Kandas

Kandas
Pembekalan KKN


__ADS_3

Hari ini adalah jadwal pembekalan KKN yang akan diadakan di aula Kampus. Seperti pagi-pagi sebelumnya, aku mendapati mama yang telah kembali berkutat dengan peralatan dapur. Aroma masakan yang menguar membuat suasana rumah terasa hidup. Wajah mama sudah mulai kembali terlihat normal, tidak sekacau tempo hari saat dia mengabarkan berita rencana perceraian mereka.


"Pagi, Mam!" Aku menyapa perempuan anggun yang pagi ini menggunakan baju terusan berwarna merah muda. Rambutnya digelung rapi diatas tengkuk, memperlihatkan leher jenjangnya. "Masak apa pagi ini?" kulirik penggorengan yang tersembunyi di balik tubuh mama.


"Hari ini mama masak nasi tutug oncom," ujarnya memamerkan nasi dalam penggorengan.


Nasi tutug oncom adalah nasi yang dicampur dengan oncom (sejenis penganan yang mirip dengan tempe) yang di goreng. Merupakan masakan khas Sunda.


"Mama memang yang terbaik!" pujiku, mengambil piring dari lemari kabinet, berniat membantunya untuk menyendok nasi tutug yang aromanya menggugah selera.


"Eh! Sabar, dong. Belum beres ini," sergah mama menahan tanganku yang membuka pintu kabinet tempat penyimpanan piring.


"Ha-ha, lapar Mam. Wanginya menggoda." Aku memasang wajah memelas.


"Sudah, kamu tunggu saja." Mama mengibaskan tangannya, menyuruhku menyingkir dari area dapur.


Dengan patuh, aku menurut. Duduk memperhatikan mama yang tampak seolah tak memikirkan masalahnya. Aku rindu masa di rumah masih ada papa. Mereka tak hentinya bercanda, menghidupkan suasana pagi. Biasanya aku dan papa menjadi penonton dan pendengar setia mama ketika mama asik berceloteh ditengah kegiatan memasaknya.


Kali ini suasana rumah benar-benar terasa mati. Tak ada celoteh dan senandung riang mama, tak ada derai suara bass papa yang tertawa lepas ketika bercanda. Begitu cepat waktu memutar balikkan semua. Sekarang yang kurasa hanya kehampaan.


Aku masih tak habis pikir, perempuan seperti apa yang mampu memalingkan hati papa dari perempuan sehebat mama. Di mataku, mama tak ada cacatnya. Perempuan mandiri, kuat, cantik, cerdas, pintar merawat diri, penyayang, masih adakah yang kurang?


"Mam, apa tidak ada jalan lain selain berpisah?" tanyaku, sontak membuat mama yang tengah menyendokkan nasi ke dalam piring menghentikan gerakannya.


"Mama mohon maaf, Jun. Mama sudah berusaha semampu mama untuk mempertahankan pernikahan kami, tapi sepertinya usaha mama sudah terlambat. Hati papa terlanjur direbut perempuan itu," sahutnya, masih dengan senyum. Walaupun senyum kegetiran.


"Aku masih belum bisa mengerti alasan papa untuk berpaling dari Mama." Akhirnya kuungkapkan apa yang terasa mengganjal di hati.

__ADS_1


"Nanti Mama cerita, ya. Saat ini beri mama sedikit waktu untuk mengobati luka." Kembali senyum sendu itu menghiasi wajah cantiknya yang teduh.


"Iya, Mama jangan sedih lama-lama." Aku membalas lemah senyumannya.


"Hu-um. Paling tidak saat ini yang membahagiakan mama, masih ada kamu. Nah, sekarang mari kita makan." Mama duduk berseberangan denganku.


Dua piring nasi tutug oncom lengkap dengan lauknya, beserta teh aroma melati, tersaji. Aku mencoba menikmati momen ini, setidaknya saat ini aku masih mempunyai mama. Walaupun keadaan keluargaku sudah tak utuh lagi. Aku harus mensyukuri yang kupunya sekarang, bukan meratapi apa yang telah hilang.


Kami makan dalam diam. Tak ada yang berkata-kata. Pikiranku kembali melayang pada Runa. Hari ini aku harus menguatkan hati kembali. Membujuk agar perasaanku padanya tak semakin dalam. Sejujurnya aku merasa tersiksa, menyimpan rasa ini dalam diam. Namun aku tak memiliki tempat berbagi. Selama ini, aku hanya mempunyai Runa dan mama sebagai tempat mengadukan kesedihanku.


Untuk saat ini, aku tak mau menambah berat beban mama dengan menceritakan masalahku. Aku harus belajar untuk menjadi laki-laki, pantang berkeluh kesah hanya karena urusan hati. Kutatap wajah mama yang mulai terlihat termakan usia. Begitu cepat perubahan yang terjadi di wajah itu. Aku yakin karena beliau mencoba untuk memikirkan sendiri untuk menyelesaikan masalahnya. Walaupun pada akhirnya dia harus menyerah pada kata takdir.


"Mam, aku berangkat dulu," pamitku setelah sepiring nasi tutug oncom sukses berpindah ke perut dalam hitungan menit.


"Take care, Hon." Seperti biasa, mama mengacak pelan rambutku, masih dengan senyum tak lepas dari bibirnya. Wanita hebatku, tetaplah tersenyum, walau luka mengoyak kebahagianmu.


Suasana aula kampus sudah mulai disesaki oleh mahasiswa yang akan melaksanakan KKN periode ini. Tak ayal, fobia keramaianku kembali menyapa. Keringat dingin dan tumpang tindih suara yang mendengung dari kumpulan beberapa mahasiswa, seketika membuatku mual.


"Jun, take a breath ...." Suara Runa yang tenang seolah menarikku kembali. "Lo, bawa obat enggak?" tanyanya setelah menarikku agak menjauh dari keramaian.


"Bawa." Gemetar, kukeluarkan kotak kecil yang tak pernah absen menghuni satu pojok di tasku.


Aku mulai merasa sedikit tenang ketika efek fluoxetine pada antidepressant-ku mulai bekerja. Ah! Selalu saja begini. Dan Lagi-lagi Runa menjadi penyelamatku. Entah bagaimana nanti aku bisa mengatasi fobiaku tanpa Runa.


Runa duduk bersila disampingku. Gurat kekhawatiran jelas tergambar pada wajah orientalnya. Tak ada senyuman. Dia hanya menunduk dan sesekali melirikku.


"Sudah enakan?" tanyanya ketika melihatku mulai merasa tenang.

__ADS_1


"Sudah."


"Masuk, yuk! Sudah mau mulai."


Menarik napas panjang. Aku berusaha melenyapkan rasa gugupku. Berjalan masuk ke aula.


Acara pembekalan KKN berlangsung singkat. Kami diinstruksikan untuk berkumpul bersama kelompok kerja masing-masing. Kelompok Runa berkumpul kebagian tengah aula. Sementara, kelompokku mengambil tempat di bagian pojok.


Pada saat berkumpul, barulah aku menyadari, ternyata Leona juga mengikuti KKN di jadwal dan penempatan yang sama denganku. Untuk saat ini aku bersyukur, ditempatkan bersama seseorang yang aku kenal, sehingga aku tak perlu berusaha keras menyesuaikan diri dengan anggota kelompok yang lain.


Anggota kelompokku terdiri dari sepuluh orang. Aku, dari Fakultas Ekonomi. Leona dan Inggrid, dari Fakultas Ilmu Komunikasi, lalu ada tujuh orang lagi dari fakultas yang berbeda. Aku belum mengingatnya dengan baik.


"Jun, kemarin aku sudah memasukkan nomormu ke grup KKN, coba cek deh. Sepertinya kamu enggak ngeh," ujar Leona ketika dosen pembimbing lapangan kami menanyakan kesiapan untuk survey lokasi.


"Oh, sebentar aku cek."


Aku baru menyadari kalau sudah ada grup baru di daftar grup whatsapp-ku. Dua hari ini aku memang tak terlalu memperhatikan pesan yang masuk di aplikasi chatting itu.


"Iya, sudah ada, nih," ujarku memberitahukan Leona.


"Nah, sekarang semua anggota sudah saling kenal dan sudah tergabung ke dalam grup. Hari ini kita langsung meninjau ke lokasi, ya?" Bu Indri, selaku dosen pembimbing lapangan memberikan instruksi. "Yang bawa mobil siapa saja? Kalau cukup, kita tidak perlu cari mobil lagi."


Aku dan dua orang mahasiswa lainnya mengangkat tangan.


"Baik, sepertinya cukup, ya. Kita berangkat sekarang. Kalian tinggal pilih berangkat dengan siapa, tinggal dikomunikasikan di grup nanti," tutup Bu Indri mengajak kami keluar dari aula.


Tujuan kami adalah kesebuah daerah di Kabupaten Bandung yang terkenal sebagai tempat pengrajin sepatu. Leona ikut bersama di mobilku, bersama Inggrid. Beruntung Leona tipe yang gampang mencari topik pembicaraan—ciri khas rata-rata anak Fikom, sehingga perjalanan menuju daerah tempat KKN kami tidak terlalu kaku.

__ADS_1


Aku melirik kursi penumpang tempat Leona duduk, ini kali pertama ada cewek lain selain mama dan Runa yang duduk di sana, tapi yang lebih sering Runa yang berada di sana. Bayangannya terpatri begitu kuat di tempat itu. Ah! Run, entah berapa lama aku akan membutuhkan waktu untuk merelakan bahwa kita tak lagi bisa bersama.


__ADS_2