
Semalaman aku menunggu balasan pesan dari Runa. Rasa tak tenang, membuat mataku baru mampu kupejamkan beberapa saat sebelum Azan subuh. Rasa kantuk membuat mataku sulit untuk kubuka saat suara azan berkumandang mendayu, tapi kupaksakan diri keluar dari kenyamanan selimut untuk melaksakan shalat subuh.
Hari Senin kembali menghampiri. Biasanya Runa yang selalu memberiku semangat untuk memulai hari Senin yang terasa membosankan. Namun sepertinya hari ini aku harus berjuang sendiri untuk mengusir rasa bosan dan malas yang selalu menyerang setiap hari Senin datang. Rasanya untuk ke kampus tidak begitu bersemangat.
Mengumpulkan niat yang masih tercerai, akhirnya aku selesai mempersiapkan diri untuk berangkat ke kampus. Pagi ini ada jadwal kuliah jam setengah delapan, dengan dosen killer pula. Tak ingin nilaiku anjlok semester ini, aku mencoba untuk memotivasi diri agar semangat untuk memulai hari.
Mengenyahkan kantuk sambil memotivasi diri ternyata bukan perkara mudah. Dulu Runa pernah berkata, "Jangan jadikan orang lain sebagai sumber motivasi. Jika orang itu tak ada, lo bakal kesulitan."
Gadis itu benar, selama ini aku selalu bergantung padanya untuk memotivasi diri. Sekarang apa yang dia ucapkan dulu baru aku sadari kebenarannya. Baru juga semalam dia tidak membalas pesanku, pagi ini aku merasa kehilangan separuh semangat hidup.
Dengan pikiran masih dipenuhi bayangan Runa, aku melangkah turun untuk sarapan. Seperti biasa jika ada dirumah, mama sudah sibuk di dapur dari pagi untuk menyiapkan sarapan. Pagi ini perempuan berumur setengah abad itu nampak sudah berpakaian rapi di balik apron yang dikenakannya.
"Pagi, Jun," sapa mama ketika melihatku muncul dari tangga. Senyum hangatnya terkembang menyambutku.
"Pagi, Mam. Mama masak apa? Wangi banget." Aku mengendus aroma gurih telur bercampur manis butter dan rempah yang memenuhi udara dapur.
"Cuma masak telur orak arik sama sandwich tuna. Pagi ini Mama ada meeting sama klien, jadi enggak bisa bikin yang ribet." Mama meletakkan sepiring telur orak arik dengan roti isi, berbentuk segitiga berisi sayuran dan potongan tuna, di meja makan. "Mau kopi apa susu, Jun?" tawar mama.
"Nanti biar aku yang bikin kopi, Mam."
"Kalau kamu mau kopi, sudah mama siapkan, nih." Mama menyodorkan teko coffe maker yang telah terisi kopi panas ke hadapanku. Aroma minuman panas yang sarat kafein itu begitu menenangkan, membangunkan saraf-sarafku yang masih enggan untuk terjaga.
"Terima kasih, Mam," sahutku, menuangkan kopi dari teko ke cangkir yang telah disediakan mama.
"Semalam enggak bisa tidur lagi?" Wajah mama terlihat khawatir. "Mikirin apa lagi?" Mama menarik kursi di sampingku, tangannya mengacak rambutku pelan.
"Tugas kuliah aja kok, Mam," sahutku setelah menelan cepat potongan sandwich yang ada di mulutku.
"Kamu kapan jadwal terapi lagi?" Suara mama terdengar serius.
"Bulan depan, Mam."
"Mama lupa jadwal terapimu yang terakhir kapan, ya?" Mama tampak berusaha mengingat.
"Dua bulan yang lalu. Dokter Albert bilang tingkat kecemasanku sudah jauh berkurang. Jadi jadwal terapiku dirubah jadi dua bulan sekali," terang ku.
Dulu aku harus melakukan sesi terapi dua kali seminggu. Beruntung aku bertemu Runa. Sedikit demi sedikit rasa cemas yang selalu mengganggu dapat kuatasi karena dia selalu menenangkanku ketika serangan panik mulai menyerang. Psikiaterku bilang, aku bisa sembuh dengan cepat karena aku mempunyai seseorang yang mendampingiku melewati masa-masa sulit.
Runa memang anugerah yang Tuhan kirimkan pada masa-masa kelamku. Aku tak mampu membayangkan jika dia tak lagi berada di sisiku.
"Antidepressant-mu masih ada? Masih diminum teratur?" Berondongan pertanyaan mama menyentakkanku.
__ADS_1
"Masih Mam, enggak usah khawatir. Lagian aku sudah jarang terkena serangan panik sekarang," sahutku santai, mencoba menghalau kekhawatiran mama.
Aku sudah punya Runa, antidepressant terampuhku sekarang, kekehku dalam hati.
"Tetap saja, obat yang dikasih doktermu harus diminum teratur."
"Ya enggak perlulah Mam, kan diminum kalau mulai ada gejala paniknya. Kalau enggak, ya enggak perlu," terangku.
"Hubunganmu dengan Runa gimana?" Mama mengalihkan topik pembicaraan, senyum simpul menghiasi bibirnya.
"Baik-baik aja. Dia sudah mulai sibuk. Pesanan kuenya juga sudah mulai rame."
"Oh-iya? Dia punya rencana mau buka toko, enggak? Mama mau ikut ngemodalin," sahut mama dengan wajah penuh minat. Jiwa bisnisnya tampak mulai terpancing.
"Dia bilang, sih, saat ini masih nyaman dengan toko online-nya. Karena kalau buka toko fisik, terlalu banyak biaya operasionalnya."
"Tapi kan masih banyak orang yang belum terlalu percaya sama toko online, lho, Jun."
"Iya, sih. Cuma namanya calon akuntan, semua diitungin sama dia, ha-ha." Aku terkekeh teringat bagaimana Runa dulu menjabarkan neraca bisnis plan-nya.
Gadis itu memang bukan tipe yang mengerjakan sesuatu setengah-setengah. Walaupun saat ini bisnis kuenya masih dijalani di sela-sela kesibukan kuliahnya, bukan berarti dia mengerjakan dengan setengah hati. Semua dia kerjakan dengan sungguh-sungguh.
"Memangnya dia sudah mulai memikirkan hal itu ya?" Mama tampak tertarik dengan bisnis kecil-kecilan Runa.
"Wow! Hebat juga pacar kamu, ya. Sudah mikirin sampai sedetail itu. Calon mantu idaman Mama banget," gelak mama menggodaku.
"Ha-ha, Mama doain aja," jawabku tersipu.
"Tentu, Mama selalu mendoakanmu, Jun. Kamu itu anak Mama satu-satunya." Wajah mama berubah sendu. "Eh, Mama harus Buru-buru. Kliennya hari ini orang Jepang, bisa gagal tender Mama kalau sampai telat sedetik saja," ujar mama ketika melihat jam di pergelangan tangannya.
"Hati-hati di jalan, Mam," ucapku ketika mama melambaikan tangan meninggalkanku.
Tak ingin terlambat sampai di kampus, aku bergegas menghabiskan sarapanku. Menyesap habis kopi yang mulai dingin.
***
"Wei, tumben datang sendiri? Kemana bini, Lo?" canda Riko ketika melihatku keluar mobil seorang diri.
"Lagi libur dia," sahutku acuh.
"Tumben dia Senin gini libur? Lagi kenapa?" selidiknya.
__ADS_1
"Ah, kepo banget Lo, kayak emak-emak yang suka nge-ghibah di tukang sayur," rutukku.
"Eh gue serius nanya. Enggak biasanyakan Runa mau bolos hari Senin."
Dari wajahnya terlihat Riko memang serius menanyakan Runa. Ternyata Riko memperhatikan juga, kalau Runa itu tipikal anak yang tidak membenci hari Senin.
"Dosennya yang ngajar hari ini lagi nyidang, makanya dia libur."
"Oo ...." Riko manggut-manggut mendengar jawabanku. "Eh, Jun. Si Leon minta nomor, Lo. Gue kasih enggak?" sambungnya.
"Buat apaan?" Aku menatap Riko heran.
"Katanya, sih, mau masukin Lo ke group alumni SMA."
"Laah, dianya aja enggak sampai lulus di SMA gue dulu, kenapa malah dia yang mau masukin gue ke group alumni?" Aku makin heran dengan alasan yang diberikan.
"Lah! Mana gue tau. Dia bilangnya begitu. Apa jangan-jangan modus buat dapetin nomor Lo aja," ledek Riko.
"Kalau benar begitu, enggak usah dikasihlah nomor hp gue. Males gue ngeladenin."
"Ciee ... yang setia sama ceweknya," cibirnya.
"Emangnya gue, Elo," sungutku mendaratkan pukulan ringan ke lengan cowok berkacamata itu.
"Terlalu lurus enggak asyik tau, enggak. Sesekali cari selingan buat variasi." Dia mencebik.
"Gue tipe yang enggak bosenan, jadi jangan samain kayak Lo, lah," dengusku.
Riko hanya tergelak melihat ekspresiku. Aku memang tak pernah bisa dekat dengan teman cewek selain dengan Runa. Jangankan dengan cewek, dengan teman cowok pun aku tak bisa dekat dengan mudah. Kecuali mereka yang kuat menghadapi sikapku yang bagi sebagian orang dianggap tidak asyik.
Aku masuk kelas tepat sebelum pak Suryana dosen killer-ku menjejakkan kakinya di depan kelas. Jika telat sepersekian detik saja, aku mungkin sudah disuruh menutup pintu dari luar, alias tidak diizinkan masuk.
Mengikuti perkuliahan di hari Senin itu memang membutuhkan energi yang cukup besar untuk berkosentrasi. Terlebih lagi pikiran tak tenang karena belum mendapat kabar dari Runa membuat rasa tidak tenang itu makin berlipat-lipat.
Kemana gadis itu, pesanku dari pagi masih belum dibaca. Antara rindu dan khawatir. Bahkan ketika kutelpon tak diangkat. Bolak-balik kuperiksa ponselku, tapi masih saja nihil pesan darinya.
Selesai sudah perkuliahan hari ini, tepat pada waktu shalat ashar masuk. Sekali lagi, aku memeriksa ponselku untuk melihat apakah Runa telah membalas pesanku. Pucuk dicinta ulam pun tiba, pesan yang kunantikan dari semalam akhirnya dibalas.
16.00 : [Gue sudah di kereta, baru saja berangkat. Tunggu gue ya, Jun ... Miss you too]
Dengan kecepatan tinggi, kubalas pesan dari gadisku, [Pasti gue tunggu.]
__ADS_1
Semangatku seperti baru saja diisi ulang. Perasaan was-was sedari pagi setia menemani akhirnya beranjak pergi. Tak sabar rasanya untuk segera bertemu. Mendengarkan suaranya bercerita dengan penuh semangat.