
Segalanya berjalan seirng waktu dan segalanya juga kami semakin sulit untuk bertemu. Aku tidak ingin memaksanya. Karena itu aku berusaha menghabiskan waktu dengan teman-teman perkuliahan.
****
Setelah beberapa bulan, akhirnya Dika saat pulang malam, akan selalu mampir ke tempatku. Yah dengan kata lain, aku akan tahu jam berapa Dika akan datang ke kost. Dika akan sampai di depan kost jam 12 lewat, dimana semua sudah pada tidur. Sedangkan kami akan bertemu diluar dan membahas tentang pekerjaan yang sudah dialami selama hari itu. Tapi terkadang kami juga tidak ada berbicara, hanya saling tatapan dan berakhir dengan kata capek dan harus pulang. Itu adalah kebiasaan kami yang saat ini kami lakukan. Walau sebenarnya aku ingin dia menceritakan segalanya padaku mengenai pekerjaannya. Tapi Dika lebih sering menceritakan tentang perempuan yang bekerja dengannya serta bagaimana sikap Dika maupun perempuan itu terhadap mereka. Karena itulah aku terkadang malas bertemu dengan Dika. Tapi Dika selalu menyempatkan waktunya dengan ku. Tentu saja aku tidak ingin menyia-yiakan waktu itu bersamanya.
Hingga suatu saat, Dika sedang ada libur dan saat itu aku sedang melakukan perkuliahan. Saat itu Dika mengirimku pesan.
“Pesan Singkat”
“Dimana ?” kata Dika
“Aku sedang kuliah saat ini, ada apa?” kataku
“Aku sedang libur” kata Dika
__ADS_1
“Oh ya udah nanti jemput aku ya” kataku
“Gak usah, aku mau istirahat. Kamu pulang aja” kata Dika
“Trus kenapa nanya aku dimana ?” kataku kesal
“Oh itu, aku mau memperbaiki sepatuku, tapi aku tidak tahu dimana, bisa kamu carikan gak ?” kata Dika
“Jadi kamu hanya hubungi aku hanya untuk itu doang” kataku
“Ya udah antar sekarang” kataku singkat
Dika pun tidak membalas pesanku lagi, begitu juga dengan ku. Bagaimana tidak, rasa kesal ku datang dengan sikap Dika yang hanya selalu memikirkan keinginannya dibandingkan keinginanku. Terkadang rasanya aku ingin melepaskannya, tapi selalu saja semua tidak semudah yang aku pikirkan. Beberapa menit kemudian Dika langsung menghubungiku.
“Panggilan”
__ADS_1
“Turun” kata Dika dengan singkat
Aku turun saat itu juga dan melihat Dika yang masih saja berada dimotornya. Aku yang masih kesal dengannya hanya meminta sepatunya. Begitu juga dengan Dika yang saat itu sudah memberikan sepatunya, langsung pergi tanpa mengatakan apa-apa. Melihat sikapnya yang menyebalkan itu, membuat aku ingin melempar sepatu ke arahnya. Tapi tidak mungkin melakukan hal itu di kampus, karena itu akan memalukan untukku. Aku hanya menarik nafas panjang dan kemudian akhirnya hanya bisa menahan segala sikapnya.
Setelah pulang kuliah, akhirnya aku pun pergi ke toko untuk meperbaiki sepatu Dika. Dan jelas saja, biayanya aku menanggung sendiri. Rasa kesal itu semakin lama semakin memasuki hari-hariku. Tapi lupakan saja, itu adalah sifat Dika dan aku sudah terbiasa akan hal itu. Setelah sepatu Dika sudah selesai, akhirnya aku pulang dan istirahat, hingga ketiduran sampai malam. Tiba-tiba handphone ku berdering dan terlihat jelas nama Dika sudah ada di layarku. Aku pun langsung mengangkat telepon Dika
“Panggilan”
“Ada apa?” kataku
“Sepatuku udah belum, besok aku harus kerja” kata Dika
“Udah, datang aja” kataku
Beberapa menit kemudian, Dika datang dan aku langsung memberi Dika sepatunya. Setelah itu kami hanya diam-diam saja, yang pada akhirnya Dika pergi tanpa mengatakan apa-apa. Jelas saja aku bingung dengan sikap Dika kepadaku, tapi aku tidak menanyakan hal itu. Hingga aku lihat statusnya yang mengatakan tidak sesuai harapan. Jelas saja aku tidak tahu apa maksud Dika mengatakan hal itu, tapi jelas saja aku benar-benar kecewa akan sikap Dika yang masih saja bersikap seperti anak-anak. Bahkan aku tidak mengerti darimananya aku tidak sesuai harapannya setelah apa yang kulakukan padanya selama ini. Tapi aku tidak menanyakan hal itu, aku lebih baik diam daripada memulia pertengkaran yang berujung hanya menang sepihak saja. Dan itu melelahkan untukku.
__ADS_1