Kandas

Kandas
Hidup Terus Berlanjut


__ADS_3

Semua mimpi, harapan, dan rencana masa depan yang telah kususun rapi, porak poranda seketika. Tak mampu diterima oleh nalar sehatku. Jiwaku terasa terguncang. Selama ini aku terlalu congkak, merasa Tuhan terlalu sayang padaku, memanjakanku hingga membuatku terlena. Aku lupa, ada kekuatan yang mampu menjungkir balikkan segala angan dan mimpi ku dalam sekejap.


Di sepertiga malam ini aku kembali bersimpuh dan bersujud di hadapan-Nya. Memelas setitik rasa iba untukku. Hidupku bagai kapal yang kandas sebelum berlayar. Baru saja layar ku kembangkan, badai menerjang. Menghancurkan bahtera yang dengan sudah payah kubangun.


"Tuhan, aku tidak tau rencana apa yang Engkau siapkan untukku," lirihku tergugu.


Jejak fajar mulai terlihat dari sela-sela gorden yang menutupi jendela. Bayangan jingganya bagai bara api yang telah menghanguskan jiwa. Aku masih saja setia tepekur diatas sajadah. Udara dingin yang menggigit tak kupedulikan lagi. Hatiku lebih terasa dingin.


"Jun, sudah bangun?" Suara mama disertai ketukan di pintu terdengar lemah di luar kamar.


Aku bergegas membukakan pintu. Semalaman, mama berkali-kali minta maaf padaku karena tidak mampu mempertahankan hubungannya dengan papa. Aku tidak mengerti, kenapa mama yang harus meminta maaf, sementara papa tanpa ada rasa bersalah, bisa dengan mudahnya menggantikan kedudukan mama di hatinya.


"Sudah, Ma." Aku menyahut di balik pintu.


Mata mama yang sembab, membuktikan kalau mama semalam juga tidak bisa memejamkan matanya. Rasa sakit itu kembali hadir, menumbuhkan bibit benciku pada papa. Entah wanita seperti apa yang dia cari, hingga membuat makhluk yang sempurna seperti mama dia abaikan begitu saja.


"Hari ini kuliah, kan? Mau mama bikinkan sarapan apa?" tanyanya lembut. Kentara sekali mama berusaha memulihkan kepingan hati yang telah remuk.


"Iya kuliah pagi, Mam. Apa saja yang mama masakin, aku selalu suka." Kupaksakan senyum.


"Kalau begitu, kamu bersiaplah. Mama masakin sarapan spesial untuk anak mama," ujarnya, kemudian meninggalkanku yang masih mematung di depan pintu.


"Terima kasih, Mam." Suaraku menyerupai cicitan yang hampir tak terdengar lagi oleh mama. Tubuhnya menghilang di balik tangga tanpa suara.


Aku berbalik kembali ke kamar. Hidup harus terus berlanjut, tak peduli sehancur apa. Aku harus bangkit untuk menyusun kepingan puzzle yang baru, agar tak berlama-lama terpuruk. Tak ada tempat bagi mereka yang lemah. Dunia yang ku tempati terlalu kejam untuk mereka yang menunjukkan kelemahannya. Itu yang aku tanamkan dalam hati setelah dulu berkali-kali menjadi korban bully.

__ADS_1


Ketika hendak melangkah ke kamar mandi, mataku menangkap kedipan cahaya pada layar ponsel yang kuletakkan pada meja kecil disamping pintu kamar mandi. Wajah gadis yang selama ini selalu terpatri kuat dalam hatiku menghiasi layar lima inchi itu.


Rindu, menyeruak hadir. Walaupun baru kemarin aku bertemu dengannya. Namun, masalah yang terjadi diantara kami membuatku merasakan jarak yang teramat jauh dengannya.


Aku menatap lama layar yang masih berkedip itu, mengusap wajah yang terpampang di layar sebelum menggeser tanda terima panggilan.


"Halo, Run?" sapaku mencoba mengenyahkan kegetiran yang terasa. "Aku jemput seperti biasa, ya?" imbuhku.


"Iya ... Lo tidak apa-apa kan, Jun?" Suaranya terdengar lemah.


"Iya, tidak apa-apa. Tidak usah khawatir," sahutku, mengerti kemana arah pembicaraannya.


"Syukurlah, gue mau beberes dulu. Bye Jun." Jika yang ditelpon Runa bukan aku, mereka pasti sudah terkecoh dengan suaranya yang barusan terdengar ceria, tapi aku yang telah mengenalnya hampir seperti diriku sendiri, merasakan keceriaan itu dibuat-buat. Ciri khas Runa yang selalu menutupi masalahnya.


Makin mendekati dapur, aroma masakan mama sukses membuat perutku meronta. Aroma ikan asin dengan rempah beradu dengan aroma daun pisang yang dibakar menguar di udara.


"Wah! Mama bikin nasi bakar?" Aku bergegas duduk di bangku meja bar. Nasi bakar buatan mama memang sarapan favoritku.


"Iya. Sudah lama, ya? Mama tidak masakin nasi bakar." sebungkus nasi bakar yang masih panas terhidang di atas meja. Lengkap dengan teh tubruk aroma melati dalam teko kecil dari gerabah. Serasa makan di rumah makan Sunda. "Mama juga nyiapin buat Runa. Nanti kasihin sama Runa, ya."


Mendengar nama gadis itu disebut, gerakanku membuka bungkus nasi bakar terhenti, sayangnya perhatian mama tak luput melihat perubahan wajahku. Kemarin aku memang tak bercerita dengan mama masalahku dengan Runa. Masalah yang beliau hadapi saja sudah pelik, aku tak mau menambah beban perasaannya.


"Kenapa, Jun? Kamu ada masalah dengan Runa?" Mama duduk di seberangku dengan wajah penuh selidik.


"Ah, masalah biasa Mam. Mama kayak enggak tau saja," kilahku, kembali memamerkan senyum untuk menghalau kegalauan.

__ADS_1


"Ah, ya. Semoga hubungan kalian baik-baik saja, Runa gadis baik. Mama sudah sreg dengannya." Kalimat yang diucapkan mama bagai tetesan perasan air asam yang dituangkan pada luka. Perih.


Aku hanya membalas perkataan mama dengan anggukan, tak sanggup lebih lama lagi bersandiwara seolah semua baik-baik saja. Penciuman mama untuk mencium sesuatu tidak beres itu tajam, aku tak mau mama menangkap ketidak beresan ini.


"Mam, aku jalan dulu," pamitku pada mama setelah menghabiskan dua porsi nasi bakar. Untuk menyembuhkan patah hati memang membutuhkan energi yang besar. "Mama hari ini mau kemana?"


"Hari ini mama mau urus beberapa berkas, tapi palingan nanti agak siangan jalan." Ada getir yang kutangkap dari nada suara mama. Aku paham, berkas yang mama maksud adalah berkas untuk perceraian mereka.


Aku masih berharap, papa mempertimbangkan kembali keputusannya. Berharap keluarga kami kembali utuh.


Mendung menyambut ketika aku keluar dari rumah. Seolah turut merasakan dukaku. Semua terasa kelabu, bahkan jalan Tubagus Ismail yang sudah ramai, terasa begitu sunyi.


Mendekati rumah Runa, aku melihat gadis itu sudah menunggu di depan pagar. Rambut hitam panjangnya diikat ekor kuda. Mengenakan jeans seperti biasa. Sweater navy diatas kemeja abu-abu, seperti yang kukenakan, membungkus tubuh rampingnya. Andai saja keadaan kami tidak seperti ini, tentu aku akan menyambutnya dengan godaan karena mengenakan pakaian yang sama tanpa janjian.


Gadis itu tampak tenggelam dalam lamunannya, biasanya dia langsung bereaksi ketika mobilku mendekat. Kali ini bahkan kehadiranku pun ia tak menyadarinya, walaupun aku telah berdiri disampingnya.


"Ayo! Berangkat." Aku berdiri tepat di hadapannya, membuat gadis itu terkesiap, tak siap dengan kedatanganku yang tiba-tiba.


"Eh! Kok gue engga sadar Lo datang," sambutnya.


"Lo ngelamun aja. Ayo! Keburu macet," ajakku membukakan pintu mobil.


Runa masuk dengan gerakan kikuk. Duduk dengan canggung pada jok yang biasa dia tempati. Membiarkanku menutup kan pintu untuknya.


Walaupun mata Runa tidak sembab seperti mama, tapi jelas cahaya yang meredup di mata itu mengungkapkan pemiliknya sedang berduka. Matahariku tertutup badai. Duniaku terasa gelap sudah. Entah kapan dia akan kembali bersinar seperti sedia kala.

__ADS_1


__ADS_2