Kandas

Kandas
Galau


__ADS_3

"Pacar kamu cemburuan enggak?" tanya kak Beni tiba-tiba setelah menghabiskan sepiring nasi dengan bebek bakar yang dipesannya.


Membuatku yang sedang menyeruput lemon tea hangat, jadi tersedak. "Eh ... Enggak terlalu, sih," sahutku bingung mendapat pertanyaan mendadak seperti itu.


"Berarti enggak benar-benar sayang, dong?" balas kak Beni dengan seringai lebar.


"Memang kalau sayang harus cemburuan, gitu? Kalau menurut aku sih, itu sebagai bukti dia percaya padaku, makanya enggak cemburu," paparku asal.


Sejujurnya aku juga belum tau kadar cemburu Arjun. Apakah dia tipe cowok cemburuan atau bukan. Selama ini karena kita hanya berstatus sahabat, aku tak terlalu memperhatikan sifatnya yang satu itu.


"Terus, kalau dia tau kamu jalan sama aku gimana?" Pertanyaan kak Beni seolah menyeretku kembali ke ruangan restoran yang ramai.


"Enggak tau juga sih. Lagian kan kita enggak ngapa-ngapain. Kenapa harus cemburu?"


Kak Beni menatapku lama, sorot tajam mata elangnya seolah memaksaku untuk memaku tatapan padanya. Untuk sesaat tatapan kami saling mengunci, sampai akhirnya aku memalingkan wajah ke arah luar restoran. Serta merta aku merasakan wajahku memanas.


"Kalau dia tau kamu jalan sama cowok yang suka sama kamu gimana?" Suara kak Beni memaksaku untuk kembali menatapnya.


"Ha-ha, enggak tau deh," jawabku jujur. Karena memang aku benar-benar belum tau bagaimana reaksi Arjun jika dia tau aku jalan dengan cowok lain.


"Masa sih, kamu ga tau gimana reaksi cowokmu? Kan udah sembilan tahun pacaran?"


Wew! Seperti kemakan kebohongan sendiri.


"Uhm, gimana ya. Aku juga enggak terlalu musingin masalah seperti itu deh, Kak ...."


Tatapan kak Beni seolah tak puas dengan jawaban yang kuberikan. Manik matanya yang legam masih saja terus terpaku menatapku. Sebelah alisnya yang tebal terangkat naik seolah menantikan rentetan kata berikutnya dari kalimatku yang menggantung. Aku merasa seperti terdakwa.


"Pulang yuk, Kak." hanya rentetan kata itu yang mampu kurangkai menutupi kegugupanku.


Kak Beni melirik jam yang melingkar di pergelangan tangan kirinya. Menghela nafas.


"Ayo! Maaf jadi bikin kamu kelamaan di luar," ucapnya seraya bangkit dari tempat duduknya, melenggang ke arah kasir dengan ekspresi yang sulit kuartikan.


Aku kagum dengan cara kak Beni menguasai keadaan. Di perjalanan menuju rumah maktuo, dia masih saja bisa melontarkan candaan ringan. Rasa jengah yang tadi pagi sempat tercipta, sirna begitu saja. Mungkin aku memang harus banyak belajar tentang sifat manusia, jangan melulu menilai seseorang dari luar, atau dari kesan pertama.


"Terima kasih, Kak," ucapku ketika mobil kak Beni merapat ke pinggir pagar rumah maktuo.


Suasana sekitar rumah sudah mulai sepi. Hanya ada beberapa motor yang sesekali lewat memecah kesunyian.


"Besok sudah balik ke Bandung, ya?" Suara kak Beni menghentikan gerakanku yang hendak turun.


"Iya, Kak." Aku mengurungkan niat turun dari mobil. Memandang pemilik wajah dengan sorot mata tajam di sampingku.


"Aku masih boleh menghubungimu setelah ini, kan?" tanyanya terlihat ragu ketika mengucapkan itu.


"Iya, tentu saja boleh."


Aku bingung kenapa kalimat itu bisa lepas begitu saja dari mulutku. Padahal sebelumnya, aku selalu menghindari mereka yang nyata-nyata menaruh perasaan padaku. Bukan apa-apa, aku hanya tidak ingin terkesan memberikan harapan pada mereka. Namun ada rasa yang berbeda ketika berhadapan dengan kak Beni. Aku pun sulit untuk menjelaskannya.

__ADS_1


"Cowokmu enggak bakal marah, kan?" seolah ada nada penekanan pada kalimat itu.


"Kenapa harus marah?" tanyaku untuk memastikan maksud dari pertanyaannya.


"Ada cowok lain yang menghubungimu?" sebaris kalimat tanya kembali terlontar.


"Asal jangan ngomong yang aneh-aneh aja, bukan cuma dia yang bakal marah, aku juga marah kalau seperti itu," kekeh ku menghalau kecanggungan yang mendadak hadir.


"Cuma bilang kangen, boleh?" Senyum jahil terlihat menghias lengkung bibirnya.


"Jiah! Kalau itu aku juga males," kekehku gugup. Setitik debar yang tak kupinta merangsek hadir ketika mataku menatap balik manik mata yang terlihat samar dalam keremangan lampu penerang jalan.


"Ha-ha ... Becanda!" kekehnya, kemudian turun dari mobil.


Aku masih belum lepas dari rasa keterkejutanku. Atau lebih tepatnya kecewa. Kecewa? Untuk apa? Aku tak mendapatkan jawabannya.


Pintu bagian penumpang dibuka oleh kak Beni, mempersilahkanku turun layaknya pemeran film romantis yang pernah kutonton. Aku turun, menata perasaan bingung akibat rasa aneh yang tiba-tiba hadir, sulit untuk kujelaskan.


"Maaf, besok enggak bisa nganter. Aku sudah mulai masuk kerja," ucapnya ketika aku hendak memencet bel.


"Tidak apa-apa Kak. Terima kasih."


Wina membukakan pintu setelah beberapa menit aku menunggu.


"Eh, sudah balik," sapanya membuka gembok pagar.


"Ha-ha, terima kasih, Kak. Enggak ditawarin mampir, ya. Sudah malam," sahut Wina.


"Ok, enggak apa-apa. Aku juga balik dulu. Sampai ketemu lagi Runa," pamit kak Beni menatapku.


"Iya, terima kasih, Kak," ucapku membalas senyumnya, menatap sosok jangkung kak Beni yang menghilang ketika dia masuk ke mobil.


"Deu, yang segitunya mandangin," goda Wina tersenyum jahil menatapku yang masih bergeming di tempat tadi.


"Apaan sih, Win," sungutku mengikuti langkahnya masuk rumah.


***


"Jadi gimana kencannya sama Kak Ben?" tanya Wina dengan nada penasaran ketika aku selesai membersihkan diri.


"Kok kencan, sih?" protesku, menghenyakkan tubuh pada sisi seberang ranjang yang berukuran queen size.


"Ya, sejenis itu lah," kekehnya. Kali ini Wina duduk menghadap penuh padaku. Seolah menungguku bercerita, kedua tangan jenjangnya menopang dagu, dengan senyum simpul yang menghias bibir tipisnya.


"Hubunganmu dengan Kak Beni dulu gimana sih, Win?" tanyaku hirau akan rasa penasaran yang tercetak jelas pada wajah Wina.


"Ya hubungan junior dengan senior. Kenapa?" Wajah penasaran Wina makin kentara terlihat. "Takut aku pernah naksir ya?" tebaknya.


"Enggak ...." Aku kembali terdiam. Kenapa aku jadi kepikiran kak Beni.

__ADS_1


"Mulai ada feeling?" tanya Wina masih dengan senyum jahil menghias bibirnya.


"Feeling apaan, orang baru kenal ini," tepisku.


"Ya kali aja kamu juga sama kayak Kak Ben, suka pada pandangan pertama ha-ha," gelak Wina.


"Kamu kenapa ga suka sama Kak Beni?" tanyaku meredam tawa Wina.


"Kamu kan tau, tipe cowokku itu cowok oriental. Bukan wajah bule kayak Kak Ben," sahutnya serius.


Aku terkekeh mendengar jawaban Wina.


"Terus, perasaan kamu sama Kak Ben, gimana?" kembali dia bertanya.


"Ya enggak gimana-gimana, kan udah aku bilang, aku dah punya cowok. Terus aku Dan Kak Beni juga baru kenal." Aku meraih tas yang kugeletakkan di pinggir kasur ketika tadi baru sampai.


"Ya enggak apa-apa kan, Run. Cuma buat nambah temen. Kalau misalnya nanti kamu tiba-tiba putus sama cowokmu, kan udah ada cadangan," kekehnya.


"Ih, jahat banget sih, Win. Masa orang dijadiin cadangan!" protesku menghentikan gerakan mencari ponsel dari dalam tas. "Harusnya ya, Kak Beni itu suka sama kamu, kan sudah lama bareng," lanjutku.


"Nah itu dia, aku juga bukan tipe cewek yang Kak Beni suka untuk jadi pacar. Terlalu cerewet. Dia itu suka sama cewek yang kalem, kayak kamu."


"Ha-ha belum tau aja dia aku kayak gimana."


"Yang jelas enggak kaya aku yang langsung cerewet begitu ketemu sama orang baru."


Ya, Wina memang tipe yang mudah akrab dengan orang. Pembawaannya yang supel membuatnya mudah mendapatkan teman. Tidak sepetiku yang agak susah untuk mencari teman. Tapi sekalinya bertemu dengan teman yang cocok, pertemananku biasanya awet.


"Udah ah, Win. Jangan ngejodoh-jodohin aku dengan kak Beni terus. Kasian cowokku tau." Berusaha menyudahi rentetan kalimat tanya yang keluar dari bibir Wina.


"Kamu yakin perasaan kalian itu benar-benar perasaan cinta? Bukan hanya perasaan saling ngerasa nyaman karena terlalu lama bersama?" Kali ini suara Wina terdengar serius.


"Hah? Maksudnya gimana?" Aku menatap dan memberikan perhatian penuh pada Wina.


"Kadang nih, karena dua orang yang selalu bareng kemana aja, ada perasaan nyaman yang yang tumbuh. Tapi itu bukan cinta, ya ... rasa nyaman aja. Makanya tak jarang hubungan dua sahabat yang kemudian jadian akhirnya putus. Karena setelah jadian, mereka menyadari perasaan yang selama ini mereka anggap sebagai cinta atau apalah itu, ternyata tak ada. Perasaan nyaman itu hadir ketika mereka hanya sebagai status sahabat, " tutur Wina.


Aku tertegun. Memang selama ini aku dan Arjun selalu bersama karena rasa nyaman satu sama lain. Aku memang tak pernah bisa dekat dengan teman cowok selain Arjun. Selain itu, tak banyak yang mampu memahami sifatku, selain dia.


"Coba pikir lagi deh omonganku," lanjut Wina ketika melihatku terdiam.


"Tapi bukannya suatu hubungan memang harusnya didasarkan atas perasaan nyaman, dari sana baru tumbuh perasaan cinta?" Aku mengajukan argumen.


"Iya, enggak salah juga, tapi perasaan nyaman saja enggak cukup. Ibarat bangunan, rasa nyaman itu baru batu bata yang disusun untuk membentuk dinding, nah rasa cinta itu sebagai penguatnya," terang Wina berlagak seperti pakar cinta, padahal sendirinya juga jomblo.


"Ah! Enggak taulah, Win. Ribet amat mikirin yang kayak begini."


"Emang, makanya sekarang aku betah jomblo, buat menenangkan pikiran dan mengosongkan hati." Wina menepuk dadanya. "Biar nanti ketika aku ketemu cowok yang benar-benar pas, aku enggak nyesel," lanjutnya dengan wajah serius.


Mau tidak mau perkataan Wina membuatku berpikir. Apa benar perasaanku dengan Arjun hanya sebatas rasa nyaman saja, tidak lebih? Semoga saja bukan. Aku berharap hubunganku dengan Arjun baik-baik saja.

__ADS_1


__ADS_2