Kandas

Kandas
Kenangan


__ADS_3

Sayup-sayup suara azan subuh membuatku terbangun. Akhirnya semalam aku bisa tertidur, mungkin karena terlalu lelah. Tak hanya fisikku yang lelah karena beberapa hari ini kuforsir mengerjakan tugas, pikiranku juga seolah tak pernah beristirahat.


Kudapati Wina masih nyenyak dalam selimutnya. Udara dingin dari pendingin ruangan terasa menusuk ketika aku keluar dari selimut. Aku memang sudah terbiasa tinggal di daerah yang dingin, tapi udara dingin buatan seperti memberikan sensasi yang berbeda di kulitku, berasa tidak nyaman.


Ingin rasanya untuk kembali tidur, mengeratkan gulungan selimut pada tubuhku. Namun, panggilan untuk beribadah tak dapat kuabaikan begitu saja. Aku butuh untuk bersimpuh menghadap Tuhan, meminta sedikit belas kasihan-Nya agar aku mampu melewati cobaan yang terasa dipaksa untuk kuterima.


Bayangan wajah ibu kembali memenuhi pikiranku, membuatku bergegas beranjak dari tempat tidur. Aku ingin Tuhan mau mendengarkan doaku, agar ibu diberi kekuatan untuk melewati semua masalah ini. Berharap agar setitik harapan yang ada menjadi sebuah kemungkinan besar.


"Eh, udah bangun, Run?" sapa Wina sambil menguap, tatkala melihatku melipat mukena dan sajadah.


"Sudah, tadinya mau bangunin kamu."


"Ah-ya, aku shalat dulu," sahutnya keluar dari gulungan selimut.


Sambil menunggu Wina selesai shalat, aku mengambil ponselku. Berharap ada pesan dari Arjun.


Ah! Ternyata baterainya habis.


"Mau lari pagi dulu enggak Run? Nanti kita sarapan diluar aja," tanya Wina setelah selesai shalat.


Aku menghentikan gerakanku mengacak isi tas untuk mencari charger ponselku. Berpikir sejenak.


"Aku mau ke tempat ibu aja Win," sahutku kemudian.


"Jam besuk masih jam sebelas. Daripada kamu sedih kepikiran tante terus, mending olahraga sebentar. Bisa buat refresh otak," bujuk Wina.


"Tapi aku enggak bawa baju buat olah raga," sahutku mencari alasan lain.


Saat ini aku berasa berat melakukan kegiatan lain. Pikiranku hanya dipenuhi ibu. Ingin cepat-cepat bertemu ibu kembali. Menghabiskan waktu bersama seperti beberapa bulan lalu.


"Pake baju aku aja, sih. Kayak sama siapa aja," kekeh Wina, mematahkan alibiku.


Postur tubuhku dengan Wina memang hampir sama. Kurus dan tinggi semampai. Hanya saja Wina lebih agak berisi dariku. Dulu aku dan Wina sangat dekat seperti kakak beradik, karena umur kami hanya terpaut tiga bulan. Aku yang lebih tua tiga bulan dari Wina.


Dulu waktu ayah masih hidup, kami sering berkunjung ke tempat maktuo. Kedekatanku dengan sepupuku ini mulai agak merenggang setelah aku mulai jarang berkunjung. Mungkin karena kesibukan kami masing-masing juga, jadi jarang bertukar kabar. Apalagi Wina sekarang baru lulus dari akademi kebidanan, dia mulai sibuk melamar pekerjaan ke beberapa klinik bersalin di Jakarta.


"Ha-ha iya, deh." Akhirnya aku menyerah setelah segala alasan terpatahkan.


"Ini, kamu pakailah," ujar Wina menyodorkan sepasang pakaian olah raga berwarna merah muda.


"Enggak salah, Win?" celetukku melihat baju yang disodorkan Wina.


"Ha-ha, maaf aku lupa kamu paling sebel warna pink!" gelaknya, memasukkan kembali baju yang tadi dia sodorkan padaku.

__ADS_1


Ya, dari dulu aku paling tidak suka dengan warna merah muda, entah kenapa terasa terlalu lembut untuk diriku. Selain itu aku merasa jadi terlihat pucat memakai warna itu.


"Padahal kamu cantik kok pakai baju warna pink, kenapa sampe segitunya sih, enggak sukanya," gerutu Wina pelan.


"Terlalu lembut buatku, Win," kekehku mencoba meredam gerutuan Wina.


"Alasan yang terlalu mengada-ada," protesnya.


Wina tampak sedikit kesulitan mencari baju dengan warna lain, karena memang rata-rara warna pakaiannya berwarna merah muda, warna kesukaannya.


"Nah, ini ada baju training bekas pelatihan. Kamu mau pake yang kaya gini?" tanyanya menyodorkan baju olahraga standar pembagian untuk acara-acara pelatihan.


"Iya, enggak apa-apa yang seperti ini, daripada pakai yang warna pink."


Keluar dari rumah, udara Jakarta yang panas dan agak sedikit lengket menyambutku. Dari dulu aku paling tidak betah dengan udara kota ini. Apalagi baju yang dipinjamkan Wina berlengan panjang, alamat bakal mandi keringat sepagi ini.


Wina mengajakku ke sebuah taman kota tak jauh dari rumahnya. Benar kata Wina, menghirup oksigen yang dikeluarkan oleh pepohonan di pagi hari, memang sedikit bisa menyegarkan otakku dari kesumpekan.


Setelah beberapa kali berlari memutar taman, Wina mengajakku beristirahat di dekat penjual makanan yang menjajakan dagangannya di pinggir jalan luar taman.


"Mau ketoprak, enggak?" tanya Wina menunjuk tukang ketoprak yang mangkal tak jauh dari pintu keluar taman.


"Boleh."


"Masih, makin rame tau, Win. Makanya main ke Bandung, lah," ajakku mengusap keringat yang sudah membanjiri keningku. Cairan tubuh terasa diperas semua keluar dari seluruh pori-poriku, membuat tenggorokan terasa begitu kering.


"Pengen, tapi masih belum ada waktu. Rabu entar, ada panggilan interview juga," sahut Wina sambil menyerahkan sebotol air mineral ke tanganku.


"Oh dimana?"


"Di rumah bersalin deket Pondok Indah."


"Semoga berhasil, ya Win. Enak yang bentar lagi kerja. Aku masih ngabisin duit ibu," ujarku, mendadak sedih ketika kembali teringat kondisi ibu saat ini.


Mungkin setelah ini, aku harus berusaha sendiri memenuhi kebutuhanku sehari-hari, karena tak mungkin mengharapkan ibu yang akan menanggung segala biaya pengeluaran kami. Untung saja saat ini biaya perawatan ibu ditanggung asuransi. Jika tidak, entah kemana kami harus mencari biaya untuk berobat ibu.


Memang ibu masih mempunyai maktuo, kakaknya. Namun, tentu saja ibu akan merasa sungkan meminta bantuan dana untuk berobat. Biaya berobat di Jakarta itu tidak murah.


"Enggak usah sedih, Run. Insya Allah nanti bakal ada jalannya," hibur Wina ketika melihat wajahku berubah murung.


"Uhm, iya," sahutku mencoba menepiskan cairan bening yang mulai mengambang di mataku, sedikit mengaburkan penglihatanku.


Pikiran yang menerawang dan mata yang mulai mengabur membuatku tak memperhatikan jalan, sehingga kakiku tersangkut tembok pembatas jalan. Aku tak mampu menyeimbangkan tubuh hingga menubruk pejalan kaki yang mendadak muncul dari arah samping.

__ADS_1


"Sorry, ada yang luka?" tanya suara bass seorang pria duduk berjongkok di tempat ku tadi terjatuh.


"Eh, Kak Ben ...." Wina menyapa pria yang barusan kutubruk.


"Hai, Win ...."


"Kamu enggak apa-apa, Run?" tanya Wina menarikku berdiri.


"Kamu kenal cewek ini?" tunjuk pria itu.


"Oh, iya ... Kenalin ini sepupuku, Runa. Run, ini Kak Beni kakak kelasku waktu di SMA." Wina memperkenalkan kami.


"Hai Runa," sapa Beni menyodorkan tangannya ke arahku.


"Hai ... Maaf, tadi aku enggak perhatiin jalan," sesalku ketika menyambut tangan Beni.


"Enggak apa-apa, aku juga tadi meleng," sahutnya dengan senyum hangat yang membuat rasa bersalahku sedikit menguap.


"Mau mulai apa udahan, Kak?" tanya Wina membuat Beni mengalihkan tatapannya dariku.


"Udah beres, sih. Kenapa? Mau traktir?"


"Yee, justru aku yang mau minta traktir. Denger-denger katanya diterima kerja di oil and gas," protes Wina.


"Emang ya, enggak berubah ni anak satu, masih aja tukang gosip," canda Beni.


"Ye, siapa yang nge-gosip," kilah Wina.


"Itu, gosip dapat dari mana?" selidik Beni.


Sejenak aku merasa berada diluar lingkaran yang terbentuk diantara Wina dan Beni. Tak ingin mengganggu obrolan mereka, aku menepi ke arah bangku yang terletak tak jauh dari tempat kami berdiri. Memperhatikan beberapa pengunjung yang mulai keluar dari taman.


Pandanganku tertumbuk pada satu keluarga muda, sang ayah menggendong anak perempuan yang mungkin masih berusia lima tahun, berceloteh riang duduk di pundak ayahnya.


Ah, ayah. Aku rindu.


Mendadak kenangan tentang ayah berputar begitu cepat di dalam ruang memori otakku. Ayah yang penyabar, tempat ku mengadu jika ibu sedang mengomel. Walaupun begitu, ayah tak pernah membelaku di depan ibu. Ayah selalu bilang, "Kamunya sih, nakal. Jadi ibu ngomel kan tuh."


Kepergian ayah yang mendadak membuat dunia kami berasa runtuh. Ayah tiba-tiba terjatuh saat sedang bermain tennis dengan teman kantornya. Saat itu kami mendapati kabar bahwa ayah dilarikan ke rumah sakit. Begitu kami sampai di rumah sakit, dokter menyatakan bahwa nyawa ayah tidak tertolong. Ayah dinyatakan meninggal terkena serangan jantung.


Ibu sempat tidak bisa menerima kepergian ayah yang tiba-tiba, apalagi aku. Aku dulu berharap itu hanya mimpi buruk. Berharap esok pagi ketika aku bangun, ayah akan menyapaku di meja makan seperti biasa. Namun, kenyataan tak bisa kami tolak, ayah benar-benar telah pergi, menyisakan ruang kosong di dalam hati kami.


Empat puluh hari setelah kepergian ayah, ibu akhirnya berusaha untuk bangkit. Ibu bilang, "Ibu masih memiliki Runa, Aruna gadis ibu yang akan menyinari hari-hari ibu. Harapan ibu satu-satunya saat ini."

__ADS_1


Sekarang, ibu tergolek sakit di rumah sakit. Segala ketakutan yang dulu sempat kukubur setelah kepergian ayah kembali muncul. Aku benar-benar berharap, Tuhan hanya sedang bercanda. Bukan sedang marah atau menghukumku. Sehingga nanti aku bisa ikut tertawa atas candaan Tuhan yang sedikit mengerikan ini. Besar harapanku, ibu akan mampu mengalahkan penyakitnya, kembali menjalani hari-hari seperti sedia kala.


__ADS_2