
"Arjun apa kabar?" Pertanyaan ibu sontak membuat wajahku memamas.
Sayangnya, ibu langsung melihat perubahan warna yang ditampilkan wajahku.
"Ehm, sepertinya ada yang ibu lewatkan," goda ibu.
Jujur, aku agak sungkan membicarakan hubunganku dengan Arjun pada ibu. Karena dalam pikiranku, ibu masih belum mengizinkan untuk menjalin hubungan yang serius. Apalagi Arjun juga sahabat dekatku, bingung harus memulai dari mana untuk menceritakannya.
"Kok diam?" tanya ibu menyelidik.
"He-he, enggak ... Uhm ... Kabar Arjun baik, dia juga titip salam buat Ibu," sahutku, masih menimbang-nimbang apakah akan memberitahu ibu tentang statusku dengan Arjun atau tidak.
"Ayo dong, cerita." Suara ibu seakan membujukku.
"Arjun bilang suka sama aku, Bu." Kalimat itu seolah terlontar begitu saja dari mulutku. Aku mencoba melihat reaksi ibu dengan memberikan sepotong ceritaku dengan Arjun.
"Lalu?" tanya ibu seolah menunggu kelanjutan kalimatku.
"Menurut Ibu bagaimana?" tanyaku meminta pendapat.
"Kok malah nanya? Menurutmu Arjun gimana?" Ibu balik bertanya.
"Apa boleh aku terima?" tanyaku agak takut-takut.
Takut ibu akan memberikan omelan panjang seperti biasa, "kamu pikirin sekolah dulu aja, urusan asmara nanti juga bakal ngikut kalau sekolahmu sudah bener."
"Kenapa nanya boleh atau enggaknya, perasaan kamu ke Arjun gimana?" Suara ibu yang lembut terasa menentramkan.
"Aku mulai suka sama Arjun, sih. Cuma kalau Ibu enggak kasih izin aku sama Arjun, ya ...."
"Asal kamu jangan ngelewatin batas, jaga diri, kamu harus ingat kalau ibu tidak bisa mengawasimu sepanjang waktu. Jadi jangan rusak kepercayaan ibu," potong ibu.
"Jadi ... aku boleh sama Arjun, Bu?"
Ibu menarik nafas panjang, menarik ku mendekat, menatapku agak lama.
"Umur kamu sudah dua puluh satu tahun, jadi wajar saja kalau kamu sudah memikirkan hubungan yang lebih serius. Hanya saja ibu masih takut, jangan sampai kalian terhanyut dan melakukan hal yang dilarang," pesan ibu.
"Iya, Bu ... aku selalu ingat pesan Ibu," sahutku sedikit lega.
Entah kenapa, selama ini aku selalu bisa bercerita apa saja dengan ibu, kecuali masalah perasaan. Lagipula selama ini aku juga tidak terlalu tertarik untuk menjalin hubungan selain pertemanan dengan lawan jenis. Pikiranku telah terdoktrin untuk fokus pada pendidikan. Terlebih lagi semenjak ayah sudah tidak ada, tekad untuk menyelesaikan pendidikan tepat waktu agar tidak menyusahkan ibu, semakin besar.
"Terima ... uhuk ... kasih ... uhuk," ucap ibu sambil tersengal.
"Aku panggilkan dokter ya, Bu?" tanyaku khawatir melihat nafas ibu mulai tersengal.
__ADS_1
"Tidak usah, hanya tenggorokan kering saja," tepis ibu terlihat memaksakan diri untuk tersenyum.
Tanganku menjangkau gelas yang terletak di meja kecil samping ranjang dan menyodorkannya pada ibu.
"Terima kasih, Sayang," ucap ibu, lalu meminum dengan pelan air yang kusodorkan.
Kekhawatiran yang tadi sempat menguap, kembali merayap. Melihat kondisi ibu yang berubah tiba-tiba membuat ketakutanku kembali datang.
"Ibu istirahat saja," ujarku pada ibu.
"Kan masih belum beres ceritanya." Suara ibu sudah mulai terdengar normal kembali.
"Mata Ibu sudah terlihat lelah." Aku mengambil gelas yang ada di tangan ibu dan meletakkannya kembali pada tempat semula.
"Iya, sih. Efek obat yang diberikan dokter bikin ibu jadi mengantuk terus," sahut ibu membenarkan perkataanku.
"Ya sudah, Ibu tidurlah." Aku menarik selimut menutupi badan ibu. Memeluk ibu sekilas, lalu beranjak ke ranjang kosong di seberang ranjang ibu.
Tak menunggu waktu lama, ibu sudah terlelap. Suasana kamar terasa begitu senyap. Hanya suara dengkuran halus ibu, sesekali suara troli yang didorong dan detak sepatu perawat yang terdengar di lorong depan kamar.
Pikiranku teralihkan pada Arjun. Sedang apa cowok itu sekarang. Biasanya jika sedang bersama ibu, aku tak begitu memikirkannya. Berhubung kali ini aku tak bisa menghabiskan terlalu banyak waktu untuk bercerita dengan ibu, aku jadi kepikiran.
Teringat juga bahwa sedari pagi aku belum sempat memeriksa ponselku. Sambil menunggu ponsel menyala, aku kembali memperhatikan wajah ibu yang sedang tertidur. Pipinya yang dulu penuh dan kemerahan tampak tirus dan pucat. Kulitnya pun mulai terlihat mengendur. Wajah ibu jadi terlihat lebih tua dari usianya.
Jika saja boleh mengulang waktu kembali, aku rela mendengar omelan ibu sepanjang hari daripada harus melihat ibu terbaring tak berdaya seperti sekarang ini.
Kehadiran Arjun saat ini terasa bagai oase yang menenangkan di tengah kalutnya pikiranku, menuntun hati yang dari kemarin seperti mengembara entah kemana, kembali ke tempatnya. Segera kubuka pesan dari cowok berkulit putih itu dengan sedikit sensasi rasa aneh yang terasa menjalar di hati.
06.00 : [Bandung mendung, mataharinya pagi ini tidak terbit. Mungkin di Jakarta lebih terasa panas, sebab ada matahari baru yang mengunjunginya...]
Aku menutup mulutku agar tidak terbahak membaca pesan dari Arjun. Entah darimana cowok itu mendapatkan ide menuliskan pesan yang terasa norak, tapi di sisi lain membuatku merasa berharga baginya.
11.45 : [Wkwkwk, lo lagi kenapa Jun? Kesambet apaa? 🤣🤣] balasku masih tak mampu menahan tawa. Sejenak aku mampu menepikan rasa sedih yang dari kemarin menguasai.
Terlihat tanda Arjun langsung membuka pesan dan menuliskan balasan untukku.
Apa yang sedang dilakukan anak itu? Cepat sekali dia membalas pesan dariku.
11.45 : [Tumben online? Biasanya off] balasnya.
11.46 : [Nyokap lagi kurang sehat, sekarang lg tidur]
11.46 : [Sakit apaan?]
11.47 : [biasa, lg flu] balasku. Aku belum bisa menceritakan kondisi ibu saat ini pada Arjun. Mungkin nanti saja ketika bertemu.
__ADS_1
11.50 : [Semoga lekas sembuh, nyokap lo ya. Bilangin salam dari calon mantu, gitu😁😁]
Kecepatan jantungku berdetak mendadak meningkat. Memang dasar amatir dalam urusan hati, hanya dengan kalimat begitu saja aku mendadak grogi. Padahal orangnya sedang tidak ada di sini.
Bingung harus membalas apa. Aku juga tak ingin terkesan terlalu senang mendapat rayuan seperti itu.
Eh, itu termasuk rayuan atau bukan ya?
11.55 : [Gue udah kasih tau ke nyokap hubungan kita] akhirnya hanya kalimat itu yang mampu aku kirimkan setelah berkali-kali mengetik dan menghapusnya kembali.
11.55 : [Terus, nyokap bilang apa? Seneng dong ya dpt calon mantu ganteng?]
Ya Allah, ini anak kesambet apaan?
11.55 : [Sorry Run, itu barusan Riko. Ni anak emang dasar enggak ber-manner, ga ngerti privacy, main rebut hp orang aja]
Ha-ha benar kan? Bukan tipikal Arjun yang suka memuji diri sendiri. Walaupun rasa percaya dirinya sudah meningkat, tapi dia tidak akan se-Pd itu memuji diri sendiri.
56 : [Udah feeling gue, ga mungkin lo yang nulis kaya gitu]
11.56 : [haha, you know me well, lah ya.]
11.57 : [Lo emang lagi ngapain sama Riko?]
Biasanya Arjun menghabiskan akhir minggunya membuat cover lagu di YouTube. Suaranya patut diacungin jempol. Berhubung fobia keramaiannya masih belum sembuh total, jadilah bakat menyanyinya hanya ditampilkan off air.
Sudah beberapa kali para pencari bakat menawarkannya untuk dipromosikan bahkan tak jarang mengajaknya untuk rekaman. Tapi selalu ditolak olehnya. Karena dia pikir, jika sudah masuk ke dunia entertainment, mau tidak mau harus bertemu dengan orang banyak, dia belum siap.
11.58 : [lagi curhat dia, hahaha]
11.58 : [Eeh? Curhat apaan? Kok tumben ampe ke rumah segala?]
11.58 : [konsultasiin gebetannya. Wkwkw]
11.59 : [sejak kapan lo ngerti urusan begituan?]
11.59 : [nah itu dia, ni anak malah konsulnya sama orang yang ga pengalaman]
12.00 : [haha, ya sudah. Dilanjutlah. Gue mau shalat dl, udah azan. Lo jg jgn keasyikan dengerin Riko curhat, shalat dulu gih]
12.01 : [OK. Ntar klo lagi senggang, kabari ya. Gue pengen nelpon. Kangen]
Apakah memang begini orang yang sedang jatuh cinta, rasanya seperti ada ribuan kupu-kupu mengepakkan sayapnya di dalam perutku, menjalar ke seluruh tubuh.
12.01 : [OK, gue juga kangen] Hanya beberapa kata itu saja yang dapat aku ketikkan seiring dengan wajah yang juga ikut terasa memanas.
__ADS_1
Di balik duka, Tuhan mengirimkan Arjun untuk menghiburku. Membuatku mampu sedikit menepikan segala kekhawatiran yang kian lama terasa mencekikku. Atau sebaliknya? Dibalik rasa bahagiaku, Tuhan memberikan cobaan, agar aku tidak terlalu larut dalam kegembiraan. Agar aku selalu ingat dan bersimpuh memohon segala ridho-Nya.
Aku tak tahu apa yang Tuhan rencanakan untuk hidupku. Yang jelas, aku akan berusaha menjalaninya dengan segala kepasrahan. Aku hanya manusia yang harus tunduk dan menjalani segala skenario yang telah Dia siapkan untukku. Semoga di ujung sana, tak ada lagi duri yang menghalangi langkahku.