Kandas

Kandas
Kegelisahan


__ADS_3

Semua kembali seperti dulu, melakukan segala rutinitas yang selalu ku lakukan, begitu juga dengannya. Aku yang selalu berada di dekatnya setelah pulang dari perkuliahan membuat aku dan Dika selalu bersama. Dan saat malam tiba, kami juga akan selalu telponan menghabiskan sisa malam yang panjang


****


Keesokan harinya Dika menghubungiku, dan hanya terdiam saat itu tanpa ada kata yang terucap. Awalnya aku bingung dengan sikapnya. Aku yang tidak paham akan hal itu membuat aku ingin bertemu dengannya. Siangnya pun tiba, Dika tiba-tiba datang ke tempatku dan mengajak ku ke tempatnya. Selama di perjalanan Dika hanya terdiam tanpa mengatakan apa-apa hingga sesampainya di tempatnya. Dika langsung berbaring di tempat tidur saat itu juga


"Hey, kok malah tidur sih ?" kataku


"Aku ingin istirahat sebentar" kata Dika heran


"Hmm..." kataku sambil memiringkan sedikit kepalaku


"Ah, maaf" kata Dika


"Ada apa ?" kataku pada Dika


Dika hanya terdiam, aku yang melihat hal itu membuat aku penasaran dengan Dika sikap yang seperti itu, hingga akhirnya aku memegang tangannya dan merasakan suhu badan Dika yang hangat.


"Astaga, kamu demam?" kataku sambil memegang keningnya


"Entahlah" kata Dika yang masih menutup mata

__ADS_1


"Kok kamu gak bilang sih, tadi kan kita lewat apotik" kataku dengan cemas


"Sudahlah, aku mau istirahat dulu" kata Dika


"Ya sudah kamu tidur ya, aku akan temani" kataku sambil mencari sapu tangan untuk mengompres kening Dika.


Dika hanya terdiam saat aku melakukan hal itu.


"Aku tahu kamu ada masalah hingga kamu sampai demam begini tapi jika kamu tidak ingin berbicara, tidak apa-apa. Hanya saja aku harap kau mau berbagi dengan ku" kataku saat itu sambil melihat Dika yang berbaring lemas


Dika yang mendengar perkataanku. langsung melihatku saat itu juga. Lalu memegang tangan ku. Aku yang melihat tingkah Dika membuatku membalas genggaman itu dengan erat. Hingga akhirnya Dika pun berkata


Mendengar perkatakan itu, membuat aku terkejut dan genggaman yang erat itu perlahan-lahan berkurang. Aku melihat Dika yang masih menutup matanya sambil berbaring saat itu


"Bagaimana bisa ?" kataku sambil menatapnya


"Dia melakukan kesalahan, dan akhirnya itu adalah jalan satu-satunya" kata Dika dengan nada marah


"Ah, bukankah dia baru tamat sekolah?" kataku


"Karena itu, aku tidak punya adek seperti dia. Aku yang berjuang mati-matian untuk keluarga, tapi nyatanya aku malah di beri hal seperti ini" kata Dika

__ADS_1


"Sesalah apapun dia, itu tetap saudaramu dan itu tidak bisa di pungkiri" kataku membujuknya


"Saudara katamu ? Apa yang dianggap saudara seperti dia ? Dia bahkan dengan mudah menghancurkan harapanku untuknya. Bahkan dia tidak memikirkan bagaimana keadaanku untuk bisa membahagiakan keluarga. Sedangkan dia apa ? Dia melakukan hal yang benar-benar membuatku kecewa"


"Kalau pun kau tidak setuju, itu tidak akan mengubah pernikahan itu. Karena pacarnya sudah memiliki darah yang sama dengan kalian" kataku menjelaskan


"Lalu bagaimana denganku ? Aku juga ingin hal itu, tapi aku menahan keinginan itu karena aku ingin membahagiakan ibu" kata Dika


Mendengar hal itu, jujur saja aku tidak bisa mengatakan apa-apa. Karena nyatanya bila aku ikut campur lebih dalam lagi, maka aku akan salah di mata keluarga Dika. Hubungan ku dengan keluarga Dika memang bisa dikatakan sudah akrab, namun untuk masalah keluarga aku tidak memiliki hak untuk berpendapat.


"Aku tidak akan datang ke pernikahannya, karena dia bukan adek ku" kata Dika


"Mang pernikahannya dimana, trus kapan ?" kataku


"Minggu ini, di rumah nenek" kata Dika


"Kau anak pertama Dika dan kau harus ada disana" kata Dika


"Jangan buat aku mengulang kata-kataku Vit, kalau kau masih mendukungnya, jangan pernah datang lagi kesini" kata Dika padaku dengan nada marah


Melihat Dika yang seperti itu akhirnya membuat aku terdiam walau jujur saja aku juga tidak menginginkan hal itu terjadi dalam hubungan kami.

__ADS_1


__ADS_2