
"Siapa yang nelpon?" tanya Wina ketika keluar dari kamar mandi.
"Mau tau aja, apa mau tau banget?" sahutku dengan cengiran lebar.
Kalau tadi perasaan cemburu memenuhi hatiku, untuk saat ini hatiku terasa hangat dipenuhi rasa bahagia. Kali ini aku benar-benar ingin menikmati sepuasnya rasa ini. Suara Arjun masih saja terngiang-ngiang di telinga, senyum simpulnya menari-nari di pelupuk mata.
"Idih, kayanya gebetannya yang nelpon, nih," tembak Wina, menghenyakkan tubuhnya di sisi tempat tidur yang berseberangan denganku.
"Pacar," sahutku setengah berbisik, masih dengan senyum menghiasi bibir.
"Eh, seriusan kamu sudah punya pacar?" Wina menggeser tubuhnya mendekat, "siapa?" tanyanya dengan wajah penasaran.
"Masih ingat Arjun, enggak Win?"
"Maksud kamu Arjun teman SMP-mu yang cupu itu? Itu pacarmu?" Wina ternganga seolah tak percaya. Mungkin dalam bayangannya, tampilan Arjun masih seperti dulu, atau bahkan lebih parah.
"Iya, tapi skip kata cupu-nya. Karena dia enggak seperti yang kamu ingat dulu."
"Serius?" Kali ini Wina terbeliak seolah tak percaya dengan apa yang aku katakan.
"Nih, wajah Arjun sekarang." Aku menyodorkan ponselku yang sudah menampilkan foto Arjun bersamaku.
"Hah? Serius ini si Arjun cupu itu?" pekik Wina.
"Ish, biasa aja napa? Itu kata cupu-nya diilangin lah," sungutku tak rela embel-embel cupu masih tertempel di belakang nama Arjun.
"Jauh beda banget soalnya," ujar Wina masih menatap lekat foto Arjun di ponselku. "Padahal tadi aku mau comblangin kamu sama kak Beni," lanjutnya, menyerahkan kembali ponselku.
"Hah? Kok?"
"Tadi habis ketemu kamu, dia langsung suka."
"Jatuh hati pada pandangan pertama banget," gelakku seolah tak percaya kalau kak Beni minta dicomblangin.
"Ya ... Some kind like that, lah," kekehnya mengendikkan bahu. "Besok kak Beni mau nganter kamu, tuh, ke rumah sakit."
"Enggak usahlah, Win. Kalau udah ada embel-embel minta dicomblangin gitu, aku jadi canggung entar," tolakku. "Kalau besok kamu enggak bisa, aku naik angkutan umum aja."
"Entar aku bilang ke dia, deh. Sorry ya Run, aku enggak nanya juga tadi ke kamu," sesal Wina.
"Ha-ha, ga usah ngerasa bersalah gitu."
"Ya sudah istirahat yuk, udah ngantuk banget," ajak Wina.
__ADS_1
Dalam hitungan detik, Wina sudah mendengkur pelan. Sementara netraku masih sulit terpejam. Kembali wajah Arjun seolah menari-nari di plafon kamar, sampai akhirnya aku merasakan kelopak mataku sudah tak sanggup lagi untuk terbuka.
****
"Win, kak Beni bilang dia enggak masalah tuh dengan status kamu udah punya pacar. Entar dia tetap mau anter ke rumah sakit," terang Wina ketika aku tengah asyik membantu bi Sumi menyiapkan nasi goreng untuk sarapan.
"Aku sendirian aja deh, perginya," sahutku bersikeras.
Aku bingung nanti harus bersikap bagaimana terhadap kak Beni. Jika bersikap Ramah, takutnya dia menyangka aku memberinya lampu hijau walaupun aku sudah mempunyai pacar. Namun sebaliknya jika aku bersikap dingin, takut di cap sombong.
Huft, kenapa urusan begini jadi terasa rumit di otakku.
"Udah, kak Beni kan bukan anak kecil lagi, enggak akan langsung bete gitulah dia, anggap aja lagi jalan sama teman," tukas Wina seolah mengerti apa yang ada di pikiranku.
Jam setengah sepuluh, terdengar suara seseorang yang mengucapkan salam. Terdengar bi Sumi menjawab salam dan bergegas membukakan pintu.
Tidak lama kemudian, suara bi Sumi memanggil di depan pintu, "Mbak Wina, temannya sudah datang," katanya sambil mengetuk pintu.
"Kak Beni bukan, Bi," tanya Wina membukakan pintu.
"Iya, Mbak. Bibi ke bawah dulu, ya. Mau siapin minumannya," pamit bi Sumi undur diri.
Wina kembali masuk ke kamar dengan senyum dikulum. "Tuh, kan. Dia enggak masalah tuh. Masih mau datang buat nganter kamu."
"Hai, Runa," sapa kak Beni ketika melihatku turun tangga.
"Hai, Kak." Aku memaksakan membalas senyum kak Beni.
Seperti kemarin, kak Beni masih tampil rapi. Hari ini dengan kemeja biru dan celana slim fit coklat. Ototnya tercetak jelas di lengan kemejanya. Terlihat macho memang. Sayang, hatiku sudah dimonopoli Arjun.
Sementara aku, hanya memakai kaos oversized dengan jeans belel, rambut kuikat asal seperti biasa.
"Run, poles lip gloss dikit, sih. Biar enggak pucat begitu," protes Wina sebelum aku turun.
"Biarin aja sih, Win. Orang bukan pergi kencan ini," sungutku tak mau mengindahkan Wina.
"Entar jomplang banget penampilanmu dengan kak Beni."
Aku tak menjawab lagi. Aku tak mau melakukan apa yang menurutku tidak nyaman. Wina akhirnya menyerah memaksaku untuk memperbaiki penampilan.
Setelah sedikit berasa-basi, kami berangkat ke rumah sakit. Hanya aku dan kak Beni yang berangkat. Wina masih ada keperluan dengan teman alumninya.
Kecanggungan benar-benar terasa selama di perjalanan. Kak Beni yang semalam lebih banyak berbicara, siang ini lebih banyak diam. Rasa tidak nyaman mulai menjalar kembali. Menyesali keputusan untuk berangkat bareng kak Beni ke rumah sakit.
__ADS_1
"Maaf jadi merepotkan, Kak." Aku berusaha mematahkan kecanggungan ini.
"Enggak kok, memang aku yang pengen nganter kamu."
"Terima kasih," ucapku singkat.
"Kamu sudah lama pacaran dengan cowokmu yang sekarang?" tanya kak Beni tiba-tiba.
"Hah?" Aku bukannya tidak mendengar apa yang ditanyakan kak Beni, hanya meyakinkan kembali pendengaranku tidak salah.
"Sama cowokmu, sudah berapa lama?" Kali ini dia lebih mempersingkat kalimatnya.
"Sudah hampir sembilan tahun," jawabku mengingat lamanya persahabatanku dengan Arjun.
"Dari SMP dong?" Ada nada tak percaya kutangkap dari suara cowok bermata elang itu.
"Hu-um," sahutku agak jengah dengan pertanyaannya.
Aku agak kurang nyaman jika membicarakan masalah pribadi dengan orang yang baru kukenal.
"Apa enggak bosen?"
"Enggak, kok." Kali ini level jengahku mulai merangkak naik dengan pertanyaan seperti itu.
Kalau saja kak Beni bukan kenalan Wina, aku sudah minta diturunkan saja. Berhubung dia adalah kenalan sepupuku, aku terpaksa menahan hati, agar tidak merusak citra Wina.
Ingin rasanya cepat-cepat bertemu ibu, tapi jalanan ibukota seolah tak memihak kepadaku. Jalanan yang kami lewati selalu bertemu kemacetan.
Sesekali kulirik wajah kak Beni, raut wajahnya begitu tenang. Tidak seperti beberapa cowo yang pernah aku tolak dulu. Sepertinya kak Beni lebih mampu menguasai emosinya.
"Lalu, selama ini kalian enggak pernah bertengkar?" Kembali suara kak Beni menyapu keheningan.
"Pernahlah, namanya juga manusia pasti ada kata enggak sepakatnya," sahutku mengingat beberapa kali memang aku pernah bertengkar dengan Arjun.
"Terus enggak ada yang sampai pengen putus gitu?"
"Ih, kenapa pertanyaannya begitu, sih, Kak? Pengen banget ya, aku putus sama cowok aku?" Rasa jengahku memuncak, tapi aku berusaha untuk menjaga intonasi suaraku terdengar normal.
"Kalau kamu putus, aku siap masuk daftar tunggu," kekehnya.
Entah kenapa aku ikut terkekeh mendengar pernyataannya barusan. Terdengar santai, tak ada nada mengintimidasi, seperti cowok-cowok yang selama ini menyatakan perasaannya padaku. Seketika kejengahan yang tadi sempat memuncak, perlahan turun.
Benar kata Wina, mungkin aku yang terlalu skeptis dengan cowok yang berusaha mendekatiku. Selama ini aku terbiasa menghadapi cowok yang mendadak emosi ketika kutolak, entah itu berupa kemarahan atau berupa tatapan keputusasaan.
__ADS_1
Berbeda dengan cowok yang selama ini kuhadapi, kak Beni sama sekali tak memperlihatkan emosi. Wajahnya tenang, bahkan masih bisa mengobrol santai. Sepertinya aku harus banyak belajar lagi tentang karakter manusia. Tak terasa, perjalanan yang tadinya terasa membosankan mulai bisa kunikmati dengan santai.