Kandas

Kandas
Rindu


__ADS_3

Jam sudah menunjukkan pukul delapan malam ketika Runa menyuruhku pulang. Sebenarnya masih ingin tinggal lebih lama. Tapi gadis itu tidak ingin menjadi bahan gunjingan tetangga jika membiarkanku terlalu lama di rumahnya, apalagi sampai malam hari.


Runa memang gadis unik, zaman sekarang jarang sekali aku bertemu gadis yang mampu menjaga kepercayaan yang diberikan oleh orangtuanya. Kebanyakan, mereka suka memanfaatkan kesempatan untuk berlaku bebas ketika tidak ada orangtua yang mengawasi. Tak jarang juga mereka memanfaatkan kesempatan untuk berdua-duaan ketika kondisi rumah sedang sepi. Sifat Runa yang mampu menjaga diri seperti itulah yang membuatku makin tak mampu mengalihkan hatiku darinya.


"Sampai besok ya," pamitku seraya mengacak rambut tebalnya.


"He-he, iya ... Hati-hati," sahutnya sambil merapikan kembali rambutnya yang jadi berantakan karena kuacak.


Jalanan Sadang Serang masih ramai ketika aku meninggalkan rumah Runa. Memasuki jalan Tubagus Ismail, sesekali aku berpapasan dengan angkot yang menaikkan atau menurunkan penumpang di pinggir jalan. Beberapa lapak penjual makanan kaki lima yang mendirikan tenda di pinggir jalan juga tampak ramai pembeli. Jalanan ini memang selalu ramai walaupun telah malam. Kebanyakan yang membuat ramai adalah mahasiswa yang mencari makan malam di sekitar kostan-nya yang terletak di sekitaran jalan Tubagus Ismail.


Daerah sini memang banyak terdapat rumah-rumah yang menyewakan kamar kost untuk mahasiswa, karena lokasinya berdekatan dengan beberapa perguruan tinggi yang ada di kota Bandung.


Aku melambatkan laju mobil ketika akan berbelok memasuki komplek perumahanku. Seketika sepi menyergap, berbanding terbalik dengan keadaan di jalanan utama yang masih ramai.


Seperti biasa, pak Karsa menyambutku saat membukakan pintu gerbang.


"Selamat malam, Den. Tumben dua hari ini pulang malam terus," sapa pak Karsa.


"Malam, Pak. Ada tugas kuliah yang harus dibereskan pak," sahutku berbohong.


Rumah benar-benar sepi ketika aku melangkah masuk. Saat kondisi seperti ini, aku benar-benar kangen masa ketika mama dan papa masih mempunyai banyak waktu berada di rumah. Rumah lebih terasa hidup walaupun hanya ada kami bertiga.


Ketika aku mulai memasuki masa akhir SMA, papa mulai sibuk mengurus bisnis propertinya. Sering bepergian keluar kota untuk membangun beberapa perumahan di berbagai kota yang dianggap potensial. Sedangkan mama, mulai serius menekuni bisnis butik pakaian batiknya, tak jarang juga mama sering keluar kota untuk mencari pengrajin batik yang dianggapnya memjual motif batik yang tidak pasaran.


Memang mama dan papa masih terus menjaga komunikasi denganku ketika sedang bepergian, tapi kehadiran mereka sebenarnya masih kubutuhkan.


Setelah mengambil beberapa cemilan di dapur, aku beranjak naik ke lantai atas menuju kamar. Hanya ada suara decitan sol sendal kamarku yang menjejak lantai granit terdengar membelah kesunyian rumah.

__ADS_1


Baru saja menghenyakkan tubuhku di kasur, ponselku berdering, foto mama muncul di layar. Memang kontak batin anak ke ibu itu kuat ya, baru saja aku teringat akan mama, beliau langsung menelponku.


"Halo, Ma. Udah nyampe di Solo, ya?" sapaku.


"Hai sayang, udah dari tadi sore. Maaf mama baru bisa kabari. Kamu udah makan?" sahut mama di seberang sambungan.


"Sudah, tadi makan malam di tempat Runa." Mendadak aku menepuk keningku, kenapa harus keceplosan ngomong sama mama.


"Wah, ada yang habis kencan, nih," goda mama.


Tuh kan langsung jadi bahan ledekan mama. Aku masih agak sungkan membicarakan masalah hati dengan mama.


"Enggak juga sih, Ma. Tadi aku bantuin Runa bikin blog untuk promosi kue-kuenya. Karena keasyikan jadi lupa waktu," ujarku membela diri.


"Ooh ... Tapi kalian harus tau batas ya, jangan macem-macem. Mama sama ibunya Runa memang enggak lihat kalian ngapain aja, tapi Allah pasti lihat, ingat itu ya, Nak," nasihat mama.


"Ha-ha, mama cuma mengingatkan aja. Mama percaya kalian bisa jaga diri kok. Besok kuliah jam berapa?"


"Makasih Ma. Besok kuliah jam sembilan."


"Ya udah, kamu istirahat. Jangan begadang lagi. Nanti cepat tua, anak mama jadi enggak ganteng lagi," kekeh mama.


"Ha-ha, iya Ma." Mama memang selalu menganggapku anak laki-lakinya yang paling ganteng dari zaman wajahku masih cupu pun, mama masih menganggapku ganteng. Memang rata-rata seorang ibu selalu begitu bukan.


Begitu mama menutup sambungan telpon, ponselku kembali berdering. Wajah papa muncul di layar mungil itu. Mestinya aku bahagia, kedua orangtuaku masih bisa merasakan kerinduanku pada mereka, walaupun terpisah jarak ratusan kilometer.


"Halo, Pa," jawabku penuh semangat. Hampir dua minggu papa tidak menelponku. Beberapa kali kukirim pesan singkat, hanya dibalas ala kadar olehnya.

__ADS_1


"Hi my lil Bro ...." sahut papa.


Papa memang senang memanggilku dengan sebutan 'lil bro' karena baginya aku bukan hanya sekedar anak yang harus manut pada orangtua, tapi seorang anak laki-laki yang juga bisa menjadi partner bagi orangtuanya. Sebenarnya aku merasa, papa hanya tak ingin merasa tambah tua karena anaknya sudah tumbuh jadi laki-laki dewasa dengan tinggi tubuh yang sudah melebihi tingginya, ha-ha.


"Hi, Pa. Kapan Papa pulang?"


"Uhm, belum tau kapan pastinya. Masih ada sedikit masalah sama kontraktor. Ada kabar yang terlerwat enggak selama dua minggu ini?" tanyanya dengan nada penasaran.


"Banyak, tapi nanti aku cerita kalau Papa udah di rumah aja," sahutku dengan nada setengah menggoda papa.


"Wah! Tampaknya papa harus cepat pulang kalau begitu, ya," kekehnya mendengar jawabanku.


"Harus. Rumah sepi kalau enggak ada Papa."


"Pastinya, ha-ha," gelak papa mendengar jawabanku.


Papa menyudahi percakapan setelah berjanji akan pulang minggu depan. Kembali sepi menguasai ketika sambungan telpon dari papa berakhir.


Dua minggu tanpa komunikasi dengan papa terasa ada jarak yang tercipta. Ruang kosong dalam hati akan kehadiran sosok papa masih saja menggaungkan gema rindu.


Wajah Runa tiba-tiba merangsek masuk ke pikiranku. Kembali teringat percakapan dengannya tadi siang tentang kerinduan terhadap sosok ayahnya. Wajahnya terlihat sedih ketika ia mengatakan bahwa ia hanya bisa menyampaikan lewat doa jika rindu pada ayahnya.


Aku tak mampu membayangkan bagaimana cara gadis itu bertahan melewati hari-hari sepeninggal ayahnya. Selama ini dia tampak selalu tegar dan ceria, jarang ada keluhan yang keluar dari bibirnya mengenali kerinduan terhadap sosok ayahnya.


Jarang sekali dia memperlihatkan wajah sedih, aku bisa mengingatnya dengan mudah berapa kali dia terlihat sedih. Runa yang ku kenal selama ini selalu ceria. Setelah aku ingat-ingat kembali, selama kami bersahabat, Runa memang jarang sekali membicarakan perihal perasaannya. Selama ini, aku yang sering berkeluh kesah padanya. Dia selalu menjadi pendengar yang baik.


Aku sadar, mungkin dengan kesibukan kedua orangtuaku saat ini aku jadi lebih bisa merasakan apa yang dirasakan Runa. Bertahan menjalani hari tanpa figur seorang ayah dan terpaksa harus pisah kota dengan ibunya.

__ADS_1


Aruna sang mentari pagi, dirimu benar-benar memberikan cahaya pada hidupku. Tak hanya caramu memperlakukanku selama ini, tapi ketangguhanmu menjalani hidup tanpa keluh kesah benar-benar menjadi pelita bagiku. Tetaplah bersinar dalam hatiku, menerangi hidupku yang dulu sempat terasa gelap.


__ADS_2