
Selalu seperti itu, Dika dengan bangga selalu menceritakan perempuan-perempuan yang sedang dekat dengannya. Setiap aku tanya Dika akan selalu mengatakan kalau mereka hanyalah sebatas teman. Trman yang saling perhatian membuatku muak untuk segalanya. Hingga saat aku sedang menggunakan handphone Dika sebuah pesan datang dari Lina.
(Lina ? Ini siapa lagi sih ?") sebutkan dalam hati
Tanpa panjang lebar. aku membuka pesan itu dan betapa kagetnya aku membaca pesan yang di kirim Lina pada Dika. Saat itu ku lihat Dika yang sedang sibuk beres-beres tempat tidurnya. Aku menahan emosi ku saat itu, lalu bertanya padanya
"Apa kau masih berhubungan dengan Lina ?" kataku sambil melihatnya
"Ada apa dengan mu, kenapa membahas dia lagi sih ?" kata Dika
"Dia mengirim pesan pada mu saat ini" kataku kembali
"Lalu kenapa ? Diakan teman ku?" kata Dika
"Ah... teman yang perhatian ya" kataku dengan kesal
"Mang dia bilang apa?" kata Dika
"Abang jangan lupa makan ya" kataku sambil membaca pesan Lina
"Hahaha gitu doang kamu marah ?" tanya Dika
__ADS_1
"Ha ? Kau bilang hanya gitu doang ?" kataku
"Semua juga bakalan ngirim pesan gitu kan ?" kata Dika kembali
"Apa kau menyukainya hingga kau mengatakan hal itu ?" kataku kembali
"Aku tidak menyukainya" kata Dika
"Lalu kenapa kau terdiam sesaat" kataku
"Udah deh, kalau kau mau membalas pesannya, ya udah balas aja" kata Dika
"Kau ingin aku dan dia berantam karena mu ?" kataku menjumpai Dika
"Ah lupakan saja, aku tidak ingin berdebat" kataku meninggalkan Dika
Dika hanya diam saja tanpa mengatakan apa-apa. Aku yang masih memegang handphonenya pun membalas pesan Lina.
"Pesan singkat"
"Kamu siapa Dika ?" tanyaku langsung
__ADS_1
"Abang kok bilang gitu sih, aneh" kata Lina
"Aku pacarnya" kataku
"Maaf kak, aku gak tahu kalau abang Dika sudah punya pacar" kata Lina
"Tolong kak, jangan di ganggu atau di kirim pesan. Dika sudah punya pacar dan juga waalupun kakak dan Dika pacaran tolong jangan terlalu dekat" kataku
"Oh iya kak, gak pun ku ganggu lagi abang Dika kak" kata Lina
Aku pun tidak membalas lagi pesan dari Lina dan langsung melihat Dika
"Apa kau senang ?" tanya ku
Dika hanya tersenyum saja. Melihat reaksinya aku benar-benar merasa kecewa, aku dengan cepat pergi dari hadapan Dika.
"Ah aku benar-benar lelah di permainkan seperti ini" kataku sambil menangis.
Aku tanpa mengatakan apa-apa dan langsung pergi membuat Dika hanya melihatku tanpa mengatakan apa-apa. Bahkan setelah kejadian itu Dika tidak memberi kabar padaku. Sebuah hubungan yang hampir membuatku ingin segera mengakhirinya. Namun setiap aku ingin melakukan hal itu, perasaan ku selalu menolak segalanya.
Aku pun melakukan hal yang sama, tidak memberi kabar padanya. Ingin melihat bagaimana responnya terhadap masalah ini. Ku pikir dia akan memahami atau bahkan meminta maaf dan tidak mengulang kesalahan itu, tapi nyatanya tidak. Berbeda dari apa yang aku bayangkan. Aku hanya melihat handphone ku yang tidak berdering sama sekali. Dan itu membuatku semakin kecewa.
__ADS_1
"Menunggu untuk di perhatikan ternyata hanya angin berlalu saja"
Aku menghabiskan waktu yang benar-benar kosong bagiku. Walau jujur saja, rasa itu masih kuat untuknya tapi dengan tingkah yang seperti ini membuat aku tidak bisa berbuat apa-apa