
Memasuki komplek perumahanku, suasananya sudah terlihat sepi, hanya ada seorang pedagang nasi goreng keliling yang mangkal di ujung jalan yang tampaknya juga sepi pembeli. Ku lirik jam tangan di pergelangan tangan kananku, baru jam delapan malam, tapi hampir tak ada suara dari rumah-rumah tetangga. Mungkin mereka lebih memilih menghangatkan diri di dalam rumah.
Ku lajukan pelan mobilku ke arah blok tempat rumahku berada. Pak Karsa, pria yang berusia sekitar enam puluhan yang berjaga di rumah, bergegas membukakan gerbang ketika mobilku berhenti tepat di depan jalan menuju masuk.
"Selamat malam, Aden," sapa pria pak Karsa dengan hormat.
"Selamat malam, Pak. Terima kasih, ya," sahutku membalas sapaan pak Karsa yang telah bekerja dengan keluargaku hampir setengah usiaku.
Beliau bergegas menutup gerbang ketika mobil SUV yang ku kendarai melaju menuju car port yang terletak di bagian samping rumah, tepat di belakang mobil mungil mama yang telah terparkir di garasi.
"Ini buat teman ngopi malam ini, Pak." Ku serahkan sebungkus martabak yang ku beli di perjalanan pulang pada pak Karsa setelah memarkirkan mobil.
"Aduh ... Aden repot-repot segala," ujar pak Karsa dengan logat khas sunda-nya yang kental.
"Enggak kok, Pak. Sekalian lewat pas pulang." Senyum paling hangat ku pamerkan pada beliau.
"Aden lagi jatuh cinta, ya?" selidiknya dengan kekehan santai.
"Kenapa gitu, Pak?" sahutku heran, meredam debaran yang tiba-tiba saja muncul disertai kelebat bayangan wajah Runa dengan senyum hangatnya.
"Itu kelihatan sekali dari wajahnya," kembali ia terkekeh.
"Ah, biasa saja kok Pak. Saya masuk ya," pamitku. Lebih baik menyingkir secepatnya, daripada jadi bulan-bulanan pak Karsa yang terkadang suka iseng menggodaku.
"Assalamualaikum." Ku ucapkan salam ketika membuka pintu samping rumah.
Seperti biasa, rumah selalu sepi. Biasa hanya ada aku dan mama penghuni setia rumah ini. Papa lebih sering berada di Jakarta mengurusi perusahaannya disana.
"Waalaikum salam." Terdengar suara lembut mama membalas salamku dari arah dapur.
Ketika mendekati dapur, aroma butter bercampur kayu manis dan apel menguar menggelitik indera penciumanku. Pasti mama lagi nge-baking pie apel favoritku. Pastry buatan mama memang paling juara, kami hampir tidak pernah membeli roti dan pastry di toko bakery, karena rasanya kalah dari hasil buatan mama. Ditambah, roti dan kue-kue buatan mama pasti dibikin dengan cinta, nilai plus dari membeli di toko, tentunya.
"Tumben pulangnya malam, Jun. Darimana?" tanya mama berbalik menghadapku dengan seloyang pie apel yang masih panas di tangannya yang tertutup sarung tangan anti panas.
__ADS_1
"Habis jalan sama Runa, Mam. Mama tumben masak pie malam-malam, biasa siang."
"Lagi iseng," kekeh mama.
Bibir Mama memang tersenyum, tetapi entah kenapa senyum itu tak seperti senyuman mama biasanya. Terlalu dipaksakan. Aku tak mampu menangkap apa yang salah dari gelagat mama malam ini.
"Mama lagi kenapa?" Aku mengambil posisi duduk di meja bar, berseberangan dengan tempat mama berdiri.
"Kenapa apanya?" Mama balik bertanya, seolah berusaha menetralkan wajahnya.
"Wajah Mama tidak seperti biasa. Mama ada masalah?" tanya ku penuh selidik.
"Ah, perasaan kamu saja." Mama meletakkan loyang pie yang masih hangat di hadapaku dan melepaskan sarung tangannya. Kepulan asapnya menjejak ditengah dinginnya ruangan.
"Mau dimakan sekarang pie-nya? Sekalian mama bikinin cokelat hangat?" Mama melanjutkan bertanya, mengabaikan tatapanku yang masih penasaran.
"Besok saja aku makan pie-nya, Ma. Masih kenyang," tolakku.
"Masa, sih, Ma?" tanyaku segera mengeluarkan ponsel dari tas ransel yang kuletakkan begitu saja di ujung meja dapur.
Memang sedari siang setelah bertemu, Runa, aku tak menyentuh lagi benda pipih itu. Pikiranku sehari tadi hanya dipenuhi oleh bayangan gadis itu. Mengingatnya saja seperti ini mampu membuat wajahku tiba-tiba memanas.
"Aduh ... Maaf, Ma ... Aku dari tadi lupa nge-charge," sesalku.
"Bukan karena tidak mau mama ganggu, kan?" Mama sedikit memberikan penekanan nada pada kata 'ganggu'.
"Ya enggak lah, Ma."
"Jadi, kamu sama Runa tadi kemana?"
"Ke Dago Pakar ...." Aku menggantung kalimatku. Menimbang-nimbang, apakah sebaiknya ku ceritakan pada mama perihal hubunganku dengan Runa atau tidak.
"Lalu ... Adakah yang spesial hari ini?" selidik mama dengan senyum seolah memaksaku untuk bercerita.
__ADS_1
"Aku dan Runa jadian," jawabku cepat, secepat wajah yang ikut makin memanas.
Sejujurnya, walaupun aku dan mama hampir tak pernah merahasiakan sesuatu, tapi kali ini ada sedikit rasa malu ketika menyampaikannya pada mama. Melihat ekspresi mama yang bengong, aku kembali bertanya, "Kenapa, Ma? Mama tidak suka kalau aku jadian sama Runa, ya?"
"Ha-ha! Mama sudah punya feeling kamu menyimpan rasa, lebih dari sekedar bersahabat sama Runa, cuma selama ini selalu ditutupi," kekeh mama.
"Hati-hati, lho. Kadang dalam hubungan asmara ada saja yang menjadi masalah. Beda kalau berteman, ada masalah bisa selesai dengan mudah. Kalau sudah melibatkan hati biasanya suka rumit," lanjut mama dengan wajah serius.
"Tapi aku juga tidak sanggup kalau ngeliat Runa sama cowok lain," akuku pada mama dengan sedikit canggung.
"Ya, asal kamu bisa menjaga aja sih. Kamu juga jangan macam-macam," pesan mama.
"Lalu, hari ini ada kejadian apa sampai membuat Mama merasa tidak nyaman?" tanyaku kembali pada pembicaraan awal.
Mama menarik nafas panjang, menggulung helaian rambut yang lepas dari ikatannya. Wajah cantik mama tampak begitu sendu. Aku baru menyadari, beberapa gurat halus telah menghiasi sudut matanya. Beliau menatapku lama, sampai akhirnya berkata, "mungkin nanti mama ceritakan, ya. Untuk saat ini mama belum bisa cerita."
"Okay ... Tapi Mama jangan terlalu lama sedih. Nanti makin banyak kerutan," candaku mencoba sedikit menghalau rasa tidak nyaman yang mama rasakan.
"Ha-ha! Iya. Tapi mama kan memang sudah tua. Anak Mama saja sudah punya gadis pujaan hati. Mama sudah bukan perempuan satu-satunya lagi di hati anak mama." Ada lapisan bening menggantung di mata mama saat mengucapkan kalimat itu.
"Aku tetap sayang Mama, kok. Tempat Mama tak akan pernah terganti di hatiku," sahutku tercekat.
"Mama sudah mempersiapkan hati untuk hal seperti ini, Jun." Senyum tipis menghiasi bibir mama, tangannya menggenggam tanganku.
Teringat masa kecil dulu, ketika tangan itu selalu menggenggam erat tanganku, membelai lembut rambutku, dan menghapus airmataku. Kelembutan tangan itu masih sama, kehangatannya pun tak berubah. Tapi sorot mata mama yang dulu selalu hangat, malam ini seolah meredup. Entah apa yang menjadi sebabnya. Semoga mama mampu menyelesaikan masalahnya, agar kehangatan pada tatapan matanya kembali ada.
"Kamu sudah ngantuk ya? Istirahat, gih. Mama masih mau periksa beberapa laporan penjualan di butik," lanjutnya kemudian setelah sedikit jeda.
Walau sedikit ragu, akhirnya ku langkahkan kakiku meninggalkan dapur menuju kamar di lantai dua. Melirik kembali ke arah mama yang masih bergeming di balik meja dapur. Semoga bukan masalah yang serius. Aku tak sanggup berlama-lama melihat jiwa mama seolah tak di raga.
Sesampainya di kamar, buru-buru ku sambungkan ponselku ke kabel pengisi daya. Setelah menunggu beberapa saat, ponselku menyala. Perlahan ku buka aplikasi whatsapp, memencet kontak yang ku simpan dengan nama 'my sunshine', kemudian dengan cepat mengetik, [Lo udah tidur?]
Lama ku pandangi benda berlayar empat inchi yang ada di tanganku. Berharap mendapatkan balasan dari orang yang kukirimi pesan. Lima belas menit berlalu, tak ada balasan yang kuterima. Mungkin dia telah terlelap dalam mimpi indahnya. Sebaiknya aku pun beristirahat. Mungkin besok pagi sang mentari sudah bersinar cerah seperti biasa kembali.
__ADS_1