
Seperti dugaanku, Runa tidak akan pernah mau diajak melakukan sesuatu yang melanggar aturan. Meskipun menurutku aturan itu sudah tidak masuk akal. Aku merasa tak berdaya, membuat Runa untuk memilihku atau keluarga, tentu saja aku akan kalah.
Mataku memanas. Bukan karena aku ingin menangis, tapi karena perasaan sakit menerima kenyataan ini, membuat hatiku bagaikan disayat ribuan pecahan beling. Aku tercekat ketika Runa menyatakan keberatannya untuk terus melanjutkan hubungan kami. Bagaimana mungkin aku akan mampu melepaskannya begitu saja. Dua hari ini, aku berusaha untuk tak menghubungi, berharap aku mampu melepaskannya dengan lapang dada. Namun, rasa sakit lah yang aku terima.
Dia kembali diam, tatapannya terlihat kosong. Ingin kurengkuh tubuhnya, menyandarkan kepalanya di bahuku, meminta agar ia lepaskan saja segala beban yang menggelayuti mata itu.
"Run ...." Kembali aku tercekat, tak mampu lagi menahan cairan bening yang telah terbendung di sana, kuseka agar pandanganku tak mengabur.
Kulihat Runa bergeming. Tak bereaksi mendengar panggilanku.
"Eh, ngapain ke rest area?" Akhirnya dia beralih menatapku ketika mobil kubelokkan ke tempat peristirahatan di tol.
"Mau beli kopi sama cemilan," sahutku singkat.
"Oh!" Dia kembali terdiam.
"Mau dibeliin apaan?" tanyaku ketika mobil telah berhenti sempurna di depan sebuah minimarket di dalam rest area.
"Apa sajalah," sahutnya masih terpaku di tempatnya. Jelas dia tak tertarik untuk ikut turun dan memilih cemilan kesukaannya.
Kembali ke mobil, ku lihat Runa masih tetap pada posisinya, menyandarkan kepala pada kaca jendela mobil.
"Nih, buat Lo." Kuserahkan satu cangkir kertas berisi coklat panas kesukaannya.
Tersenyum lemah, dia menerima minuman yang kusodorkan. Kuhirup perlahan kopi yang ada di cangkirku. Pahit, tapi perasaanku lebih pahit saat ini. Aku membuang napas kasar. Berharap, sedikit beban yang terasa menyumbat paruku bisa keluar bersama hembusan napasku.
Berpisah dengan Runa adalah hal yang tak pernah terbayangkan olehku selama ini. Kalimat maktuonya yang masih terngiang-ngiang di telingaku. Pernyataannya membuatku merasa nyawaku ditarik paksa dari jasad. Apakah aku masih bisa hidup setelah ini, jika jiwaku tak lagi ada di dalam raga.
"Tidak adakah pilihan lain selain harus berpisah?" tanyaku lemah. Mencoba untuk mencari celah.
__ADS_1
"Jun, sebelum kita sama-sama makin terluka, kita sudahi saja hubungan ini. Seperti kukatakan tadi, tak akan mudah, tapi nanti kita juga akan terbiasa," lirih suaranya hampir saja tak dapat kudengar.
Lalu airmata itu, membuatku tak mampu menatap lama wajahnya. Lidahku terasa kelu. Aku dan dia sama-sama terluka. Aku memang belum tau sedalam apa perasaannya padaku. Namun hanya melihat airmata itu jatuh, aku tau, bahwa tak mudah baginya menerima takdir ini.
Tak ingin membuatnya makin terluka, kuurungkan niat untuk membahas lebih lanjut perihal hubungan kami. Tak mampu melihat luka itu masih menggantung di matanya.
Aku kembali menyalakan mobil. Melanjutkan perjalanan kembali ke Bandung. Menyesal, itu yang aku rasakan. Andai saja aku kemarin tak menawarkan diri untuk mengantarnya, tentu hari ini aku akan menunggu kedatangannya dengan perasaan rindu di kota Kembang. Namun seribu andai tak lagi berguna. Terkadang ketidak tahuan bisa menyelamatkanmu dari petaka. Kini semua sesal itu hanya tinggal kesia-siaan belaka. Menyisakan luka dengan kekosongan yang terasa menyiksa.
Andai saja saat ini Runa tidak sedang menghadapi masalah dengan penyakit ibunya, mungkin aku akan mendesaknya untuk memperjuangkan sebongkah hati yang saat ini terasa mati.
Rasa sunyi yang menyiksa ini bertahan hingga kami sampai di Bandung. Perjalanan yang hanya memakan waktu tiga jam, terasa begitu panjang, karena tak ada yang memecah kesunyian diantara kami.
"Terima kasih, Jun." Hanya kalimat itu yang diucapkan Runa ketika sampai di depan rumahnya.
"Ya," sahutku tak kalah singkat, dan berlalu begitu saja dari sana. Tak menunggunya hilang di balik pintu seperti biasa kulakukan.
***
Mama seolah tenggelam dalam pikirannya, bahkan kehadiranku tak disadarinya. Perlahan kututup pintu. Mama masih bergeming disana.
"Mam?" Suara sapaanku membuatnya terperanjat. Kulihat gurat luka di matanya. "Mama kenapa?" tanyaku mendekat. Perasaan berkecamuk yang sedari tadi kurasakan makin bergemuruh.
"Apa lagi ini, Tuhan," bisikku dengan perasaan was-was.
"Jun, kapan pulang?" tanyanya bergegas menyeka mata.
"Lima menit yang lalu, Mama kenapa?" Aku mengambil posisi duduk di seberang mama, memandang penuh tanda tanya pada wajah yang hampir tak pernah menyiratkan duka itu, berbeda dengan hari ini. Seolah ada awan tebal menggantung disana, tatapan teduhnya terasa menghiba.
"Kamu kemarin ke tempat Papa?" Alih-alih menjawab pertanyaanku, mama malah balik bertanya.
__ADS_1
"Iya ...."
"Papa ada ngomong sesuatu?" potongnya dengan suara sengau.
"Ada apa, Mam?" tanyaku tak sabar.
Mama menarik napas panjang. Kembali airmata membasahi pipinya. Ah! Aku benci melihat airmata. Sehari ini aku menyaksikan dua orang perempuan yang kucintai tak berdaya dengan airmatanya.
"Jun, maafkan mama ...." Menggigit bibirnya, "Ah! Mama bingung harus mulai dari mana ...." tangis mama pecah.
Aku bangkit, beralih ke samping mama. Mencoba meredakan tangisnya dengan pelukan, sebagaimana dulu beliau menenangkan gundahku.
"Ada apa, Ma?" Kali ini aku merasakan ada yang menyumbat tenggorokanku, membuat paru-paruku tak mampu bekerja mengalirkan oksigen ke seluruh darahku.
"Mama sama papa akan bercerai...." duniaku terasa terguncang, seolah menenggelamkanku ke dasar bumi yang paling dalam. Tak ada angin, tak ada hujan, tiba-tiba aku mendengar kabar orangtuaku akan bercerai.
"Aku ... enggak mimpi, kan Mam ....?" kalimat itu akhirnya lolos dari bibirku. Ternyata ini alasan wajah mama akhir-akhir ini terlihat murung.
Kembali mama terisak, menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan. Mama terlihat kacau, rambutnya yang biasa digelung rapi jika sedang berada di rumah, acak-acakan. Matanya yang biasa selalu bersinar, meredup.
"Apa alasannya, Mam?" kalimat tanya kulontarkan kembali, meski pertanyaanku sebelumnya belum mendapat jawaban.
Mama menyeka matanya, tangisnya mulai mereda, walau masih ada isakan menjeda.
"Ada perempuan lain yang dicintai papa, yang lebih baik dari Mama," ujarnya di sela isakan. "Mama yang salah, selama ini Mama selalu mempertahankan ego, terlalu percaya hati papa tak akan berpaling pada yang lain...."
Dalam seminggu, semua harapan, mimpi, cinta bahkan hidupku serasa dijungkir balikkan dalam sesaat. Otakku membeku, tak mampu mencerna semua ini dengan cepat. Jika dalam setiap perceraian yang kuketahui, si istri yang menyalahkan suaminya, tidak dengan mama. Sudah jelas disini, kesalahan ada pada papa, mempunyai wanita lain dalam hidupnya, tapi entah mengapa mama malah menyalahkan dirinya.
Pertanyaan besar dalam kepala, "Kenapa bisa?" padahal selama ini papa dan mama tampak selalu mesra, saling mencintai, tak ada tanda-tanda papa akan mencintai perempuan lain selain mama. Bahkan ketika kemarin aku di Jakarta, tak sedikit pun papa menyinggung masalah perceraian mereka, pria itu masih bersikap biasa. Tak ada gelagat apa-apa yang kucium dari sikapnya.
__ADS_1
Duniaku terasa benar-benar jungkir balik. Hancur sehancur-hancurnya. Runa yang menjadi tempatku bersandar tak lagi bisa kumiliki, orangtua tempatku bernaung pun diambang perpisahan.
Tuhan, apa kesalahanku hingga aku harus diberi hukuman seberat ini.