Kandas

Kandas
Mengumpulkan Harapan


__ADS_3

Bau obat-obatan bercampur bau disinfektan menguar menusuk indera penciuman ketika kakiku memasuki bangunan rumah sakit. Aku tidak pernah menyukai bau rumah sakit, walaupun di dalam bangunan ini terdapat banyak harapan yang tercipta, tetapi tak sedikit di antara harapan itu kandas begitu saja. Tempat ini bagiku adalah sebuah bangunan tempat dimana harapan terbentuk dan di sisi lain juga terpuruk.


Aku tak begitu memperhatikan kemana maktuo menuntunku berjalan. Lorong rumah sakit tampak sama saja di mataku, suram. Setelah menaiki beberapa anak tangga, maktuo berhenti di depan sebuah pintu bercat putih dengan angka yang ditempelkan di sana.


Maktuo tertegun agak lama. Lalu berkata, "Semoga kamu bisa kuat menerima ini ya, Nak." Tangannya mengelus punggungku.


"Iya Maktuo," sahutku tercekat, kembali mengumpulkan sisa-sisa kekuatan yang tadi sempat hancur.


Sekuat apapun seseorang, pasti tetap merasa hancur ketika harus menerima kenyataan bahwa orang yang dia sayang divonis penyakit mematikan. Seberapapun besarnya harapan akan peluang kesembuhannya, tetap saja ada keputusasaan yang membayangi.


Maktuo membuka pintu di hadapan kami. Aku mencoba berdamai dengan hawa rumah sakit yang terasa makin menyesakkan. Berharap mendapat kekuatan dari semua asa yang mengambang di udara tempat ini.


Jejeran tiga ranjang rumah sakit menyambutku ketika memasuki ruangan di balik pintu. Dua ranjang yang di dekat pintu dan bagian tengah ruangan, terlihat kosong. Bagian paling ujung tertutup oleh gorden.


"Assalamualaikum, Len," sapa maktuo ketika sampai di ujung ruangan yang tertutup gorden.


"Waalaikum salam." terdengar suara lembut ibu menyahut dari balik gorden.


Aku melangkah takut-takut dari belakang tubuh maktuo.


"Runa," panggil ibu pelan ketika melihatku berjalan di balik badan maktuo.


Perlahan kuangkat wajah yang sedari tadi menunduk, menatap sosok yang tergolek di ranjang. Wajahnya yang biasa terlihat segar dan penuh semangat, tampak begitu pucat. Matanya yang biasa selalu berbinar setiap kali menatapku, tampak redup dengan lingkaran gelap di sekelilingnya. Bibirnya yang penuh, terlihat kering seperti daun di musim kemarau.


Sebuah selang terpasang melintang di bawah hidungnya. Begitupun pada punggung tangannya, sebuah selang yang ditancapkan dengan jarum terhubung pada kantong berisi cairan bening yang digantungkan pada sisi ranjang. Cahaya yang dulu memancar hangat dari wajah itu seolah redup.


Hatiku benar-benar hancur melihat perubahan fisik ibu. Sekuat tenaga kutahan cairan hangat yang mulai menggantung.


"Ibu," sapaku dengan senyum yang kupaksakan, berjalan mendekati ranjang.


"Tadi macet, ya?" tanya ibu menarikku ke dalam rangkulannya.


Ya Tuhan, betapa aku merindui pelukan ini, tapi bukan dengan keadaan seperti ini. Badan ibu terasa dingin. Aku menggigit bibirku untuk menahan cairan bening yang mulai memaksa untuk keluar dari netraku. Menahan sesak yang mulai menekan.


"Iya .... " sahutku singkat, mengeratkan pelukanku pada tubuh ibu.


"Maafkan ibu, kemarin tidak jujur pada Runa," ujar ibu. Ada nada bersalah yang kutangkap dari suaranya.


Aku hanya menyahut dengan anggukan karena sudah tidak sanggup menahan sesak yang makin lama makin terasa membuncah. Kuhirup perlahan aroma tubuh ibu yang telah dipenuhi aroma obat-obatan. Tak ada lagi aroma vanilla yang biasa tercium dari tubuhnya. Tonjolan tulang bahunya terasa begitu menyakitkan, saat menyentuh kulit lenganku.


Hanya dalam waktu tiga bulan, perubahan ibu begitu drastis. Andai saja aku bukan anaknya, mungkin aku tak akan mengenali sosok perempuan yang kini sedang kupeluk.


"Tidak usah sedih begitu, ibu akan sembuh," hibur ibu mendorong pelan tubuhku dari pelukannya.


Menangkupkan kedua tangannya yang terlihat seperti ranting pohon kering. Menatap mataku seolah meyakinkan bahwa beliau masih menjaga api harapan dalam dadanya. Kutatap lekat mata ibu, walaupun tak secerah dulu, tapi tak terlihat adanya keputusasaan disana.


"Iya. Aku percaya Ibu kuat," sahutku seolah menyemangati diri sendiri.


***


"Nah, sekarang kamu istirahat dulu, besok ke sini lagi," perintah ibu, setelah sedikit melepas rindu.

__ADS_1


"Aku mau di sini saja menemani ibu," pintaku.


"Tidak usah, biar maktuo saja yang menemani," sergah maktuo.


"Tapi aku mau bersama ibu malam ini," sahutku memelas.


"Kamu belum paham kondisi rumah sakit ini, kalau ada apa-apa nanti bingung mau nanya kemana," tegas maktuo.


Aku seperti tidak diberi pilihan lain lagi. Jika maktuo sudah berkata dengan nada tegas seperti itu, sudah tidak ada lagi yang bisa membantahnya.


Seorang perawat tiba-tiba datang menyibakkan gorden, mengingatkan bahwa jam besuk telah habis. Mau tidak mau aku harus segera meninggalkan ruangan tempat ibu dirawat. Aku kembali memeluk ibu, rasanya berat untuk meninggalkan ibu walaupun hanya sampai besok pagi.


"Terima kasih, Maktuo ... Sudah merawat ibu selama ini," ucapku ketika kami berjalan menyusuri lorong rumah sakit.


"Seperti dengan orang lain saja kamu. Ibumu itu adik maktuo. Kalau maktuo dalam posisinya, ibumu juga pasti akan melakukan hal yang sama," sahut maktuo dengan nafas yang sedikit tersengal ketika menuruni tangga.


Aku sudah tak mampu lagi meredam segala sesak yang sedari tadi kutahan. Mataku mengabur, seketika meluruhkan semua sesak itu bersama airmata.


"Sabar ya, Nak," hibur maktuo mengusap lembut punggungku tatkala melihatku menangis.


"Aku takut, Maktuo," isakku.


Aku benar-benar takut, jika ibu tak mampu melawan penyakitnya. Baru tiga bulan saja ibu drop karena penyakit itu, kondisi tubuh ibu benar-benar berubah drastis, bagaimana nanti ke depannya.


"Kita berdoa saja, Nak. Tidak ada yang tidak mungkin bagi Allah." Maktuo berhenti dan merangkulku, kembali mengusap-usap punggungku yang tergugu dalam pelukannya.


"Nah, sekarang pulanglah. Usahakan nanti malam shalat tahajud. Minta sama Allah agar diberi kekuatan untuk ibumu, ya," ujar maktuo setelah tangisku reda.


***


Uda Indra telah menunggu di parkiran, tak jauh dari tempat dia memarkir mobilnya. Tengah asyik memainkan ponselnya ketika aku dan maktuo datang.


"In, tolong antarkan Runa pulang," suruh maktuo.


"Iya, Ma," sahutnya singkat.


Perjalanan pulang ke rumah maktuo terasa sangat panjang, selain macet yang masih saja belum mereda, ketiadaan suara di dalam mobil pun membuat makin terasa memperlambat lajunya waktu.


Sepertinya uda Indra menganggapku butuh ketenangan. Tak sepatah katapun keluar dari mulutnya, padahal aku ingin sedikit mengalihkan pikiranku dari semua ketakutan yang bercokol di sana dengan mengobrol dengannya. Tapi aku juga seolah tak mampu membuka suara untuk memulai percakapan.


Jam menunjukkan pukul sepuluh ketika kami sampai di rumah maktuo.


"Runa! Kangen!" jerit sepupu Wina, adiknya uda Indra berlari menyambutku.


"Sama," sambutku mencoba mengimbangi wajah antusias Wina.


"Uda balik, ya," pamit uda Indra pada kami ketika Wina menyeretku masuk rumah.


"Iya, Uda. Terima kasih," ucapku.


"Eh, besok mau berangkat sama Wina apa mau uda anter ke rumah sakit?" Uda Indra yang sudah setengah jalan ke arah mobil berbalik bertanya padaku.

__ADS_1


"Biar aku yang antar, Da," sahut Wina sebelum aku menjawab.


"Oh, ya sudah. Berarti besok uda enggak ke sini."


"Salam sama Uni, ya Da," ujarku ketika uda Indra hendak masuk mobil.


"Ya, besok main ke rumah, ya."


Aku hanya membalas dengan anggukan.


***


Selesai membersihkan diri, aku mendapati Wina sudah tertidur. Padahal tadi dia yang begitu bersemangat mengajakku mengobrol. Baru ditinggal sebentar sudah terlelap begitu saja.


Rumah maktuo benar-benar sepi, tak ada suara lain yang terdengar selain dengkuran halus Wina. Mataku sulit untuk kupejamkan. Bayangan wajah ibu tak mampu kutepiskan walaupun sesaat. Aku kembali tergugu dalam tangis.


Mungkin aku terlalu egois, ketakutanku hanya seputar diriku. Aku takut ditinggal ibu. Bagaimana nasibku jika ibu tiada. Pada siapa lagi nanti aku mengadu.


Padahal kalau aku berpikir dari sisi ibu, tentu ibu lebih menderita dariku, tetapi ketika tadi bertemu, tak sedikitpun keluhan yang keluar dari bibir ibu. Kilatan cahaya semangat itu masih ada di mata ibu yang sendu.


Ponsel yang ku letakkan pada nakas samping tempat tidur bergetar ketika aku hendak merebahkan tubuh. Ada beberapa notif pesan terpampang di layar. Kontak Arjun salah satunya.


22.00 : [Sudah tidur, ya?]


Hanya sesingkat itu, tapi cukup bagiku merasakan perasaannya. Ada bias sepi yang ku tangkap dari pesan singkat itu.


23.00: [Sorry, tadi lupa ngabarin lagi] balasku.


Centang berwarna abu-abu langsung berubah biru. Tulisan online muncul pada bagian bawah nama kontak Arjun, lalu berubah dengan tulisan mengetik. Tak berapa lama, pesan balasan dari Arjun masuk.


23.00: [Tumben bales, nyokap lo udah tidur?]


Perih seketika kurasakan saat membaca pesan Arjun. Kupandangi lama layar ponselku. Bolak balik mengetik dan menghapus pesan yang akan ku kirim. Ingin rasanya menceritakan kondisi ibu pada Arjun, tapi kutahan. Sebaiknya nanti saja aku menceritakan pada Arjun ketika bertemu langsung.


23.05: [Udah. Gue juga mau tidur dulu, ya.] Akhirnya kuketikkan kalimat itu dan mengirimkannya pada Arjun.


23.05: [Have a nice sleep my sunshine 😘]


Mau tak mau aku sedikit tergelak membaca pesan dari Arjun. Aku belum terbiasa dengan kata-kata manis seperti ini, apalagi yang mengirimkannya Arjun. Biasa juga saling ledek-ledekan.


23.07 : [Bisa ae lo ah 🤣🤣] balasku tak bisa menahan perasaan geli.


23.07 : [Sekali-kali gue romantis dikit 😂]


Aku bisa membayangkan wajah Arjun saat ini pasti merah padam.


23.08 : [Thanks ya, Jun] balasku singkat.


Aku benar-benar berterima kasih padanya. Setelah apa yang kualami tadi, sempat membuatku terpuruk. Setidaknya Arjun mampu sedikit mengurangi ketegangan yang kurasakan.


Semoga besok aku mampu mengumpulkan kembali semangat untuk mendampingi kesembuhan ibu. Berharap mampu menerima takdir Tuhan dengan lapang dada. Berharap semua ini bukan hukuman, hanya sebuah teguran bagi kami untuk lebih mendekatkan diri lagi pada-Nya.

__ADS_1


__ADS_2