
Beberapa menit, kami hanya terdiam tanpa mengatakan apa-apa. Semua benar-benar seperti mimpi padaku. Kakak dan Ina yang melihat kami hanya bisa terdiam tanpa bisa membantu kami
“Apa yang sudah ku lakukan padamu Dika?” tanya ku sambil melihat Dika
Dika tidak peduli dengan aku yang menangis, bagaimana sikapku, ekpresiku, semuanya. Dia memalingkan wajahnya dariku
“Aku berharap, adik mu merasakan apa yang ku rasakan Dika” kataku dengan nada tegas
Dengan cepat Dika langsung melihatku
“Jangan sumpahi adik ku” kata Dika marah
“Sekarang kamu baru melihatku saat aku menyumpahi adikmu?” kataku
“Ini masalah kita, jangan bawa-bawa adikku” kata Dika
“Tidak, aku bersumpah adikmu akan hancur melebihi aku Dika, dan itu akan terjadi” kataku dengan nada marah
__ADS_1
Dika yang marah saat itu, langsung mengepal tangannya dan bersiap-siap untuk memberinya padaku, aku yang melihat hal itu akhirnya menantangnya
“Kenapa, kamu mau memukulku ?, Ayo pukul saja, aku mau lihat bagaimana kamu menghadapiku” kataku
Dika yang berusaha menahan amarahnya hanya melihatku
“Kamu yang membuat aku menaruh sumpah ini Dika, kamu yang memaksa ku melakukan hal ini. Kamu hanya mempunyai adik perempuan dan dia akan merasakan apa yang aku rasakan. Aku juga punya abang Dika, saat abang ku tahu hal ini dia juga akan menghancurkan mu. Tapi aku tidak mau itu, aku hanya mau adikmu yang paling kamu manjakan itu merasakan hancurnya diriku saat ini, ingat Dika karma itu ada, dan karma itu aku harapkan kena dengan adik mu bukan dengan mu” kataku
Aku melihat sekeliling yang sudah rame karena kami dan itu sudah membuat aku merasa muak dengan apa yang terjadi. Aku dengan perlahan mundur dari hadapan Dika dan meninggalkan Dika dengan tangisan yang tidak bisa berhenti.
Antara tidak percaya dengan apa yang terjadi padaku, aku yang tidak berpikir panjang bagaimana bisa ini terjadi. Aku yang begitu mempercayainya hingga sampai saat ini, aku yang mencintainya bahkan memberikan segalanya padanya, ternyata hanya permainan untuknya, bahkan sandiwara yang dia lakukan padaku membuat ku percaya akan semua yang dilakukan padaku.
Aku ditopang Ina saat itu juga dan akhirnya kami sampai di tempat temanku. Temanku yang tidak tahu apa-apa hanya terdiam saat melihat aku yang masih menangis. Ina mengambil minuman dan membiarkan aku seorang diri dan aku terus menangis dengan semuanya, aku berharap semua yang terjadi hanyalah mimpi yang harus membuatku tersadar, tapi ternyata semua benar-benar terjadi dan aku semakin nangis akan hal itu.
“Kenapa dia?” kata Siska
“Itu kak si Dika main dengan perempuan lain” kata Ina
__ADS_1
“Ha serius ?” kata Siska yang terkejut
“Aku juga gak nyangka kak, aku kira tadi kak Vita bercanda waktu dibilangnya mau labrak Dika, ternyata benar-benar kak” kata Ina
“Astaga, kok gitu banget si Dika” kata Siska
“Aku juga gak sangka kak, udah biarin saja dulu dia kak biar tenang kak Vita” kata Ina
Aku yang lelah dengan semuanya membuat aku tertidur, hingga pagi telah datang. Aku dengan cepat membangunkan Ina saat itu juga.
“Ina, ayo temani aku” kata ku
“Kemana kak?” kata Ina
“ Ke tempat perempuan itu” kata ku
Ina dengan cepat langsung bangun dan menemani aku. Jujur saja aku hanya ingin mengatakan kepada perempuan itu untuk menjaga Dika baik-baik saat itu. Hari ini aku akan mengakhiri segalanya tentang Dika dan itu adalah jalan yang terbaik untuk kami berdua.
__ADS_1