Kandas

Kandas
Sakit (3)


__ADS_3

Setelah malam tiba, aku pun terbangun saat itu juga dan masih merasa tidak mampu untuk berdiri. Aku sudah minum obat bahkan memakai pakaian tebal agar suhu badan ku menurun. Tapi nyatanya demam ini bertahan dalam tubuhku. Aku yang masih berada di tempat tidur, tiba-tiba terdengar suara handphone ku yang berbunyi.


(Ah Dika) kataku dalam hati


"Ada apa Dik ?" kataku yang masih lemas


"Vit. aku ada dekat gang kost mu. Hanya saja ban motor aku kempes lagi di tempat yang sama." kata Dika


"Kamu dimana sekarang ?" kataku


"Ini dekat bengkel, aku gak bisa kemana-mana karena uang untuk mengganti ban ini masih kurang" kata Dika yang menjelaskan


"Aahh, kalau memang kurang jemput aja kesini biar aku yang tambahi" kataku


"Tadi aku sudah bilang hal itu, tapi abangnya gak mau. Kalau bisa, kamu yang datang kesini mengantar uangnya" kata Dika

__ADS_1


Awalnya aku hanya terdiam, bagaimana aku kesana dengan kondisi yang benar-benar lemas. Aku takut nantinya malah jatuh pingsan di jalan. Walau begitu aku pun tetap mengiyakan kepada Dika. Jarang dari kost ke tempat bengkel bisa dikatakan lumayan jauh untuk di tempuh bila berjalan kaki. Tapi karena keadaan, membuat aku harus mengiyakan. Selama di perjalanan, aku berusaha untuk bertahan dengan kesadaran yang aku miliki.


"Udah dimana ?" kata Dika yang menghubungi ku


"Ini udah dekat kok, tunggu aja" kataku yang masih berjalan


(Ah, aku benar-benar lelah) kataku dalam hati


Aku pun mempercepat langkahku, dan akhirnya sampai pada tujuan. Dika yang sudah berdiri langsung menghampiri ku


Aku langsung memberikan uang tersebut kepada Dika. Lalu dengan cepat Dika langsung pergi meninggalkan aku. Melihat sikap Dika yang seperti itu, membuat aku hanya menghela nafas dengan panjang. Aku menghampiri Dika dengan mencari tempat duduk. agar aku beristirahat sejenak. Namun dengan cepatnya Dika langsung menyalakan mesin motornya. Tanpa melihat keadaan ku, Dika langsung mengajak ku untuk pulang ke kost.


Aku pun hanya menurut saja tanpa mengatakan apa-apa. Selama di perjalanan, kami bahkan tidak saling berbicara. Hingga sampai di depan kost. Dika langsung pulang saja, tanpa mengatakan apa-apa. Melihat Dika yang seperti itu membuat aku bingung. Dengan cepat aku memegang motornya yang sudah ingin pergi.


"Kamu langsung pulang ?" kataku

__ADS_1


"Iya, apa pula ini sudah malam" kata Dika padaku


"Kamu hanya meminta uang padaku dan langsung pulang begitu saja tanpa bertanya keadaan ku ?" kataku


"Tadinya aku mau menjumpai kamu, hanya saja ban motor aku yang sudah diperbaiki bocor lagi. Ditambah lagi aku tidak membawa uang." kata Dika menjelaskan


"Tapikan kamu sudah disini, mang kamu gak bisa singgah sebentar saja" kataku


"Kamu butuh istirahat, begitu juga dengan ku. Jadi tidak masalahkan, ditambah lagi aku juga sudah bertemu dengan mu kan" kata Dika


Aku hanya terdiam dengan alasan Dika yang menurut aku itu benar-benar menjengkelkan.


"Udah ya, aku pulang" kata Dika dengan melepaskan genggaman tanganku dari motornya.


Dika langsung pergi tanpa melihat aku, apa aku setuju atau tidak. Tapi nyatanya pendapatku pun tidak berarti untuknya. Bahkan sampai tengah malam pun Dika tidak memberi kabar apa-apa padaku. Mengatakan dia sudah sampai atau bagaimana pun tidak ada sama sekali. Ternyata menunggu adalah hal yang menyebalkan.

__ADS_1


Ku pikir Dika akan merawatku dengan baik. tapi nyatanya semua hanya masalah waktu saja. Awalnya saja yang baik, tapi selanjutnya benar-benar menyebalkan.


__ADS_2