Kandas

Kandas
Alasan yang tak bermakna


__ADS_3

Segalanya membuatku merasa hancur, di kost seorang diri dan menangis setiap saat karena sakit yang masih terasa hingga saat ini. Aku tidak bisa menyibukkan diri ku sendiri dikarenakan libur perkuliahan telah tiba. Karena hal itu, sebelum aku balik ke kampung, aku ingin bertemu sekali lagi dengan Dika. Aku kembali menginap di rumah temanku, dan menunggu jam sepuluh malam dan syukurnya aku bisa bertemu dengannya.


Sebelumnya aku datang dengan tekad yang begitu bodoh, karena aku merasa mempermalukan diriku sendiri. Aku yang masih terobsesi dengan kehadiran Dika dalam hidupku, membuat aku seperti merendahkan diriku akan dirinya. Aku berharap Dika mengetahui bahwa aku sungguh-sungguh dengannya. Aku yang melakukan segala cara untuk membuat dia kembali padaku ternyata hanya omongan belaka.


Aku datang dengan alasan bahwa aku ingin merayakan ulang tahunnya, karena saat ulang tahunnya tiba mungkin aku sudah berada di kampung saat itu. Aku bertekad datang dengan harapan akan melupakan segala yang terjadi. Karena bagi ku ini adalah hari dimana aku bisa bersamanya, aku memberanikan diriku melangkah ke tempat dimana semua seperti neraka bagiku. Aku melangkah dengan berharap tidak bertemu dengan perempuan itu lagi. Tapi sesampainya aku disana, aku melihat Dika dan perempuan itu sedang bercanda tawa bahagia, seperti tidak terjadi apa-apa.


“Dika” kataku


Dengan cepat Dika dan perempuan itu melihatku yang sudah berada di hadapan mereka. Seketika itu, perempuan itu langsung menunjukkan wajah tidak suka akan kehadiranku. Aku tidak peduli akan hal itu dan mendekati Dika saat itu. Sedangkan Dika yang melihatku hanya terdiam tanpa mengatakan apa-apa sambil memperhatikan perempuan itu yang pergi dari hadapannya.


“Boleh kita bicara ?” kataku


Dika membuka pintunya dan akhirnya kamipun masuk. Setelah kami masuk, Dika langsung duduk tanpa mengatakan apa-apa.


“Apa yang akan kamu lakukan sekarang ?” tanya ku


Dika masih saja diam tanpa mengatakan apa-apa


“Aku akhirnya tahu bahwa semuanya hanya bohong belaka, kamu menginginkan dia ada untukmu atau aku ?” tanya ku kembali


“Apa yang ingin kamu sampaikan?” kata Dika

__ADS_1


“Aku tidak tahu, aku hanya tidak bisa terima dengan cara yang kalian lakukan padaku ?” kata ku dengan menundukkan kepala


“Aku hanya merasa nyaman dengannya” kata Dika


“Sejak kapan, sejak kapan kalian melakukan hal ini dibelakang ku ?” kataku


“Sejak aku sudah bekerja sebulan di hotel” kata Dika


“Ah saat kamu selalu mengatakan kamu lelah bekerja, apa kamu bersamanya ?” kataku


“Iya” jawab Dika dengan singkat


“Kenapa?” kataku


“Apa yang diberikan padamu sampai kamu merasa nyaman padanya?” kataku


“Dia memperhatikan aku dan mendengarkan segala keresahanku” kata Dika


“Lalu bagaimana dengan aku yang selama ini berada di dekatmu” kata ku


“Kamu kan sibuk kuliah, apa kamu ada waktu bersama ku ha ?” kata Dika

__ADS_1


“Jadi selama ini, yang selalu meluangkan waktu bersamamu siapa Dika?” tanyaku


“Udah deh, kalau kamu mau hanya membahas ini samaku” kata Dika


Aku yang mendengar alasan Dika hanya bisa terdiam, bagaimana dia bisa mengatakan hal ini padaku. Apakah dia tidak tahu bahwa aku yang paling terluka disini, aku yang menahan sakit disini, tapi kenapa serasa semuanya menyalahkan diriku. Aku menarik nafas panjang dan menghembuskan dengan perlahan. Ku pikir setelah aku datang dengan hati yang tenang, Dika akan memahami apa yang aku inginkan. Tapi kenyataannya tidak, bahkan aku selalu salah di hadapan Dika.


“Lalu sekarang bagaimana ?” kata ku


“Kalau kamu mau melanjutkan hubungan ini, mari kita perbaiki diri masing-masing, kurangi sikap egoismu itu” kata Dika


“Ha, egois ?” kataku


“Itu adalah pilihan yang aku kasih, sekarang itu kamu yang putuskan bagaimana selanjutnya” kata Dika yang langsung berdiri


Aku yang melihat sikap Dika membuat aku semakin tidak tahu harus berbuat apa-apa. Aku terdiam begitu lama, sampai aku lupa waktu


“Kamu tidak pulang, ini sudah malam” kata Dika


Aku tidak bisa mengatakan apa-apa, aku berdiri saat itu juga dan beranjak pergi dari tempat itu


“Sini aku antar” kata Dika yang langsung menyalakan motornya

__ADS_1


Aku hanya menuruti apa yang Dika katakana, walau sebenarnya aku ingin marah dengan sikap Dika kepadaku. Sikap yang ternyata tidak pernah berubah, sikap yang memaksaku harus selalu mengalah dan sikap yang tidak pernah mengatakan kata maaf dari bibirnya untukku. Kesalahan yang dia lakukan, dianggap hanyalah sebuah kesalahan biasa yang tidak akan pernah meninggalkan luka.


Tanpa dia berpikir apakah lawan bicara atau pasangannya akan terluka atau tidak. Dia kembali menghancurkan harapanku untuknya. Walau begitu, aku masih berharap akan dirinya untuk kembali padaku. Aku mengemis kepada hubungan yang benar-benar membuatku terluka.


__ADS_2