Kandas

Kandas
Tempat Pelarian


__ADS_3

Belum puas merasakan damainya suasana desa, aku harus kembali pada kehidupan dengan suasana hiruknya kota. Aku mengajukan kerja praktek di salah satu kantor akuntan publik di Jakarta. Tujuannya tentu saja, supaya bisa setiap hari bertemu ibu. Meski sebenarnya hidup di Jakarta tidak begitu sesuai dengan keinginanku, tetapi bisa bersama ibu setiap hari membuatku mengabaikan rasa tidak betah berada di kota dengan tingkat polusi udara yang tinggi ini.


Kondisi ibu sudah mulai stabil setelah operasi pertamanya. Aku tidak sempat mendampingi pada saat proses operasi, karena bertepatan dengan jadwal KKN-ku tiga bulan yang lalu. Meski kondisi ibu tampak sudah mulai membaik, tetap saja aku masih was-was. Ibu tipe orang yang tidak bisa duduk berdiam diri, sementara perawatan paska operasi, diharuskan untuk banyak beristirahat. Namun rasa was-wasku terpatahkan saat melihat sendiri, beliau mampu menyesuaikan kondisinya, tidak terlalu memaksakan diri seperti dulu.


"Assalamualaikum, Bu!" kudapati sore ini ibu tengah asyik menyirami kembang di halaman rumah maktuo. Terlihat sama segarnya dengan kembang yang sedang disiramnya. Balutan gamis dengan bergo warna taupe Grey, menambah kecantikan ibu sore ini. Paska operasi, ibu mulai menutup auratnya. Aura kecantikan makin terpancar dari wajahnya.


"Waalaikum, salam. Eh, tumben pulang masih ada matahari?" sambut ibu terkekeh ringan.


Biasanya aku memang pulang selalu malam. Berhubung hari ini tidak terlalu banyak audit yang dilakukan, aku bisa pulang lebih cepat.


"Pekerjaanku sudah beres semua, jadi dikasih izin pulang cepat." Aku mencium punggung tangan ibu.


"Ya sudah, mandi gih. Kucel banget anak Ibu."


"Eh, Run sudah balik? Kebetulan banget, nanti malam temenin yuk!" Wina hendak menaiki anak tangga ketika aku baru masuk.


"Kemana?"


"Paling ke Kokas. Aku diajak teman juga, sih, tapi aku grogi juga kalau jalan berdua," ujarnya sambil melangkah naik.


"Gebetan baru, ya?" Aku menggoda Wina yang terlihat tersipu.


"He-he iya ... tapi jangan bilang mama dulu," ujarnya memelankan suara, menarik tanganku, setengah menyeret ke kamarnya.


"Aku kenal cowok ini di rumah sakit, dia anak dari pasien di ruang VIP tempatku bertugas. Hampir setiap hari bertemu, kadang beberapa kali ngajak makan siang bareng di kantin rumah sakit ... nah semenjak ibunya sudah tidak dirawat lagi, dia jadi sering nge-chat aku." Wina langsung nyerocos ketika kami telah berada di dalam kamar. Begitu bersemangat menceritakan sosok cowok itu.


"Nanti aku jadi tukang usir nyamuk, dong!" protesku.


"Ajak Kak Beni aja, yuk!


"Enggak usah, deh. Aku enggak enak."


"Enggak apa-apa, Kak Beni sering nanyain kamu, tuh." Wina tersenyum menggoda.


Kendati hubunganku dengan Arjun telah usai, tetapi aku merasa masih belum mampu menerima kehadiran hati lain, menggantikan tempat Arjun.


"Kamu masih sama Arjun enggak, sih?" tanya Wina melihatku tidak merespon godaannya.


"Ya enggak lah." Aku tersenyum getir. "Ya sudah, kalau memang kamu mau ngajak Kak Beni, enggak apa-apa. Daripada aku jadi tukang usir nyamuk," ujarku memaksakan senyum.


Aku harus mampu melepaskan Arjun. Tak ada gunanya lagi aku mengekang sosoknya di dalam anganku. Saatnya merelakan apa yang tidak mampu kugenggam untuk lepas.


****

__ADS_1


Selepas magrib, Dendi, cowok yang tengah melakukan pendekatan pada Wina datang menjemput. Cowok dengan tampilan sederhana. Bertubuh gempal dengan kacamata yang membingkai matanya, membuat penampilannya terlihat bersahaja.


Dia sedikit gugup ketika berhadapan dengan maktuo yang mengajukan berbagai pertanyaan layaknya investigator. Meskipun demikian, maktuo tetap mengizinkan kami keluar, setelah mendengar jawaban yang memuaskan dari Dendi.


"Saya izin bawa Wina dulu, Tante." Dendi pamit menyalami maktuo dan mencium punggung tangannya penuh hormat.


"Jangan pulang malam-malam, ya!" Maktuo menepuk pelan punggung tangan Dendi.


****


Jalanan di depan gang rumah Wina cukup padat ketika kami meninggalkan daerah Tebet. Namun kemacetan tidak begitu kejam malam ini, masih memberikan kesempatan bagi kendaraan city car yang dikemudikan Dendi untuk bergerak pelan.


Beruntung Dendi memahami jalan-jalan kecil untuk menghindari kemacetan, sehingga tidak membutuhkan waktu lama untuk mencapai tempat yang kami tuju.


Sesampainya di Mall, tujuan pertama kami adalah tempat makan. Restoran yang menyajikan menu masakan negeri Sakura–Jepang, menjadi pilihan untuk makan malam kali ini.


Baru saja aku menghenyakkan tubuh hendak menikmati semangkuk beef curry udon yang kupesan, tepukan lembut mengagetkanku. Mendongak, melihat si pemilik tangan. Senyum hangat tertangkap netraku. Senyum yang sempat menggetarkan senar-senar hati beberapa waktu lalu.


"Long time no see, Neng geulis," sapanya mengulurkan tangan.


"Hai, Kak Ben! Apa kabar?" sambutku tak dapat menyembunyikan rasa bahagia melihat senyum itu.


"Baik, Neng ... bentar," katanya, lalu menyapa Wina dan Dendi.


"Biar kalian bisa ngobrol santai." Wina memberi alasan


"Hallah, bilang saja enggak mau diganggu!" protesku.


"Ha-ha, ngerti lah ya?" kekehnya pelan, menggeser nampannya ke meja sebelah yang kosong.


Mataku beralih memerhatikan sosok jangkung Kak Beni yang tampak mencolok di bagian konter pemesanan makanan. Kemeja slim fit berwarna light gray yang dikenakannya, mencetak otot lengannya yang padat. Bidang bahu yang lebar membuat tubuhnya terlihat sangat atletis.


Jujur, saat ini kehadiran Kak Beni sedikit menggeser kesedihan dalam hati perihal kandasnya hubunganku dengan Arjun. Pesona pria dewasanya tak mampu kuelakkan. Dia kembali duduk di hadapanku dengan kedua tangan membawa nampan berisi makanan.


"Baru pulang kerja, Kak?" Aku yang memulai percakapan begitu dia baru saja duduk.


"Iya ... tampaknya suasana hatimu sedang baik, nih? Ha-ha," gelaknya mengerutkan alis.


"Yaa, bisa dibilang begitu," sahutku tersipu.


Percakapan dengan Kak Beni mengalir begitu saja tanpa rasa sungkan seperti pada saat awal perkenalan.


"Run, pulang yuk!" Wina mencolek bahuku.

__ADS_1


"Eh, sudah jam berapa?" melirik jam pada pergelangan tangan. Dua jam sudah terlewati tanpa terasa.


Untuk pertama kali dalam beberapa bulan ini aku bisa mengobrol tanpa beban dengan orang lain. Hatiku terasa begitu ringan.


"Runa biar sama aku saja, Win," pinta Kak Beni ketika sampai di parkiran.


"Eh, jadi pisah?" Wina agak kebingungan.


"Lumayan kan, waktu pedekatenya lebih lama." Cengiran lebar menghiasi deretan gigi rapinya.


"Huu, bilang aja sendirinya juga mau pedekate." Wina membalas godaan Kak Beni. "Ya sudah, sampai ketemu di depan rumah." Wina melambaikan tangan, berjalan ke arah Dendi yang telah menunggu di samping mobilnya.


***


"Apa kabar cowokmu?" tanya Kak Beni tanpa mengalihkan tatapannya dari jalanan.


"Sudah putus," sahutku pelan.


"Eh?" Dia mengalihkan pandangan, menatapku dengan wajah kaget. "Kok bisa?"


"Ternyata suku kami sama." Aku lalu menjelaskan aturan yang melarang pernikahan dengan suku yang sama pada Kak Beni seperti yang dituturkan oleh maktuo padaku.


"Jadi, cowokmu orang Padang juga?"


Aku mengangguk cepat. Secepat kelebat rasa perih yang kembali hadir.


"Aku sudah bisa mengajukan diri sebagai pengganti, dong?" tanyanya dengan nada rendah.


"Hah?" Aku menoleh mencari keseriusan dari matanya, mengenai apa yang baru saja dia ucapkan.


"Seperti yang pernah kubilang dulu ... jika kamu putus, aku mau mengajukan diri sebagai pengganti." Cahaya lampu jalanan tepat menerangi wajahnya, dan aku melihat kesungguhan di matanya.


"Ha-ha! Kalau pun aku menerima Kak Beni sekarang, apa tidak terkesan hanya jadi pelarian?" Aku terbahak mendengar kalimat yang baru saja diucapkannya.


"Tidak masalah, jadi tempat pelarian yang akan memberimu kenyamanan, lama-lama juga bakal sayang. Iya, enggak?" katanya mengulum senyum, masih menatap lurus ke depan.


"Sudah ah! Urusan hati jangan dijadiin candaan!"


"Eh! Siapa yang bercanda, aku serius," ucapnya mantap. "Apa karena tempatnya tidak pas ya, jadi bikin kamu tidak yakin?" menoleh sekilas.


"Bukan karena tempatnya, tapi cara Kak Ben mengungkapkannya terlalu santai, jadi aku menganggapnya hanya lelucon," kataku pelan, tapi aku yakin cukup bisa di dengar olehnya.


"Ha-ha, justru karena sambil nyetir, aku bisa terlihat santai. Kalau fokus ngobrol, aku enggak bakal bisa sesantai ini." Kak Beni menyugar rambutnya, terlihat kilauan keringat merembes turun di keningnya.

__ADS_1


Apa mungkin aku bisa menjadikan Kak Beni sebagai obat patah hati dan tempat pelarian? Apakah tidak terlalu kejam jika aku melakukan hal seperti itu? Aku tidak mempunyai banyak pengalaman dalam hubungan seperti ini. Hubunganku dengan Arjun adalah yang pertama kali, tetapi harus kandas sebelum aku merasakan manisnya rasa saling mengasihi. Seumpama Kak Beni serius dengan perkataannya, mestinya tidak akan sulit bagiku untuk mengobati rasa sakit ini.


__ADS_2