tersenyum sendiri mengingat nama itu sudah aku simpan seperti itu jauh sebelum menyadari perasaanku padanya.


Ternyata dia sudah mengirimi ku pesan dari semalam.


21.00 : [Lo uda udah tidur?]

__ADS_1


22.00 : [Have a nice dream my sunshine.]


22.30 : [Gue malah jadi enggak bisa tidur kepikiran Lo 😌]


Aku tersenyum membaca pesannya, jika cowok lain yang menyapaku seperti itu aku mungkin sudah bergidik geli. Memang benar, jika menyangkut urusan hati, semua akan terasa sulit dijelaskan dengan logika.


Baru saja aku meletakkan ponselku dan hendak beranjak ke kamar mandi, sebuah pesan kembali masuk, nama 'my boy' tertera di layar. Aku bergegas kembali mengambil telpon pintar itu, membuka pesan yang dikirim Arjun.


[Baru bangun?] tulisnya.


[Udah dari tadi, sih. Cuma baru beres nlp ibu] balasku.


Dengan cepat ia kembali membalas [Oh, apakabar ibumu? Sudah lama enggak ke Bandung].


[Kalo kata ibu sehat, sih. Cuma perasaanku mengatakan sebaliknya.] Balasku mengungkapkan kekhawatiran.


[Ga usah terlalu khawatir. Ibumu wanita kuat 🤗]


[iyaaa... Btw lo dah rapi mo berangkat ya? Gue belum mandi] ketikku ketika menangkap tampilan jam di layar ponsel sudah menunjukkan pukul tujuh.


[Hahaha, pantesan asemnya sampai kesini. Yaudah mandi sana. Bentar lagi gue jemput.]


[OK. C u] bergegas ku letakkan gawaiku kembali ke nakas. Setengah berlari ke kamar mandi.


Tak membutuhkan waktu lama, aku telah siap untuk memulai aktivitasku. Kali ini aku mematut wajah di cermin agak lama. Membubuhkan eyeliner dan sedikit maskara pada bulu mataku yang tak terlalu lentik, sedikit lip balm untuk memberi warna pada bibirku yang pucat.


"Ya, bentar gue keluar," sapaku tanpa berasa-basi.


"Ok ...." Arjun memutuskan sambungan.


Sekali lagi, aku memastikan penampilanku hari ini. Rambut lurus panjangku hanya aku jepit separuh ke belakang kepala, wajah yang biasa kucel hari ini sedikit terlihat segar berkat make up tipis yang aku bubuhkan. Kemeja ungu pastel berlengan pendek serta rok denim yang ku kenakan, membuat penampilanku hari ini sedikit berbeda dari hari-hari sebelumnya yang hanya menggunakan kaos berkerah dan celana jeans. Mendadak sedikit ragu dengan penampilanku hari ini. Khawatir Arjun jengah dengan perubahanku, tapi melihat angka yang tertera pada jam di atas meja, membuatku mengabaikan kekhawatiran yang tadi sempat singgah.


"Sorry, kelamaan ya nunggu," sapaku pada Arjun ketika membuka gembok pagar.


Pagi ini dia terlihat lebih bercahaya, dengan balutan sweater polos abu-abu dipadankan dengan celana jeans slim fit, membuat tampilannya terlihat santai tapi elegan. Mungkin agak sedikit lebay aku menggambarkannya, tapi hari ini Arjun memang terlihat lebih charming di mataku daripada biasanya. Bisa saja karena hati yang sedang berbunga-bunga, aku jadi melihatnya seperti itu.


Tak langsung menjawab, Arjun hanya menatap ku dengan senyum dikulum.


"Kenapa Lo senyum-senyum? Aneh ya tampilan gue hari ini?" tanyaku sedikit menyesal dengan keputusanku mengubah penampilan.


"Enggak, makin cantik," pujinya disertai wajah yang sedikit merona.


"Terima kasih," ucapku agak sedikit canggung.


"Macet enggak, ya?" tanyaku menghalau kecanggungan yang tiba-tiba saja hadir.

__ADS_1


"Semoga aja enggak ... Yuk," sahutnya sambil membukakan pintu mobil untukku.


"Udah sarapan, belum?" tanya Arjun ketika mobil sudah meninggalkan komplek perumahanku.


"Eh, belum ... Tadi habis nelpon ibu, bales-balesin chat, tau-tau udah jam tujuh aja," jawabku sambil nyengir.


"Nih mama bekelin pie apel." Arjun menyodorkan sebuah kotak yang ukurannya cukup besar ke tanganku.


"Waah, nyokap lo emang the best," pujiku membuka kotak pemberian Arjun. Seketika salivaku mendadak membanjir.


Pie apel buatan mama Arjun memang paling juara, aku belum menemukan tandingan pie apel buatannya. Pie crust nya lebih berlapis dan renyah, caramel apelnya berpadu dengan rasa kayu manis, tidak terlalu manis jadi membuatku sering tak sadar menghabiskan beberapa potong.


"Eh, Lo udah makan pie-nya, Jun?" Aku baru tersadar ketika potongan terakhir hanya tinggal setengah.


"Sebenernya ... Itu juga jatah sarapan gue, siy. Tapi ya sudahlah, cewek gue ternyata rakus juga," sahutnya dengan wajah menahan tawa.


"Yaa ... Maafin gue," sesalku memasang muka bersalah.


Arjun terbahak, memandang sekilas padaku, lalu menyodorkan tisu.


"Dandanan lo rusak sama remahan pie, tuh." Tawanya kembali pecah.


Melihatnya tertawa lepas seperti ini saja membuat jantungku kembali berdebar tidak normal. Salah tingkah. Tak pernah selama ini membayangkan aku akan jatuh hati dan menjalin hubungan lebih dari sekedar sahabat dengan cowok ini. Sebenarnya ada sedikit keraguan dalam hatiku. Apakah aku memang jatuh hati pada Arjun karena pribadinya, atau sama saja dengan cewek-cewek lain yang mengaguminya karena tampilan fisik.


Jika memang aku menyukainya tanpa memandang fisik, kenapa perasaan ini baru saja muncul ketika penampilan Arjun telah berubah. Kenapa tidak dari dulu rasa itu hadir, disaat kebersamaan diantara kami telah terjalin sekian tahun.


"Sorry, gue enggak ngetawain lo, kok," ucap Arjun ketika aku hanya diam tak membalas ledekannya.


"Jun, kok gue malah ngerasa sama aja kayak cewek-cewek yang ngejar lo, ya?" kata-kata itu terloncat begitu saja dari bibirku.


"Maksudnya, gimana?" tanyanya heran dengan kalimat yang baru saja aku lontarkan.


"Gimana kalau gue ternyata tiba-tiba jadi suka sama lo karena tampilan semata," sahutku.


"Gue rasa sih, enggak. Kalau lo suka gue hanya karena tampilan fisik, dari dulu lo ga akan betah berlama-lama deket gue kan."


Aku mencoba memahami apa yang disampaikan Arjun. Aku juga bingung, apa yang membuatku tetap bertahan menjadi sahabatnya selama ini. Yang jelas, aku merasa nyaman bersamanya. Walaupun selama ini dikelilingi banyak teman, tapi aku tak pernah merasakan perasaan tulus mereka. Hanya Arjun yang selalu setia. Pernah ada yang mengatakan bahwa Arjun hanya memanfaatkanku untuk melindunginya, tapi aku seolah tak peduli.


Seperti menemukan potongan puzzle, Begitulah yang aku rasakan dulu ketika awal dekat dengan cowok itu. Dia seperti betah berlama-lama mendengarkanku bercerita. Walaupun kesehariannya selalu bersamaku, tapi dia seolah tak pernah bosan mendengarkan ceritaku.


"Kenapa tiba-tiba nanya begitu?" Suaranya kali ini terdengar serius.


"Gue sebenernya masih ragu dengan perasaan gue ke lo, Jun. Gue takut hanya perasaan sesaat, sementara lo udah menyukai gue dari lama," terangku.


"Gue enggak peduli, lo enggak jauhin gue aja, gue udah seneng. Dua minggu kemaren loe ngilang-ngilang gitu, bikin gue stress."

__ADS_1


Ada kesungguhan yang aku tangkap dari nada suaranya. Mengikis sepetak keraguan yang tadi sempat terbangun. Semoga saja benar rasa ini bukan hanya perasaan sesaat. Semoga saja benar Arjun menjadi tempat pelabuhan hatiku. Aku tidak begitu banyak pengalaman dalam hubungan percintaan. Arjun adalah cowok pertama yang mampu membuat pikiranku kacau, sekaligus nyaman. Aku tak pandai menamai setiap rasa yang tumbuh di dada. Namun, yang ku tahu dengan pasti, saat ini dialah satu-satunya yang mampu membuat kacau perbendaharaan kata dalam otakku.


__ADS_2