
Hari ini adalah penentuan dari perjuanganku selama tiga setengah tahun menempuh pendidikan tingkat sarjana. Dengan langkah penuh keyakinan, aku keluar rumah setelah meminta doa dari mama. Seperti hendak berangkat perang, aku berusaha menekan rasa cemas yang mulai mengusik.
"Sukses, ya Sayang." Mama menepuk-nepuk punggungku ketika melepasku di pintu.
"Terima kasih, Mam. Mohon doanya."
"Doa Mama selalu penuh buat Arjun." Senyuman wanita paruh baya itu menghangatkan hatiku, menghalau rasa dingin kota Bandung pagi ini.
"Pak, doain saya lulus, ya?" Aku sengaja mendatangi pos tempat Pak Karsa berjaga sebelum masuk mobil. Bagiku Pak Karsa sudah seperti keluarga sendiri. Semoga doanya menjadi salah satu terkabulnya hajatku.
"Aden ujian hari ini?"
"Muhun, Pak." (Iya, Pak)
"Enya, didoakeun ku Bapak, mugi-mugi lancar ujian na. Aden lulus dengan nilai tertinggi," (Iya, di doakan sama bapak, semoga lancar ujiannya) tukasnya dengan wajah khusyuk seperti merapalkan doa.
"Aamiin ya rabbal alamin. Saya pamit ya, Pak."
"Iya, Den." Pak Karsa bergegas membukakan gerbang, ketika aku beranjak masuk ke dalam mobil.
Dadaku terasa penuh. Berbagai rasa berkumpul di sana. Bahagia, cemas, dan rasa asing yang tidak kumengerti menyelinap di satu sudutnya. Tumpukan kertas-kertas hasil kerja kerasku beberapa bulan ini, teronggok di kursi penumpang. Seolah menungguku membawanya segera ke ruang sidang.
Dengan merapalkan basmalah, kupacu mobilku melewati jalanan Tubagus Ismail yang mulai ramai. Beberapa motor dan angkot saling salip menyalip. Bunyi klakson yang melengking terdengar tatkala supir angkot berhenti seenaknya tanpa lampu penanda untuk berhenti.
Pagi ini riuh, tetapi hatiku sepi. Bayangan Runa masih saja bercokol di relung terdalam hatiku. Ah! Andai saja waktu dapat kuputar, ingin rasanya aku tidak mengantar Runa ke Jakarta. Mungkin saja saat ini dia akan ada di sisiku untuk memberikan semangat. Segumpal sesal itu masih saja terasa mengganjal. Namun sesal tiada lagi berguna, aku kembali harus menatap kenyataan yang begitu menyakitkan. Menjalani hidup tanpa kehadiran Runa. Menghadapi hari sidang tanpa kata-kata penyemangat darinya.
Begitu mobilku hendak memasuki parkiran, kulihat sesosok gadis berambut panjang, berdiri di ujung tempat parkir. Rambut panjangnya yang tergerai menari tertiup angin. Senyum manisnya terukir sempurna ketika aku turun dari mobil. Jemari lentiknya menyelipkan helaian rambut yang ditarik angin, ke belakang telinga.
"Hei, Eon! Sudah lama menunggu?" tanyaku ketika gadis itu mendekatiku setengah berlari. Ujung rambutnya yang dibuat ikal seperti melompat-lompat seiring langkahnya mendekat.
"Baru sampai lima menit yang lalu," ujarnya mengatur napas.
Kulit putih gadingnya tampak merona, bersanding dengan senyum dari bibirnya yang ranum. Maha karya Tuhan yang begitu elok. Aku telah berulang kali berusaha untuk mengagumi makhluk Tuhan yang satu ini, tapi kekagumanku hanya sebatas kagum pada teman. Masih kalah dengan rasa yang masih tersisa untuk Runa.
"Kok enggak nelpon, kan bisa aku jemput?"
"Kosan aku deket ini, daripada kamu muter-muter."
Leona tampak kesusahan mengiringi langkahku yang panjang-panjang. Aku terbiasa berjalan dengan Runa yang langkahnya juga hampir menyamaiku. Merasa kasihan, aku memelankan langkahku.
__ADS_1
"Kamu sudah sarapan?" pertanyaan itu terlontar begitu saja tanpa berniat untuk memberi perhatian. Itu hanya pertanyaan yang biasa kuajukan pada Runa setiap kali kami bertemu. Kebiasaan yang tidak pernah bisa kuubah.
"Sudah, tadi sebelum berangkat aku sarapan bubur di depan kosan." Suaranya kembali terengah, membuatku kembali melambatkan langkah.
Beberapa mahasiswa telah berkumpul di depan sebuah ruangan yang dijadikan sebagai ruang sidang pagi ini. Terlihat seperti eksekutif muda, memakai pakaian formal lengkap dengan dasi. Sepatu hitam disemir mengkilat. Beberapa wajah yang sudah tidak asing selama ini, tampak begitu berbeda hari ini karena tampilan rapi mereka.
"Woi, Bro! Sukses, ya!" Tepukan keras pada punggung membuatku meringis. Riko dan kawan-kawan turut hadir memberiku semangat pagi ini. Tepukan penyemangat mendarat satu persatu dari tangan temanku yang lain.
"Eh, Leona juga ikut." Riko cengengesan ketika melihat wajah Leona muncul dari balik tubuhku.
"He-he, iya, Ko," sahutnya canggung.
"Kok enggak ngomong tadi mau ke sini, kan bisa bareng." Riko mulai melancarkan aksi merayunya.
"Aku lihat tadi pintu kamarmu masih ketutup, aku kira masih tidur."
"Eh, gue sudah di panggil, doain ya!" Aku memotong pembicaraan Riko dan Leona.
"Ok, Bro! Gue yakin Lo bakal lulus sempurna, lah."
Aku melangkah masuk mengapit kuat bundelan skripsi yang ada di tanganku. Buku-buku jariku terasa mengeras karena gugup.
Setelah mengajukan pertanyaan yang bertubi-tubi, selama hampir satu jam. Akhirnya ucapan selamat terucap dari bibir para dosen penguji. Lulus dengan predikat memuaskan. Seperti ada beban yang seketika terangkat, tanganku bergetar menyalami satu persatu para dosen penguji, dan mencium penuh hormat punggung tangan dosen pembimbingku.
"Kumaha, Bro? Lulus, teu?" (Gimana Bro, lulus tidak?) tanya Cuplis dengan wajah tengang.
"Kuy, lah gue traktir makan," sahutku sumringah.
"Alhamdulillah ...." wajah-wajah tengang yang menungguku di depan ruang sidang berubah lega.
"Selamat, Bro! Geus jadi sarjana maneh. Selamat menempuh hidup pengangguran!" (Selamat Bro, sudah menjadi sarjana) kekeh Riko sambil membetulkan kacamatanya yang melorot.
"Enya, sakedeung deui maneh nyusul!" (Iya, sebentar lagi kami nyusul) ujarku menjitak pelan kepala sahabat seperjuanganku itu.
"Kedap, nya. Urang telpon kanjeng ratu di imah heula," (sebentar ya, aku telpon kanjeng ratu di rumah dulu) selaku ketika mereka sangat bersemangat hendak kutraktir.
Aku menepi ke sudut gedung, mencari tempat yang tenang untuk menelpon mama. Untuk mengabarkan perihal kelulusanku. Tak menunggu lama, mama menyahut panggilanku.
"Mam, Alhamdulillah aku lulus," ujarku dengan penuh semangat.
__ADS_1
"Alhamdulillah. Selamat Jun! Mau mama traktir di mana?" Suara mama terdengar bergetar.
"Aku mau pie apel buatan mama aja, kita rayain di rumah saja, Mam."
"Baik, kalau begitu Mama siap kan dulu, ya. Kamu mau bawa teman ke rumah tidak?"
"Iya, Mam. Seperti biasa tim rusuh, si Riko cs sama Leona."
"Lho, Runa enggak ikut?" Suara mama terdengar heran.
"Masih sibuk ngurusin revisi dia, jadi enggak ikut," tukasku dengan jawaban yang telah kusiapkan jika mama menanyakan keberadaan Runa.
"Yah, sayang dong ... tapi nanti dia nyusul, kan?" desak mama.
"Semoga urusan revisi dan bimbingannya selesai hari ini, Mam. Mama kan tau sendiri Runa kalau fokus ngerjain sesuatu enggak mau di ganggu." Kembali aku berkilah.
"Ya sudah, deh. Kamu sudah mau pulang? Mama baru nyiapin nasi bakar aja sih, jadi kalau mau beli makanan tambahan juga boleh."
"Ok, siap, Mam!"
Aku mengajak rombongan kecil tim penyemangatku untuk meninggalkan kampus.
"Seperti biasa, traktirannya di rumah, ya!" Aku memberi tahu kepada mereka yang masih menunggu di pelataran depan gedung.
"Siap, dimana saja, yang penting perbaikan gizi," seloroh Apeng mengacungkan jempolnya.
Setelah membeli beberapa porsi pizza pada sebuah restoran cepat saji, aku memacu mobilku kembali pulang. Leona hari ini tampak lebih diam dari biasa. Semenjak keluar dari kampus, dia hanya duduk membisu di kursi penumpang tanpa terlalu banyak menanggapi candaan Apeng cs.
"Kamu kenapa, Eon?" tanyaku merasa sedikit tidak enak hati melihatnya agak beda dari biasa.
"Ah! Enggak kenapa-kenapa, kok." Senyum manisnya terlihat begitu dipaksakan.
"Kalau ada yang ngeganjel, mending dilepas aja. Enggak enak ditahan-tahan."
"Iya, nanti aku cerita. Enggak enak lagi ramai begini." Jawaban yang diberikan Leona membuatku berpikir keras dan sedikit was-was. Apa yang mau diceritakannya.
Ribuan pertanyaan berdesakan di kepala. Membuatku beberapa kali hilang fokus saat menyetir.
"Woy! Bro! Mentang-mentang udah lulus, nyetir seenaknya aja gini! Di belakang masih orang ini, bukan barang," sergah Dimas menjitak pelan kepalaku.
__ADS_1
"Ha-ha, sorry Bro! Masih kebawa grogi suasana sidang," kilahku.
Begitu sampai di rumah, Mama menyambut kami dengan wajah sumringah. Sebuah ciuman mendarat di keningku. Ucapan syukur dan pujian terlantar dari bibirnya. Untuk pertama kali setelah putusan cerai kedua orangtuaku, mama tersenyum ceria kembali. Aku merasa bersyukur telah mampu menghadirkan senyum itu kembali ke wajah perempuan yang telah melahirkanku. Semoga senyuman itu terus ada terukir pada wajah jelitanya.