Kandas

Kandas
Hati yang tidak akan berpaling


__ADS_3

Rasanya seperti bencana, ketika melihat orang yang menyukaimu saling bersitatap. Kupikir tatapan tajam itu akan berubah perang dingin, nyatanya Kak Beni menyapa Arjun dengan ramah. Lalu kulihat Arjun berlalu keluar dari ruangan dengan ekspresi yang sulit kutebak.


"Bagaimana kondisimu?" tanya Kak Beni dengan raut khawatir, ketika telah duduk di kursi samping brankarku. "Kamu habis menangis?" tanyanya kembali tanpa menunggu jawaban dariku.


"Maaf, sudah menyusahkan kalian semua," ucapku datar, tanpa menghiraukan pertanyaannya.


"Ah! Kenapa kamu sekaku ini. Tidak ada yang ingin sakit, kenapa harus minta maaf. Lagipula aku tidak melakukan apa-apa," tepisnya dengan tatapan yang begitu lembut.


"Tapi Kakak sudah bela-belain datang jauh-jauh ...."


"Aku khawatir, karena tadi yang menerima teleponku cowok. Aku takut ada apa-apa denganmu. Aku tidak mengira kalau kamu sudah berbaikan kembali dengan Arjun." Dia memotong kalimatku dengan wajah tenang. "Apa kalian tadi bertengkar?" tanyanya kemudian.


"Tidak." Aku menggeleng.


"Lalu kenapa matamu sembab, dan wajah Arjun kulihat tadi sedikit menahan emosi."


Kulirik wajah pria yang berada di sampingku. Tatapannya yang biasa tajam, kali ini begitu lembut. Ratusan kilo dilaluinya hanya untuk memastikan aku baik-baik saja. Lalu ketika bertemu, perempuan yang akan ditemuinya malah sedang bersama laki-laki lain. Namun, dia masih terlihat tenang menghadapiku. Meski tadi aku sempat emosi dengan pertanyaannya tentang hubunganku dengan Arjun.


"Aku sedih karena harus dirawat beberapa hari. Sementara jadwal pendaftaran sidang ditutup lusa. Padahal aku sudah berusaha untuk mengejar jadwal sidang minggu depan," beberku lemah.


"Sudah, sekarang kamu pikirkan kondisi kesehatanmu. Jangan karena mengejar lulus, jadi mengabaikan kesehatan."


Aku menarik napas pelan. Memang benar apa yang dikatakannya. Selama mengerjakan skripsi, aku abai dengan kondisi tubuhku. Bahkan kadang sampai lupa makan. Lalu mengejar-ngejar dosen pembimbing yang menguras tenaga dan emosi, makin memperburuk kesehatanku.


"Run ... sebelum aku berharap lebih banyak, boleh aku tanya sesuatu? Aku tau ini bukan saat yang tepat . Aku hanya tidak mau membuang waktu untuk menunggu kepastian ...." Kak Beni mengusap pelan wajahnya yang terlihat lelah. "Apa kamu masih menyimpan harap sama mantanmu?" tanyanya pelan.


Aku terdiam. Setelah berpisah dengan Arjun, aku memang selalu berharap apa yang disampaikan maktuo tentang larangan adat kami, hanya gurauan belaka. Memang benar, harapan itu masih saja tersisa untuk kembali bersama Arjun.


"Aku sebenarnya bingung Kak. Tadi Arjun cerita, kalau ternyata dia bukan anak kandung orangtuanya. Berarti tidak ada larangan adat yang akan mengikat kami ...." Aku menjeda kalimatku. Menunggu reaksi dari pria yang tak berkedip menatapku.


"Kalau kamu memang masih ingin kembali padanya, lakukanlah," sahutnya pelan.


"Aku takut membuat Kakak kecewa." Aku berkata pelan.


"Justru kalau kamu memaksakan untuk menjalani hubungan denganku, sementara hatimu untuk yang lain, itu yang akan membuatku kecewa," ujarnya tanpa melepas tatapannya.


Ya Tuhan, kenapa aku harus membuat pria sebaik ini terluka. Aku tau ada luka di tatapan mata teduh itu. Hanya saja dia menyimpannya dengan baik.


"Untuk urusan hati, kamu tidak perlu memaksa, Run. Kalau memang bukan takdir kita untuk bersama, aku tidak bisa memaksa. Bukankah untuk menjalin hubungan itu harus saling merasa nyaman." Kembali dia bersuara.


Aku hanya mengangguk lemah, kehabisan kata-kata. Tidak menyangka reaksinya akan setenang ini. Kupikir dia akan memperlihatkan kekecewaannya, nyatanya dia menguncinya rapat. Meski begitu, aku masih mampu merasakan kegusaran dibalik sikap tenangnya itu


Aku menyadari satu hal, selama ini aku memang mengagumi Kak Beni, hanya sebatas rasa kagum, tidak lebih. Tidak ada perasaan takut kehilangannya, seperti yang kurasakan pada Arjun.


Arjun kembali ke kamar bersama mamanya, membuat percakapan kami harus berhenti. Kak Beni bangkit dari duduknya. Menyambut dua orang yang baru saja masuk itu.


Kak Beni meninggalkan ruangan begitu Arjun dan mamanya duduk. Mungkin rasa sungkan, atau masih merasa lelah karena menyetir dari Jakarta membuatnya memilih untuk pergi.

__ADS_1


Kunjungan mama Arjun seolah mengobati rasa terpurukku. Senyum keibuannya, membuatku merasa ibu ada bersamaku. Bahkan wanita paruh baya itu tidak segan menawarkan diri untuk menemaniku di rumah sakit.


***


Pagi-pagi, Arjun dan Kak Beni kembali datang bersamaan ke rumah sakit. Arjun seperti biasa, masih saja menatap sengit pada Kak Beni, sementara Kak Beni tampak santai menanggapi sikap Arjun.


"Nah, pengawalnya sudah pada datang. Tante pulang dulu ya?" kelakar mama Arjun seolah tidak mau mencampuri urusan anaknya.


"Ha-ha, saya cuma mau pamit, Tan," ujar pria bermata elang itu tergelak mendengar kelakar mama Arjun.


"Eh? Kok sudah mau pulang?"


"Takut nanti kalau siangan sudah mulai macet."


"Oh iya-ya. Ya sudah, Tante tinggal dulu. Hati-hati di jalan ya?"


Mereka bersalaman. Seperti biasa, Kak Beni selalu menyium punggung tangan setiap kali bersalaman dengan orang yang lebih tua.


"Anterin mama, yuk Jun." Seperti memahami bahwa Kak Beni butuh waktu untuk berbicara denganku, Tante Aliya—mama Arjun, menariknya keluar.


"Syukurlah kamu sudah terlihat lebih segar," ujarnya ketika hanya tinggal kami berdua. Seulas senyum tipis melengkung di bibirnya.


"Semalam aku tidur nyenyak. Sampai enggak sadar infusku sudah diganti. Tante Aliya sepertinya tidak tidur nungguin aku semalaman," sahutku dengan senyum terkembang.


Untuk pertama kalinya, aku merasa segar bangun pagi dalam beberapa bulan ini. Mungkin efek obat yang diberikan membuatku bisa beristirahat dengan baik.


"Kak, nanti jangan bilang sama Wina atau ibu kalau aku sakit, ya. Aku tidak mau membuat ibu khawatir," pintaku penuh harap.


"Iya, tenang saja. Aku akan tutup mulut."


"Terima kasih, Kak."


"Aku pamit, ya. Sukses buat sidangmu nanti. Sekedar bertukar kabar masih boleh kan, ya?" tanyanya dengan senyum tipis.


"Ha-ha, tentu Kak."


"Ya, sudah. Aku berangkat dulu." Tangannya yang besar menepuk pelan bahuku.


"Terima kasih, sudah bela-belain ke sini, Kak."


"Bilang sama Arjun, dia tidak perlu khawatir gadisnya akan berpaling. Hatinya sudah tidak bisa dimiliki oleh yang lain," pesannya sebelum berbalik meninggalkanku.


Aku tak membalas perkataannya. Lidahku kelu. Terkadang, orang lain lebih bisa memahami apa yang kurasa, dibanding diriku sendiri.


Satu perasaan yang belakangan mengganjal seolah lepas seiring kepergian Kak Beni. Rasa kagum yang salah kutafsirkan terhadap pria itu yang telah membuatku bimbang, terjawab sudah. Kupikir perasaan itu sama dengan rasa yang kurasakan terhadap Arjun. Nyatanya hanya perasaan sesaat.


Arjun kembali ke ruangan selang beberapa menit setelah Kak Beni pergi. Wajahnya terlihat gusar. Lingkaran hitam di bawah matanya menandakan dia tidak tidur semalaman.

__ADS_1


"Mamamu sudah pulang?" sapaku ketika dia mendekat.


"Sudah ...." Dia mendengus pelan duduk di brankar kosong seberang.


"Lo kenapa?" tanyaku pura-pura tak memahami apa yang dia rasakan. Aku tau, dia masih kesal dengan kedatangan Kak Beni ke Bandung disaat dia berharap hubungan kami bisa kembali diperbaiki.


"Ah! Tidak apa-apa," tepisnya masih dengan wajah muram.


"Jun, goody bag gue, Lo letakkan dimana?" Aku mencoba mengalihkan pembicaraan. Bagaimana pun, saat ini aku masih ingin fokus menyelesaikan sidang skripsiku. Baru kemudian mengurus soal perasaan.


"Sudah ada di rumah. Besok Insya Allah gue ke jurusan ngurusin pendaftaran sidang. Lo tidak usah khawatir." Suaranya terdengar dingin.


Tingkahnya yang sedang cemburu membuatku gemas. Tiba-tiba saja terlintas ide jahil dalam otakku.


"Jun, sini."


Dia turun dari brankar kosong tempat dia duduk, pindah ke kursi di sampingku.


"Tadi Kak Beni pesan, Lo tidak usah khawatir gadis yang Lo sayang akan berpaling padanya. Gadis itu masih menyayangimu," bisikku.


Matanya melebar. Menatapku dengan tatapan tak percaya.


"Boleh di ulang?"


"Bayar!" sahutku dengan wajah cemberut.


"Berapapun gue bayar untuk mendengarkannya kembali." Rona bahagia jelas tergambar di wajahnya. "Run, please be my future. Gue akan berusaha menjadi laki-laki yang layak untuk Lo. Mungkin untuk saat ini gue belum bisa memenuhi kriteria itu, tapi gue akan berusaha sekuat tenaga untuk membahagiakan Lo." Matanya berkaca-kaca ketika mengatakan kalimat itu.


"Keberadaan Lo sudah membuat gue cukup bahagia, Jun. Selama beberapa bulan ini gue ngerasa kehilangan. Nyatanya bukan hanya Lo yang butuh gue, malah sebaiknya, gue yang butuh Lo," sahutku mantap.


"Gue pikir, masa depan gue akan kandas begitu saja tanpa Lo."


"Lebay Lo ah!" kekehku melihat ekspresinya.


Meski banyak hal yang membuatku hampir merasakan kehilangan harapan akan masa depan. Ternyata Tuhan masih menyisakan setitik asa untukku. Sama seperti Arjun katakan, aku pun sempat patah semangat ketika beberapa impianku hampir kandas saat menghadapi cobaan yang Dia berikan.


Aku tau, perjalananku masih panjang. Masih banyak yang harus kami lalui bersama. Setidaknya saat ini aku masih mempunyai orang-orang yang mencintaiku. Mereka yang menguatkan aku untuk terus percaya akan rencana baik Tuhan. Meski beberapa kali aku hampir meragukannya. Nyatanya kali ini Tuhan hanya ingin melihat, seberapa kuat aku mampu melewati cobaan yang dia berikan.


Percayalah, jika semua rencana yang telah kamu susun sedemikian rupa kandas begitu saja. Tuhan sedang mempersiapkan rencana lain yang lebih baik untukmu. Kamu hanya perlu memggantungkan keyakinanmu pada-Nya. Tidak peduli seberapa terpuruknya dirimu.


***


Hai All,


Terima kasih sudah mendukung saya sampai saat ini ya. Buat rekan-rekan author lainnya. Terima kasih banyak.


Buat teman-teman yang menyukai tulisan saya, yuk mampir ke ig saya @ayanawawi disana ada link tulisan saya yang lain yang juga sudah tamat. Link nya bisa di lihat di bio.

__ADS_1


__ADS_2