
Pagi ini Runa menolak untuk berangkat bareng ke kampus. Dia beralasan, kelompok KKN-nya dijadwalkan berangkat lebih pagi. Aku tak bisa memaksanya kali ini. Tekadnya sudah bulat untuk memulai menjalani jalan masing-masing, agar rasa yang ada tak makin membesar.
Matahari telah muncul sempurna ketika aku sampai di kampus. Mahasiswa yang akan berangkat ke lokasi KKN telah berkumpul bersama kelompok nya masing-masing. Ada beberapa kelompok yang menyewa bis untuk mengantarkan mereka ke lokasi KKN. Sementara kelompokku memilih menggunakan kendaraan pribadi karena lokasi tempat KKN-ku masih bisa dijangkau dengan kendaraan roda empat.
Mataku tertumbuk pada jendela bis yang parkir tak jauh dari gerbang kampus. Cahaya matahari yang jatuh tepat di kaca samping bis membuat wajah gadis yang duduk di balik kaca itu terlihat dengan jelas, begitu indah. Sepadan dengan suasana pagi yang cerah hari ini. Aruna, si gadis mentari itu tak menyadari kehadiranku.
Aku memetakan setiap garis wajahnya yang terlihat di balik kaca itu. Tatapannya menerawang ke langit, terlihat begitu sendu. Ingin rasanya aku menyapanya ke sana. Namun ingatan akan kesepakatan kami tempo hari menyurutkan langkahku. Kami sepakat untuk tak saling bertemu mulai dari masa KKN sampai waktu kelulusan tiba. Akan terasa berat memang, tetapi aku harus berusaha.
"Jun, mobil kamu kosong, kan?" Aku terperanjat ketika tangan seseorang menepuk pundakku. Leona, si pemilik tangan tersenyum ketika melihatku berbalik menghadapnya.
"Iya, masih. Kenapa?"
"Aku bareng sama kamu, ya. Mobil lain sudah penuh. Terus itu beberapa logistik selama di lokasi masih belum masuk semua. Bisa diletakkan di dalam mobilmu kan?"
"Iya, boleh. Yang ikut bareng siapa lagi?" tanyaku sedikit was-was.
Terakhir kali anggota kelompokku ikut betsama, hampir saja fobiaku kambuh. Suara tawa mahasiswi yang tengah bergosip di bangku belakang membuyarkan kosentrasiku. Aku biasa menyetir dengan kondisi senyap, kalaupun ada teman yang ikut bareng di mobilku, mereka biasanya sudah tau kondisiku yang kurang nyaman dengan keadaan yang berisik.
"Cuma aku saja, yang lain sudah masuk mobil Boby semua," terang Leona.
"Oh, baik. Lalu dimana barang-barang yang akan dibawa?"
"Di dekat aula."
"Ya sudah, kita muat sekarang saja."
Sebelum melangkah mengikuti Leona, aku menoleh kembali ke arah bis yang membawa Runa. Bis itu telah bergerak meninggalkan pekarangan kampus, menyisakan asap kelabu tipis menggantung di udara yang masih dingin. Membawa pergi gadis yang telah memeluk hatiku dengan kehangatannya, menjauh.
Setelah segala keperluan logistik telah dimuat ke dalam mobil, ketua kelompok mengabsen anggota, kami pun beriringan meninggalkan kampus.
__ADS_1
"Jun, gosip-gosipnya kamu sudah putus sama Runa?" pertanyaan Leona yang tiba-tiba mengagetkanku.
"Hah? Kata siapa? Kayak artis aja jadi bahan gossip." Aku mencoba menyangkal.
Aku masih belum bisa mengakui hubungan kami telah berakhir. Kalau pun memang sudah berakhir, aku masih ingin terus menganggap hubungan kami baik-baik saja.
Perjalanan kali ini terasa begitu sunyi, walaupun Leona masih terus mengajakku berbicara, tetapi aku hampir tak dapat menangkap isi percakapan Leona. Pikiranku masih saja dipenuhi bayangan wajah Runa di balik jendela bus. Begitu bercahaya tertimpa cahaya matahari pagi.
"Jun, kamu masih terapi?" pertanyaan Leona menyentakkanku.
"Kok tau aku terapi?" selidikku.
"Kan dulu waktu SMA aku pernah ikut nemenin kamu terapi bareng Runa." Mata bulat gadis itu menatapku lekat. Seolah memaksaku untuk mengingat momen yang sempat kulupakan.
"Oh, iya? Aku enggak ingat sama sekali," sahutku dengan nada sesal. Aku memang tak pernah mengingat Leona ada dalam proses menjalani terapiku. Satu-satunya orang yang ada dalam memoriku selain keluarga, hanya Runa.
"Ya enggak bakal ingat lah, yang ada di pikiran kamu, kan hanya Runa."
"Maaf. Bukan aku bermaksud melupakan, hanya saja dulu kan kamu hanya setahun bareng aku sama Runa, kan?" sesalku.
"Iya, sih." Kali ini suaranya kembali terdengar normal. "Terus, pertanyaanku tadi belum dijawab," imbuhnya.
"Yang mana?"
"Kamu masih terapi?"
"Oh, sekarang sudah ga serutin dulu. Aku sudah mulai bisa kontrol fobiaku." Ada rasa getir sekonyong-konyong menyusup masuk ke dalam celah hatiku. Mengingat perempuan yang cukup berjasa membantu mengatasi fobiaku.
"Terus, hubungan kamu dengan Runa bagaimana? Beneran sudah putus?" kembali suaranya menyelidik.
__ADS_1
"Boleh enggak dijawab? Aku masih belum nyaman membicarakan hal itu," tolakku hati-hati agar Leona tidak salah sangka.
"Uhm. Sebenarnya kalau memang kamu dan Runa sudah enggak pacaran, aku mau menggantikannya," tukasnya tersenyum canggung.
Seolah tak mempercayai apa yang baru saja kudengar, aku menoleh sekilas padanya. Mata bulat beningnya masih menatap lekat, ada bias rona merah yang bersemi di pipinya.
"Wow!" Hanya itu yang bisa keluar dari mulutku menanggapi pernyataannya yang terkesan sangat berani. Bahkan Runa yang cuek sekali pun, tak pernah sebegitu beraninya mengungkapkan perasaannya.
"Aku sudah lama suka. Hanya saja sebelum aku sempat mengatakan, aku sudah pindah kota." Dia berhenti, menatapku seolah melihat reaksiku.
Aku bergeming, mencoba tetap fokus pada jalanan.
"Lalu, ketika bertemu kembali denganmu beberapa bulan lalu, membuatku merasa mendapat kesempatan lagi. Sayangnya kata Riko kamu sudah jadian sama Runa," lanjutnya.
Aku mengerutkan dahi mendengar pengakuan gadis itu. Kali ini tatapannya telah beralih pada jalanan. Terdiam agak lama, lalu kembali menoleh padaku.
"Maaf ya, Jun kalau percakapan ini bikin kamu tidak nyaman. Aku hanya ingin mengungkapkan apa yang kurasa saat ini. Aku harap kamu jangan marah." kali ini dia mengatupkan kedua belah tangannya di depan wajah, seperti gerakan menyembah.
"Ha-ha, santai saja. Cuma ... saat ini kita temenan aja, ya. Untuk saat ini aku masih belum bisa menjalin hubungan yang baru."
Aku berusaha memilih kata-kata yang tak menyinggung perasaannya. Aku yakin, butuh keberanian yang besar untuk mengakui perasaan seperti itu. Aku saja sebagai laki-laki butuh mengumpulkan keberanian bertahun-tahun untuk bisa mengakui perasaanku pada Runa.
"Berarti benar kamu dan Runa sudah putuh, ya?" desaknya.
"Uhm ... gimana, ya. Engga ada kata putus juga sih kita, ha-ha." Aku mencoba mencairkan suasana dengan tawaku yang terdengar getir.
"Tapi ... kamu enggak akan ngejauhin aku, kan?" tanyanya dengan suara pelan.
"Enggak, kita tetap teman. Karena selain Runa, kamu juga sudah tau kondisiku. Paling tidak, kau tak menganggapku cowok aneh jika lebih memilih untuk menyendiri." Aku tersenyum lemah.
__ADS_1
"Ah, syukurlah. Tadinya aku sempat takut bakal dijauhi." Kulirik dari ujung mata, terlihat dia menunduk, memainkan jemarinya, seperti kebiasaan Runa jika sedang memikirkan sesuatu.
Andai saja hati ini mampu menukar sosok Runa dengan perempuan lain, mungkin rasanya tak akan sesulit ini. Hanya saja, kehadiran Runa telah mengakar kuat dalam hatiku. Jika Leona memang dihadirkan Tuhan untuk menggantikan Runa, seharusnya tak akan rumit. Karena aku tau, Tuhan akan dengan mudahnya membolak-balikkan hati. Hanya saja, saat ini setitik getar pun tak kurasa pada Leona. Entah nanti, aku tak mengerti.