Kandas

Kandas
Leona


__ADS_3

"Lagi ngapain lo, Ko?" selidikku melihat Riko yang tengah khusyuk di depan lapar ponselku.


"Balesin chat Runa," jawabnya santai tanpa mengalihkan pandangan dari layar ponselku.


"Maksud lo gimana?" Aku merampas ponsel yang sedang dipegang Riko.


"Eh, enggak beretika banget deh lo. Main bales-balesin chat orang aja," omelku setelah membaca pesan yang dikirimkannya pada Runa.


"Sekali-kali gue campur tangan gitu biar makin hot deh lu sama Runa," kekehnya.


"Pikirin gebetan baru lo aja," gerutuku buru-buru mengetikkan permintaan maaf pada Runa.


Perkataanku seolah telak mengenai sasaran. Serta merta tawa puasnya berubah menjadi cengiran mati kutu.


"Iya deh, yang udah punya pacar," sungutnya kemudian sambil mencebik.


"Terus sekarang lo mau ngapain? Gue udah ga punya saran apa-apa lagi sih buat lo," tanyaku ketika melihat wajah lesu Riko terduduk di ruang TV.


"Tadi gue sempet chat si Vita yang kamarnya sebelahan sama Leona, katanya ntar malem mau ngajakin ke Punclut. Cuma, dia nyuruh gue ngajak teman lain, biar dia enggak jadi obat nyamuk pas gue ngobrol sama Leona," terangnya.


"Terus lo mau ngajakin siapa?"


"Lo aja yang gue ajak, ya?" Riko menatap penuh harap.


"Ih, enggak deh. Ntar Runa mikir gue selingkuh," tolakku.


"Ye, takut amat sih lo. Entar gue yang minta ijin sama Runa. Dia cewek pengertian kok."


Anak satu ini benar-benar sedang jatuh cinta sepertinya. Tak biasanya dia sampai begitu bersemangat buat mendekati cewek. Biasa hanya dengan modal rayuan receh. Kalau si cewek menolak, dia akan mencari mangsa baru. Kali ini dia tampak benar-benar ingin berusaha untuk mendekati cewek yang dia taksir ini.


Sahabat macam apa aku jika membantu sahabatnya tidak bisa, tapi kalau harus keluar rumah weekend begini bisa stress juga. Antara ingin membantu sahabat dan rasa malas menghadang kemacetan kota Bandung perperang dalam otakku.


"Gue tau lo males keluar pas weekend gini, Jun. Tapi kali ini gue mohon deh ya. Gue enggak bisa ngajakin Apeng atau Cuplis, tu anak dua ember. Bisa gagal misi gue," pintanya seolah tau apa yang aku pikirkan. Wajahnya menghiba.


"Kenapa enggak lo ajak Dimas aja?" tanyaku mencoba menawar permintaan Riko.


"Lo kayak enggak tau aja sih ceweknya si Dimas kayak gimana," ujarnya mengacak rambutnya.


"Ha-ha benar juga ya?" Aku manggut-manggut, teringat pacar Dimas yang tidak terlalu suka bergaul dengan kami. Jika Dimas memaksa untuk ikut berkumpul, wajah cewek itu akan ditekuk sekian lipatan. Hampir menyerupai kertas origami.


"Sekali ini, gue mohon Jun. Lo kan tau, biasa gue enggak sampai segini amat sama cewek, mah." Riko menangkupkan kedua telapak tangannya di atas kepala seperti orang menyembah.


"Cafe-nya ramai enggak ya? Entar takutnya gue malah ngerusak acara pdkt lo," tanyaku agak ragu.


"Vita bilang, dia mau nyari cafe yang ada saung personal-nya, biar enggak keganggu sama pengunjung lain." Wajah Riko tampak mulai dipenuhi rasa harap.


"Berangkat jam berapa emang?"


"Abis ashar aja ke kost gue, biar abis magrib bisa berangkat," sahutnya dengan wajah berbinar.


"Gue bawa mobil aja, ya. Biar langsung berangkat berempat, kapok gue dibonceng ama lo," kekehku mengingat kejadian dibonceng Riko tadi pagi.


"Iya, deh. Gimana yang bikin lo nyaman aja, yang penting bisa nemenin gue," kekehnya.


Setelah permintaannya disetujui, Riko mulai berhenti memohon-mohon. Wajahnya juga sudah mulai terlihat santai. Sambil menunggu waktu ashar, Riko mulai asyik bermain game konsol di ruang TV. Sementara itu, aku memulai kegiatanku untuk membuat cover lagu.


Bayangan wajah Runa kembali menari di pikiran ketika aku mencari ide lagu yang akan kunyanyikan ulang. Terlintas lagu milik group band Backstreet Boys yang berjudul How Did I Fall In Love With You, sepertinya cocok menggambarkan hubunganku dengan Runa. Lirik lagu yang menceritakan tentang perubahan perasaan dari sahabat jadi cinta.


🎢🎢🎢


Remember when never needed each other


The best of friends like sister and brother


We understood we'd never be alone


Those days are gone


Now I want you so much


The night is long and I need your touch


Don't know what to say


Never meant to feel this way


Don't want to be alone tonight

__ADS_1


🎢🎢🎢🎢


Aku mencoba mearansemen ulang musiknya. Beberapa kali kucoba memainkan dengan gitarku, sampai menemukan nada yang kurasa cocok untuk membuat cover lagunya.


Berkutat di dalam ruang studio membuat waktu terasa berjalan begitu cepat, tak terasa jam sudah menunjukkan pukul empat sore. Walaupun belum sempat melakukan proses rekaman, aku beranjak meninggalkan studio sebelum Riko mulai bawel lagi.


***


Jam lima sore, aku keluar rumah bersama Riko tepat ketika pak Karsa datang menggantikan anaknya yang berjaga.


"Eh, Aden tumben keluar weekend gini?" tanya pak Karsa dengan nada ingin tahu yang teramat sangat tinggi.


"Si Riko lagi minta ditemenin buat ngedeketin cewek pak," gelakku.


"Lah Aden sendiri kapan atuh buat deket sama cewek. Masa temannya aja yang dipikirin?" Begini deh punya penjaga yang kepo akut. Semua ditanya.


"Eh, Bapak belum tau aja. Arjun sudah punya pacar pak, makanya saya minta bantuan sama dia, biar enggak terlalu ngenes," sembur Riko sebelum aku sempat menjawab.


"Wah, Aden diam-diam menghanyutkan juga," kekeh pak Karsa dengan logat sundanya yang kental.


"Lo jadi mau ditemenin enggak nih? Malah balik ngeledek gue?" gerutuku pada Riko yang tampak menikmati kegiatannya memberikan bahan gosip pada pak Karsa.


"Sudah dulu ya, Pak. Nanti bapak interogasi saja anak ini kalau misi saya sudah selesai," kekeh Riko melambaikan tangannya pada pak Karsa.


"Ha-ha, baik Den. Selamat jalan."


"Lo apa-apaan sih, Ko. Tau sendiri lo tu bapak kepo maksimal," gerutuku.


"Ha-ha, enggak apa-apalah. Biar ada hiburan juga tu orangtua, pahala juga buat lo," kekehnya.


"Ya, lo cari pembenaran, deh." Lebih baik aku mengakhiri perdebatan yang tidak penting ini. Riko selalu punya kalimat bantahan yang tak dapat kukalahkan. Daripada mulut sampai berbusa untuk membantah, lebih baik diam. Karena aku harus menyimpan energiku untuk menerjang kemacetan.


Azan magrib berkumandang ketika kami sampai di tempat kost Riko. Aku menuliskan pesan whatsapp pada Runa,


[Malam minggu kemana, Neng?] tulis ku membuka percakapan.


Tak disangka, Runa membalas pesanku tak lama setelah pesan terkirim.


[Diajakin Wina keliling Jakarta.] balasnya.


Entah kenapa terasa ada yang ganjil, bukan hanya karena ponsel Runa aktif di akhir minggu, tapi tak biasanya dia mau jika diajak jalan-jalan.


[Soalnya dari kemarin aku nginep di rumah maktuo, ibu juga sedang ada di sini.] balasnya.


Aku ber-o ria membaca pesan balasan Runa.


[Lo lagi ngapain? Udah shalat magrib?] tanyanya kemudian.


[Riko minta temenin buat pdkt, dia maksa ngajak keluar πŸ˜‚πŸ˜‚] aku terkekeh sendiri ketika mengetikkan kalimat itu.


[Kok tumben?] Aku bisa membayangkan wajah ketidakpercayaan Runa ketika membaca pesan darinya.


Benarkan? Bukan hanya aku yang merasa aneh dengan gelagat Riko yang sampai segitunya mendekati cewek.


[Makanya, mungkin kali ini dia benar-benar suka sama ni cewek. Jadi, sebagai sahabat yang baik, gue coba bantu deh. Kali aja ntar beneran jadi.]


[Good luck deh buat Riko, semoga beneran jadi. Salam ya. Gue bentar lagi mau jalan sama Wina, mau shalat dulu.] balasnya.


[OK, deh. C u]


[C u, Jun]


Aku menyimpan ponselku ke dalam kantong celana jeans yang kupakai, menyusul Riko yang dari lima menit yang lalu sudah turun dari mobil.


"Eh, kamu Arjun kan?" sapa seorang cewek ketika aku akan melangkah ke arah kamar kost Riko.


Aku mencoba mengingat-ingat cewek bermata sendu yang baru saja menegurku, tapi gagal. Memoriku tak mampu menghadirkan wajah yang ada dihadapanku ini sebagai orang yang pernah kukenal.


"Iya, bener. Maaf tapi aku lupa, siapa ya?" tanyaku berterus terang, daripada sok-sokan menebak, tapi salah orang.


"Leona, temen SMA kamu dulu, pasti lupa deh," kekehnya memamerkan gingsulnya, membuat memoriku memunculkan sesosok cewek tomboy yang pernah sekelas denganku waktu kelas satu SMA.


"Ya Tuhan! Aku sampai lupa. Soalnya kamu berubah drastis gini."


"Ha-ha, efek kebanyakan bergaul sama cewek beneran," kekehnya, "kamu mau ngapain ke sini?" Leona menatapku heran.


Aku baru tersadar, cewek inilah yang menjadi alasanku dipaksa Riko menembus macet untuk bisa sampai ke tempat ini.

__ADS_1


"Ada janji sama Riko," sahutku singkat.


Tidak mungkin juga aku memberi tahukan pada Leona, kalau sahabatku memaksa untuk menemaninya pendekatan dengan cewek, yang ternyata adalah teman SMA-ku dulu.


"Eh, lo udah kenal Leona?" Tiba-tiba saja Riko sudah berada di dekatku.


"Dia teman SMA-ku dulu," sahut Leona sebelum aku sempat menjawab.


"Jadi lo udah kenal lama sama Leona?" tanya Riko dengan tatapan seolah menanyakan "Kok enggak ngasih tau gue."


"Dianya sih lupa. Maklumlah idola sekolahan, mana inget sama yang receh kaya aku, mah," kekehnya.


"Ha-ha, lebay ah! Memang kamu berubah banget, makanya aku lupa," sangkalku.


"Eh, Ko. Kata Vita mau ngajakin ke Punclut ya? Arjun juga ikut?" tanya Leona mengacuhkan kalimat terakhirku.


"Iya, udah siap mau jalan belum?" Riko balik bertanya.


"Bentar, mandi dulu ya. Baru balik dari kampus banget soalnya."


"Ngapain ke kampus weekend gini?"


"Ada tugas kelompok yang mesti dikerjakan di lab radio kampus."


"Oo, ya sudah. Jam tujuh kita jalan, ya," ujar Riko memberitahukan.


"Ok, dagh Arjun," pamit Leona melambaikan tangannya padaku.


Aku hanya membalas dengan anggukan. Memperhatikan wajah Riko yang tampak sumringah.


"Tuh! Enggak salah, kan, keputusan gue buat ngajak elo. Ini kali pertama Leona ngajak gue ngobrol agak lama. Biasa cuma say hi aja. Itu juga ekspresinya datar aja," cerocos Riko sambil berjalan ke arah kamarnya.


"Ha-ha, syukurlah kalau gue berguna juga buat lo," kekehku.


Jam tujuh tepat, kami keluar dari tempat kost Riko. Bergerak ke arah simpang Dago yang telah dipenuhi jejeran kendaraan yang entah hendak kemana. Mungkin sebagian ada yang setujuan dengan kami. Mengingat tempat yang kami tuju juga merupakan tempat favorit di Bandung.


Waktu tempuh yang seharusnya hanya tiga puluh menit dari tempat kost Riko, mundur sampai satu setengah jam. Beruntung Vita, temannya Leona cukup bisa menghalau ke-bete-an selama di perjalanan.


Jejeran kendaraan yang terparkir memenuhi pinggir jalanan tempat cafe yang akan kami tuju. Seorang juru parkir mengarahkanku ke tempat parkiran yang masih kosong.


Kami berempat turun, disambut seorang pramusaji perempuan yang berpakaian kebaya ala pakaian tradisional Sunda.


"Buat berapa orang, Teh?" sapanya ramah pada kedua gadis yang telah terlebih dahulu sampai di depan pintu masuk cafe.


"Berempat, ada saung yang kosong, enggak Teh?" tanya Vita.


"Oh, ada, Teh. Mari saya antar." Pramusaji itu mengajak kami memasuki cafe, melewati ruang depan cafe yang tidak terlalu ramai. Bagian depan hanya berisikan tiga set meja dengan empat kursi. Pada bagian pojok cafe terdapat panggung kecil untuk live musik. Sementara bagian kanan pintu masuk terdapat meja kasir.


"Silahkan, Teh." Pramusaji itu menunjukkan sebuah saung yang terletak tak jauh dari pintu keluar ruang utama cafe.


Pemandangan kota Bandung tampak menakjubkan dari saung ini. Lampu-lampu yang terdapat pada gedung-gedung yang terletak pada dataran rendah kota Bandung terlihat bagaikan titik-titik cahaya yang menghias kelamnya kota.


"Ini daptar menu-nya, Teh. Kalau sudah mau memesan, tinggal pencet tombol bel yang itu, ya," terang pramusaji itu menyerahkan buku menu dan menunjuk sebuah bel yang tertempel pada pinggir saung.


"Oh, baik. Terima kasih," ucap Vita.


Selesai makan malam, sesi pendekatan Riko pun dimulai, tetapi Leona malah lebih banyak mengajukan pertanyaan padaku. Lebih tepatnya malah tampak seperti reuni kecilku dengan Leona.


"Runa apa kabar?" tanya Leona setelah sedari tadi dia berceloteh mengingatkan masa SMA dulu.


"Mereka jadian sekarang," kekeh Riko menepuk punggungku.


"Oh iya? Wah, enggak nyangka. Dari teman jadi demen," gelak Leona.


"Dia mah udah dari dulu suka sama Runa, Runa-nya aja yang telat nyadar." Kembali Riko bersuara sebelum aku memikirkan hendak menjawab apa.


"Oh, pantesan dulu cewek-cewek yang naksir kamu pada mental semua, ya. Ternyata memang hatinya hanya untuk Runa seorang," goda Leona dengan senyum lebar.


Acara pendekatan Riko tampaknya berjalan kurang mulus. Tapi dari raut wajah Riko terlihat dia sudah cukup senang bisa mengobrol lebih banyak dengan Leona. Meskipun aku merasa Riko terlihat tak seperti Riko yang kukenal selama ini, yang gampang sekali mencari topik pembicaraan dengan lawan jenis. Malam ini dia mendadak agak kaku. Ya, jika beruntusan dengan hati, banyak orang yang jadi salah tingkah, bahkan tak jarang terlihat menjadi seperti orang lain.


Semoga usaha Riko untuk mendekati Leona bisa berbuah manis. Sahabat mana yang tidak akan senang melihat sahabatnya berbahagia.


______________________________________________


Terima kasih ya Vitamin A, memberikan aku vitamin booster untuk promosi karyaku di lapakmu.


Buat teman-teman yang mau baca cerita seru-seruan ala crazy rich Surabayan, mampir deh ke karya author satu ini.

__ADS_1



__ADS_2